Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 13 Oktober 2010

Crimson Beach ( First Part )

0 komentar

Pantai
Tempat di mana ombak berkejaran
Tempat di mana pasir putih terbentang
Tempat di mana langit biru tak pernah berakhir
Dan angin lembut berhembus dari cakrawala
Di sana, kedamaian datang pada orang yang mencarinya

Tetapi
Tidak pada hari ini
***

6 Juni 1944, pukul 7.00
Laut yang kasar, Normandia, Perancis
Hari-H

Gulungan ombak besar menerpa, mengguncangkan Landing Craft (kapal angkut tentara) yang membawaku dan ke-51 prajurit yang lainnya. Setiap guncangan yang kuterima mengingatkanku ketika pertama kali berlatih rodeo dengan ayah. Terima kasih ayah yang telah melatih perutku untuk tidak mual pada saat seperti ini. Pvt.(Private / prajurit) Richardson yang berdiri di kiri depanku tak dapat menahan desakan dari perutnya. Iapun membanjiri kapal dengan sarapannya.

Kapal yang mengarungi lautan kasar ini membawa kami, tentara divisi Infantry ke-29, Bird Company menuju salah satu pantai di Normandia yang diberi nama sandi “Omaha”, nama daerah di AS. Pantai Omaha adalah salah satu tempat pendaratan pasukan AS yang berangkat dari Inggris selain tempat – tempat lainnya seperti Sword beach, Juno, Point-du-hoc, Gold, Utah, dan lainnya.

Perjalanan ini bukanlah rekreasi. Kami diberi misi untuk menyerang basis Jerman yang ada di Perancis. Kami pergi untuk berperang. Itulah sebabnya, orang – orang di sini tak satupun yang merasa senang. Perasaan takut, gelisah, khawatir, dan patriotisme mengisi udara di atas kapal ini. Aku sendiri tak tahu apa yang kurasakan saat ini

Berbagai macam ekpresi muram ditunjukan para tentara Bird Company. Pvt Ramshey tak berhenti berdoa. Pvt.Elias memegang erat senapan serbunya sambil memanggil ibunya. Medic Scott terus menegak whisky untuk menghilangkan rasa takut. Pada dasarnya kompi ini berisi freshmen yang belum pernah diuji di medan perang sesungguhnya. Tak heran jika semuanya kalut.

Samar – samar kudengar dentuman – dentuman yang kukenali sebagai suara meriam artileri “Flak 88” milik Jerman. Kami semakin dekat dengan medan perang. Debaran jantung kurasakan semakin keras. Perasaanku semakin tak menentu. Di depan, cebar – cebur air melompat ke udara diikuti ledakan menyambut iringan Landing Craft pasukan AS menuju pantai Omaha. Aku yakin rekan – rekan dari kompi lain juga merasakan hal yang sama denganku. Dari udara, pesawat – pesawat angkatan udara berputar – putar di atas pantai seperti lalat sambil melepaskan rudal dan bom demi membersihkan pantai.

Di sebelah kiri, sebuah kapal Landing Craft yang membawa sebagian kompi Able bergerak lebih cepat dari kapal ini. Tak diduga, sebuah peluru Flak 88 tiba – tiba menghujam kapal tersebut tepat dan meledak di depan mataku.

“Oh Tuhan !”

Aku tak percaya hal ini. Tampaknya tak ada satupun dari mereka yang selamat. Mereka gugur lebih dahulu sebelum tiba di medan perang. Dan kami bisa menjadi sasaran berikutnya. Sementara itu, di arah jam 3, Landing Craft yang membawa tank Sherman tersangkut Ramp (Rangka beton yang mencuat ke atas) beranjau kemudian meledak. Pasukan tank beserta tank hancur berantakan dan jatuh ke laut.

Satu per satu kompi gugur. Suara – suara benturan antara peluru dengan baja pelindung kapal mulai terdengar. Kami sudah memasuki medan pertempuran.

Sgt.(sersan) Willard yang duduk di barisan kedua berbalik menghadap kami.

“Bird Company ! Dengarkan aku baik – baik!”

Ia berteriak untuk memberikan instruksi. Berarti sebentar lagi kami akan mendarat.

“Sebentar lagi kita tiba di Omaha Beach, tugas kalian adalah berlari menyusuri pantai hingga point Shingle! Mengerti kalian ?!”

“Yes sir !” kami serempak menjawab.

Shingle adalah nama parit pertahanan luar Jerman.

“Ada dua aturan dalam pertempuran ini!” Sgt.Willard melanjutkan. “Pertama, kalian tidak berguna jika kalian mati! Kedua, kalian ke sini untuk jadi pahlawan, bukan jadi pengecut, paham ?! Ada pertanyaan ?!”

“Yes sir! No Sir!”

“Sekarang siapkan senjata kalian. Hari ini kita akan menghajar para Kraut (Jerman) keparat itu !”

Kami mempersiapkan senjata dan mental kami. Aku sendiri mengisi peluru M1-Garrand kemudian menggenggamnya erat – erat. Seluruh perasaan takut aku kurung dalam kepalan tanganku.

Kapal berguncang pertanda kami telah mendarat di pantai. Suara desingan peluru semakin sering terdengar bahkan mengisi udara. Kemudian palka ramp depan pun dibuka

“SEERAAANG !”

6 Juni 1944, pukul 07.20
Omaha Beach, Normandia, Perancis
Hari-H

Dret-det-det-det! Blam-blam! Dzing! Siiuut. . Duaarr!

Berbagai macam suara dentuman dan letusan senjata langsung menyeruak, membahana ketika perisai depan kapal diturunkan. Sebuah pemandangan yang luar biasa mengerikan terbentang di pantai di hadapanku. Mayat – mayat prajurit bergelimpangan di mana – mana. Yang terluka mengerang kesakitan dengan kondisi miris. Aku bahkan melihat seorang prajurit tergeletak dengan usus terburai sambil meringis dan memanggil ibu dan ayahnya.

“MAJUU!” perintah sersan Willard.

Kamipun serempak berlari sekuat tenaga menuju ke daratan pantai diikuti ratusan tentara dari kompi lain, yang mendarat pada gelombang yang sama. Tugas kami saat ini cukup sederhana, yaitu berlari menuju point pertemuan Shingle di parit pertahanan luar Jerman. Namun yang tersulit adalah bertahan hidup dari serangan pertahanan Jerman dalam perjalanan. Ini mempertaruhkan nyawa kami.

“Maju Bird Company! Tinggalkan kapal!”

Sekuat tenaga aku berlari dalam rombongan kompi menembus hujan peluru yang deras menerpa. Hujan yang dimana setiap tetesannya adalah kematian.

DUAARR!

Beberapa saat kemudian, sesuai perkiraan sersan, kapal yang kami tumpangi meledak dihajar peluru meriam. Sedikit saja terlambat, nyawa bisa melayang. Kalau sudah begini, tak ada jalan untuk kembali.

“Ayo, tim! Tetap bersama – sama! Jangan sampai berpisah!”

Di hadapan kami menjulang tebing terjal. Di puncaknya terdapat 3 sampai 4 benteng pos pertahanan Jerman. Di jendela pengintainya terpasang senapan mesin MG-42 yang dapat memuntahkan 100 peluru 7.59 mm dalam 1 detik. Aku dapat melihat proyektilnya seperti anak panah api yang melesat bagai kilat dan siap menembus siapapun yang ada di hadapannya. Pasukan MG42 juga ada yang berada di balik tumpukan karung pasir.

Selain senjata mesin, yang paling berbahaya adalah meriam artileri anti tank dan pesawat Flak88. Ia dapat menembakkan peluru 88mm sejauh 5 km. Ia juga dapat menghancurkan apapun yang disentuhnya dalam radius 5 m. Kami sudah kehilangan banyak tank karenanya. Pertahanan yang hebat dan tidak seimbang mengingat senjata kami saat ini hanya senapan serbu biasa.
***

Kami masih terus berlari ke arah tebing. Pasir pantai ini membuat langkahku sangat berat. Suasana di sini ramai sekali. Riuh renyah teriakan para prajurit yang kalang kabut membuat perintah atasan menjadi tidak jelas. Beberapa prajurit kami membalas tembakan ke arah Jerman, namun berakhir dengan tewasnya prajurit tersebut karena dibalas dengan senapan mesin.

Ledakan – ledakan peluru meriam mengepung kami. Bekasnya membentuk lubang kawah besar. Aku tak mau melihat prajurit yang tubuhnya hancur terkena ledakannya. Suara desing peluru MG42 bagai membelah kepala dari telinga kiri ke telinga kanan.

“Badai di depan! Berlindung!” sersan tiba – tiba berteriak.

Di Hadapan, badai peluru meluncur ke arah kami sambil menjejakkan lubang di atas pasir. Prajurit – prajurit dengan sigap melompat menjauhinya kemudian tiarap. Ada juga yang lelet. Iapun tewas terkena amukannya. Sedangkan aku.

Sial, aku malah berdiri terpaku melihat badai peluru bagai puting beliung di tengah padang pasir. Butir – butir pasir yang diterbangkannya bagai peri yang sedang menari. Aku terus memperhatikannya hingga ia berada beberapa inchi lagi, dan kemudian. . .

Seseorang menarikku.

Ketika sadar aku berada di balik obstacle (pagar besi penghalang tank). Seorang prajurit sniper (penembak jitu) melepaskan cengkeramannya di bajuku.

“Apa yang kau lakukan,nak? Apa kau ingin mati? “ demikian ia membentakku.

“Ma-maaf, aku. Aku. .”
“Tenangkan dirimu, Rookie (pemula)!”

Perlahan, aku memperlambat napasku. Aku masih tak percaya aku masih hidup padahal barusan aku hampir disentuh malaikat maut. Tanganku gemetar dengan hebat. Jantungku berdebar kencang. Melihatku, sniper itu menepuk bahuku.

“Tenanglah, kau beruntung Rookie. Tidak seperti dia. .”
“Oh Jeez . .”
Sniper itu menunjuk mayat yang tergeletak di sebelahnya. Seorang prajurit AS yang tewas kehilangan batok kepalanya. Otaknya menghambur keluar.

“Dengarkan aku Rookie, MG42 itu masih memburu kita. Untuk sementara, kamu tetap di sini dulu. Aku akan memebersihkan mereka untukmu.”
“Yes sir!”

Aku mengikuti perintahnya. Ia terlihat sangat berpengalaman dalam medan perang. Dengan tenang ia mengisi peluru senjata laras panjang Springfield sambil menghisap cerutu kemudian diarahkan melalui sela – sela pagar. Dengan tajam, matanya memburu Kraut melalui scope (teropong) senjatanya.

Daarr! Seorang tentara Jerman tewas
“One Down!” serunya.

Daarr! “Two down, one more ago”

Daarr!

Aku terkejut. Yang jatuh kali ini justru Mr.Sniper sendiri. Ternyata kraut telah menyadari posisi kami dan segera menembak sebelum sniper itu menembaknya. Peluru mereka menembus scope dan mengenai mata sniper hingga tewas seketika.

“Shit! God Damn!”

Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan. Badai senapan mesin masih berburu, meriam mengintai, dan musuh telah mengetahui posisiku.

bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar