Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 11 Agustus 2010

Kisah Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya

0 komentar

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Aku Mencintaimu Suamiku

0 komentar

Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana namun meriah…..

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

***

sumber: http://groups.yahoo.com/group/tentang-pernikahan/message/6395

Akhir Ceita Doraemon

0 komentar

Suatu hari, Nobita pulang ke rumah dan merengek-rengek mengadu ke Doraemon. Tapi tak lama, ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan Doraemon; robot kesayangannya itu hanya diam dan tak menjawab keluhannya. Ia pun segera menelepon Dorami, adik Doraemon, dan meminta petunjuk darinya. Dorami kemudian memberi tahu bahwa baterai milik Doraemon habis. Lebih jauh lagi, Dorami menjelaskan bahwa robot kucing versi lama seperti Doraemon seharusnya memiliki cadangan baterai pendukung memori di bagian telinga, tetapi karena Doraemon telah kehilangan telinganya, ia tidak memiliki tenaga cadangan untuk menyimpan memori dan ingatannya. Satu-satunya cara untuk menghidupkan kembali Doraemon adalah dengan mengganti baterainya, namun itu berarti Doraemon akan kehilangan seluruh ingatan tentang diri dan kawan-kawannya; termasuk tentang Nobita.

Disaat bersamaan, polisi-waktu membuat peraturan baru dan melarang adanya "perjalanan waktu" dan menghalangi Nobita yang berusaha membawa Doraemon untuk diperbaiki di masa depan. Dorami kemudian memberikan pilihan: nekat menerobos polisi-waktu, memperbaiki Doraemon di masa depan, dan menghapus ingatannya atau menunggu seseorang dari masa depan datang dan memperbaiki Doraemon; Nobita memilih cara kedua. Nobita —yang sangat kehilangan Doraemon— kemudian berjanji untuk belajar keras demi Doraemon. Usaha Nobita berhasil, tiga tahun kemudian Nobita lulus SMA dengan nilai terbaik dan menjadi seseorang yang sangat populer di sekolahnya. Meskipun demikian, sifat Nobita yang ceria dan optimistik hilang, ia menjadi seorang kutubuku yang selalu menyendiri. Dua puluh sembilan tahun kemudian, diceritakan Dekisugi yang telah menjadi presiden Jepang, mengadakan reuni dengan Suneo dan Jaian. Ketiganya membahas mengenai masalah tentang "hilangnya" Doraemon dan tentang Time Paradox; sebuah teori yang menjelaskan bahwa sejarah dunia dapat berubah dengan diciptakannya mesin waktu. dan dari percakapan itulah terpapar alasan kenapa patroli waktu tak memberikan ijin nobita untuk memperbaiki Doraemon di masa depan, karena nobita itu sendiri yang menciptakan Doraemon. setelah diperbaiki, doraemon menjadi mempunyai telinga dan berwarna kuning, dipeluknya erat-erat Doraemon. Dan mereka hidup bahagia selamanya.

Lihat Komik Lengkapnya di

http://www.titiw.com/2007/06/24/doraemon-ending/

28days+1second=the lost day

0 komentar

Maafkan aku
Manusia begitu mudah melupakan
Tapi aku takkan pernah lupa
Satu hari yang hilang selama 3 tahun
Read more (3748 words)

Aku hanya menatapmu dari jauh. Aku memang pengecut. Padahal kita satu kelas. Padahal tempat dudukmu hanya berjarak dua bangku dari mejaku.
”Pagi, Lucky” sapamu
”Pagi” jawabku. Dan kau pun berlalu kemudian bergabung dengan teman-temanmu yang ceria.
Melissa Saptaruna adalah dewiku. Aku menyebutnya Runa dalam hatiku, meskipun dalam kenyataannya aku tetap memanggilnya Melissa. Gadis berambut hitam lebat itu memang sangat cantik. Dia sudah punya pacar, seorang pria yang memiliki semua kelebihan yang kuinginkan.
Aku menatapnya sekali lagi. Ia dengan gembira bercerita pada teman-temannya. Tentu saja pasti tentang pria itu. Pria itu, kakakku, aku sangat membencinya!

~_~_~_~_~

Waktu itu rasanya aku ingin berlari sejauh mungkin darinya. Ini tak nyata. Tak mungkin Runa datang mendekatiku. Aku tak bisa bergerak. Tubuhku membatu. Kakiku berat. Jantungku seakan bisa meledak. Ini mimpi. Ini mimpi.
”Lucky, kamu sehat?” Sial, Runa pasti melihatku gugup.
”Aku baik-baik saja” aku berusaha untuk tak melihat matanya
”Benarkah?” suara merdunya menadakan kekhawatiran
”Aku tak apa-apa” tegasku. Aku benar-benar tak ingin melihatnya khawatir
”Ehm, begini. Nicholas Putraditya kakakmu kan? Aku pacar Nicky” seharusnya aku tak terkejut mendengarnya. tapi aku tak pernah menyangka akan mendengar hal itu dari bibirnya.
”Oh, ya?” jawabku pura-pura terkejut. “Lalu?”
“Jadi menurutku tak ada salahnya kita mengakrabkan diri” senyumnya bagaikan cahaya mentari bagiku.

~_~_~_~_~

Sejak saat itu semuanya jadi begitu wajar. Sejak saat itu aku menjadi sahabatnya, aku menjaganya, mendengarnya bercerita, menyayanginya seolah ia milikku. Tentu saja dia masih jadi pacar Nick, tapi aku tak peduli selama aku masih bisa bersamanya walau hanya sebagai temannya.

”Selamat ulang tahun, Melissa” kataku menyerahkan seikat mawar merah dan sekotak kecil hadiah padanya hari minggu itu.
”Terima kasih Lucky” ia tampak bahagia. ”Walaupun agak terlambat” katanya setengah tertawa.
”Terlambat? Ulang tahunmu hari ini kan? Tanggal 1 maret.” tanyaku memastikan. Aku ingat tahun lalu ia merayakan ulang tahunnya tanggal 1 maret di sekolah.
”Tahun lalu ultahku memang 1 maret, tapi tidak tahun ini” katanya membuatku bingung. ”Sebenarnya ulang tahunku tanggal 29 febuari. Maaf aku lupa memberitahumu”
”Wedew, jadi ultahmu kemarin? Bukan hari ini?”
”Bukan” tawanya. Aku jadi ikut tertawa malu. Pantas saja kemarin ia tak masuk sekolah. Mungkin ia merayakannya dengan keluarganya.
”Hari ulang tahun yang langka ya” komentarku.
”Yup, hari yang hanya muncul 4 tahun sekali. Tapi itu menjadikannya hari yang sangat spesial, terutama untukku”
”Maaf, aku melewatkan hari spesial itu” sesalku
”Tak apa-apa. Setidaknya kau tidak melupakan ulang tahunku. Oh ya, ini apa?” tanyanya menunjuk kotak kecil hadiahku. ”Buka saja” jawabku.

Ia tampak tak sabar tapi tetap membuka kotak itu perlahan. Isinya adalah kalung emas berhiaskan sepasang lumba-lumba dan berlian di tengahnya. Aku tahu sejak dulu Runa sangat menginginkan kalung itu. Seperti dugaanku ia sangat senang menerimanya, tapi kemudian kebahagiaan di wajahnya memudar.
”Lucky, aku... aku sangat berterima kasih. Aku memang menginginkan kalung ini. Dan aku akan sangat senang kalau aku bisa memakainya. Tapi maaf, aku tak bisa memakainya.”
”Kenapa?” aku segera sadar apa maksudnya. Sebuah kalung lain telah melingkar di lehernya.
"Ini hadiah dari Nicky, aku tak bisa melepaskannya“ jelasnya menyentuh mata rantainya yang tampak seperti sebuah liontin.
"Hahaha, tak apa-apa. Aku mengerti. Kau simpan saja kalung dariku. Tak kau pakai pun tak apa-apa” aku berusaha tersenyum, tapi hanya senyum pahit yang bisa muncul.
”Terima kasih, Lucky. Kau memang baik. Kalung ini akan kusimpan baik-baik”
Sial! Sial!! Lagi-lagi Nick sialan mendahuluiku!

~_~_~_~_~

Aku terkejut melihatnya di sana sore itu. Ia selalu muncul seperti sebuah keajaiban yang mengagumkan.
”Hai Lucky” sapanya riang.
”Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku masih tak percaya.
”Seperti yang biasa kau lakukan, menatap keindahan alam” senyumannya telah melebihi keindahan alam bagiku. ”Kau benar, dari sini laut dan langit jadi terlihat sangat menakjubkan, walaupun untuk bisa naik kesini butuh perjuangan yang melelahkan”

Tempat itu adalah sebuah mercusuar. Sebuah mercusuar lama yang sudah tak bersinar lagi. Tempat itu selalu menjadi tempatku menyendiri dan merenungkan masalahku. Aku selalu kesini setiap kali aku merasa sedih atau lelah, dan tempat ini selalu berhasil menyembuhkan hatiku.

Pemandangan laut dari sini memang menakjubkan. Aku selalu terpana setiap kali aku melihat laut dan langit yang memerah saat mentari terbenam dari sini. Dan ketika akhirnya matahari tenggelam, seolah-olah semua kesedihan dan penderitaanku lenyap digantikan kegembiraan saat aku melihat bintang-bintang yang tersebar di atas selimut laut malam bagaikan permata. Terkadang aku sangat menikmati kesunyian yang damai di tempat itu sampai matahari pagi kembali menyinari mercusuar tua itu.

3 hari yang lalu setelah pulang sekolah aku menunjukkan tempat istimewa ini pada Runa. Tak kusangka ia benar-benar datang sore ini. Seandainya waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya bersama Runa menatap senja ini disini.
”Melissa, ada apa?” aku baru menyadari, Runa memang tersenyum, tapi ia tampaknya tak bahagia. ”Kau punya masalah?” tebakku.
”Mengapa kau bilang begitu? Aku baik-baik saja kok” Aku bisa melihat senyumnya itu palsu.
”Kemarin aku bilang padamu bahwa aku selalu kesini bila aku punya masalah. Jadi kupikir mungkin kau kesini juga karena alasan yang sama.” aku benar-benar ingin tahu apa yang diresahkannya.
”Sudah kubilang aku tak apa-apa” senyum palsu itu muncul lagi ”Lucky sendiri punya masalah?” ia balik menanyaiku.
”Yah, begitulah” jawabku jujur
”Masalah apa? Masalah sekolah? Keluarga? Cinta? Ceritakan padaku, mungkin saja aku bisa membantumu” aku tersenyum geli mendengarnya. masalahku sekarang adalah gadis yang kucintai punya masalah yang tak kuketahui.
”Masalah cinta. Tapi takkan kuceritakan padamu. Aku hanya mau menceritakan masalahku pada tuan mercusuar saja.” candaku.
”Eeeh?! Ceritakan dong Lucky! Ada cewek yang kamu sukai ya? Siapa? Ku pasti bantuin kamu kok.” rengeknya.
”Rahasia” jawabku menggodanya.
”Lucky jahat! Pelit! Kok rahasia sih?” aku tertawa saat ia memukul-mukul lenganku.
”Ssst... dengar” kataku membuatnya berhenti memukulku.
”Apa? Hantu?” ia malah ketakutan, padahal aku tak bermaksud demikian.
”Dengar, ada kicauan burung” kataku membuatnya menajamkan pendengarannya. “Aku tak mendengar apa-apa kok” protesnya
”Memang tak ada suara apapun, bayangkan saja” kataku menutup mataku, dan tiba-tiba bunyi kicauan burung bergema merdu di kepalaku
”Iya, kedengaran” Runa sedang menutup matanya saat kubuka mataku.

Warna senja meronakan wajahnya. Kurasakan setiap hembus angin yang melewati helai rambutnya. Kudekati wajahnya dan memperhatikan kelembutannya. Dan kemudian kilauan kalungnya menyadarkanku. aku bisa melihat foto si sialan itu pada liontinnya. Emosiku kembali memuncak. Aku menatap laut. Aneh, kali ini laut tak bisa menenangkanku. Lalu kurasakan seseorang menggenggam tanganku.
”Lucky?” mengagumkan, suara Runa berhasil mendamaikan hatiku.
"Kita nikmati saja pemandangannya“ balasku tersenyum padanya. Ku genggam tangannya erat.
”Ya” senyumnya mengakhiri detik-detik terindah dalam hidupku.

~_~_~_~_~

Beberapa minggu kemudian sebuah kejadian mengerikan menimpa Runa. Ia mengunjungi si iblis itu di lab universitasnya. Nick memang mahasiswa farmasi semester 7. Si iblis bersama beberapa mahasiswi sedang membuat beberapa bahan kimia yang memang sangat berbahaya. Kemudian salah seorang mahasiswi, yang kukenal sebagai mantan pacar si iblis, ‘tak sengaja’ menumpahkan cairan kimia berbahaya itu ke wajah Runa!
Kejadian itu menyebabkan wajah Runa rusak dan terluka sangat parah sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Tak ada yang bisa menuntut mahasiswi yang melakukan hal itu karena semua orang mengakui kejadian itu sebagai ‘kecelakaan’, termasuk si iblis itu!

“Saya mohon, tante. Ijinkan saya mengunjungi Melissa. Saya sahabatnya, dan saya ingin tahu bagaimana keadaannya.” pintaku pada ibu Runa.
”Maaf, nak Lucky. Melissa tak ingin bertemu dengan siapapun” kupandangi ibu Runa dengan rasa iba. Matanya yang menghitam membuktikan seberapa banyak air mata yang telah ditumpahkannya.
Aku meninggalkan rumah sakit dengan rasa kecewa yang dalam. Sial! Siaaalll!!! Semua ini salah Nicholas! Semua penderitaan Runa adalah kesalahan si iblis itu!

Aku melihat si iblis sedang bersiap-siap untuk keluar. Aku tahu hari ini dia tak kuliah. Dia pasti ingin pergi ke tempat lain.
”Kau akan mengunjungi Melissa kan?” aku akhirnya berusaha bicara pada kakak kandungku itu. ”Tolong sampaikan salamku padanya”
”Aku tak akan kesana. Aku punya acara lain” jawabnya sambil lalu
”Acara lain? Kau keluar bersama gadis lain?” tanyaku curiga
“Tentu saja. Aku dan Melissa sudah putus.” katanya beranjak pergi
”Tunggu... jangan bercanda! Kau mencampakkannya?!” aku segera menghalanginya di depan pintu
“Aku hanya memutuskan hubungan yang tak sehat. Dia sudah bilang dia akan mengoperasi wajahnya agar aku tak meninggalkannya. tapi dia hanya akan semakin terobsesi padaku. aku tak butuh hubungan yang merepotkan seperti itu.”
Aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku memukulnya berkali-kali, dengan keras. Untunglah ibu datang menyelamatkannya. Aku benci dia! Aku akan membunuhnya!!

~_~_~_~_~

”Tante, bagaimana keadaan melissa?” aku kembali bertanya pada ibu Runa. Aku tetap mengunjungi Runa meskipun aku tak pernah diijinkan untuk menemuinya.
”Dia sedang tidur. Kami baru saja mengganti perbannya” jawab ibu Runa.
Aku berpikir. Tak bisakah aku melihatnya saat dia tidur? Aku mengurungkan niatku untuk menanyakan itu pada ibu Runa.
”Tante sangat berterima kasih atas perhatianmu pada Melissa, nak. Tante tahu Melissa sangat senang mendengarmu datang, tapi dia hanya malu untuk mengakuinya” jelas ibu Runa padaku. ”Oh, iya...”
”Kenapa, tante?” aku kaget
”Tante ingat Melissa menitipkan sesuatu untukmu. Tunggu biar tante ambil di kamarnya” jawabnya
Aku menanti ibu Runa kembali dengan penasaran. Ibu Runa datang membawa sebuah surat dan kotak kecil yang sangat kukenali. Aku menerima kotak kecil itu dengan bimbang. Apa maksudnya ini?

Aku membaca surat Runa terlebih dahulu saat sampai di rumah. Ternyata benar dugaanku, ia mengembalikan kalung pemberianku. Runa minta maaf dan berterima kasih. Bohong! Dia bilang akan menyimpan kalungku dengan baik. Aku benar-benar kecewa. Kubuka kotak itu. Isinya benar-benar di luar dugaanku. Ternyata isinya adalah kalung liontin pemberian si iblis!

~_~_~_~_~

Aku kembali ke mercusuar itu dengan membawa kebimbangan hatiku bersama liontin yang tak pernah kubuka itu. Seperti biasa aku menapaki tiap anak tangganya sambil memikirkan masalahku. Entah kenapa aku terpikir tentang liontin ini. Yang paling mungkin terjadi adalah Runa salah memasukkan liontin ini ke kotak itu. Atau mungkin yang salah adalah ibu Runa. Berarti kalung pemberianku masih disimpan Runa. Atau mungkinkah ia sedang memakainya saat ini? Tanpa sadar aku memakai linontin itu ke leherku. Ketika akhirnya aku sampai di puncak menara itu, aku menemukan dia.

Lagi-lagi kupikir aku berhalusinasi, atau aku melihat suatu keajaiban.
”Melissa?” tanyaku memastikan sosok yang berdiri menatap senja dari jendela mercusuar yang terbuka tanpa kaca.
”Sudah kuduga kau akan datang” suara Merdu runa keluar dari balik perban yang membungkus wajahnya.
”Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku mengawasinya.
”Seperti yang biasa kau lakukan, menatap keindahan alam” jawabnya persis seperti saat itu, hanya saja aku tak bisa melihat senyumnya. ”Maaf, kehadiranku pasti merusak keindahan alam yang ingin kau lihat”
”Itu tak benar. Apapun yang terjadi padamu. Sejauh apapun kau berubah. Kau tetap Melissa yang kukenal, Melissa yang kusayangi. Aku tak pernah melihatmu dari keadaan fisikmu. Bagiku kau tetap Melissa yang sama, aku selalu menantikan kehadiranmu disini.” aku tak tahu apakah jawabanku itu telah menjelaskan maksudku atau tidak. Aku terlalu gembira karena aku bisa bertemu Runa lagi disini.
”Terima kasih, Lucky memang sangat baik” aku tahu ia tersenyum walaupun keremangan senja dan perban itu menyembunyikannya.
”Seandainya Nicky sama sepertimu...”
”Lupakan saja dia!” potongku. ”Dia tak pantas bagimu. Dia telah membuatmu menderita seperti ini... aku tak bisa memaafkannya!”
“Kau salah, Lucky. Akulah yang tak pantas baginya!” suaranya menyiratkan penderitaan. “Aku memang menyedihkan, aku sungguh tak berguna”
“Jangan berkata seperti itu!” untuk pertama kalinya aku marah padanya. ”Tak berguna katamu? Tak ada manusia yang tak berguna di dunia ini. Bagiku kau sangat berarti melebihi apapun di dunia ini. Aku mencintaimu Melissa”
”Apa?”
”Aku mencintaimu Melissa” ulangku berusaha meyakinkannya. ”Sejak awal, dari dulu, aku mencintaimu.”
”Bohong... Bohong! Kau akan membenciku seperti Nicky. Kau akan membenciku setelah melihat wajah ini” jeritnya menusuk hatiku.
”Aku akan tetap mencintaimu” tegasku.
”Akan kubuka perban ini. Kita lihat apakah kau masih akan tetap menyukaiku setelah ini” Runa mengancamku. Tapi setelah melihatku tak bergeming, ia mulai membuka perbannya. Ia melepas tiap lilitan dengan perlahan. Sampai akhirnya semua perbannya terlepas.

Aku menatapnya. Sebenarnya, aku tak melihat apapun. Langit telah begitu gelap sehingga aku tak bisa melihat setiap detil lukanya. Kupejamkan mataku sejenak. Dan ketika kubuka mataku, disanalah dia. Runa dengan segala kecantikannya seperti biasanya. Runa memang sebuah keajaiban bagiku. Di mataku, kecantikannya memancarkan keindahan yang menyatu dengan langit senja, laut, dan semua keindahan alam, dan itu pemandangan yang sangat menakjubkan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku terpana untuk beberapa saat.

”Bagaimana? Sekarang kau jijik padaku?” suara Runa menyadarkanku.
”Sudah kubilang, aku akan tetap mencintaimu. Dan ternyata, aku memang tetap mencintaimu.” aku mendekatinya. Kuelus wajahnya yang tak mulus dengan penuh kasih.
”Benarkah? Kau pasti hanya merasa kasihan padaku” kilauan air mata turun dari matanya.
Aku menggelengkan kepalaku, ”Aku menyayangimu sepenuh hatiku”
Kuhapus air matanya dan kucium bibirnya lembut...

”Terima kasih, Lucky. Aku sangat bahagia” katanya sambil memelukku. Bau obat dan bahan kimia tak bisa mengalahkan wangi tubuhnya yang sangat kurindukan.
”Kau mencintaiku?” tanyanya.
”Aku mencintaimu” jawabku
”Maaf, aku tak bisa mencintaimu” perkataannya itu benar-benar mengejutkanku.
”Kau tahu, aku sangat mencintai Nicky” katanya melepas pelukannya. Aku merasa sesuatu terlepas dariku. Mungkin kebahagiaanku telah melepaskan diri dariku.
”Aku benar-benar minta maaf. Dan aku benar-benar berterima kasih atas ketulusanmu” katanya sambil memakai sesuatu di lehernya. Liontin itu, ia telah melepas liontin itu dariku. Bisa kulihat ia juga memakai kalungku di lehernya.
Runa membuka liontin itu. Menatapnya... Mengecupnya...
”Selamat tinggal, Lucky” Runa berlari dan melompat ke jendela mercusuar yang tak berkaca itu.
Dan dengan bodohnya aku terlambat mencegahnya. Terlalu terlambat untuk menyadari bahwa gadis yang kucintai itu telah bunuh diri.

~_~_~_~_~

Aku kembali berada disini 3 tahun kemudian. Kuhirup setiap kenangan bersamanya. Setidaknya dinginnya malam bisa membekukan lukaku. Hari ini tanggal 28 febuari. 40 detik sebelum tengah malam.
Tik tik tik tik tik tik...
Jam dinding yang kugantung di menara itu menemaniku dalam penantianku.
Tik tik tik tik tik tik...
Kuikuti jarum detik itu dengan sabar.
Tik tik tik tik tik tik...
Kupejamkan mataku...
TIK...

"Apa yang kau lakukan di atas sana?“ Lucy menatapku curiga.
”Tak ada. Aku hanya menikmati satu detik dari hari yang hilang” kuterima sweater yang ditawarkannya.
”Hari yang hilang?” sepupuku itu mengerutkan keningnya.
”Kalau kau ingin tahu kenapa kau tidak ikut aku ke atas?” senyumku.
”Untuk apa? Aku tak suka bersusah payah naik tangga hanya untuk sesuatu yang konyol. Lagipula pasti tak ada yang menarik di atas sana, ini cuma menara tua yang kotor dan mengerikan.” aku ingin membantah jawabannya tapi kuurungkan niatku.
”Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?”
”Nicky yang memberitahuku tempat rahasiamu ini. Ibumu mengkhawatirkan keadaanmu, jadi ia memintaku untuk mencarimu.” jawab Lucy
”Aku baik-baik saja” kupandangi lagi mercusuar tua itu.
”Kau tak mau pulang?” Lucy seakan-akan bisa membaca hatiku.
”Aku tak mau membuat ibu khawatir. Kau juga telah bersusah payah menjemputku kesini. Urusanku juga telah selesai. Aku akan pulang” akhirnya aku melangkah menjauhi menara itu bersama Lucy.
Tahun depan kita akan bertemu lagi, Runa.

~_~_~_~_~

Sial! Siaaalll! Besok tanggal 29 febuari, tapi kenapa aku malah terbaring disini?!
”Lucky, kau sudah sadar?” pandanganku masih kabur, aku hanya mendengar suara Lucy.
”Apa yang terjadi?” tanyaku ketika akhirnya aku bisa melihat wajah khawatirnya dengan jelas
”Kau pingsan. Kata dokter kondisi tubuhmu memburuk. bagaimana perasaanmu sekarang? Masih ada yang sakit?“ katanya berusaha menggenggam tanganku
"Aku baik-baik saja.“ Aku berusaha bangun "Aku ingin pulang“
"Tak boleh! Kata dokter kau harus menginap disini“ Lucy memaksaku tidur kembali
"Aku panggil ibu dulu ya. Jangan bergerak, kau tidur saja.“ Perintahnya sambil menghilang dibalik pintu.
Aku akan kesana malam ini. bagaimanapun juga aku harus kesana. Aku tak bisa melewatkan hari istimewa runa lagi, tidak lagi. Akhirnya hari yang hilang itu telah kembali. Aku pasti kesana.

”Lucky, bagaimana keadaanmu, nak?” ibu datang dan langsung memelukku.
”Aku baik-baik saja, bu. Kupikir aku tak perlu menginap disini.” jawabku berusaha meyakinkan ibuku.
”Bohong amat. Tampangmu aja pucat gitu.” Rita, istri Nick, memotong kata-kataku. Nick hanya tersenyum geli menanggapi perkataannya.
”Kak Rita bilang begitu, tapi kak Rita juga khawatir pada Lucky kan?” Lucy menggoda calon kakak iparnya itu. ”tumben kali ini kak Rita mengunjungi Lucky. Biasanya juga kakak dan kak Nicky sibuk sama pekerjaan kalian” lanjut Lucy.
”Siapa yang khawatir? Kebetulan saja aku baru selesai menandatangani kontrak di dekat sini. Nicko bilang si lemah Lucky ada disini jadi tak ada salahnya aku mampir.” jelasnya sambil mengambil dan memakan apel yang seharusnya untukku. Ibu mengambil apel lainnya dan mulai mengupas kulitnya untukku.
”Kali ini apa kerjaanmu? Lokasinya di menara tua itu?” nick bertanya pada istrinya.
”Ya, ya. Ada klien yang mau membangun rumah disitu. Karena itu kami harus meruntuhkan mercusuar itu dulu.” jawab rita membuatku terkejut.
”Mercusuar?” tanpa sadar aku bertanya padanya.
“Ah! Mercusuar tempat rahasia Lucky itu ya?” Lucy melengkapi pertanyaanku.
”Tempat rahasia?” Rita malah balik bertanya. Tapi Nick mengiyakan, ”Benar, mercusuar yang itu”
”Apa?!” suaraku mengagetkan seisi ruangan itu.
”Kak Rita... mereka akan menghancurkan mercusuar itu? Ka, kapan?” suaraku bergetar menahan rasa amarah.
”Besok siang. Menara itu sudah sangat tua. Tinggal diledakkan saja dan POOF!!” jawab Rita tanpa perasaan.
“Jangan! Jangan mercusuar itu. Tak bisakah mereka membangun rumah di tempat lain saja?!” kataku seakan memohon pada kakak iparku itu.
”Tak bisa. Aku sudah menyelesaikan kontraknya. Aku tak bisa membatalkannya.” kak Rita tampaknya jadi takut.
”Lucky...” Lucy dan ibu berusaha menenangkanku.
”Jangan bersikap kekanak-kanakan, Lucky. Menara itu sudah sepantasnya diruntuhkan. Tak ada gunanya kau mempertahankannya hanya karena itu tempat bermainmu.” kata Nick membela istrinya.
”Bukan begitu! Kalian takkan mengerti!” aku tak bisa menerima kenyataan ini sama seperti aku menolak untuk percaya bahwa Runa sudah meninggal.
”Ibu, kak Rita, kak Nicky, sebaiknya kita meninggalkan Lucky sendirian. Dia butuh istirahat” Lucy berusaha menjernihkan suasana.
”Kau benar” ibu mengiyakan.” tenangkan dirimu, nak. Istirahatlah.” ibu mengelus kepalaku sebentar dan keluar bersama Nick, Lucy dan Rita.

Keadaan disini jadi tenang. Tapi tentu saja hatiku tak bisa tenang. Mereka akan menghancurkannya. Tempat istimewa di hari istimewa itu. Bagiku itu sama saja dengan mereka membunuh Runa untuk kedua kalinya. Aku harus pergi kesana untuk menyelamatkan Runa.

~_~_~_~_~

Seperti mengulangi kebodohanku saat itu, aku tertidur malam itu. Mereka pasti telah mencampur obat tidur dalam makan malamku. Untungnya aku terbangun sebelum tengah malam. Aku memastikan waktu dari jam tangan Lucy, masih ada waktu 56 menit sebelum jam 12. aku harus pergi sekarang sementara Lucy tertidur. Aku bergerak sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Aku berhasil. Aku membuka pintu dengan perasaan gembira. Tapi...
”Apa yang kau lakukan?” Sial! Kenapa Nick?!
”Kau sendiri sedang apa di depan kamarku? Aku ingin ke toilet” kataku pura-pura tak terkejut
”Kau ingin kesana kan? Ke tempat Melissa meninggal.” tak pernah kuduga si iblis akan berkata seperti itu.
”Kau benar. Jadi biarkan aku kesana.” aku berusaha melewatinya tapi ia menghalangiku jalanku.
”Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada melissa. Aku juga menyesal atas apa yang akan terjadi dengan menara itu. Tapi kau harus melupakan masa lalu itu. Kesedihan masa lalu itu hanya akan menghancurkan masa depanmu.” si iblis sekarang berusaha menasihatiku seperti kakak yang baik. Benar-benar memuakkan.
”Apapun yang kau katakan, aku akan tetap kesana...” kalimatku terpotong oleh suara gaduh dari dalam kamar.
”Lucky! Lucky!” Lucy muncul dengan wajah panik.
”Lucy, tunanganmu berusaha kabur. Kau jagalah dia” si iblis Nick pergi dengan senyum kemenangan
”Siap kak” jawab Lucy patuh. ”Apa yang kau lakukan, Lucky. Kembalilah tidur” perintahnya sambil menyeretku ke tempat tidur.

Aku membaringkan tubuhku dengan pasrah. Sialll!!!
”Lucky, aku sudah dengar dari kak Nicky” kata Lucy tiba-tiba.
”Dengar apa?” tanyaku kesal
”Tentang mantan pacar kak Nicky. Aku sudah dengar tentang kecelakaan itu. Dia bunuh diri di menara itu, kan?” Lucy menatapku iba.
“Lalu?” aku merasa tak ingin membahas cerita itu bersama gadis ini.
“Kudengar kau ada disana saat gadis itu bunuh diri. Kau juga selalu ke menara itu setiap saat. Apa benar, kau mencintai gadis itu?” pertanyaannya kali ini berhasil membuatku memperhatikannya.
“Apa maksudmu?” aku mengalihkan wajahku lagi
”Jangan bohong. Sebagai tunanganmu aku ingin kau memberitahuku”
Tunangan? Aku tertawa dalam hati. Itu hanya perjodohan yang diatur oleh orang tua kita.
”Benar. Lalu kau mau apa?” tanyaku menantangnya.
”Ternyata benar” Lucy mulai menangis. “aku takkan memintamu untuk melupakannya. Tapi ingatlah Lucky, aku akan tetap berada disisimu. Aku akan membantu menyembuhkan luka hatimu.” katanya menggenggam tanganku erat.
”Terima kasih, Lucy” hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan runa saat itu.

~_~_~_~_~

Karena aku berhasil berpura-pura tidur, Lucy telah tertidur lagi dengan nyenyaknya di samping tempat tidurku. Tapi kali ini ia menggenggam tanganku erat agar aku tak melarikan diri lagi. Kupandangi jam tangan Lucy sekali lagi. Jam 11.58. aku ingin pergi. Aku ingin bertemu Runa. Aku ingin kembali ke sana. Sekarang juga.

Aku menutup mataku dengan bimbang. Kubayangkan mercusuar itu. Terasa Hembusan angin sore. Samar-samar terdengar kicauan burung yang hilang sejak peristiwa itu. Aku merasakan keindahan. Keindahan itu kembali padaku bersama hari yang hilang. Kubuka mataku, dan kutemukan ia disini.

Runa adalah keajaibanku. Keajaibannya berhasil membawaku kembali ke mercusuar itu. Runa tertidur dengan damai disampingku. Angin malam yang dingin mengusik tidurnya. Kemudian ia membuka matanya yang indah.
”Lucky?... Jam berapa sekarang?” suara merdunya kembali mengisi telingaku.
”Sudah pagi” jawabku. Sebenarnya aku juga tak tahu. Jam yang kugantungkan di menara itu telah berhenti tepat jam 12. bagaikan satu detik kebahagiaan yang selalu kunantikan di hari yang hilang.
”Lihatlah, matahari terbit” kataku menunjuk lautan.
”Lucky, kita tak bisa melihat matahari terbit dari sini. Mercusuar ini menghadap ke barat” tawa Runa.
“Bayangkan saja” aku ikut tertawa. ”Dan tentu saja kita bisa melihatnya”

Matahari benar-benar muncul dari lautan. Sinarnya menyelimuti kami dengan kehangatannya.
”Selamat datang kembali, Melissa” kataku tersenyum sangat bahagia.
”Selamat datang, Lucky. Kau tahu, aku selalu menunggumu disini...” senyuman Runa mengalahkan segala keajaiban.
”Aku tahu. Aku juga selalu menunggumu disini. Dan sekarang akhirnya kita bisa bertemu lagi di hari spesialmu ini.”
”Hari spesial kita” kata Runa melengkapi. ”Sekarang kita bisa bersama selamanya, dalam ketiadaan”

”Aku mencintaimu, Lucky.”

”Aku mencintaimu, Melissa.”

~_~_~_~_~

Mereka pasti terkejut menemukan mayatku di mercusuar itu beberapa jam kemudian. Mayatku pasti jadi mayat pertama yang mereka lihat tertidur dengan damai dan bahagia. Dan beberapa jam kemudian mereka akan tetap meledakkan mercusuar itu. Aku sudah tak peduli, karena sekarang aku telah bersama Runa.
Selamat tinggal...
Aku dan Runa telah pergi bersama hari yang hilang.
Mungkin kami akan kembali lagi, 4 tahun kemudian...

End...

Oleh Redscreen