Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 13 Oktober 2010

Crimson Beach (Final Part)

0 komentar

Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia, 1934

Sebuah padang rumput luas nan hijau. Dikelilingi gunung – gunung biru yang tinggi menjulang ke langit. Langit biru yang tak berbatas. Awan beriak sangat tinggi di atas sana. Hembusan angin gunung lembut menerpa wajah.

Sebuah pukulan telak mendarat keras di pipi kananku. Aku terjungkal ke belakang. Rasa sakit ini menyengat – nyengat. Pipiku menggembung saat kuraba.

“Rasakan itu, Silly Tony Boy!”
“Yeah, kau pantas menerimanya, dasar pengecut!”

Di hadapanku berdiri dua orang preman yang seusia denganku. Yang bertubuh besar dan sedang mengelus tinjunya bernama Billy Westcraft, anak pemilik bar di kota Diamond Hill. Dan yang kurus berpangku tangan di sebelahnya bernama Shane Redneck, anak pemilik Bank. Mereka memang Bengal yang berkuasa di kota ini.

Sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Bukannya aku tidak kuat. Tetapi sulit sekali menahan sakit di hati ini. Saat itu aku masih 12 tahun. Aku belum bisa mengendalikan tangisanku. Air mataku meleleh begitu saja. Begitu juga dengan hidung dan tenggorokanku. Aku tak bisa berbuat apa – apa kecuali menangis tersedu – sedu di hadapan mereka. Kemudian mulutku bergerak sendiri. Mencoba mengatakan alasanku menemui mereka.

“Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu, pengecut?” Tanya Billy dengan nada menggertak.
“Topi. .itu. . “ jawabku terbata – bata. “Kumohon . . berikan topi itu.. .”
“Apa? Topi?”
“Maksudmu ini?” Shane mengeluarkan topi cantik dari sakunya.

“Ooh, betapa cantiknya. Apa ini yang kau inginkan.” Billy pura – pura mengaguminya.
“Lihat – lihat!” Shane menunjuk sesuatu di topi. “Ada bordir namanya, M-a-r-y A-n-n-e”
“Mary-Anne Lewis ?! Kau bercanda ya?” Billy terperanjat. Ia merebut topi itu. “Kau benar! Ini punya Mary-Anne si mutiara StoneHead’s farm! Aku tak percaya ini.”

Mereka malah bermain – main daripada memberikan topi itu. Mereka terkesan mengolok – olok diriku. Memang kelasku lebih rendah dari mereka. Ayahku hanya petani biasa. Ibuku menjadi pelayan keluarga Lewis Stonehead, pemilik lading pertanian tempat ayahku bekerja. Tak ada hak social yang memungkinkanku untuk melawan mereka.

“Kumohon, berikan topi itu.”
Billy dan Shane berhenti bermain topi. Mereka kembali menatapku dengan tajam.
“Jadi ini yang kau inginkan? Apa kau sedang bermimpi, heh?” ujar Billy.
“Yeah, mana mungkin sampah seperti itu berpacaran dengan anak majikannya, heh. Mendengarnya pun aku muak.”
“Oh, aku punya ide! Bagaimana kalau kau mencoba memukulku di pipi ini. Kalau berhasil, topi ini kuberikan padamu, setuju?”
“Yeah setuju!” Shane membalas. “Aku taruhan $10, dia tidak akan berani memukulmu.”
“Kau dengar itu Tony? Sekarang ayo pukul aku. Di sini nih!”

Billy menyodorkan wajahnya mendekatiku. Ia menantangku untuk memukulnya. Tapi tanganku sangat berat digerakkan. Tubuhku telah dikuasai rasa takut. Aku hanya bisa mengangkat tangan ke depan mukanya saja.

“Ah, lama!”

Billy malah mendorong kepalaku hingga terjatuh kembali.

“Lihat, ia tidak berani Shane, aku kalah taruhan. Ini $10 milikmu.” Ia memberikan lembaran uang pada Shane.
“Terimakasih, pal. Kau tahu mengapa ia tidak dapat memukulmu? Karena ia Pengecut!”
“Yeah pengecut, sana pulang ke Mama. Ini topimu.”

Billy melemparkan topi cantik itu, kemudian pergi sambil tertawa sinis. Aku ditinggalkan dalam keadaan menyedihkan. Sedih karena aku memang seorang pengecut. Orang yang sangat menyedihkan. Aku hanya bisa terlentang melihat langit sambil menangis. Pengecut yang tak berguna

Tiba – tiba seseorang menghampiriku, tak jelas siapa dia.
***
Omaha Beach, Normandia, Prancis, 6 Juni 1944
07.20
50 meter menuju Shingle

“Mundur! Mundur Semua!”
“Sial, Berlindung!”
“Pasukan Satu! Serang dari sayap kanan! Pasukan Dua, Tembakan perlindungan!”
“MEDIIISSS! God Dammit, Dimana ParaMedis!”
“Arrgghh! Tolong. . aku sekarat!”
“Ibuuu! Aku ingin pulang!”
“Kubunuh kalian, F***ING NAZI’s!”

Kegaduhan, teriakan, keramaian yang tak terkendali memenuhi udara di pantai bersimbah darah. Pasukan AS dibuat kocar – kacir oleh pasukan Jerman. Salah perhitungan, kurang akuratnya strategi, atau mental yang tidak siap dapat menjadi penyebab situasi ini. Kemungkinan penyebab terakhirlah yang aku alami saat ini

Aku masih bertahan di obstacle dimana aku diselamatkan oleh prajurit sniper yang kini tewas. Jantungku berdebar keras. Keringat dingin mengalir deras dari seluruh tubuhku. Tanganku menggenggam erat senapan serbu. Aku takut. Takut sekali. Melihat badai senapan mesin, ledakan meriam Flak88, tentara yang tewas, mendengar suara – suara yang menggelegar. Semua ini membuat badanku sulit digerakkan. Berat sekali. Bahkan aku belum menembakkan satupun butir peluru dari senapan ini.

Sejenak perhatianku teralih pada pantai. Beberapa Landing Craft mendarat, melepaskan puluhan tentara baru untuk menambah jumlah personil. Sementara itu, dari udara, pasukan terjun paying satu per satu turun dari pesawat Dakota. Langit bagai hujan manusia. Aku merasa lega mengingat jumlah kekuatan personil terus bertambah. Namun hati kecilku berkata sebaliknya. “Mau apa kalian ke sini ? Apa kalian ingin mati ?”

SIIIUUUUUTT. . . .

Terdengar suara seperti luncuran kembang api raksasa. Saat aku melihat ke atas, sebuah benda yang bersinar membelah langit dengan ekornya yang panjang. Itu bukanlah sesuatu yang indah. Itu adalah. .

“Ya Tuhan, MORTAR!”

DUAARR!

Granat mortar itu turun menghujam pasukan yang baru keluar dari Landing Craft. Mereka tewas seketika beberapa saat setelah menginjakkan kakinya di pantai. Sementara yang selamat, sekarat dengan kondisi yang mengenaskan.

ZBAM, ZBAM, Dredet-det-det,ZBAM

Kini suara ledakan dan senapan mesin saling mendominasi. Tidak bisa. Aku tidak bisa maju lagi. Aku tidak mau mati. Aku ingin pulang. Ibu, tolong aku.

“Tony . . .”

Sayup – sayup terdengar suara seseorang memanggilku. Serta merta aku mencari sumber panggilan itu.

“Pvt. Tony Brewster! Di sini!”

Aku menemukannya, orang yang memanggilku. Ia berlindung di balik karung pasir.

“Letnan McLausky. Sir!?”
“Tony, apa yang kau lakukan di sana? Cepat maju ke belakang panzer!” teriak McLausky sambil menunjuk ke arah bangkai Panzer dengan senjatanya.

“Äku tak bisa Sir, aku takut sekali!”
“What the F*** did you say? Cepat bergerak, aku akan melindungimu!”
Sebenarnya aku ingin sekali mematuhi perintah atasanku, tetapi rasa takut ini telah menguasai seluruh tubuhku.

“Negative Sir, aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku ini pengecut Sir”

Ya. Aku memang pengecut. Sejak bergabung dengan militer. Aku adalah yang paling lemah dalam kompi. Aku tak mahir dalam menembak, berlatih fisik, bahkan menbalas ejekan rekan satu kamp. Yang kulakukan hanyalah mengantar makanan, amunisi dan dokumen. Aku tak akan ada di sini jika kompi Bird tidak kekurangan personil. Memang alasanku bergabung dengan militer bukanlah menjadi patriot negara. Ada alasan lain.

“Kalau begitu untuk apa kau kemari?”
“Ha ?”
“Dengar prajurit, kau mau bilang dirimu pengecut, atau sampah sekalipun, itu takkan membawamu pulang. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menjalankan perintah atasanmu dan menembak pasukan Jerman, mengerti?”
“Tapi Sir, aku tetap tidak bisa. . “

“Very well, kalau kau tetap di sini, matilah kau.”

Dia serius. Letnan itu menembakkan senjatanya ke arahku. Untunglah tidak kena. Tetapi ini lebih menakutkan daripada tertembak musuh. Namun karenanya aku berhasil menggerakkan tubuhku lagi.

“Ökay, Sir. Bergerak menuju panzer!”

Aku berlari sekuat tenaga menuju bangkai panzer yang terkena meriam. Aku tak menghiraukan lagi desingan peluru dan meriam. Pandanganku hanya terfokus pada panzer tersebut.

“Äwas! FIRE IN THE HOLE!”

Aku mendengar seseorang memberiku peringatan tapi aku tak tahu siapa itu, yang pasti aku merasa peringatan itu pasti tertuju padaku setelah aku melihat sebuah granat kayu yang tergeletak di dekatku.

Aku berusaha untuk menghempaskan badanku.

DUUAAAARRRR

. . .
. . . . . .
. . . . . . . . . .. aku terhempas

Suara itu menggelegar bagai halilintar yang menghujam bumi. Seakan menjebol gendang telingaku. Tak ada satupun suara yang kudengar selain suara yang mendenging. Tubuhku melayang di udara kemudian jatuh ke tanah. Aku memandang lurus ke langit. Ternyata langit masih biru. Dihiasi dengan awan – awan yang beriak. Hal ini membuatku kembali ke masa lalu.
***

Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia
10 tahun yang lalu

Aku terbaring di atas padang rumput luas yang terhampar di ladang Jim Stonehead. Pandanganku lurus ke atas, menatap langit yang biru tak berbatas dengan penuh rasa kekecewaan. Kecewa dengan diriku sendiri yang menyedihkan. Kecewa mendapati diriku yang sangat pengecut. Pengecut terbesar yang ada di muka bumi. Rasa sakit di hati ini lebih sakit daripada memar di pipi ini. Air mataku terus mengalir.

Tiba – tiba seseorang menghampiriku. Ia berdiri di dekat kepalaku kemudian membungkuk hingga wajahnya mendekati wajahku. Kini aku ingat siapa dia.

“Mary-Anne Lewis. . “
“Yap, ini aku. . “

Wajah cantik itu tersenyum. Aku langsung bangkit berdiri kemudian secepatnya menghapus air mata ini. Aku malu untuk memperlihatkan wajah cengengku padanya. Gadis itu mengenakan pakaian putri bangsawan dengan rok panjang, sangat anggun. Ia juga memegang payung kecil untuk melindunginya dari panas matahari

Aku membuang muka meyembunyikan wajahku. Mary menyadarinya. Iapun mendekat kemudian tangannya menyentuh wajahku, mencoba menghapus air mataku.

“Mary. .? “
“Mengapa kau menangis?”
“Mary aku. . . “

Kata – kata sulit untuk kuungkapkan karena perih rasa sakit di hati ini dari manusia yang paling memalukan. Tapi dengan sabar ia menanti untuk mendengarkan lanjutan perkataanku. Memberiku tak ada pilihan kecuali meneruskan pembicaraan.

“. . .aku seorang pengecut. . “
“. . Hmm? Pengecut?”
“Benar. . “

Aku memjamkan mata. Aku tak berani melihat ekspresinya ketika gadis yang kukagumi mencemoohku. Apapun reaksinya sudah siap kuterima. Karena inilah kenyataan yang sebenarnya.
“Äh, topiku!”

Ternyata yang kudengar malah berbeda dengan yang kupikirkan. Ia malah mengambil topinya yang selama ini kugenggam tanpa menyadarinya. Seolah – olah ia tidak mendengarkan apa yang tadi kuucapkan.

“Wah senangnya, terimakasih – terimakasih!”
“Mary?”

Sepetinya ia senang sekali mendapatkan topinya kembali. Ia memakainya kemudian menari – nari. Ketika ia berhenti, ia menhampiriku lagi.

“Kau berhasil memenuhi janjimu untuk mencari topiku yang hilang lalu kenapa kamu mengatakan dirimu pengecut?”
“Ha?”
Kau bukan pengecut, Tony. Pengecut adalah orang yang tidak bisa memenuhi janjinya. Kau adalah pahlawanku,Tony.”
“Begitukah ?”

Kata – kata Mary saat itu seakan memberikan cahaya pada diriku yang redup. Baru kali itu aku merasa dihargai atas apa yang kulakukan. Dan aku menyadari bahwa selama ini aku salah menilai diriku sendiri.

“Hey, Tony?”
“Yeah?”
“Maukah kau menjadi pahlawanku lagi dan menjadi pahlawan bagi semua orang?”
“Hah, bagaimana caranya?”
“Mungkin menjadi prajurit dan berjuang akan membuatmu menjadi pahlawan bagi Negara.”

Sekarang aku ingat tujuanku bergabung dengan militer. Menjadi pahlawan bagi semua orang dan Mary. Kemudian semua pandanganku menjadi putih kembali. Samar – samar semua menghilang, kemudian samar – samar pemandangan baru mulai terlihat.
***

”Ëdward, cepat kau tekan di bagian sini!”
“Sial, aku kehabisan peluru. Randy, bawakan magasin ke sini!”
“Cooper, cepat ambil morfin, kau dan Scott, cepat keluarkan serpihan granat di kakinya!”
“Sial, Tony, Ayo kuatkan dirimu sialan!”

Suara gaduh kembali memenuhi kepalaku. Aku kembali ke peperangan. Perasaan aneh melingkupi seluruh tubuhku. Saat aku sadar, aku mendapati 4 orang prajurit berusaha melakukan sesuatu pada tubuhku yang terbaring. Dan kakiku telah dibalut perban.

“Letnan, dia sadar!”
“Oh Tony! Syukurlah kau kembali. Darimana saja kau ini?”
“Letnan McClausky? Apa yang terjadi?”
Kepalaku sedikit terasa pening. Aku masih belum mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
“Kau terkena ledakan granat dan hampir kehilangan kakimu.” Tentara Medis Scott.
“Sayang sekali, untuk sementara kakimu tak bisa kau gerakkan.”

“Damn it!”

Mereka benar, kakiku mati rasa. Ini membuatku tak bisa maju lagi ke baris pertahanan Jerman. Sepertinya, aku tak bisa lepas dari status pengecut. Ini mungkin takdirku.

“Katakanlah Letnan. Apa aku seorang pegecut?”

“Prajurit Tony.’ Letnan menjawab sambil memegang bahuku.

“Kalau kau seorang pengecut, seharusnya dari awal kau sudah mengundurkan diri dari militer. Tapi kenyataannya kau masih tetap bersama kami. Berjuang di tengah ketakutan dan kematian demi menjalankan tugas. Menepati janji yang kau ikrarkan saat pertama kali bergabung dengan militer. Kau bukan pengecut. Kau adalah pemberani. Kau adalah pahlawan. Lihatlah orang – orang yang di sekitarmu sekarang. Mereka percaya padamu hingga tak rela untuk membiarkanmu, seorang pahlawan gugur seorang diri.”

Aku tergugah. Kata - kata itu mirip dengan yang dikatakan Mary saat itu.

“Tapi, sir. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Kakiku tidak bisa digerakkan. “

Letnan kini memegang helm di kepalaku.

“Dengar nak, prajurit bisa saja kehilangan anggota tubuh, bahkan nyawa. Tapi mereka tidak boleh kehilangan harga diri dan semangat juang. Pertahankanlah kedua hal itu, prajurit.”
“Yeah itu benar.”
“Cool”
“Kami akan selalu bersamamu, kawan.”

Perkataan letnan didukung sikap setuju dari keempat prajurit lain. Mereka membuatku semangat kembali. Aku ingin sekali membuat mereka menghargai atas apa yang bisa kulakukan.

“Äku mengerti, Sir!”
“Lagipula masih ada yang bisa kau lakukan sekarang.”
“Apa itu. Sir?”
“Kami akan bergerak ke depan. Dari sini, aku ingin kau melakukan tembakan perlindungan.”
Letnan memberikan senjata laras panjang dengan scope.

“Aku ingin kau menembak gunner yang ada di sebelah sana dengan sekali tembak” Letnan menunujuk gunner di belakang senjata mesin di salah satu benteng.
“Sekarang kau menjadi sniper. Buktikan padaku bahwa kau bisa Ok?”
“Yes, sir!”
“Okay boys! Ayo kita bergerak!”
Letnan meninggalkan diriku bersama keempat prajurit lainnya.

Untuk pertama kalinya di sini aku diberi kepercayaan untuk menjalankan tugas khusus yang sangat berperan penting. Melindungi pasukan penembus pertahan. Aku memang belum berpengalaman menjadi penembak jitu. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak mau bernasib sepeti sniper sebelumnya.

Aku memasang senapan di celah kecil di panzer. Aku mencoba mengatur napas untuk menenangkan diri. Memperlambat denyut jantung. Setelah cukup tenang. Aku mulai membidik dari balik scope. Terlihat. Musuh yang berada cukup jauh, seolah berjarak cukup dekat dariku dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku mulai menahan napas. Memposisikan crosshair di kepalanya. Kutarik pelatuk.

DAARR

Ia jatuh. Akhirnya ia jatuh. Aku senang sekali. Untuk pertama kalinya aku menembakkan senjata dan peluru itu mengenai musuh. Eits, membunuh satu musuh masih tidak berpengaruh apa – apa. Secepatnya aku mengokang senjata. Bersiap untuk membidik musuh berikutnya.

DARR
DARR
DARR

Setiap tentara musuh yang kubidik berhasil kutembak. Darahku mendidih. Aku jadi kecanduan membunuh. Sasaran selanjutnya adalah gunner di benteng paling kanan.

Aku kembali membidik dari scope. Ia terlihat sibuk mengarahkan senjata mesinnya. Ini sasaran empuk. Aku tinggal menarik pelatuk, kemudian.

Tunggu. Aku merasakan firasat aneh. Sepertinya ada seseorang yang mengincarku. Benar saja, di samping gunner itu, sniper Jerman justru mengarahkan senjatanya sambil membidik. Sama seperti yang kulakukan. Dan aku merasakan ia membidik ke arahku.

Oh tidak. Ia membidikku. Aku bisa mati seperti Mr.Sniper. Sial, aku harus berlindung. Tapi sepertinya tidak sempat. Saat kusadari ia siap menekan pelatuk.

DUAARR

Tiba – tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar. Aku memejamkan mata sejenak menahan suara itu. Saat aku membuka mata, benteng yang jadi sasaranku telah hancur berkeping – keeping diikuti sorak sorai tentara Amerika. Pasukan Letnan McClausky berhasil menembus pertahanan Jerman kemudian meledakkan benteng terakhir. Kini keadaan berbalik. Tentara Jerman kocar – kacir lalu mundur ke pedalaman. Pertempuran di pantai berakhir dengan kemenangan sekutu.

Aku gembira di tengah sorak – sorai kemenangan. Namun aku tak bisa berjingkrak seperti tentara lain lakukan. Kakiku cedera dan tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa menatap dari posisiku saja. Entah apakah tindakanku menembak musuh membantu atau tidak, tapi aku senang bisa berkontribusi dalam kemenangan ini.

Aku kemudian merasa lelah dan lemas. Pandanganku semakin kabur. Selruh tenagaku seakan terkuras habis hingga tak bisa menggerakkan badanku. Mungkin aku kehilangan banyak darah saat terkena granat tadi. Akhirnya, aku kembali tergeletak di tanah.

Äyah. . .ibu. . Mary. . maaf. . .aku tidak . . bisa pulang. .
***

Tanggal 6 Juni 1944, sekitar 6500 kapal laut mendaratkan lebih dari 130.000 orang di 5 tempat di pantai – pantai Normandia : Utah, Omaha, Gold, Juno dan Sword. 12.000 pesawat udara memastikan kebolehannya di udara membom pertahanan Jerman. Sekutu merasa yakin bahwa peperangan akan dimenangkannya. Di pantai Utah 23.000 tentara Sekutu mendarat dan 197 orang menjadi korban, dan lebih dari 4.649 tentara Amerika Serikat menjadi korban ketika bertempur di pantai Omaha melawan tentara Jerman. Pertempuran di Omaha Beach disebut sebagai pertempuran paling berdarah dalam pertempuran Normandia.
***

12 Juni 1944
Rumah sakit St. Albertus, Maryland, Amerika Serikat

Aku terbangun dari tidur panjangku sejak pertempuran di Omaha Beach seminggu yang lalu. Begitu banyak peristiwa yang telah kualami. Saat – saat kemenangan, saat – saat yang tragis, dan saat – saat diriku terjebak dalam kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, aku telah pulang.

Di kamar rumah sakit ini, aku dikelilingi orang – orang yang amat kusayangi. Ayah, ibu, Mary – Anne Lewis, bahkan duet brandalan Billy dan Shane. Sinar kegembiraan itu amat terang terpancar dari wajah mereka. Ibu terus menangis bersyukur sambil memeluku. Begitupun ayah yang tak kuasa menahan air mata.

“Semuanya, aku pulang.”
“Selamat datang kembali.”

Mary menjawabnya. Ia kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang amat cantik dan mempesona. Putri pemilik ladang itu tumbuh dewasa dengan sangat baik dan matang. Suatu hari aku ingin sekali menjadi pendamping hidupnya.
Mary berjalan menghampiriku. Kemudian tanpa ragu ia memberikan kecupan di keningku. Rasanya hangat.

“Selamat, sekarang kau benar – benar menjadi seorang pahlawan.”
“Mary, tetapi aku tidak terlalu berjasa dalam pertempuran.”

“Cck cck cck”
Mary menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Tonyku sayang, pahlawan tidak dinilai dari seberapa besar jasa yang ia berikan. Tetapi seberapa besar ia memberi kebahagiaan pada orang yang dijanjikannya. Kau telah membahagiakan kami dengan pulang dengan selamat.”

“Mary....”

Aku sangat terharu. Aku tak menyangka bahwa pengecut seperti aku ini ternyata dapat memberi kebahagiaan bagi orang lain. Hal ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Air mata ini juga tak tertahankan. Aku menangis dalam pelukan Mary.

Ëhm, maaf mengganggu. Bisa minta perhatian sebentar?”

Kami melepaskan rangkulan. Di hadapanku berdiri seorang perwira Angkatan Darat AS.

“Saya Komandan Jerry Hathaway. Saya menemuimu untuk memberi tahumu tentang berbagai hal mengenai situasi peperangan. Pertama saya mengucapkan selamat atas kepulanganmu dengan selamat, prajurit. Kedua, Saat ini pasukan Penerjun 101 berhasil mengambil alih kota Carentan dari Jerman. Terima kasih, berkat jasamu, Letnan Eddie McClausky dan pasukannya berhasil membuka pertahanan Jerman di Omaha Beach. Ketiga, oleh karena itu, kau dipromosikan dari Prajurit menjadi Korporal dan mulai berlaku efektif pada misi pertempuran selanjutnya. Itu saja pesan dari Jenderal Cunnings. Bagaimana tanggapanmu?”

Akhrinya aku benar – benar dihargai. Walaupun aku hanya naik pangkat sebagai Mayor, namun aku sangat senang dan bangga. Namun aku sudah membuat keputusan yang bulat.

“Komandan Hathaway, sir. Sampaikan pesan saya pada Jenderal Cunings bahwa saya berterima kasih atas promosinya, tapi saya sudah lelah untuk bertempur. Saya ingin mengundurkan diri dari dinas militer dan hidup di jalan yang sudah kupilih. Maafkan saya atas keputusan yang sembrono ini. Dan Hormat saya pada beliau.”

Ya, inilah keputusan akhir hidupku. Aku ingin hidup tenang bersama orang – orang yang kusayangi dan selalu menjadi pahlawan bagi mereka.

Tamat

Crimson Beach ( First Part )

0 komentar

Pantai
Tempat di mana ombak berkejaran
Tempat di mana pasir putih terbentang
Tempat di mana langit biru tak pernah berakhir
Dan angin lembut berhembus dari cakrawala
Di sana, kedamaian datang pada orang yang mencarinya

Tetapi
Tidak pada hari ini
***

6 Juni 1944, pukul 7.00
Laut yang kasar, Normandia, Perancis
Hari-H

Gulungan ombak besar menerpa, mengguncangkan Landing Craft (kapal angkut tentara) yang membawaku dan ke-51 prajurit yang lainnya. Setiap guncangan yang kuterima mengingatkanku ketika pertama kali berlatih rodeo dengan ayah. Terima kasih ayah yang telah melatih perutku untuk tidak mual pada saat seperti ini. Pvt.(Private / prajurit) Richardson yang berdiri di kiri depanku tak dapat menahan desakan dari perutnya. Iapun membanjiri kapal dengan sarapannya.

Kapal yang mengarungi lautan kasar ini membawa kami, tentara divisi Infantry ke-29, Bird Company menuju salah satu pantai di Normandia yang diberi nama sandi “Omaha”, nama daerah di AS. Pantai Omaha adalah salah satu tempat pendaratan pasukan AS yang berangkat dari Inggris selain tempat – tempat lainnya seperti Sword beach, Juno, Point-du-hoc, Gold, Utah, dan lainnya.

Perjalanan ini bukanlah rekreasi. Kami diberi misi untuk menyerang basis Jerman yang ada di Perancis. Kami pergi untuk berperang. Itulah sebabnya, orang – orang di sini tak satupun yang merasa senang. Perasaan takut, gelisah, khawatir, dan patriotisme mengisi udara di atas kapal ini. Aku sendiri tak tahu apa yang kurasakan saat ini

Berbagai macam ekpresi muram ditunjukan para tentara Bird Company. Pvt Ramshey tak berhenti berdoa. Pvt.Elias memegang erat senapan serbunya sambil memanggil ibunya. Medic Scott terus menegak whisky untuk menghilangkan rasa takut. Pada dasarnya kompi ini berisi freshmen yang belum pernah diuji di medan perang sesungguhnya. Tak heran jika semuanya kalut.

Samar – samar kudengar dentuman – dentuman yang kukenali sebagai suara meriam artileri “Flak 88” milik Jerman. Kami semakin dekat dengan medan perang. Debaran jantung kurasakan semakin keras. Perasaanku semakin tak menentu. Di depan, cebar – cebur air melompat ke udara diikuti ledakan menyambut iringan Landing Craft pasukan AS menuju pantai Omaha. Aku yakin rekan – rekan dari kompi lain juga merasakan hal yang sama denganku. Dari udara, pesawat – pesawat angkatan udara berputar – putar di atas pantai seperti lalat sambil melepaskan rudal dan bom demi membersihkan pantai.

Di sebelah kiri, sebuah kapal Landing Craft yang membawa sebagian kompi Able bergerak lebih cepat dari kapal ini. Tak diduga, sebuah peluru Flak 88 tiba – tiba menghujam kapal tersebut tepat dan meledak di depan mataku.

“Oh Tuhan !”

Aku tak percaya hal ini. Tampaknya tak ada satupun dari mereka yang selamat. Mereka gugur lebih dahulu sebelum tiba di medan perang. Dan kami bisa menjadi sasaran berikutnya. Sementara itu, di arah jam 3, Landing Craft yang membawa tank Sherman tersangkut Ramp (Rangka beton yang mencuat ke atas) beranjau kemudian meledak. Pasukan tank beserta tank hancur berantakan dan jatuh ke laut.

Satu per satu kompi gugur. Suara – suara benturan antara peluru dengan baja pelindung kapal mulai terdengar. Kami sudah memasuki medan pertempuran.

Sgt.(sersan) Willard yang duduk di barisan kedua berbalik menghadap kami.

“Bird Company ! Dengarkan aku baik – baik!”

Ia berteriak untuk memberikan instruksi. Berarti sebentar lagi kami akan mendarat.

“Sebentar lagi kita tiba di Omaha Beach, tugas kalian adalah berlari menyusuri pantai hingga point Shingle! Mengerti kalian ?!”

“Yes sir !” kami serempak menjawab.

Shingle adalah nama parit pertahanan luar Jerman.

“Ada dua aturan dalam pertempuran ini!” Sgt.Willard melanjutkan. “Pertama, kalian tidak berguna jika kalian mati! Kedua, kalian ke sini untuk jadi pahlawan, bukan jadi pengecut, paham ?! Ada pertanyaan ?!”

“Yes sir! No Sir!”

“Sekarang siapkan senjata kalian. Hari ini kita akan menghajar para Kraut (Jerman) keparat itu !”

Kami mempersiapkan senjata dan mental kami. Aku sendiri mengisi peluru M1-Garrand kemudian menggenggamnya erat – erat. Seluruh perasaan takut aku kurung dalam kepalan tanganku.

Kapal berguncang pertanda kami telah mendarat di pantai. Suara desingan peluru semakin sering terdengar bahkan mengisi udara. Kemudian palka ramp depan pun dibuka

“SEERAAANG !”

6 Juni 1944, pukul 07.20
Omaha Beach, Normandia, Perancis
Hari-H

Dret-det-det-det! Blam-blam! Dzing! Siiuut. . Duaarr!

Berbagai macam suara dentuman dan letusan senjata langsung menyeruak, membahana ketika perisai depan kapal diturunkan. Sebuah pemandangan yang luar biasa mengerikan terbentang di pantai di hadapanku. Mayat – mayat prajurit bergelimpangan di mana – mana. Yang terluka mengerang kesakitan dengan kondisi miris. Aku bahkan melihat seorang prajurit tergeletak dengan usus terburai sambil meringis dan memanggil ibu dan ayahnya.

“MAJUU!” perintah sersan Willard.

Kamipun serempak berlari sekuat tenaga menuju ke daratan pantai diikuti ratusan tentara dari kompi lain, yang mendarat pada gelombang yang sama. Tugas kami saat ini cukup sederhana, yaitu berlari menuju point pertemuan Shingle di parit pertahanan luar Jerman. Namun yang tersulit adalah bertahan hidup dari serangan pertahanan Jerman dalam perjalanan. Ini mempertaruhkan nyawa kami.

“Maju Bird Company! Tinggalkan kapal!”

Sekuat tenaga aku berlari dalam rombongan kompi menembus hujan peluru yang deras menerpa. Hujan yang dimana setiap tetesannya adalah kematian.

DUAARR!

Beberapa saat kemudian, sesuai perkiraan sersan, kapal yang kami tumpangi meledak dihajar peluru meriam. Sedikit saja terlambat, nyawa bisa melayang. Kalau sudah begini, tak ada jalan untuk kembali.

“Ayo, tim! Tetap bersama – sama! Jangan sampai berpisah!”

Di hadapan kami menjulang tebing terjal. Di puncaknya terdapat 3 sampai 4 benteng pos pertahanan Jerman. Di jendela pengintainya terpasang senapan mesin MG-42 yang dapat memuntahkan 100 peluru 7.59 mm dalam 1 detik. Aku dapat melihat proyektilnya seperti anak panah api yang melesat bagai kilat dan siap menembus siapapun yang ada di hadapannya. Pasukan MG42 juga ada yang berada di balik tumpukan karung pasir.

Selain senjata mesin, yang paling berbahaya adalah meriam artileri anti tank dan pesawat Flak88. Ia dapat menembakkan peluru 88mm sejauh 5 km. Ia juga dapat menghancurkan apapun yang disentuhnya dalam radius 5 m. Kami sudah kehilangan banyak tank karenanya. Pertahanan yang hebat dan tidak seimbang mengingat senjata kami saat ini hanya senapan serbu biasa.
***

Kami masih terus berlari ke arah tebing. Pasir pantai ini membuat langkahku sangat berat. Suasana di sini ramai sekali. Riuh renyah teriakan para prajurit yang kalang kabut membuat perintah atasan menjadi tidak jelas. Beberapa prajurit kami membalas tembakan ke arah Jerman, namun berakhir dengan tewasnya prajurit tersebut karena dibalas dengan senapan mesin.

Ledakan – ledakan peluru meriam mengepung kami. Bekasnya membentuk lubang kawah besar. Aku tak mau melihat prajurit yang tubuhnya hancur terkena ledakannya. Suara desing peluru MG42 bagai membelah kepala dari telinga kiri ke telinga kanan.

“Badai di depan! Berlindung!” sersan tiba – tiba berteriak.

Di Hadapan, badai peluru meluncur ke arah kami sambil menjejakkan lubang di atas pasir. Prajurit – prajurit dengan sigap melompat menjauhinya kemudian tiarap. Ada juga yang lelet. Iapun tewas terkena amukannya. Sedangkan aku.

Sial, aku malah berdiri terpaku melihat badai peluru bagai puting beliung di tengah padang pasir. Butir – butir pasir yang diterbangkannya bagai peri yang sedang menari. Aku terus memperhatikannya hingga ia berada beberapa inchi lagi, dan kemudian. . .

Seseorang menarikku.

Ketika sadar aku berada di balik obstacle (pagar besi penghalang tank). Seorang prajurit sniper (penembak jitu) melepaskan cengkeramannya di bajuku.

“Apa yang kau lakukan,nak? Apa kau ingin mati? “ demikian ia membentakku.

“Ma-maaf, aku. Aku. .”
“Tenangkan dirimu, Rookie (pemula)!”

Perlahan, aku memperlambat napasku. Aku masih tak percaya aku masih hidup padahal barusan aku hampir disentuh malaikat maut. Tanganku gemetar dengan hebat. Jantungku berdebar kencang. Melihatku, sniper itu menepuk bahuku.

“Tenanglah, kau beruntung Rookie. Tidak seperti dia. .”
“Oh Jeez . .”
Sniper itu menunjuk mayat yang tergeletak di sebelahnya. Seorang prajurit AS yang tewas kehilangan batok kepalanya. Otaknya menghambur keluar.

“Dengarkan aku Rookie, MG42 itu masih memburu kita. Untuk sementara, kamu tetap di sini dulu. Aku akan memebersihkan mereka untukmu.”
“Yes sir!”

Aku mengikuti perintahnya. Ia terlihat sangat berpengalaman dalam medan perang. Dengan tenang ia mengisi peluru senjata laras panjang Springfield sambil menghisap cerutu kemudian diarahkan melalui sela – sela pagar. Dengan tajam, matanya memburu Kraut melalui scope (teropong) senjatanya.

Daarr! Seorang tentara Jerman tewas
“One Down!” serunya.

Daarr! “Two down, one more ago”

Daarr!

Aku terkejut. Yang jatuh kali ini justru Mr.Sniper sendiri. Ternyata kraut telah menyadari posisi kami dan segera menembak sebelum sniper itu menembaknya. Peluru mereka menembus scope dan mengenai mata sniper hingga tewas seketika.

“Shit! God Damn!”

Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan. Badai senapan mesin masih berburu, meriam mengintai, dan musuh telah mengetahui posisiku.

bersambung...

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pensil dan Penghapus

0 komentar


Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Aku mencintai Artha. Aku sudah menyukainya sejak awal kami bertemu pada ujian pendafaran masuk kampus sekitar tujuh tahun yang lalu. Artha tidak terlalu tampan. Tapi juga tidak jelek. Dia memiliki sepasang bola mata hitam kecoklatan, sepasang alis mata yang tidak terlalu tebal, hidung yang tidak dapat dikatakan mancung, dan bibir tipis yang kemerahan. Wajahnya yang oval dibingkai dengan rahang yang kokoh, dengan lesung pipit di pipi kirinya jika dia tersenyum. Tubuhnya tinggi dengan pundak yang lebar.

Aku sangat, sangat, sangat terpesona padanya. Aku masih ingat dengan jelas ketika pada ujian pendaftaran masuk itu, setengah jam sebelum ujian berakhir aku baru sadar kalau jawaban yang kulingkari dengan pensil 2B pada kertas jawabanku itu terlompat satu. Ada lima puluh soal yang diujikan. Dan ketika aku sampai pada nomor terakhir di kertas soal, aku baru menyadari kalau pada kertas jawabanku, aku baru sampai pada nomor empat puluh sembilan. Setelah kuperiksa ulang, rupanya aku melewatkan soal nomor sembilan, dan menuliskan jawaban nomor sepuluh di soal menjadi nomor sembilan di kertas jawabanku, dan seterusnya.

Kurogoh-rogoh isi tasku mencari sebuah penghapus dan tidak menemukan benda yang kucari di sana. Itu membuatku panik. Aku duduk dengan gelisah sementara dahiku mulai berkeringat dingin. Aku tidak mau kalau aku sampai tidak lulus ujian masuk karena hal konyol seperti ini. Kulirik kanan kiriku dengan bingung. Aku sudah hampir menangis. Kemudian tiba-tiba dari belakang, seseorang menyentuh pundakku.

“Mau pinjam?” tanyanya. Kulirik mata pengawas yang tertuju pada kami. Lalu secepat kilat aku mengangguk seadanya dan mengambil penghapus itu dari tangannya. Itulah pertama kalinya aku memperhatikannya. Oh, bukan memperhatikan. Tepatnya, aku jatuh cinta padanya.

Tuhan sungguh baik padaku. Pertemuan kami tidak berakhir sampai di sana. Dia membiarkan kami satu kelas, satu organisasi, dan yang terpenting, memiliki satu perasaan yang sama. Empat bulan setelah awal pertemuan kami, Artha memintaku menjadi pacarnya dan membuatku hampir pingsan karena terlalu bahagia.

Artha pacar pertamaku. Dan aku berharap dia juga akan menjadi yang terakhir dalam hidupku. Sampai saat itu tiba. Saat hubunganku dengan Artha yang nyaris empat tahun berakhir begitu saja ketika dia memutuskan untuk pindah ke Jepang dan melanjutkan studinya di sana. Tidak pernah ada lagi kabar yang kudengar dari Artha semenjak kepergiannya. Dia seolah hilang ditelan bumi. Meninggalkanku sendirian digulung kesedihan.

Dua tahun kemudian aku bertemu Arga di perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tempatku melamar pekerjaan. Pertama kali melihatnya, aku seperti menemukan getaran yang telah lama hilang di hatiku. Matanya sama jernih dengan mata Artha. Senyumnya sama lembut dengan senyum Artha. Cintanya sama tulus dengan cinta Artha yang dulu pernah singgah dalam hidupku. Kubiarkan Arga mencuri tempat Artha dan menambal lubang yang menganga lebar di sana. Juga membiarkan Arga melingkarkan cincin di jari manis kananku malam ini.

Aku menikah dengan Arga.

Yang tidak pernah kusangka adalah aku akan melihat Artha lagi. Setidaknya aku tidak pernah mengira akan bertemu lagi dengan Artha pada malam ini. Malam pernikahanku. Malam di mana aku dengan sah menjadi milik orang lain.

Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Ketika pandangan mata kami bertabrakan, aku dapat membaca kesakitan maha dahsyat yang menggemuruh di kedua bola matanya. Kesakitan yang aku tahu dia tidak berpura-pura. Sepasang mata Artha yang masih sama dengan tiga tahun yang lalu sebelum dia meninggalkanku. Aku hampir menjerit. Hampir berteriak dan memeluk laki-laki yang kini sedang bergerak mendekat dan menyalamiku.

“Selamat ya.” katanya lirih. Suara yang setengah mati kuimpikan selama tiga tahun ini.

Tapi kekagetanku tidak berhenti sampai di sana. Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir Artha, membuat ulu hatiku begitu nyeri seakan dihantam dengan palu godam.

“Kamu akan menjadi kakak iparku yang paling cantik mulai malam ini.” ucapnya dengan menguntai seulas senyum pahit. Mata Artha yang biasa selalu tersenyum lembut, malam ini terlihat basah berkaca-kaca.

Kutatap punggung Artha yang bergerak menjauh, kemudian dengan segera kualihkan pandanganku dan menatap Arga dengan pandangan tak percaya.

“Kamu punya adik?” tanyaku menahan sakit yang membuat mataku mulai terasa panas tergenang air mata. “Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?”

“Artha maksudmu?” Arga balas bertanya padaku dengan lembut. “Dia adik satu ayah lain ibu denganku. Aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Lagipula dia baru saja pulang dari Jepang malam ini. Ayah yang memintanya untuk datang ke pestaku dan menjemputnya dari bandara langsung kemari. Untung Ayah tidak terlambat datang ke pesta kita.”

Arga tertawa kecil. Tapi aku sudah tidak bisa ikut tertawa lagi. Jawaban Arga membuatku terhenyak. Kugigit bibirku kuat-kuat. Aku sungguh ingin berteriak. Aku ingin memanggil Artha untuk kembali ke hadapanku. Tapi lidahku terasa kelu. Suaraku tercekat entah di mana. Dan pada saat aku menemukan kembali suaraku, Arga telah menggenggam tangan kananku dan meremasnya dengan penuh kehangatan. Aku merasa tubuhku melemas. Aku tidak bisa mengkhianati Arga. Aku sendiri yang telah memutuskan untuk memilih Arga. Aku harus belajar mencintainya sebagaimana dia mencintaiku.

Kuurungkan niatku dan membuang pandanganku dari Arga, sekali lagi melihat Artha yang kini berdiri beberapa belas meter di hadapanku sebelum akhirnya dia berpaling dan berlalu pergi dari pestaku.

Sekarang aku tahu pasti mengapa mata dan senyum Arga sama persis dengan yang dimiliki Artha....

***

Aku memutuskan untuk mengakui semuanya pada Arga. Kuceritakan semuanya pada Arga mulai dari awal perkenalanku dengan Artha, betapa aku mencintainya, dan betapa aku sangat bahagia menjalin hubungan dengannya selama itu, serta merasa masih mencintainya sampai detik ini sekalipun aku telah menikah. Aku sempat mengira Arga akan mengamuk dan menamparku keras-keras di kamar pengantin kami malam itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia malah memelukku erat-erat dan berbisik dengan lembut di telingaku. Bisikan yang membuat tengkukku berdiri dan menangis begitu terharu.

“Artha akan kembali ke Jepang besok pagi. Temui dia yang terakhir kalinya, Reyn. Supaya kamu dapat melepaskan masa lalumu dan melangkah untuk masa depanmu.”

Arga merenggangkan pelukannya. Kemudian dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia mengangkat daguku dan menatap mataku dalam-dalam. Disekanya air mataku dengan sangat perlahan, seakan-akan jika dia mencoba menyentuhku lebih kuat sedikit saja, aku akan retak seperti porselen yang terbanting ke lantai.

“Kamu tahu kenapa kaca spion mobil lebih kecil dari kaca depannya?” tanyanya hangat. “Karena Tuhan menginginkan manusia lebih sedikit melihat ke belakang dan lebih banyak melihat ke depan, Reyn....”

Untaian kalimat Arga yang begitu tulus membuatku terisak-isak seperti orang gila. Separuh karena merasa bersalah padanya, separuh lagi merasa bersalah pada Artha. Tapi di saat seperti ini pun Arga tidak menghakimiku. Dia hanya membiarkanku menangis dalam pelukannya hingga malam kian larut dan aku tertidur di dadanya yang bidang.

***

Kulihat Artha tersentak ketika melihat kehadiranku dan Arga di bandara pagi itu, namun dengan segera dia mencoba menguasai dirinya. Arga mengucapkan salam perpisahan singkat pada Artha dan pamit untuk ke kamar kecil sebentar. Aku tahu Arga sengaja melakukannya dan memberikan waktu padaku untuk berdua saja dengan Artha.

“Sekali lagi, selamat ya.” ujar Artha terbata-bata. “Aku yakin Arga orang yang sangat baik. Dia pasti akan menjagamu lebih daripada dia menjaga dirinya sendiri.”

“Kenapa tiga tahun yang lalu kamu memutuskan pergi dan tidak pernah memberiku kabar sama sekali?” tanyaku tanpa menggubris ucapannya.

“Karena aku merasa tidak pantas untukmu.” tukas Artha setelah diam sesaat dan kembali membuatku merasa ada garam yang tertabur di lukaku yang belum sembuh. “Kamu tahu pasti aku bukan terlahir dari keluarga berada. Dan ketika aku tahu kalau ternyata ibuku hanya wanita yang dimadu, aku merasa tertampar. Aku merasa hidup mendorongku hingga terjatuh ke jurang yang paling dalam. Kemudian aku memutuskan pergi ke Jepang berkat beasiswa yang kudapatkan dengan susah payah, berusaha memperbaiki hidup dan menata hatiku di sana, sehingga ketika aku kembali nanti, aku bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih layak pada ibu... dan tadinya- padamu juga.”

Kukerjapkan mataku yang terasa perih. Sebisa mungkin kutahan air mata yang mendesak keluar dari kedua mataku yang sembab.

“Tapi kurasa aku terlambat.” Bibir tipis Artha tersungging getir. “Kamu sudah menemukan orang lain yang seribu bahkan sejuta kali lebih baik dariku. Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang pernah kulakukan. Dia akan menjagamu seumur hidupmu.”

Aku mencari-cari kebohongan dan kemarahan dalam setiap ucapan Artha dan tidak menemukannya. Dia tulus mengatakannya. Dia ikhlas membiarkanku mengecap kebahagiaan dengan orang lain. Ketulusan yang membuatku merasa kerdil dan egois telah menyalahkannya selama ini.

“Dulu, aku pernah mencintaimu. Sekarang pun sama.” lanjut Artha sederhana. “Tapi dengan cinta yang berbeda. Aku akan menghormatimu sebagai kakak iparku dan juga akan mengunjungimu setiap kali ketika aku kembali ke Jakarta untuk menemui ibu.”

Usai berucap demikian, Artha menarik tangan kiriku dan meletakkan sesuatu di tanganku.

“Jangan buka tanganmu sebelum pesawatku tinggal landas.” ucapnya pelan.

Kugenggam benda pemberian Artha erat-erat sembari mengikuti langkahnya yang akhirnya memisahkan kami dalam ruangan berbeda karena pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat. Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Awan putih laksana gulali indah yang menghias langit pagi itu. Seberkas cahaya dan sebuah pesawat yang tampak seperti miniatur, menggores permukaan langit sejauh mataku memandang.

Dengan tangan yang gemetar hebat, kubuka tangan kiriku yang terkepal memegang pemberian Artha tadi. Mataku terpaku pada sebuah benda kecil di telapak tangan kiriku. Mungkin bukan benda yang istimewa bagi orang lain. Tapi sangat berarti dalam hidupku.

Sebuah penghapus.

Air mataku tumpah.

Berlinang-linang.

***

“Kamu tahu? Kita adalah pensil dan penghapus.” kata Artha seraya membelai rambutku malam itu. Malam pertama ketika dia mengungkapkan perasaannya padaku dan mengajakku makan malam berdua.

“Pensil dan penghapus?” Kutatap wajahnya dan menyatukan alisku dengan pandangan tak mengerti.

“Kamu pensilnya dan aku penghapusnya.” Artha tersenyum begitu lembut dan hampir membuatku meleleh bahagia. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu. Sampai mungkin akhirnya aku akan menghilang dan kamu akan menemukan yang baru sebagai penggantiku….”

***

Pikiranku masih terseret pada kenangan masa lalu kalau saja bukan tepukan pelan di kedua bahuku menarikku kembali ke alam nyata. Aku menoleh sekejab dan mendapati Arga menatapku dengan penuh kasih sayang.

Aku menarik nafas dalam-dalam sampai paru-paruku terasa penuh. Kubalas tatapan Arga dengan penuh rasa terima kasih yang tak mampu kuwujudkan dalam kata-kata.

Arga menggamit lenganku, kemudian membiarkanku mengikuti langkahnya.

Jalanku masih panjang. Kalau dulu aku pernah melakukan kesalahan, kupastikan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku akan terus melangkah. Dengan Arga di sisiku.

“Sekarang, kamu adalah pensil. Dan aku penghapusnya….” gumamku tulus. Arga menoleh dan mengernyitkan keningnya. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu.”

Kuulang setiap kata-kata yang dulu pernah Artha ucapkan padaku. Tapi aku tidak mengutip kalimat terakhirnya. Aku tidak ingin Arga mencari penggantiku. Karena mulai saat ini, aku tidak akan menghilang darinya….