Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 20 April 2011

With No Reason, I Love U

0 komentar


"Hal yang paling kejam di dunia ini adalah ketika suatu hari nanti kau memandang ke dalam mata seseorang dan membuatnya jatuh cinta kepadamu, namun tak seujung kuku pun kau berniat membalas dan menangkapnya ketika dia terjatuh...."


*****


Kupejamkan mataku. Lapat-lapat. Merasakan alunan nada itu merambat pelan ke telingaku. Lagu yang sama. Lagu yang kuputar setiap malam sebelum tidur setelah aku mengenalmu. Apa kau tahu aku punya kebiasaan mendengarkan lagu ini setiap malam sambil mengumpulkan kepingan yang kau susun dalam ingatanku setiap harinya?

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Ah, aku ingat malam-malam di mana kau bertegur sapa denganku. Di bawah kelamnya langit malam yang cuma dihiasi satu dua bintang, kulihat kau duduk di sebuah meja bundar di depan sana. Menantiku. Tersenyum. Penuh cinta.

When the blazing sun is gone,
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Sudah berapa lama kau tak tersenyum seperti itu lagi padaku? Apa kau ingat? Apa masih kau ingat saat pertama kali kau mencoba menyapaku dan ikut masuk ke dalam jalanku? Mengapa kau harus berjuang ikut masuk dalam jalanku tetapi pada akhirnya membiarkanku tersesat sendirian? Tak bisa lagikah kau tuntun aku, ke arah mana aku harus pulang?

In the dark blue sky so deep
Through my curtains often peep
For you never close your eyes
Til the morning sun does rise
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are

Kau muncul seperti hantu disetiapku menarik nafas. Padahal sudah kututup mataku rapat-rapat. Tapi wajahmu masih jelas kulihat. Padahal sudah kusumpal telingaku. Namun suaramu terus bergema. Aku bisa gila. Aku nyaris gila!

Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are....

Benarkah kepergianku dari hidupmu adalah hal yang sangat kau inginkan?

'***

Aku tak percaya lagi pada apa yang disebut cinta.

Sejak mantan kekasihku memutuskan begitu saja hubungan kami karena merasa aku tak pantas untuknya. Membiarkanku terkapar di ranjang hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai aku hampir gila. Nyaris sinting.

Sia-sia jalinan kasih yang kurajut bersama dia selama hampir tiga tahun lamanya. Sia-sia semua yang kulakukan untuknya. Dia menendangku begitu saja. Sibuk kembali mencari rusuknya yang hilang, sementara aku tertinggal di sudut sana. Mengais sisa-sisa harapan yang masih tersisa dan mencoba bangkit sendirian.

Kututup diriku. Rapat-rapat. Bersama cinta pertamaku yang telah hilang, kubuang kunci hatiku ke dasar samudra. Sambil terus berharap, akan muncul seorang laki-laki yang kelak akan menemukan kunci itu dan membuka pintu hatiku – lagi. Suatu saat nanti.

Dan saat itulah aku bertemu denganmu. Tiga tahun kemudian. Pada suatu pertemuan tak terduga ketika aku usai mengikuti sebuah kelas aerobik di salah satu pusat fitness yang telah kugeluti selama sekian bulan sepulang kantor.

Kau mungkin bukan laki-laki istimewa. Kau tak terlalu tampan. Kau bukan laki-laki bergelimang harta. Tak ada getaran khusus yang singgah di hatiku ketika kau muncul di awal hari-hariku saat itu. Takhta di hatiku masih sama kosongnya seperti tiga tahun selama aku menjalani hidupku sendirian. Namun berbeda dengan laki-laki sebelumnya yang hanya berani berdiri dan mengetuk di muka pintu hatiku, kau memilih mendobrak masuk. Menjebol pertahanan yang selama ini mati-matian membentengiku.

Dengan segala upaya kau buat aku luluh. Biar pun di antara kita terbentang begitu banyak halangan. Kau meyakinkanku. Bahwa sekali pun kau bukan lelaki alim, kau juga bukan laki-laki bangsat yang berniat menyakitiku. Kata-katamu merasukiku. Semua perbuatanmu memikatku. Hingga akhirnya kau kubiarkan masuk menempati singgasana hatiku tanpa perlu menemukan kunci yang dulu pernah kubuang.

"Pemberkatan pernikahan bisa dilakukan dua kali di tempat yang berbeda, Ma...," kataku. Dengan air mata nyaris tumpah. Ketika Mama memintaku jangan menjalin hubungan denganmu karena keyakinan di antara kita yang berbeda jauh.

"Percaya sama Mama, Von. Semua yang Mama lakuin, cuma demi kebaikan kamu...." Mama menatapku dengan kesenduan yang mencabik hatiku. "Mama nggak mau nanti kamu nyesel, Von."

Tapi saat itu, cinta sudah membutakan mata hatiku. Bersama bisikanmu di telingaku dan genggaman tanganmu yang hangat kala itu, telah kuserahkan seluruh sudut dalam relungku untuk menjadi milikmu. Seluruhnya.

"Von...... Gue sayang banget sama lu.... Lu harus tau itu ya?" Bisikkanmu membuatku meremang. "Lu harus setia ya, karena gue juga cowok yang setia. Gue nggak akan nyakitin lu seperti yang dulu pernah mantan lu lakuin...."

Mendengarmu berkata demikian, air mataku jatuh dengan sendirinya. Rasa haru yang sekian lama raib, tiba-tiba saja meruamkan hatiku. Kubalas memelukmu. Kemudian menangis tanpa suara. Membiarkan tanganmu bergerak naik dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

"Gue akan buktiin kalau beda keyakinan, bukan alasan buat kita nggak bisa bersama.... Kalau Papa dan Mama lu nggak percaya, gue buktiin ke mereka. Kalau gue mau mempertahankan lu. Gue sayang banget sama lu, Von...."

Kuketatkan rangkulanku dan balas berbisik,

"Gue akan bantu lu buat ngomong sama Papa dan Mama. Gue akan yakinin mereka.... Kalau perbedaan keyakinan itu cuma masalah pribadi masing-masing orang.... Makasih ya, Sen.... Buat semua – yang udah lu lakuin buat gue...."

Jadilah aku berjuang. Bersama denganmu meniti kerikil dan batu tajam setiap kita melangkah. Tapi ada rasa senang yang tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata setiap kali aku melihat wajahmu. Ada rasa tenang dan nyaman yang kudapatkan ketika kau tersenyum hangat padaku.

Aku tak bisa. Tak bisa hidup tanpa melihatmu. Tak biasa hidup tanpamu. Sebab hampir setiap hari di sepanjang minggu, kau selalu ada untuk menemuiku. Hanya untuk melihat wajahku, katamu. Menantiku selesai mengikuti kelas aerobik, menjemputku ketika aku harus lembur, mengantarkanku pergi ke dokter, menemaniku makan malam jika aku sedang ngotot untuk diet, mencekokiku dengan bergelas-gelas es krim agar aku tak terlalu kurus, merecokiku dengan telepon, SMS, dan chatting-mu sepanjang hari. Menanyakan apakah aku sudah sarapan, apakah makanku banyak, apakah tidurku nyenyak, apakah makan siangku lezat, dan sebagai-bagainya. Membuatku merasa sesak karena dilimpahkan perasaan bahagia. Aku sangat – bahagia.

Kau selalu ada. Di setiap aku mengharapkanmu ada. Sampai akhirnya kedua orang tuaku dengan tangan terbuka menerimamu dalam keluargaku.

"Gue bukan cowok kaya, Von. Bukan juga cowok romantis. Gue cuma cowok sederhana yang bisa beliin ini buat lu." Kau mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan membukanya di hadapanku. "Cincin ini kecil. Juga bukan barang yang mahal. Mudah-mudahan lu bisa suka ya.... Nanti kalau gue punya duit lebih banyak, gue beliin lu lagi ya, yang lebih bagus...."

Sudah berapa kali aku menangis terharu akibat ulahmu – sungguh aku tak tahu. Tapi yang ada di hatiku saat ini, cuma ada ketulusan untuk mencintaimu dengan sederhana. Bukan materi yang kukejar. Bukan penampilan fisik yang kupuja. Aku mencintaimu. Dengan cinta yang tak memiliki alasan apa pun.

Tapi apa kau tahu? Kapal yang kukira akan berlabuh di dermaga indah, nyatanya kandas dihantam karang raksasa. Hanya dalam kurun waktu empat bulan kita menjalin hubungan, kau menghempaskanku.

"Jujur, gue nggak ngerasa punya perasaan apa pun lagi sama lu, Von.... Kalau kayak gini terus, gimana hubungan kita bisa awet?"

"Sejak – kapan?" tanyaku. Menahan gemetar yang menderaku hingga menggigil hebat.

"Gue nggak tau sejak kapan. Tapi belakangan ini jadi makin parah. Seakan-akan gue maksain diri buat jalanin ini semua sama lu."

"Jadi – lu mau mutusin gue...?"

"Hubungan kayak gini nggak bisa diterusin lagi. Kita baru empat bulan dan gue udah nggak ngerasa ada perasaan apa-apa lagi sama lu...."

"Tapi, gue – salah apa, Sen?" Kutahan rasa perih yang mencabikku tanpa ampun.

"Lu nggak ada salah, Von. Gue yang salah.... Perasaan gue yang salah. Gue sampe bertanya sama Tuhan, kalo akhirnya bisa kayak gini, kenapa awalnya gue bisa suka sama lu....?"

"Nggak perlu bertanya lagi," jawabku. Semakin pedih. "Karena lo nggak pernah bener-bener suka gue, Sen...."

Jangan kau tanya padaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Karena aku sendiri tak tahu. Karena aku sendiri tak mengerti. Aku tak pernah tahu apa alasannya. Hingga detik ini. Mengapa begitu mudah kau ubah perasaanmu padaku semudah kau membalikkan telapak tanganmu? Hilang kemana rasa cintamu yang meluap-luap beberapa waktu yang lalu itu padaku?

Tapi seringkali kenyataan memang sepahit itu, bukan?

Ternyata, tak butuh alasan yang jelas ketika kau menyukai seseorang dan berniat mempertahankannya dengan segenap upayamu. Pun tak perlu alasan yang jelas saat kau memilih menendangnya dari hidupmu, ketika kau tak lagi menginginkannya untuk ada di sampingmu.

Pada kenyataanya, cinta memang seperti itu. Bukan melulu indah seperti kisah dalam dongeng. Dan aku harus berkali-kali menampar pipiku sendiri agar aku bisa menyadarinya.

Oleh sebab itulah kutahan diriku dan tak bersujud memohon padamu untuk kembali padaku. Ini bukan sinetron. Bukan scene dari film layar lebar. Ini adalah kenyataan. Yang tak bisa kuhindari atau pura-pura kuanggap sedang tak terjadi.

"Tapi, Von. Lu nggak benci gue kan? Keluarga lu nggak benci gue kan? Kita masih bisa temenan kayak biasa kan?"

Air mataku runtuh. Mengapa kau masih bisa bertanya demikian padaku? Tak tahukah kau kalau pecutmu telah melecutku sampai berdarah?

Masih dengan menahan gemetar di sekujur tubuhku, aku menyahut,

"Papa nggak benci sama lu. Mama nggak benci sama lu. Ade gue juga nggak benci sama lu. Gue lebih lagi. Gue sayang dan percaya banget sama lu. Karena itu gue nggak akan benci sama lu...."

"Apa gue salah ya, Von...?"

"Gue nggak tau, Sen.... Cuma lu yang tau jawabannya...." Kuremas tanganku hingga kulitku nyaris terkelupas. Sakit sekali rasanya. Sakit hingga aku tak tahu bagaimana cara meredakannya. Adakah obat mujarab yang bisa menghilangkan sakit ini?

"Atau mungkin gue gila ya? Karena kadang-kadang gue bahkan ngerasa takut, tapi nggak tau apa yang harus gue takutin. Gue khawatir, tapi nggak ngerti apa yang gue khawatir-in. Gue – benci diri gue sendiri, Von...."

Aku menggigil. Makin menggila.

"Kan lu yang mutusin semuanya harus begini, Sen. Gue bisa apa...? Semua yang bisa gue lakuin buat lu, udah gue lakuin. Semua yang bisa gue perbuat, udah gue perbuat. Lu mau suruh gue yakinin orang tua gue, udah gue yakinin. Mau gue bantu nemenin lu setiap lu butuh gue, gue selalu usahain ada buat lu. Mau kita berjuang sama-sama dari nol, gue juga tetep pegang tangan lu.... Gue harus gimana lagi kalau ternyata semua yang gue lakuin ternyata nggak pernah ada artinya di mata lu...?"

Dadaku nyeri. Mengapa begini sakit rasanya ditinggalkan oleh laki-laki yang jelas-jelas kau tahu bahwa dia tak lagi mencintaimu?

"Gue – jahat ya, Von?"

"Lu baik kok...." Kugigit bibir bawahku hingga berdarah. Benar-benar berdarah. "Selalu baik di mata gue.... Mungkin – gue yang nggak pernah pantes buat dampingin lu...."

"Von...." Kau menyebut namaku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. "Apa kita bisa bertemu lagi...?"

Jeda beberapa jenak sebelum kuputuskan untuk memberimu jawaban.

"Bisa.... Kita – teman kan?"

"Iya," katamu. Tapi aku tak bisa lagi melihat parasmu. Aku bahkan tak tahu, apa sekarang kau sedang menangis atau malah tersenyum lega.

Apa aku bodoh? Hhhhh – mungkin aku memang bodoh. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Kalau berpisah adalah keputusan untuk membuatmu menjadi lebih bahagia, kurasa mungkin memang lebih baik begini. Cukup aku yang terluka. Cukup aku yang tersiksa.

Asalkan bisa bahagia, kau tak perlu tahu, seterpuruk apa aku setelah kehilanganmu....

Perlahan tapi pasti, kusumpal telingaku dan mendengarkan lagu yang setiap malam selalu kudengarkan untuk mengenang kebersamaan denganmu. Di sampingku, telah kutelan enam butir obat pereda sakit kepala yang kuharap dapat membuatku lebih tenang.

Aku tak mencoba untuk bunuh diri. Tidak. Aku hanya ingin merasakan kedamaian itu sebentar saja. Seperti sebelum kau meninggalkanku bergelung dalam kesendirian – lagi.

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Kusentuh sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin yang kau berikan padaku. Kudekap erat di bawah bantal sambil membiarkan air mata yang kutahan tumpah tak terkendali.

When the blazing sun is gone,
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Kuharap aku bermimpi. Kuharap saat aku bangun nanti, aku masih bisa melihatmu. Menyambutku dan merangkulku dengan hangat seperti yang biasa kau lakukan.

In the dark blue sky so deep
Through my curtains often peep
For you never close your eyes
Til the morning sun does rise
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are

Sambil melipat kedua tanganku, aku berdoa. Berharap dengan sangat, semua ini segera berakhir.

Twinkle, twinkle, little star...

Berdoa supaya tubuhku menjelma menjadi sebuah bintang kecil yang bersinar di atas kepalamu setiap malam. Cukup hanya dengan melihatmu dari jauh dan mendoakanmu bahagia – sekali pun bukan aku yang kau pilih menjadi pendampingmu.

How I wonder what you are....

Bolehkah sekali lagi – aku mengharapkanmu – tetap ada di sampingku?

Twinkle, twinkle, little star...
How I wonder what you are....

Sampai kapan pun. Di mana pun kau berada. Kenang dan ingatlah – ada aku yang akan selalu mencintaimu – tanpa alasan....

Jumat, 18 Maret 2011

Kau bukakan Aku Gerbang Kehidupan

0 komentar

Sewaktu aku kecil, aku sering iba melihat tetua yang ditelantarkan oleh sekitarnya. Aku sering mendengar mengenai seorang janda yang tak berketurunan dan sudah tua renta, membina rumah tangga kembali pun hanya sebatas angan-angan, juga tentang perawan tua yang memutuskan menghidupi dirinya sendiri layaknya sebatang kara, terombang-ambing pada arus sungai kehidupan, berpacu dengan perih dan luka juga cercaan.


Kini pun, setelah aku dewasa merujuk kepada usiaku yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk-ku, aku tetap mencemaskan hal yang sama, tentang seorang nenek yang ditelantarkan oleh anak-anaknya, dan dijebloskan ke sebuah panti jompo. Atau tentang seorang renta yang mengalami stroke dan terkapar pada ranjang sebuah sal murah di Rumah Sakit.

Betapa hidup adalah sebuah siklus. Lahir, belajar, bekerja, membina rumah tangga, bermeditasi setelah mendapati kulit semakin keriput, rambut beruban, dan semua fungsi tubuh menua, ketika tanda-tanda kematian sudah semakin dekat, dan akhirnya menyambut ajal, mungkin dengan seulas senyum.

Walau kepercayaanku membuatku mengerti siklus hidup dan mati, namun aku takut harus mendapati orang yang kukenal meninggalkanku untuk selamanya, bahkan mungkin menghembuskan nafas terakhirnya di hadapanku.

Sebuah perpisahan yang menyakitkan bagiku. Karena walau mungkin secara rohani aku menyadari akan ada kehidupan setelah kematian, tetapi begitu menyakitkan untuk juga menyadari bahwa aku akan dipisahkan lama dengan seseorang yang kusayangi sampai akhirnya aku menyambut ajal juga suatu saat nanti.

“Geser agak dalam, angkat sedikit.” Brak. Freezer itu tertutup. Suhu tujuh derajat celcius.

“Permisi Dok, keterangan kematian pasien sudah selesai.” Ucap pria di sebelahku.

“Tolong diserahkan kopiannya kepada saya besok.” Jawabku singkat. Pria itu kemudian pergi.

Aku masih terpaku di depan freezer itu. Di bagian bawah, terdapat beberapa sesajen juga canang, beberapa dupa masih mencipta asap berwarna abu. Sebuah penghormatan terakhir, dan sayang hanya sebuah halusinasi, karena di sana tidak ada apa-apa selain ubin yang berair.

Jantungku seolah diremas. Di luar ruang mayat, aku mendapati beberapa orang duduk di ruang tunggu dan menangis, seorang bocah pria bersender di bahu seorang wanita muda, seorang pria berkumis dan nampak berwibawa mencakupkan kedua belah tangannya pada wajahnya. Aku mendekati mereka, dan ternyata tak ada siapapun di sana.

---

Tak banyak yang menangis untukmu. Hanya aku. Keluargamu entah di mana. Tapi aku berusaha untuk menemukan mereka untukmu. Aku ingin menceritakan kesahmu kepada putra-putramu.

Ingatkah kau sewaktu kita bercerita di taman, tidak dengan kata, tetapi dengan sinar mata. Sewaktu kau tertawa lebar, tidak dengan bibir tetapi dengan air mata bahagia yang mengalir deras di pipimu. Sewaktu aku menari dan melucu untukmu, tidak dengan gerak tetapi dengan sentuhanku pada kulit keriputmu.

Aku mengenalmu, lebih dari tujuanku sebelumnya. Aku makin menyayangimu, entah sosok apa yang telah memenuhi mataku, kau di mataku bagaikan seorang Ibu yang tak pernah kujumpai walau tentu aku memilikinya.

Ingatkah kau sewaktu aku memarahi suster-suster itu, ketika mereka dengan separuh hati menusukkan jarum infus itu ke tanganmu yang memar. Ingatkah kau sewaktu aku dengan tanganku memandikanmu dengan penuh sayang.
Dan kini, apa kau akan ingat, aku menggantikan putra-putramu menciumi tumitmu, melafalkan mantram untuk keabadian jiwamu.

Kau tahu, kau nampak cantik dengan hanya seulas senyum. Warna putih sangat cocok bagimu, karena kau begitu suci. Kau tahu, aku takut tanah itu menguburmu, aku takut kulit dan dagingmu digerogoti belatung.

Bunga merah itu terasa dingin di genggamanku, dan untuk menaburinya di atas tanah yang mengubur jasadmu membuatnya beku.

---

“Ka.......!!” teriak Arya di belakangku, aku menoleh dan dia menarikku ke dalam pelukannya, menghempaskan tubuh kami ke pinggir jalan. Setelahnya, kulihat sebuah truk kuning besar melaju kencang di hadapan kami.

Mataku melotot, kemudian air mata keluar dari rongganya. Aku memerhatikan Arya, dia meringis kesakitan, tangannya lecet. Kemudian aku menoleh kepada sunyi yang tak kunjung meninggalkan tempat pemakaman.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya padaku, aku mengangguk.

“Benar?” tanyanya lagi, aku meyakinkannya dengan anggukan lagi.

“Pulang denganku, ya?” tanyanya, aku memandang mobilku yang berada di seberang kami. Kemudian aku menggeleng.

“Atau kusopiri?” tanyanya, “biar kutinggal mobilku di sini.”

Aku menatapnya lekat, dia masih Arya yang dulu, Arya yang kukenal ketika OSPEK, dan semenjak itu terus menemaniku. Arya yang memilih meninggalkan beasiswa strata dua-nya untuk ikut mengasah bakat kerjanya di rumah sakit tempatku bekerja.

“Aku tidak bisa memberikan harapan lebih padamu,” Jawabku, “aku sulit untuk mencintai seseorang.”

Dia tersenyum, kemudian membantuku bangun. “Aku juga sulit. Karena itu, aku tak mau berpaling lagi pada yang lain.”

---

Aku menolak niat baiknya untuk mengantarku. Oh, Tuhan. Ada orang yang mencintaiku, dan aku tak bisa mencintainya. Dia Arya.. Seorang pria dengan tubuh jangkung dan sorot mata yang memabukkan, dari sanalah tiap wanita mengenalnya. Dia tampan. Betapa.

Sorot mataku bergeser ke sebelah kanan, ketika kudapati sebuah mobil merah melaju cepat dan menghantam mobilku. Bunyi klakson memekakan telinga, betapa aku akan mengingat semua detilnya, kepalaku terbentur, sesaat, kulihat darahku menciprati sekitar.

Aku akhirnya mengerti rasa itu, rasa yang hadir di kala jiwa terlepas dari raganya. Aku ternyata tak berbentuk, aku ternyata tak berwujud. Tapi aku bisa mendengar, aku bisa melihat, padahal jiwaku tak bermata dan tak bertelinga.

Kerumunan orang menyaksikan peristiwa itu. Ketika kulihat sesosok cahaya keluar dari dalam mobil merah yang menabrakku, perlahan jiwaku mulai berwujud, bercahaya.

Jiwaku membentuk dirinya seperti bentuk jasadku ketika hidup. Aku telah mati, dan seperti cerita orang tentang kematian, seharusnya aku tak menyadarinya, menyadari ajal menjemputku. Ah, tapi, hal itu begitu aneh untuk tidak disadari.

Empat orang yang mirip denganku mengerubungiku, berpakaian putih-putih layaknya seorang rohaniawan. Mereka berparas ayu, dan alang-alang dengan bunga berwarna merah terikat di kepalanya. Masing-masing dari mereka memegang bahuku dan tanganku. Mungkinkah mereka adalah saudara empat-ku, aku takut untuk berkata-kata, begitu cepat.

Sedang di seberang, pria itu sedang dituntun oleh seorang pria berpakaian hitam dengan wajah mengerikan, jemari dengan kuku-kuku yang begitu tajam itu menggenggam erat kapak dengan tongkat begitu panjang, di lehernya, terdapat usus manusia yang dililitkan layaknya kalung.

---

“Ibu..” ucapku terisak. Aku telah mati, dan aku tak pernah bertemu Ibuku lagi setelah aku dilahirkan, walau satu kesempatan pun.

Sebuah kereta kencana menerbangkan kami berlima di udara, satu demi satu lapisan atmosfer terlewati. Tak banyak kata, bahkan satu pun tak mampu terucap di antara kami.
Hanya ada satu kata yang terus kuteriakkan, “Ibu...”

Waktu berjalan lamat-lamat, dan sudah tak kurasakan udara memenuhi ronggaku, sudah sejak tadi. Ajal itu mengerikan, dijemputnya adalah hal yang sebelumnya tak kupikirkan.
Kemudian, kami tiba di suatu tempat, di depanku, terdapat seutas tali yang sama-sama bermuara pada sebuah gerbang yang begitu besar, gerbang istana. Sebuah istana megah seperti melayang di atas jurang yang dipenuhi magma meletup-letup. Di lautan magma itu, jiwa-jiwa terbakar dan meraung kesakitan, tetapi jiwa-jiwa itu tak kunjung hilang berubah jadi abu.

Aku menoleh kepada keempat wanita di sebelahku, mereka melayang di udara, lalu mereka menganggukkan kepalanya kepadaku. Aku melangkah gontai, tali itu begitu panjang, tali itu mungkin tak cukup kuat untuk menyangga bobotku.
Namun ternyata aku mampu berjalan di atas tali itu, dengan tangan-tangan yang memegangiku, di sebelah kiri dan kanan. Dua orang lainnya berjalan di depanku, pintu gerbang itu terbuka, bercahaya dengan sinar yang kekuningan, menyerap jiwaku, untuk terus mendekat.

“Cempaka.......” sampai kudengar suara itu. Suara seorang pria.

Aku tak berpaling, aku tahu betul, suara itu suara Arya.

“Cempaka.......” kudengar suara lainnya.

Rintihan hadir menemani suara itu, tangisan dan jeritan. “Cempaka....” aku tak mengenali suara siapa itu, tapi aku tahu pasti, itu adalah suara seorang wanita.

Berisik, gemuruh hadir dari magma yang meletup-letup. Seketika, burung-burung beraneka jenis beterbangan di atasku. Aku menoleh kepada empat wanita di sekitarku, mereka menghilang. Kemudian, aku tak bisa memastikan benda apa itu. Udara yang bergumpal dan transparan, datang ke arahku, gumpalan udara itu memelukku. “Cempaka, ini Ibu, sayang.”

Aku terpaku di tempatku, Ibuku telah meninggal? Karena itu semasa hidup aku tak pernah menemuinya sekali pun?

“Ibu..” ucapku lirih, gumpalan udara itu mengecup keningku.

“Terima kasih atas sujud terakhirmu, Nak. Terima kasih karena sudah memberi Ibumu ini kasih sayang di saat terakhirnya.” Lanjut gumpalan udara itu.

“Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti, pelukan itu merenggang, padahal aku menginginkannya, semakin erat lagi.

“Ibu adalah wanita tua itu, Ibu adalah yang meninggal tadi pagi. Kau adalah dokter yang merawat Ibu selama ini. Nak, Ibu tak bisa berkata banyak semasa hidup, tapi Ibu tahu itu kamu, Cempaka. Ibu sayang padamu.” Ucapnya penuh sayang. Jadi, selama ini aku selalu berada di sisi Ibuku, menemaninya, dan menjaganya? Dia stroke, tapi dia menyadari kehadiranku, sedang aku yang dalam keadaan sadar, tak bisa menyadari kehadirannya. Benar kata orang, kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Tapi kemana kau Ibu, selama puluhan tahun?

“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu,” Ucapnya terbata. “dan sekarang, kembalilah ke duniamu, Nak. Belum saatnya kau kembali kepada-Nya.”

“Aku tak ingin, Bu. Tak ada orang yang ingin kutemui lagi di dunia. Aku tak memiliki siapa-siapa.” Jawabku kering.
“Nak, kau tahu kan, kau pernah mendengar cerita Jaratkaru, kau adalah putri Ibu semata wayang, seperti dia yang bagaikan sebatang kara. Kau harus melanjutkan keturunan. Jika tidak, orang tuamu tidak akan mendapatkan tempat di alam ini. Kau harus hidup, Nak. Kembalilah,” Ucapnya, “demi Ibu dan Arya.”

Aku terdiam lama, demi Arya?

“Cempaka....” suara itu memanggilku lagi, suara Arya. Aku mencari asal suara.

Nihil. Kemudian aku menoleh, gumpalan udara itu menghilang, tak berbekas.

Lalu aku melihat sosok Arya, berdiri jauh membelakangiku. Aku mendekatinya, tapi dia semakin jauh, jarak itu sangat jauh. Dia duduk di sebuah kursi, kedua belah tangannya mengatup di wajahnya.

---

“Arya..” panggilku lirih, beberapa orang yang kukenal tersenyum kepadaku, beberapa dokter spesialis bedah yang pernah menjadi dosenku.

Operasi berhasil. Aku berhasil diselamatkan, dengan patah tulang telapak kaki sebelah kanan. Tetapi itu dapat disembuhkan, hanya beberapa bulan, mereka meyakinkan.
Arya sangat senang mengetahui aku selamat, selama aku dirawat inap, dia selalu menemaniku, dengan parsel buahnya, buku-buku favoritnya yang dia beri padaku, juga lelucon-leluconnya, dan akhirnya dia mendapatkan posisi yang dia idam-idamkan selama ini, dia berhasil menjadi seseorang yang istimewa di hatiku.

“Kalau begitu, kapan kita menikah?” tanyanya suatu saat, aku tahu dia bercanda karena setelahnya dia tertawa dan menyuapkan sepotong apel padaku. Aku pun hanya tertawa.
Kapan pun kita bisa menikah, Arya. Mertuamu sudah merestuinya.

Aku memejamkan mataku, Ibu, seandainya aku dapat mengingat wajahmu... tapi nyatanya aku tak dapat. Maafkan aku, Ibu.

Sejuta Kebencian Dan Cinta Untukmu

0 komentar

Aku tahu kau sudah meninggalkanku selamanya. Tapi kenapa aku masih saja tetap percaya bahwa kau ada, menemaniku, di sisiku, atau mungkin di dalam hatiku? Aku begitu bodoh untuk percaya bahwa kau memang menemaniku. Aku bodoh.

Aku tahu kau sudah pergi, bahkan mungkin kau melupakanku untuk selamanya. Aku tahu kau tak akan pernah datang lagi padaku, untuk sekedar mengingatkanku akan rupamu yang kini sudah kulupakan, walau kau baru tiga bulan pergi dariku.

Aku tahu, Mama. Aku sekarang membencimu. Mau apa Kau? Bisa apa? Kau tak mungkin datang padaku, tak mungkin marah karena aku membencimu, kau tak mungkin mencak-mencak seperti biasa, kau tak mungkin memukulku. Iya kan?

Aku benci sekali padamu, Ma. Melebihi benciku pada Tuhan, yang telah merebutmu dari sisiku. Aku benci sekali padamu, Ma. Aku benci sekali.

Aku benci sekali kau tinggal sendiri. Mau bilang apa Kau? Aku benci padamu, benci, benci, benci. Aku benci padamu!!!!! Kurang jelas kau dengar dari surga, hah?

AKU BENCI PADAMU, MAMA.

Aku benci kau tinggal sendiri. Aku benci kau telantarkan dan kau lupakan. Aku benci karena aku tak pernah bisa melihatmu lagi. Sekarang coba Kau tampakkan wujudmu di hadapanku? Apa kau bisa? Bisa? Aku benci sekali padamu, karena kau tak bisa melanggar aturan itu, karena kau tak bisa melanggarnya hanya sekali saja, kau seperti roh-roh orang yang telah mati, kau memang roh orang mati, dan kau memang sama saja dengan mereka, yang tidak berani menampakkan wujudnya lagi pada orang yang kau sayangi. Betul begitu? Ah, mau jawab apa Kau? Mulut pun kau tak punya lagi. Iya kan?

Aku benci padamu, Mama........ Karena kau tidak mengijinkanku menyusulmu. Aku benci kau suruh hidup sendiri di dunia ini, merasakan kepedihan, merasakan kekalahan, merasakan tangis yang asin. Aku benci, Mama.
Aku benci melihat fotomu di meja itu, maka baru saja aku banting fotomu. Bingkai itu pecah berkeping-keping, mau apa kau? Merengek karena fotomu itu pecah? Bisa kau marah padaku? Masih bisa?

Aku benci padamu, Ma. Karena kau meninggalkan sejuta cita-cita untuk kuwujudkan. Aku benci sekali padamu, Ma. Kau paksa aku mewujudkannya? Memang aku apamu, Ma? Budakmu? Apa kau sadar aku ini anakmu? Putri semata-wayangmu? Apa kau sadar, Ma? Apa kau masih ingat memiliki seorang anak? Atau kau sudah lupa?

Enak sekali, ya, tinggal di surga, Ma? Sampai kau melupakanku? Bisa-bisanya kau begitu padaku. Peduli apa kau denganku? Kau sudah keenakan di surga, dan tak mau kembali lagi ‘kan untuk menemuiku di bumi?

Aku benci kau jadikan budak kebodohanmu, aku benci kau suruh mengetik sms kepada nomormu yang sudah tidak aktif lagi, berapa kali kau suruh aku melakukannya? Kau sudah tak bisa membelikanku pulsa lagi. Aku benci kau suruh menuliskan diary untuk bercerita tentang hari-hariku kepadamu. Aku benci kau suruh menulis tentang rasa kehilanganku akan dirimu. Aku benci. Bisa kau menamparku karena aku membencimu? Bisa?

Mama... Kau di mana? Apa kau masih Mama yang sama? Temanku bilang, kau mungkin telah berubah wujud menjadi sosok yang tak akan mungkin bisa kukenali lagi. Dan aku benci harus merasa ketakutan di rumahku sendiri, aku pergi dari rumah kita itu, Ma. Aku takut mengingatmu. Aku takut mengingat kau merintih di kamar itu dan menangis kemudian. Aku takut di tempat manapun, aku takut pada sepi, dan kosong. Aku benci padamu, Ma. Atas segala upaya untuk membuatku bisa gila.

Aku benci padamu, Ma. Benci kau tinggalkan pada saudara-saudaramu, aku benci harus berpura-pura. Aku benci padamu, Ma. Benci kau titipkan pada orang yang bahkan tidak mengerti aku.

Aku benci padamu, Ma. Karena kau tidak menampakkan diri juga di hadapanku, atau minta maaf lewat mimpi karena kau telah pergi jauh dariku? Kau tak sempat mengucapkan kata terakhirmu, kau tak memberiku kesempatan untuk melihatmu hidup pada saat kau menghembuskan nafas terakhir.

Kau, tahu, Ma, aku, mengingatmu, sebagai, jenazah. Oh, bacalah dengan terbata-bata. Karena aku tak kuat mengucapkannya. Bacalah, Ma. Apa kau masih punya mata untuk membaca? Kurasa kau akan mendapatkan cadangan dari surga.

Aku benci padamu, Ma. Untuk seluruh sisa hidupku.
Aku benci padamu, dan aku tak kuat untuk mengutarakan lebih banyak alasan, lagi.

Aku benci padamu, Ma. Karena hanya itu yang kutahu saat ini.

Jangan suruh mereka membantuku supaya aku bisa meraih cita-citaku, jangan suruh mereka memberikan uangnya yang berdigit sembilan itu untuk membantuku melanjutkan pendidikanku, jangan. Aku ingin memakimu. Aku ingin mengutukmu, bolehkah malin kundang melakukan itu kepada Ibundanya, supaya dongeng kelak akan memiliki dua versi? Ah, tapi, kau sudah pergi. Percuma saja.

Aku membencimu, Ma. Karena kau membuatku mendapatkan banyak belas kasihan dari banyak pihak, karena kau tak mengijinkanku untuk terus menjadi gadis manja dan merengek di sisimu. Kau sudah tak kuat mengurusiku, ya, Ma?

Apa kau tahu, Ma? Di balik sejuta rasa benciku padamu.. tersimpan lebih banyak lagi rasa cintaku padamu. Kalau kau tak bisa kupaksa datang dengan kebencianku, apa kau akan datang dengan kata-kata cinta yang akan aku ucapkan sekarang?

Kenapa kau tak menampakkan dirimu, Ma? Lelahkah menempuh jarak dari surga kemari? Mari duduk di sebelahku kalau begitu. Mau minum sesuatu, Ma? Mungkin kau haus?
Semua bisa dibicarakan baik-baik, oke, aku terima.

Ma, aku tidak diterima pada fakultas yang kau suruh aku masuki, baru saja diumumkan. Jangan marah. Jangan memakiku, oh, jangan memukulku, jangan.

Jangan, Ma. Jangan.

Masih banyak jalan kata teman-temanku, masih banyak harapan. Beruntung kau sekolahkan aku di usia dini. Masih delapan kali kesempatanku untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru. Jadi, kau masih bisa menunggu kan, Ma?

Omong-omong, Ma. Apa kau sudah lupa denganku? Kenapa tak pernah datang? Aku sudah menyediakan teh untukmu. Oh, bicara apa aku, aku tak ingin gila karena kehilanganmu. Awas saja kalau itu terjadi, sumpah demi Tuhan, aku tak akan memaafkanmu.

Mama, apa aku bodoh? Sedemikian bodoh?

Mama, apa aku terlalu banyak menghabiskan kesempatan yang tersedia, porsi untukmu pun kuhabiskan. Begitu? Itu sebabnya, Ma?

Aku merasa bertambah bodoh setelah kepergianmu, tidak bisa lagi mengerti apapun yang dunia kata. Aku merasa terperangkap dan ingin mati.

Kau demikian percaya bahwa aku bisa melakukan semuanya, iya kan, Ma? Sampai kau tinggalkan aku sendiri di sini? Oh, demi Tuhan, jangan suruh orang lain mengaku-ngaku peduli padaku. Aku ingin KAU YANG PEDULI padaku.

Jangan suruh mereka sok baik padaku, mengatakan dengan penuh belas kasih, “semangat, masih ada jalan lain, hidup memang begitu, takdir memang seperti itu, ini memang nasibmu, terimalah semuanya dengan lapang dada.” JANGAN. Aku ingin kau yang ada di sisiku, biarpun kau akan memakiku, biarpun kau akan menamparku karena sudah keterlaluan selama ini, biarpun kau memukulku, atau memutilasi hatiku dengan pisau kata-katamu. Aku ingin kau yang menemaniku. Kurang jelas?

AKU MENGINGINKANMU, MA.

Ma, kalau aku tak pantas berkata, coba kau tanya pada dirimu sendiri? Apa kau boleh meninggalkan anakmu ini sendiri? Apa kau tak merasa bahwa kau harus mengajakku ikut? Aku ingin bersamamu, biarpun aku ditempatkan di neraka oleh Tuhan, yang jelas, aku ingin melihatmu, terus dan terus.

Ma, aku mohon sekali, datanglah padaku, ucapkan sesuatu. Kenapa kau tak pernah datang?

Aku benci harus merengek seperti balita, aku benci harus menangis lagi. Aku benci menjadi seperti ini. Musuhi aku saja, Ma. Musuhi.

Aku sakit, dan kau tak mau tahu. Cukup datangi aku melalui mimpi, dan sembuhkan aku dengan senyummu. Kau tak bisa menjadi dokter, memang, memang, kau memang tak bisa, maka kau suruh anakmu yang bodoh ini untuk menjadi dokter, iya, kan?

Kau tahu, Ma. Aku patut membencimu. Aku benci dunia kedokteran. Benci sekali. Apa kata dunia jika aku kau suruh menjadi dokter? Aku masih ingat bagaimana kau meninggal dengan tragis, aku tanya, ya, karena apa? Oh, iya, kau sudah lebih tahu, kau kan ada di atas sana, kau melihat segalanya kan, mungkin hanya aku yang tak kau lihat. Apa pedulimu kepada seorang bocah manja yang selalu berpura-pura tegar sepertiku? Apa pedulimu kepada putrimu sendiri?

Biarlah aku mengambil kesimpulanku sendiri.
Supaya aku tak terlalu larut dalam keadaan, supaya aku tak menangis tiap kali terjatuh, supaya aku tak lagi, tak lagi, tak akan lagi... mengingatmu.

Premis pertama, kau menganggapku anak manjamu walau begitu aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Premis kedua, aku memang anak manja.

Boleh kutambahkan? Aku adalah anak manja yang merengek meminta sesuatu kepadamu jika aku tertarik pada hal itu. Aku adalah anak manja yang selalu tidur denganmu tiap malam, dan memarahi Papa jika tidur denganmu. Aku adalah anak manja yang selalu ada di sebelahmu, dan selama ini sangat-sangat membutuhkanmu. Aku adalah anak manja yang selalu curhat tiap pagi, siang, sore, malam, dan sepanjang hidupku selama enam belas tahun, padamu. Aku adalah anak manja yang akan sebal karena kau tinggalkan tanpa alasan. Semoga kau tak lupa.

Konklusi, Aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Lucu, ya? Silogisme-ku selalu berantakan, dan sekarang menjadi lebih berantakan lagi karena aku sangat kalut harus kehilanganmu.

Sudahlah, kau sudah pergi, dan tak akan bisa menjawab lagi semua tanyaku.

Kau sudah pergi dan tak akan bisa lagi membalas benci dan cinta yang aku beri padamu.

Kau sudah pergi dan akan terus pergi, melangkah lebih jauh, hidup di surga untuk beberapa lama, atau merasa derita neraka untuk beberapa saat, kemudian kau akan melakukan inkarnasi lagi, dan kita tidak akan saling mengingat lagi. Kita akan terus ber-reinkarnasi, berkali-kali, dan kita tidak akan saling mengingat lagi, dan kita akan saling melupakan, dan kita....... tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.

Aku mengerti itu, Ma. Aku sering membaca mengenai siklus kehidupan. Lahir, hidup, tumbuh kembang, menjalin persahabatan, saling menghargai, jatuh cinta, hidup berumah-tangga, membentuk keluarga baru, kemudian setelahnya, ketika Tuhan menunjukkan waktu yang semakin sempit untuk kita kembali kepada-Nya, kulit keriput, warna lapisan bola mata yang membiru, rambut beruban, organ-organ mengalami disfungsi, kita bermeditasi memohon surga untuk tempat kita setelah meninggal, lalu ajal menjemput, dan kita meninggal. Setelah kita meninggal, kita akan menjalani hidup di alam lain, kemudian kita ber-reinkarnasi. Kita akan saling melupakan. Seperti aku melupakan kehidupanku di masa lalu.

Jujur saja, aku benci sekali tidak dapat mengingat jelas. Aku benci melihat diriku sendiri yang kadang begitu sok pintar, sok tahu akan kehidupan. Nyatanya, aku sama seperti yang lain, kami tak pernah tahu apa-apa. Aku tak pernah bisa mengingat kelahiran lalu. Aku tidak bisa melihat masa yang akan datang, atau justru kehidupan selanjutnya.

Mama... yang jelas, di balik rasa benci, akan ada rasa cinta.. selamanya, untukmu.

P.S. Maafkan aku karena aku gagal, untuk sementara waktu.

Selasa, 08 Maret 2011

Interogasi Cinta

0 komentar

Aku takkan bisa berbohong lagi ketika tatapanmu sudah meminta penjelasan, bahkan sebelum suaramu terdengar, “Kenapa kau nggak pernah lagi mau makan malam denganku?” galak.

Aku membisu.

“Nggak cinta lagi, ya?”

Mungkin.

“Jawab, Chris…”

Hei! Interogasi ini berubah menjadi rengekan.

“Cinta, sejujurnya aku benci selalu berpura-pura suka pergi makan denganmu. Aku takut selera makanmu hilang jika aku ketahuan bohong.”

Kulihat bola matamu membesar. Khawatir? Tapi akan kuselesaikan saja. “Kau cuma tahu Castello Café; Mie Goreng, Nasi Goreng, Ifu Mie, Mie Tiaw, blablabla. Sialnya semua itu, hanya kerupuknya saja yang enak!”

“Jadi maumu apa?” tukasmu masih galak.

“Gimana kalau kau belajar memasak?”

^_^

Kamis, 03 Maret 2011

Masa Lalumu Dan Gadis Pemain Uding

0 komentar

Dia bersitatap denganmu, memandangmu dengan parasnya yang ayu.

Kau mendekatinya, tertarik oleh geraknya yang lemah lembut.

Kau mengulurkan tangan di hadapannya seraya berkata, “Permainan uding 1 mu indah sekali..”, dan dia tidak menjawab pertanyaanmu.

Dia juga tidak menjabat tanganmu, sama sekali tidak.

“Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang piawai memainkan alat musik itu..” ucapmu lagi, lebih halus.

Dia menggeleng, kemudian menatap dadamu, “Jiwa...”

Kamu memandangnya, terkesima.
Read more (2339 words)

“Jiwamu harus ikut mendengar.” Ucapnya pelan, oh, kau dengar.. suaranya begitu merdu, menyejukkan dan membasahi kering hatimu selama ini.

“Jiwaku?” tanyamu tak mengerti.

Dia hanya mengangguk.

Kau adalah seorang pria, penuh keingintahuan dan hasrat yang tak terpenuhi oleh perjalanan hidupmu, kau mendamba musik-musik yang dia mainkan.

Kau luruh di dalam tiap nada yang Ia perdendangkan, juga tiap syair yang dia lantunkan.

“Kau bisa mendengar?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaanmu sebelumnya, mungkin dianggapnya sekedar pertanyaan retoris. Kau mengangguk.

Dia tersenyum, kemudian meninggalkanmu.

Kau terbawa emosi dengan sosok gadis itu, elok rupawan dan lemah lembut, juga penuh misteri.

---

Tiap minggu kau selalu datang ke acara pertunjukkannya. Tak pernah terlewatkan olehmu petikan demi petikan udingnya yang menyayat. Merdu vokalnya yang mengiris hatimu takkan kau biarkan menjadi milik orang lain.

Kau menjadi pengagumnya di tengah kebisuanmu, kau bertepuk tangan riuh di tiap acara tari pergaulan rakyat Kutai, tari khas daerahmu, dengan senyum misteriusnya membayang di matamu. Tidak ada yang tahu, benih-benih cinta telah tumbuh di hatimu, dan air mukanya membuat benih-benih itu kian subur, sungguh jelitanya dia bagimu.

---

Kau mengenalnya, keluarganya, juga keterasingannya di lingkunganmu.

Dia bukan sosok gadis yang bersahabat dan riang, namun begitulah seorang bidadari bagimu, selalu misterius, layaknya gerak lakon penari Kancet Lasan 2 , dengan ritme tarian yang sederhana dan menggugah hati, menggambarkan agungnya sang burung enggang 3 ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon, mendarat dan terbang sesuka hati, layaknya dia bagimu, tersenyum dan mengerutkan dahi, sungguh elok.

Kau terus melamunkannya.

Dia hanya seorang pemain uding, sekedar gadis yang memetik dawai untuk menghiasi musik tingkilan 4 yang digelar pada acara tari pergaulan rakyat Kutai.

Keluarganya adalah orang terpandang walau tak kaya, karena berkepala-keluargakan seorang kepala adat. Mereka tinggal di bawah naungan lamin 5 layaknya masyarakat lainnya. Di sekitar lamin mereka, terdapat taman indah, bukan hanya dipenuhi bunga beragam warna, namun juga beberapa tumbuhan obat yang sangat sering keluarganya sumbangkan kepada orang yang membutuhkan, sungguh dermawan.

Di belakang rumahnya, aliran sungai mengalir deras, percikan air di bebatuannya terkadang memecah keheningan malam, diiringi dengung syahdu kadire 6 yang ditiup sang Ayah di kala rembulan membayang di permukaan sungai, dan kau akan termenung di kamarmu, ditemani temaram lilin.

Mereka begitu sederhana.

Dan kau begitu mengaguminya.

---

“Dia hanya seorang pemain uding!” ucap Ayahmu keras.

“Jangan jadikan aku layaknya Siti Nurbaya, Ayahanda. Aku laki-laki!” Jawabmu tak kalah keras.

Kau tidak menginginkan perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuamu untukmu.

“Intan, dia gadis kota, anak pejabat, cucu konglomerat, berasal dari keluarga baik-baik... Dia..”

“Tapi aku tidak akan kawin dengan keluarganya.” Potongmu keras.

“Aku akan kawin dengan orang yang kucintai.” Ucapmu lembut, jauh di dalam hati sanubari, kau berbisik pada dirimu, kau mencintainya, sangat mencintainya.

“Lihat Ayah si pemain uding itu, kepala adat yang miskin, tua renta, peyot. Kau suruh aku berbesan dengan tua bangka itu?” hardik Ayahmu keras, kau tak habis pikir, kemana perginya logika Ayahmu yang dibesarkan oleh belaian Ibu pertiwi? Bahkan Kepala Adat Daerahnya pun dihinanya senista itu.

“Kau orang hebat, Putraku. Lulusan Universitas ternama, menyandang predikat cumlaude , jangan kau hancurkan harapan besar Ibundamu ini kepadamu..” kali ini kau meradang, Ibumu mengambil alih, seseorang dimana surga terletak di telapak kakinya, tidak akan mungkin kau berani membantahnya.

“Ibunda.. Ini cinta, tulus dan sederhana, seperti yang kumiliki sepanjang usiaku, untukmu.” Bisikmu pelan, kau sama sekali tak berani menyakiti hatinya.

“Makan cintamu, kau akan kelaparan, anak durhaka!” bentak Ayahmu padamu.

Kau menundukkan kepalamu, kemudian Ibumu memegang pundakmu, wanita yang dulu melahirkan dan membesarkanmu dengan sepenuh hatinya kini bahkan hanya bisa meraih pundakmu, kau sudah tumbuh besar di ibukota, bertahun-tahun, badanmu berubah menjadi begitu kokoh laksana Gajah Mada 7 sang mahapatih.

“Nak, pertimbangkan lagi. Dia memiliki kepercayaan yang berbeda denganmu. Kau seorang muslim, dan dia hindu...” ucap Ibumu pelan, kau tersentak, Ibumu yang dahulu mengajarkanmu supaya memandang tiap ciptaan Tuhan atas baik buruk budhinya, kini mengajarimu untuk membedakanmu dan orang yang kau cintai berdasarkan SARA 8 .

“Kami sama-sama mempercayai Tuhan.” Hanya itu jawabanmu. Kau tahu, kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, gadis pujaan hatimu adalah gadis yang agung, menyembah Tuhan dengan segenap bakthinya.

“Kau telan mentah-mentah suara udingnya yang lapuk itu, sekarang mabuklah kau dibuatnya! Gadis miskin pemain uding tak tahu adat!” hardik Ayahmu lagi.

“Ayahanda, apalah artinya kekayaan jika kekayaan itu tak akan pernah membuat kita hidup dalam kebahagiaan?” ucapmu lembut, kau tak ingin terbawa arus emosi Ayahmu yang membara itu, kau ingin membuktikan, bahwa perihal cinta, tutur bahasa bisa membuat setiap orang terbang ke angkasa.

“Oh, sekarang kau berbicara mengenai kekayaan dengan Ayahmu ini! Kau lupa bagaimana Ayahmu bekerja keras mencari uang untuk membiayai kuliahmu?” teriak Ayahmu.

“Ayahanda, aku hargai jasamu. Tapi tidak begini caranya. Kita pernah punya masalah keuangan, jangan lagi Ayahanda ungkit-ungkit hal itu ke permukaan. Semuanya sudah berlalu.” Jawabmu pelan.

Ayahmu tersentak, kemudian beliau terdiam. Sementara Ibumu menangis tersedu-sedu di sebelahmu. “Tidak ada satu halpun yang berubah, Putraku. Tidak ada yang berlalu.” Ucap Ibumu sesenggakkan.

Kalian semua terdiam, hening dalam ulasan kemilau mentari yang masuk melalui celah-celah jendela lamin, jingga keperakkan, melebur dalam helaan nafasmu serta keringat yang membasuhi pelipis beserta lehermu.

“Kami berhutang.” Ucap Ibumu pelan.

“Jangan kau katakan itu kepada Anakmu yang tak tahu malu itu! Seorang anak durhaka tak akan mungkin melunasi hutang-hutang Ayahnya!” bentak Ayahmu di belakang Ibumu.

Kau terdiam. “Kami berhutang kepada keluarga besar Intan.” Ucap Ibumu kemudian.

“Sudahlah.. Cumlaude kedokteran durhaka ini tidak akan mau menghiraukan masalah keluarganya. Biarlah kita dihabisi oleh binatang peliharaan Pak Katar.” Ucap Ayahmu keras, kali ini Ayahmu berhasil melarutkan kesedihanmu di dalam tangis dan darah yang dicucurkan mereka untuk membiayai kuliahmu.

Kau terpaku. Dunia berbalik. Abad berganti abad, milenium berganti milenium. Dulu di kala abad menginjak angka 19, gadis bernama Siti Nurbaya 9 lah yang mesti menebus hutang orang tuanya kepada Datuk Maringgih 10 . Atau mungkin layaknya cerita daerah yang dituturkan dari mulut ke mulut para tetua di desamu, kisah yang berasal dari milenium sebelumnya, kisahmu layaknya kisah seorang gadis bernama Utan Along 11 yang dikawinkan secara paksa oleh orang tuanya dengan orang yang tak dia cintai. Kini, dunia akan menorehkan sejarahmu, mengukirnya sebagai kisah seorang pria suku Dayak yang dipaksa kawin dengan seorang gadis hanya karena hutang piutang kedua orang tuanya.

“Tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya.” Hanya itu yang diucapkan Ibundanya kemudian.

Kau renungkan kata-kata itu, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya, kau merenung, “Aku akan lunasi hutang itu, Ayahanda.” Ucapmu pelan.

---

Kau berada di sebuah resepsi perkawinan, perkawinanmu dengan Intan. Kau menangis dalam hati. Pria tak boleh menangis , ketika kalimat itu terucap dari mulut Ibumu, kau menjawab, aku tak akan menangis lagi Ibunda , dan kau menepati janji itu.

Kau tersenyum kepada semua hadirin, layaknya senyum khas yang dimiliki Alm. H. M. Soeharto 12 .

Acara resepsi perkawinanmu dihadiri oleh orang-orang besar, para pejabat negara, termasuk juga teman-teman dari keluarga mertuamu. Hanya sedikit orang dari desamu yang bisa menginjakkan kaki di Assembly Hall JCC 13 . Dari sedikit orang itu, wanita pujaanmu termasuk salah satunya, beserta Ayahandanya, seorang kepala adat di Kutai-Dayak.

Ribuan orang hilir mudik di hadapanmu, kau tetap menyebarkan senyummu, pipimu membentuk lesung pipitnya, bahkan pagi tadi, istrimu Intan sempat menggumamkan kata “manis” padamu.

Kau nampak berbeda di bawah balutan jas hitam mahal itu, tapi tetap saja hatimu meronta. Kau heran kepada tingkah polah kekanakkan Intan yang hingga kini masih memendam rasa cinta masa kecilnya kepadamu. Mengapa seorang gadis nan jelita berasal dari keluarga terhormat juga peraih gelar master di usia muda seperti Intan memilih dirimu yang kolot akan cinta.

---

Kau ingat sosokmu ketika kecil, bocah nakal dan iseng. Kau mengenal seorang gadis bernama Intan, teman masa kecil dari gadis pujaanmu. Intan, istrimu kini, kau teringat senyum gadis cilik itu padamu ketika kau kalungkan untaian bunga yang kau untai ketika itu, kau yang tak tahu adat berkata padanya, “Kawinlah denganku..” layaknya mamanda 14 perkawinan yang kau saksikan di panggung-panggung pementasan, dan Intan dengan senyumnya menjawab pernyataanmu, “Pasti.”

---

“Apa yang kau risaukan, suamiku?” tanyanya padamu, senyumnya merekah, Intan dewasa sama sekali tak nampak kekanak-kanakkan seperti tujuh tahun lalu, namun Intan dewasa adalah Intan yang menyimpan cinta masa kecilnya, impian-impian naif yang kau jejalkan padanya.

Kau menggeleng, kau menatap lurus, seorang wanita menyanyi, nyaring, merdu, kau terus menatapnya.. dia... dia... selalu menyanyi dengan segenap hatinya, mimik mukanya masam, lalu dia menangis. Sendu, perih, menyayat hatimu dan seluruh hadirin. Petikan udingnya tak kalah menyobek-nyobek perasaanmu. Perasaan hancur.

Kemudian dia melantunkan sebuah tembang, bukan tembang yang biasa dilagukannya, bukan bahasa yang kau bisa terjemahkan artinya, bukan lagu daerahmu.

Tatan hana wastu ngke ring loka,
wenanga panghibeka ning trsna,
apan ikang wwang agong trsnanya,
tan hana pahinya lawan tasik,
kapwa pisaningun kena ring hibek... 15

“Tidak ada benda di dunia ini yang akan dapat memenuhi cinta kasih, sebab orang yang cinta kasihnya sangat hebat, tidak ada bedanya dengan samudera, yang tidak sekalipun bisa penuh” diterjemahkannya tembang yang dilantunkannya tadi.

Hadirin terpesona, kemudian bertepuk tangan sejadi-jadinya. Merdu, sangat merdu. Air mukamu berseri, istrimu mendengus kesal.

“Masih seperti dulu, ya.. Kekagumanmu padanya..” Ucap Intan di sebelahmu, kaupun menoleh. Kecemburuan membakarnya.

Kau hanya tersenyum. Iya, cintamu padanya masih seperti dulu, ketika dalam hujan, kau bertemu pandang dengan seorang gadis kecil berkulit coklat dan bermata teduh, dia memayungimu, kemudian dia mengantarmu pulang ke rumahmu, sejak saat itu, kau mencintainya. Cintamu tumbuh di bawah hujan itu, melewati danau kenangan.

Beberapa saat kemudian, di dalam keheninganmu, iring-iringan musik bersiap. Prahi, gimar, tuukng tuat, dan pampong 16 dipajang apik di hadapan pria-pria besar teman masa kecilmu. Glunikng 17 dipegang oleh salah seorang lainnya, klentangan 18 juga sampe 19 tak ketinggalan.

Tanpa kau sadari, serunai 20 mulai ditiup. Lalu dibarengi oleh kesemua alat musik yang disiapkan tadi, lagi-lagi diakhiri oleh petikan uding gadis pujaanmu, tembang terakhir.

Kadyangganing watang kahala makambangan ring tasik,
Dadi ya kacunduka lawan kapwanya watang,
Niyatanya apasah muwah,
Dadi taya apanggih muwah,
Mangkana ta papanggih nikang sarwabhawa,
Lawan kapwanya,
Anitya ika,
Niyata makantang mapasah,
Dadi ta ya apanggih muwah... 21

“Sebagai misalnya batang kayu yang hanyut, terapung-apung di laut, dapat bersentuhan bertemu dengan batang kayu lainnya, yang tentunya berpisah lagi, namun dapat terjadi, bertemu lagi; demikianlah pertemuan semua makhluk itu dengan sesamanya, itu tidak kekal, akhirnya pasti akan berpisah, kendatipun dapat terjadi bertemu lagi..”

Kata penutup, mengungkapkan kekecewaan, tangis membasahi wajah gadis pujaanmu.

Kau menatapnya, dia menatapmu, tidak ada harapan memancar di matanya. Kau tak pernah memberi janji padanya. Tapi kau tahu, dia tahu, kalian saling mencintai.

Kau menangis, satu janji terpenuhi, janji lainnya tersilapkan.

---

Setelah hari itu, dia pergi selamanya dari kehidupanmu. Dia menggantung dirinya. Dan kini, kau mengenangnya lagi, dalam tangis, tanpa harap. Lirih kau ucapkan, “Benar Ibunda, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya... Hingga kini aku sudah tua renta.”

---------------

Andra dan Pelangi Persahabatannya

0 komentar

Jujur, aku nggak pernah ngerasain cinta, maka dari itu aku nggak mau tahu apa itu cinta, ogah ngenalin dan ogah dikenalin. Walau begitu, 10 tahun yang lalu.. Pertamakalinya aku bisa nyambung ngomong sama seseorang. Pertamakalinya aku bisa super bahagia ketemu dengan seseorang. Biasanya, nggak ada orang yang memiliki minat yang sama seperti aku, nggak ada orang yang kuanggap... belahan jiwaku yang hilang.

Kata banyak orang, pasangan harus seperti mata uang. Ada sisi kanan dan ada sisi kiri. Kalau banyak kesamaannya, sama saja seperti mata uang yang bersisi kiri saja ataupun bersisi kanan saja. Nggak ada artinya. Tanpa perbedaan, nggak akan bisa cinta itu tetap utuh. Jadi. apa aku salah jika menyukai seseorang yang bisa dibilang ‘sama’ denganku? Bagai pinang dibelah dua dan bagai sebuah sisi terang yang hilang dalam hidupku?

Aku menyukainya karena dia bisa mengucapkan apa yang nggak bisa aku ucapkan, pikiranku seolah dibacanya dengan begitu mudah. Aku menyukainya karena dia bebas, nggak terbelenggu aturan, nggak terbutakan prinsip kemasyarakatan. Aku menyukainya karena dia merasakan kehilangan yang sama seperti yang aku rasakan, merasakan kepedihan yang sama seperti yang aku derita. Terutama sekali, karena di dalam dirinya aku melihat diriku, hidup, bebas, bercahaya.

Aku mencintai dia yang 10 tahun kemudian menjadi sosok Andra, berandalan kelas atas yang pernah kukenali. Gaya berpakaiannya urakan, selengekan, dan bisa dibilang nggak berperikesekolahan. Tampang pas-pasan tapi banyak yang muji dia cakep, malasnya nggak ketulungan, jarang mandi, dan terutama sekali dia sama sekali tidak pernah memperhatikan pelajaran. Entah kenapa, di dalam dirinya aku melihat sosok diriku. Entah aku gila atau apa, tapi.. ini serius.

Aku mengabaikan kesempurnaannya, aku hanya ingin melihatnya dari sisi gelap dirinya. Ia berbeda dari yang lainnya, di saat suasana kelas mati, Ia hidup, Ia berkorbar sendiri, memercikkan sinarnya yang begitu terang. Ia mengabaikan aturan, Ia menolak tegas perintah mentah, Ia bebas. Kebanyakan dari kita selalu hidup dalam tekanan, membuat diri kita sama persis dengan lingkungan, hingga jati diri kita sendiri menguap begitu saja. Tapi dia tidak. Dia tak mau menyamai, dia tak mau disamai, karena dia adalah dirinya, karena dia justru merasa sempurna dengan menjadi dirinya sendiri.

“Ini ada program beasiswa melanjutkan kuliah S1 di Australia untukmu.” Aku tergagap menerima brosur program itu, ini cita-citaku. Aku Dian, siswi biasa yang sudah digantungkan ribuan cita-cita tinggi oleh kedua orang tuanya, seorang anak tunggal yang masa depannya sudah diatur oleh kedua orang tuanya, seorang pingitan yang hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri, seorang bintang pelajar yang sama sekali jenuh belajar.

Aku bimbang ketika menerima program itu, terasa berat bagiku untuk memegangnya saja. Ada yang mengganjal di dalam hatiku, entah apa itu. “Ada apa, Dian?” aku menggeleng mendengar pertanyaan itu, aku teringat Andra.

Aku berjalan keluar, duduk di pinggir lapangan basket. Kupandangi sosok Andra, pemain basket putra terbaik di kotaku. Jangkung dan atletis. Tapi sudah kehilangan beribu masa depannya. Ia sudah kehilangan ayahnya di umurnya yang ke-11 yahun, dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ibunya sakit-sakitan dan butuh perawatan serius, sementara itu dia memiliki dua adik yang harus ditanggungnya. Aku ingin dia membagi setengah saja dari berat kehidupannya. Aku ingin dia bisa sedikit saja lebih terbuka kepada dunia, aku ingin menyadari dia tidak sendiri.

Dia berjalan ke arahku, di sebelahku terletak ransel sekolahnya, lalu Ia meneguk sebotol air mineral. “Hai.. Aku Dian. Ingat? Teman masa kecilmu?”, mengulurkan tangan, dia tersenyum kecut, tak membalas uluranku. “Kenapa?” tanyaku, “Dian. Juara sekolah berturut-turut dan juara berbagai jenis olimpiade.” Ucapnya datar, “Andra. Cowok sok tegar plus sok kuat, berandalan kelas atas, nggak pernah merhatiin pelajaran, nggak pernah mau bersahabat, dan juga sok cuek terhadap segala sesuatu.” Ujarku datar. Dia tersenyum, “Separuhnya benar.”, “Pujian?” tanyaku, “Ada apa?” tanyanya ketus, aku menggeleng. Dia melangkah pergi. Well, hari itu kedua kalinya aku berani mencoba untuk memperkenalkan diriku kembali padanya. Selanjutnya, aku terus mengamatinya, aku sudah terlanjur jatuh cinta. Dulu, dia berbeda, dia nggak dingin, nggak cuek, nggak kasar. Tentu saja, itu sepuluh tahun yang lalu, ketika Ia belum memiliki rasa ‘kehilangan’. Ketika Ia masih menjadi sahabat kecil terbaikku.

Tak terasa, hari keberangkatanku untuk melanjutkan kuliah di Australia pun tiba, keluargaku, sahabat-sahabatku, semuanya turut mengantarku. Aku mematung, melihat senyum mereka, hambar. Aku menanti seseorang datang, menggenggam erat tanganku, mengucapkan salam perpisahan, dan memberi senyum lamanya, meminta maaf dan berkata “Selamanya, kita sahabat sejati.”

Nyatanya, dia nggak datang. Aku melangkah mati, tak ingin pergi, aku takut kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya. Aku takut jika suatu saat aku kembali, aku nggak akan menemukannya dimanapun, aku takut...

Plek, secarik kertas terjatuh. Aku membacanya di dalam pesawat.

‘Selamanya, kita sahabat sejati. Selamanya, persahabatan kita abadi. Selamanya, aku akan menjadi Rama dan kamu Sinta. Selamanya, menunggumu kembali akan jadi sebuah kehidupan baru bagiku. Sampai jumpa.’

ANDRA

Aku tersenyum kecil kala itu, aku tidak kehilangan sahabat terbaikku.

Andra dan pelanginya, sebuah kenangan masa kecilku. Sebuah janji persahabatan bahwa kami akan selalu bersama, selamanya. Ia adalah laskar pelangi, dan aku adalah peri hujan. Tak ada yang dapat mengenal kami, hanya kami yang dapat mengenal siapa kami. Dulu kita selalu menilai pelangi hanya memiliki tiga warna, nyatanya pelangi memiliki bahkan lebih dari lima warna. Begitu jua persahabatan kami, tak dapat ditebak, tak dapat dikira, nyatanya persahabatan kami tetap abadi. Hingga saat ini, walau ada perasaan cinta di dalamnya.

Selasa, 01 Maret 2011

Lelaki Hujan

1 komentar

Sebuah jendela dan seorang lelaki hujan, begitu saya menamai suasana di luar rumah di musim hujan pagi itu. Seorang pria berdiri tegap, memandang lurus ke rumah di seberang, mematung dan memegang gitar. Saya terlalu gentar untuk memintanya memandang ke lain arah dan saya biarkan diri saya terus memandang punggungnya, bahunya yang lebar, dan rambutnya yang basah.
Read more (904 words)

Setahu saya, tidak pernah ada kupu-kupu di musim hujan, mereka berdiam entah di mana, bersembunyi yang seolah terasa untuk selamanya. Kupu-kupu adalah lambang jiwa yang tak pernah mati, begitu Ibu saya selalu bercerita, yang selalu mengisahkan tentang romantika San Pek Eng Tay. Sama seperti yang saya lihat dari sosok lelaki hujan itu, jiwa pecinta yang abadi menanti sang pujaan hati. Seharusnya dia tidak berdiri di bawah hujan, seharusnya dia berlindung pada selimut yang hangat.

Dan kemudian, aura musik mengalun melalui gelombang elektromagnetik, lelaki hujan itu memainkan gitarnya, dan saya melangkah ke seberang ruangan mengambil harmonika saya, meninggalkan jendela yang tak kunjung saya tutup. Saya selalu menikmati rintik hujan yang masuk, mendengar rintih pada tiap tetes air yang menyentuh permukaan jendela.

Dan setelah itu, kami memainkan lagu kami.

Perlahan dia menoleh ke arah saya, menatap saya dengan pandangan seolah dia telah pulang ke rumah. Saya berlari keluar dan memegang payung di tangan.

“Selalu ada rahasia di antara kita.” Ucap saya sembari memayunginya.

Dia menatap saya, “Sudah berapa lama semenjak saat itu?”

“Tujuh tahun atau kurang,” Saya tersenyum dan meraih tangannya, “aku selalu melihatmu di depan rumahku, mungkin menangis di bawah hujan?”

“Apa kabarmu?” dia menggenggam tangan saya erat tanpa menjawab pertanyaan saya sebelumnya.

“Sama seperti dulu. Apa kabarmu?”

Dia mengulum senyumnya, “aku tak sempat menyatakan cinta.”

Pada gadis putih di sebuah rumah besar berarsitektur kuno Prancis, pasti padanya. Dan saya kembali terpaku seperti tujuh tahun yang lalu, dengan berat hati mencoba memahaminya seperti dulu, “masih mencintai gadis itu?”

Dia tersenyum, “aku beruntung karena mencintainya. Dan beruntung memendam perasaanku padanya.”

“Kenapa memendamnya?” tanya saya bingung.

“Apa ada alasan untuk mencintai seseorang?” dia balik bertanya, “aku tak mampu memberikan alasan padanya kenapa aku bisa mencintainya. Lalu, bagaimana bisa aku berbesar hati mengungkapkan sesuatu yang aku tak tahu dari mana datangnya?”

Saya tertegun, apakah perlu sebuah alasan untuk mencintai seseorang? Itu pertanyaan yang selalu hinggap di benak saya.

“Kamu benar-benar tidak tahu apa alasanmu mencintainya?”

“Apakah harus ada alasan?”

Saya menatap ke seberang tempat kami berdiri, sebuah pagar tinggi bercat hijau yang semakin luntur bersama waktu. Sebuah rumah besar bercat putih.

“Pulanglah, bawa payung ini.” ucap saya seraya berlari ke arah pagar tinggi itu, berusaha menemui gadis yang dicintai oleh sang lelaki hujan, sahabat kecil saya yang kini dewasa.

Dia menarik tangan saya, “Apa yang mau kamu lakukan?”

“Mengatakan padanya kalau kamu mencintainya. Iya, kan?”

“Kenapa?” dia bertanya yang saya tak mengerti untuk apa.

“Karena kamu mencintainya. Kamu harus mengungkapkannya.” Ujar saya lemah.

“Kenapa ada sinar cinta di matamu?” dia melanjutkan pertanyaannya.

Air mata saya mengalir menjadi satu dengan hujan yang turun dengan derasnya.

“Kenapa tak pernah aku lihat di matamu?” saya balik bertanya dan dia terdiam. Saya hanya bisa menatap ke sebuah pohon di balik tubuhnya.

**

Seorang gadis duduk bergelantungan di atas pohon di pekarangan rumahnya, di sana gadis itu meniup harmonikanya, menyanyikan entah lagu apa. Di sebelahnya ikut duduk seorang lelaki, ikut menyanyikan sebuah lagu yang entah lagu apa.

Dan kemudian seorang gadis kecil keluar dari dalam sebuah rumah. Rambutnya terjalin rapi dan dia mengenakan gaun berenda berwarna merah jambu, wajahnya putih kemerahan, dan dia membawa sebuah biola bersamanya. Dia berjalan mengikuti seorang wanita berusia setengah baya di depannya, berjalan angkuh menuju sebuah mobil. Riasannya begitu mewah dengan seuntai kalung mutiara dan gaun hitam mahal.

“Eureka.” Begitu lelaki di sebelahnya bergumam saat itu. Dan lagu mereka terhenti.

**

Hanya hubungan persahabatan yang takkan pernah putus. Itu filosofi yang selalu kami pegang sejak kecil. Dan kami pantang untuk jatuh cinta satu sama lain.

“Bukankah kita sahabat?” dan begitu caranya menjawab pertanyaan saya hari itu.

Saya hanya bisa tersenyum, “Ya kita sahabat, dan aku ingin kamu bahagia bersamanya.”

Lalu dia melangkah menuju pagar hijau itu. Beberapa saat pagar itu terbuka, dibukakan oleh gadis putih yang dia nanti selama ini. Dia pasti bisa menyatakan cintanya saat itu.

Sahabat saya akan menyambut kehidupan barunya bersama gadis itu dan saya menyadari bahwa saya takkan pernah bisa memilikinya karena dia takkan pernah bisa jatuh cinta pada saya. Kami tidak akan pernah bisa mengubah status persahabatan yang terbina sejak lama.

**

It’s all because of you

I’m feeling sad and blue

You went away

Now my life is just a rainy day

I love you so

How much you’ll never know

You’ve gone away and left me lonely

Untouchable memories

Seem to keep haunting me

Of love so true

But you dissapeared

Now my eyes are filled with tears

I’m wishing you were here with me

Soaked with love all my thoughts of you

Now that you’re gone I don’t know what to do

If only you were here

You’d wash away my tears

The sun would sun

Once again you’ll be mine all mine

But in reality

Your love I will never be

Because you took your love away from me

If only you were here

You’d wash away my tears

The sun would shine

Once again you’ll be mine all mine

But in reality

Your love I will never be

Because you took your love away from me

Ahhh baby

Because you took your love away from me

**

Dan saya lihat mereka berpelukan di bawah hujan, dan wajah gadis putih yang berbahagia. Tak perlu alasan untuk menerima cinta, seperti tak perlu alasan untuk memberikan cinta.

**

Di bawah hujan,

Senin, 21 Februari 2011

Tangan Kiri

0 komentar

Baru saja gadis kecil itu menyanyikan lagu. Lagu Bintang Kecil dengan suara merdunya. Diakhiri tepukan tangan anak-anak beserta ibu-ibu muda mereka yang hadir. Sangat meriah, meskipun tidak lebih dari lima belas anak yang hadir. Di sana, di sebuah ruang kelas taman kanak-kanak yang terletak di sudut kota kecil yang indah.
Read more (791 words)

Tangan gadis kecil itu saat ini bersatu dengan tangan sang bunda yang menuntunnya berjalan pulang di suatu tepian jalan yang sepi. Gadis kecil itu memakai baju yang paling bagus hari ini, warna putih dengan bordiran halus dilengannya, dan panjangnya hanya sedikit dibawah lutut. Sepatu hitam bersih dengan rambut di kuncir dua.

Sambil berjalan gadis kecil terus bertanya kepada ibunya

“Bintang itu bagaimana bentuknya,Bunda?”
“Bintang itu bulat, sayang,”
“Bulat! bulat bagaimana Bunda?”

Ibunya hanya terdiam belum sempat memberi jawaban. Mamun ia bertanya lagi.

“Apakah bintang sama seperti matahari Bunda?”
“Tidak, matahari lebih terang dari bintang”
“Hmm... aku tahu bunda, karena bintang lebih kecil dari matahari kan” Gadis kecil itu teringat, teringat lagu yang barusan ia nyanyikan, lagu yang pertama diajarkan disekolah, dan lagu yang susah payah ia ingat.

“Bintang temannya juga banyak kan Bunda?” Ia teringat syair lagu yang ia nyanyikan pagi ini, Amat banyak menghias angkasa.
“Iya bener, anak Bunda memang pintar deh!” Gadis itu tersenyum ketika pendengarannya yang tajam menangkap sebuah pujian dari bundanya yang tulus. Karena bundanya selalu tulus. Hati gadis kecil itu terlalu tajam untuk mengerti.

Percakapan mereka berhenti sebentar kala anak itu menadahkan muka keatas. Ibunya memperhatikan dengan senyum, ada sebutir keringat disamping alis anaknya yang tebal akan segera menetes. Sapu tangan berwarna jingga keluar dari tas kecil sang ibu, dengan itu sang bunda menangkap butiran air itu. Lebih cepat dari matahari menguapkan.

Langkah kaki kecil itu beriring dengan langkah bundanya yang sabar mengikuti. Dan tangan itu tak pernah terlepas. Tetap erat berpegangan, sesekali tegangannya menguat kala anak itu sedikit melebarkan langkah ke badan jalan atau saat berbelok di tikungan. Sang bunda ingin membawa anaknya ke jalan yang benar, jalan pulang. Meski kadang jalan itu tak sama dengan jalan pergi.

Pemandangan masih sama setiap hari, di sebelah jalan ada kebun kebun yang ditumbuhi bunga, dan macam-macam sayuran. Bunga melati tumbuh di pematang batas antara kebun dan jalan. Maka melati lebih cocok disebut pagar. Ia tumbuh dengan liar, tidak seperti mawar yang ditanam, dipotong dan dijual. Aroma melati diberikan bebas, siapun saja yang lewat di jalan itu, meskipun batangnya kadang ditebas karena dikira menggangu mawar.

“Bunda, pasti ini aroma melati,” Gadis kecil itu hafal benar aroma melati yang mengepung masuk dengan sukarela kedalam hidungnya.
“Bisa nggak Bunda memetikkan untukku!”, Sang bunda meraih satu kuntum melati yang berwarna putih. Tangan kiri sang anak menadah. Sedang tangan kanannya masih berpegang erat ketangan kiri sang bunda. Bundanya tak rela melepaskan tangan kanan anak itu yang sedang bertaut erat sedari tadi, kemarin juga, hari-hari sebelumnya juga, hanya sekali waktu dilepas. Hanya ketika anaknya itu sedang menikmati mimpi malamnya. Tangan kiri selalu sopan untuk menerima hanya buat anaknya yang satu ini,tapi tidak untuk anak-anak yang lain.

“Hai..Bu, dari sekolahan ya!” Suara seorang perempuan menyahut, mereka berdialog kemudian, gadis kecil itu diam mendengar dialog ibu-ibu muda yang hanya ia mengerti sebagian, bagian yang lain belum ada dikepalanya. Yang ia dengar perempuan itu berkata “Memang dokter bilang apa?”. Tetapi ia tahu pasti dan hafal benar perempuan itu adalah tetangga depan rumah, anehnya ia tak tahu siapa yang sakit.

Dua puluh satu hari berikutnya sang bunda mulai batuk-batuk dan hanya sanggup berbaring, tiga puluh hari sesudahnya ia telah pulang dari perawatan di rumah sakit, tetapi bukan sembuh ia kini. Malah Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tangan kanannya tak berasa, kaki kakinya telah kehilangan otot, iapun kehilangan suaranya, cuman matanya saja yang masih jernih. Sudah banyak dokter yang datang atau didatangi dan semuanya berkata “Berdoa ya bu”. Ia bersedih bukan karena tubuhnya yang lemah atau takut kematian, tetapi tangan kirinya sudah hampir dua bulan terlepas dari gadis kecilnya, anak yang yang sangat ia cintai.

“Bunda!” gadis kecil itu mengeluarkan suara, yang sedari tadi sejak ibunya datang dari rumah sakit dia ada disamping tempat tidur. Tangan kanannya meraba memegang erat tangan kiri sang bunda yang telah mati rasa. Ibu itu masih mendengarnya, tetapi tak mampu membalas. Hatinya hancur-remuk akan dunia dan satu kekawatiran, namun jiwanya masih bersatu degan Tuhan yang kini berdialog.

“Tuhan ijinkan aku mati, jika disinipun aku tak bisa menuntun anakku. Tetapi biarkan tangan kiriku tetap tinggal di disini ”. Perempuan itu menutup mata dan pergi, sedang si gadis kecil belum tahu hingga gelap menjelang saat tubuh ibunya dirasa kaku dan mendingin. Seketika tangisnya pecah. Ia belum pernah satu kalipun melihat wajah bundanya yang kini telah pergi.

Gadis kecil itu tak mau berpegangan tangan dengan siapapun kini. Ia yakin tongkat kayu yang ada ditangan kanannya, yang menuntunnya menyusuri setiap jalan, adalah tangan kiri ibunya.

11.08.07

Fakta; jumlah tunanetra di Indonesia 1,5%, dari jumlah penduduk Indonesia = 1.5% x 207.437.100 (angka estimation BPS tahun 1999) = 3.111.556 jiwa

Merah Menulis Cinta

0 komentar

Ruang kelas lima sekolah dasar negeri itu tampak mencekam hari ini. Ibu guru berjalan pelan di antara barisan bangku-bangku dengan suara sepatunya yang mendominasi. Para murid menundukkan kepala, tak ada suara-suara yang keluar dari mulut mereka. Pensil dan ballpoint tidak tampak bergerak di atas kertas, hanya bermain di sela-sela jari tak berbunyi. Mereka menunggu sebuah pertanyaan. Ibu guru yang cantik itu bersikap galak hari ini. Minggu-minggu ini para guru bersikap semakin ganas. Khabar yang tak jelas berhembus; hal ini dipicu oleh demo kenaikan gaji yang dilakukan persatuan guru di Jakarta yang tak kunjung dikabulkan oleh wakil rakyat.

“Siapa yang belum mengerjakan?” Suara Ibu guru memecah keheningan. Ia bertanya tentang sebuah pekerjaan rumah membuat karangan yang diberikannya satu minggu yang lalu. Sebuah karangan sederhana, satu lembar kertas kuarto. Di tepi bagian atas lembar-lembar kosong berwarna putih itu tertulis.

TULISKAN BUKTI CINTA PADA IBUMU!

Dari perintah itulah para murid harus membuat karangan satu lembar penuh. Bocah-bocah itu tidak mengangkat tangan, tanda seakan ketiga puluh murid selesai mengerjakannya. Ibu guru masih menyapukan pandangan dari ujung ke ujung kelas berulang kali. Saat itulah seorang murid yang duduk di sayap sebelah kanan bangku paling belakang mengangkat tangan dengan ragu-ragu, tetap dengan kepala menunduk. Sebatang pensil tampak bergetar di ujung tangan yang tidak tegak. Telapak tangan yang berkulit kasar dan ada satu bekas luka yang hanya tampak sebagai sebuah noda hitam kecil di pergelangan tangan. Sebuah luka akibat sabit yang tidak dengan sengaja menggores kulit.

“Tole! Kamu lagi, kenapa tidak mengerjakan?” Wajah Tole menegang tanpa memberikan jawaban. Bocah yang tidak naik dua kali itu tertunduk lesu seperti seorang terdakwa yang sudah dinyatakan dihukum oleh sebuah tindakan yang tak mungkin disangkal. Tole memang residivis kelas. Ia tidak naik dua kali. Nilainya hancur lebur berwarna merah hitam. Separo merah, separo hitam. Meskipun ia pun tak tahu sejak kapan nilai lima kebawah harus ditulis dengan tinta berwarna merah, bahkan semerah darah. Tole pernah bertanya pada tukang kebun sekolah, “Kalau orang bilang sih merah itu lambang cinta Tole,” Jawab Pak tukang kebun sekenanya. Tole hanya mengangguk tanda kebingungan yang makin menumpuk. Teman-teman disekolahya menyebut ia anak bodoh. Diapun makin bingung kenapa harus merah.

“Saya tidak bisa mengarang Ibu!” Jawab tole pelan.
“Kalau kamu tidak mengumpulkan minggu depan, nilai kamu akan merah lagi!” Ibu guru mengancam.

Pelajaran berakhir beberapa jam kemudian. Dalam sekejab halaman sekolah telah penuh oleh murid-murid yang bertebaran menuju pulang. Debu-debu mengepul kala anak-anak berbaju merah putih berlarian tak beraturan menuju gerbang. Panas kemarau memaksa tanah-tanah tipis yang kering di lapisan atas menjadi butiran butiran lembut terbang tanpa arah membentuk turbulensi disekitar tubuh-tubuh kecil mereka. Wajah-wajah yang telah layu tetap saja masih bisa tertawa, berteriak saling mengejek dan berkejar-kejaran. Tole berlari cepat diantara kerumunan keramaian itu tak peduli dengan seragamnya yang compang-camping, baju yang keluar dari celana pendeknya. Ia tembus bottle neck yang terjadi di pintu gerbang. Ia terus berlari tanpa peduli teriakan gadis-gadis kecil yang dengan tidak sengaja disenggolnya. Berlari terus menuju rumah.

“Makan dulu Le!” Ibunya menyeru.
“Sudah Bu! Sekarang aku mau berangkat dulu!”

Tole tidak lagi berpakain merah-putih, melainkan memakai celana pendek usang warna coklat tak berikat pinggang dan kaos oblong warna krem. Kaos yang telah dipenuhi oleh getah-getah yang telah mengering hingga terkesan seperti noda-noda yang menempel pada kain yang tak bisa dihilangkan. Bahkan dibagian lain, noda seperti bekas darah yang menetes pada kain putih yang mengering menjadi coklat. Secara keseluruhan noda-noda membentuk sebuah lukisan berpola abstrak. Pakaian khusus yang setiap hari ia pergunakan untuk mencari rumput di pematang-pematang sawah. Disakunya tersimpan satu pensil dan selembar kertas kuarto dari ibu guru. Ia berpikir barangkali ia akan mendapatkan inspirasi untuk menulis dibawah rindangnya pohon sehabis memotong rumput.

Siang itu ia susuri jalanan aspal yang mulai berlubang menuju sawah di ujung kampung. Kaki-kaki kecilnya melangkah tergesa-gesa hingga terkesan setengah berlari menghindari panas yang dengan cepat merambat keujung otak memerintahkan syaraf merasakan sakit. Di ujung kampung seorang pemuda menyapa.

“Mau kemana panas-panas gini Le?” Sakri bertanya bersama kepulan asap rokok dari mulutnya.
“Biasa Lek..!. mencari rumput” jawab Tole sambil tetap berjalan. Tangan kanannya memegang sabit yang telah terasah. Tangan kirinya memegang karung bekas pupuk berwarna putih sebagai tempat rumputnya nanti.

Sakri sebenarnya sudah tahu bahwa Tole dan juga anak-anak kecil di kampung itu memang rajin mencari rumput. Hampir semua anak di kampung kecil itu, rajin membantu orang tua dengan memelihara kambing atau sapi, kecuali Sakri. Meskipun tergolong miskin dibanding kebanyakan orang, tapi Sakri memang pemalas sejak kecil. Sehingga ia tetap menjadi pengangguran hingga umurnya hampir 17 tahun saat ini. Yang dilakukannya hanyalah mabuk bir murahan dan nongkrong-nongkrong di pos kecil yang terletak di tepian jalan antara kampung dan areal persawahan. Malamnya ia bersama gengnya akan melakukan pemerasan kecil-kecilan atau tindakan pencurian ayam-ayam di kampung tetangga.

“Mencari rumput untuk ibumu ya!?” Sakri mengejek. Tole berlalu begitu saja tidak menjawab

Rupanya hari ini Tole tidak beruntung. Ia salah memilih sawah. Itu adalah biasa sebab pencari rumput tidak punya peta atau arah. Mereka hanya bermain degan firasat tentang arah mana yang akan mereka tuju. Jika tepat, mereka akan mendapatkan rumput dengan kualitas bagus secara cepat, jika tidak maka sebaliknya ia akan berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Begitulah Tole hari ini, maka sampai jam tiga sore pun karungnya belum penuh dengan rumput padahal jadwal film kartun kesukaannya yang diputar setiap hari kamis-hari ini- telah dimulai. Tuntutan karung penuh tidak bisa ditawar, maka iapun harus rela melewatkan serial itu minggu ini.

“Kok lama Le mencari rumputnya?” Ibunya menyapa. Tole memasuki rumah dengan wajah lusuh dan capai. Keringat masih membasahi sebagaian besar tubuh dan juga kepalanya.
“Iya Ibu, akhir-akhir ini cari rumput agak susah, soalnya banyak orang yang pelihara kambing.” Tole menjawab dengan lesu.

Ibunya tersenyum dibelainya rambut anaknya yang basah oleh keringat. Dilepaskannya kaos yang juga basah oleh keringat yang bercampur dengan bau rumput-rumput liar. Dengan kaos itu, perlahan ia mengusap rambut Tole yang ujung-ujungnya memerah karena ultraviolet. Belaian itu merasuk ke jiwa Tole setiap hari, menjadikan ia tak pernah melawan perintah dari ibunya. Belaian itu adalah kasih sayang yang mencandukannnya. Sesuatu yang tak tampak tetapi membuat hatinya selalu ingin lebih. Lebih setiap hari, setiap waktu, dan juga setiap ruang. Seperti cinta yang berasa kuat tapi tak pernah bisa ditulis, digambar ataupun diwarnai.

Hari ini adalah hari Sabtu, siang ini matahari tampak malu menampakkan diri. Siang menjadi pekat dengan hawa yang pengab. Tole menyusuri jalanan kampung dengan jalanan aspal yang masih menghangat menuju sawah dengan tetap memainkan firasatnya. Awan-awan mengiringi kegundahan dan pengab hatinya. Tadi pagi ia kembali dapat ancaman nilai merah, kali ini dipelajaran menggambar. Sebab selama ini ia tak bisa menggambar dengan warna yang tepat menurut gurunya. Ia akan mewarnai daun dengan warna biru, pohon dengan warna merah dan ranting dengan warna hitam, bahkan langit digambarnya berwarna pink. Sehingga teman-temannya selalu menggapnya anak yang aneh. Gurunya menganggapnya tidak normal. Tetapi tentu ia tidak merasa. Hari ini hatinya penuh dengan gundah dan seribu pertanyaan, termasuk soal warna merah. Kenapa harus merah?.

“Hoi..! mau kemana Tole?” Sakri yang setiap hari di pos itu menyapa dengan suara lantang.
“Biasa Lek..!” Jawab Tole singkat
“Mencari rumput untuk ibumu ya! Kambing itu belum dijual juga!” Tole tidak bersuara tapi tatap matanya yang biasanya menuju pusat bumi searah gravitasi kini berarah tepat di antara bola mata Sukri.
“Tole..Tole.. sekali-kali ibumu itu disuruh kesawah sendiri. Suruhlah makan rumput langsung di sana!”

Mendengar itu Tole tanpa kata melangkah ke arah Sakri yang berdiri beberapa meter dengan pelan. Sekuat tenaga ia arahkan sabit yang mengkilap tajam ke perut Sakri secara datar. Sakri kaget, terdiam, terhipnotis, tak bergerak. Sepersekian detik sabit berarah vertikal dari kepala menuju dada. Sakri tersadar mencoba mengelak dengan tangannya tapi tetap saja tangannya adalah daging yang lemah dan tetap kalah dengan tajamnya sabit yang baru diasah. Belum sempat Sakri merasakan sakit ataupun berteriak, sabit sudah mendarat bertubi tubi untuk kesekian kali dari berbagai arah yang tak terduga. Sakri jatuh, sedang Tole makin membabi buta. Muka, leher, dada, telah megalirkan darah merah segar yang sebagain telah muncrat memercik ke kaos dan celana Tole. Dalam posisi itu Tole belum juga berhenti entah sudah berapa tebasan hingga akhirnya Tole merasa lemah dan berkeringat. Sakri sudah tak bernyawa lagi.

Selang kemudian iapun berlari sekuat tubuhnya dengan sabit berlumuran darah ditangan kanan. Ia berlari cepat secepat menebaskan sabit pada rumput-rumput liar. Tubuhnya streamline memecah udara tak bergerak berbau sawah, seperti peluru keluar dari lubang senapan. Ia bersama firasat pencari rumputnya terus berlari, turun naik pematang sawah, meloncat diantara batu-batu menyebrang sungai, dan masuk diantara pohon-pohon rindang. Hingga tubuhnya melemah entah ia dimana kini. Hutan kian sunyi, tubuhnya tergolek dibawah pohon berdaun lebat. Tangannya kosong bernoda darah yang telah kering dengan sabit yang tak ia sadari entah terjatuh dimana. Ia rogoh kantung celananya, pensil yang selalu ia bawapun telah hilang entah kemana. Yang tersisa adakah kertas kuarto dengan lipatan empat. Dibukanya kertas itu, “TULISKAN BUKTI CINTA PADA IBUMU!” masih tetap tertulis disana. Hanya saja kini di bawah tulisan itu ada noda darah tak berpola berwarna merah memenuhi hampir semua halaman. Ia ingin menuliskan bukti cinta saat ini, tetapi ia tersadar pensilnya telah menghilang.

Senin, 31 Januari 2011

Pesan Terakhirmu: Cinta

0 komentar

Kegelapan sungguh menakutkan, dan sepi terlalu menyesakkan…

Di sini. Bahkan sekalipun ini aku—eksistensi yang baru menjejak jalan kehidupan sejauh beberapa jengkal langkah kaki-kaki kecilku—aku mengenal horor ini seolah aku sempat melewatinya dalam perjalananku menuju kesini beberapa waktu lalu.

Aroma menyengat itu beterbangan menghimpit sisa-sisa udara yang tersisa, datang dengan diiringi gaung bisikan sedingin es. Mengulurkan tangan.

…ini adalah milik kematian.

Aku bahkan tak ingat kenapa aku berada di sini. Sangat terang, sebelumnya. Juga hangat. Aku berada dalam pelukan wanita ini, yang tengah bersenandung sambil membelaiku lembut. Rasanya sangat tenang, juga lelah. Aku pun memejamkan mata, bersiap untuk bertemu dengannya lagi dalam mimpi…

Kemudian guncangan itu datang. Hal yang terakhir kudengar adalah jeritan wanita itu, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Lalu aroma serta bisikkan-bisikkan yang kubenci itu menyergap, merambat pelan, menghampiri kami dan tak terlihat dalam gelap. Kupikir… satu-satunya hal yang menghalangi mereka untuk meraih diriku adalah karena keberadaan wanita ini, yang masih kurasakan begitu dekat. Sebelah tangannya kokoh berdiri di sisi wajahku. Napasnya yang tersendat masih sehangat sebelumnya. Sesekali jemarinya yang gemetar mengelus pipiku, dan aku pun tahu bahaya takkan mampu menyentuhku. Tidak selama wanita ini tidak membiarkannya.

Entah sampai kapan kegelapan ini akan menyimpan kami di dalamnya. Aku pun tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi wanita ini tak pernah berubah. Tangannya yang membelaiku, napasnya yang memberi kehidupan, dan suaranya yang menenangkanku. Selama dia masih ada bersamaku, aku tidak perlu takut…

Tapi kemudian dia terbatuk. Kurasakan tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya, dan dia tersengal mengambil napas yang entah mengapa lebih sulit dari yang sudah-sudah. Tetes cairan dingin jatuh membasahi hidungku—berbau amis hampir serupa dengan aroma yang melingkupi kegelapan tempat kami berada.

Aku mulai merengek, mencemaskannya.

Kemudian kurasakan sebelah tangannya meraih sesuatu, mencari-cari di dalam kegelapan… Dan dia menemukannya, benda itu. Benda yang kemudian berpendar dengan sinarnya yang redup, namun bagaikan sebatang lilin di tengah lautan kegelapan di bawah reruntuhan… Wanita itu terpekur padanya sejenak, kemudian dia berpaling, tersenyum memandangku. Perlahan, dapat kulihat wajahnya dengan jelas.

Itu, mungkin adalah pertama kalinya aku melihat senyumannya dari sudut pandang itu. Ataukah mungkin terlalu lama berada di bawah kegelapan telah membuatku lupa akan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh tiap-tiap senyuman darinya? Kurasa, mungkin inilah senyuman terindahnya dari semua yang pernah diberikannya padaku…

“Tak apa,” katanya dengan suara lemah bergetar, meraih tangan kecilku lalu menggenggamnya. “…akan baik-baik saja…”

Tak lama kemudian, cahaya dari benda itu meredup. Dan pegangan wanita itu mengendur. Aku tahu jemarinya mendingin… Tiba-tiba saja kegelapan menjadi jauh lebih menakutkan. Suara napasnya, hangat tubuhnya, dan yang lebih lagi—detak jantungnya, perlahan menghilang. Kegelapan melolong, dan gaungnya menyelimutiku dengan beku yang tak tertahankan. Tidak, batinku. Jangan tinggalkan aku…! Kumohon jangan tinggalkan aku…! Aku menjulurkan tangan hendak meraihnya, dan aku dapat meraihnya! Tapi kenapa dia begitu dingin dan diam…?

Seketika itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sekeras-kerasnya. Berharap dia hanya tertidur, dan tangisanku akan membangunkannya seperti biasa. Tapi dia tidak kunjung terbangun. Tidak.

Alih-alih itu, terdengar suapa geseran dan benturan keras dari ketinggian yang tak dapat kujamah. Kemudian terang—bukan terang lilin. Terang yang amat sangat. Terang yang kurindukan, dan itu adalah pertanda aku bukan lagi bagian dari kegelapan. Mataku berkedip-kedip menyambutnya, tak terbiasa dan sembab oleh air mata. Kurasakan tangan-tangan menjamah tubuhku, salah satunya meraihku dan meletakkanku dalam gendongannya. Kedua tangan itu adalah milik seorang laki-laki berseragam hijau, tubuhnya bersimbah keringat, dan dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

Lebih banyak sosok-sosok berseragam serupa mendatangi kami, dan lebih banyak lagi menghampiri tempatku diangkat dari balik kegelapan. Kemudian aku melihatnya—wanita itu. Senyum masih tersia di wajahnya yang pucat dan ternoda merah. Aku menangis dan menjerit, menjulurkan tangan menginginkannya, sebab aku tahu kali ini dia akan terbangun di bawah sorot cahaya yang sama-sama kami nantikan… Tapi mereka bergegas membawanya pergi dariku. Aku pun hanya meratap menyaksikan kepergiannya.

“Lihat ini,” salah seorang pria mendekati pria yang menggendongku. Di telapak tangannya, tak lain tak bukan adalah benda itu, yang berpendar ketika kami masih berada dalam kegelapan dan kepada siapa wanita itu terpekur sebelum ia meninggalkanku…

Pria yang menggendongku mengambilnya dengan tangannya yang bebas, memperhatikannya dengan dahi berkerut, kemudian dua butir air mata bermunculan dari sudut-sudut matanya. Dia memelukku erat, menangis bersamaku tanpa kata-kata.

_________

Beberapa tahun berlalu, dan kini aku dapat berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Kembali, ke tempat ini. Tempat ini berubah, tentu saja. Pemerintah telah terus berupaya untuk membangun kembali kota ini semenjak gempa beberapa tahun lalu. Dan tempat kenangan yang ditunjukkan oleh paman yang baik hati itu kepadaku, adalah sebatang pohon meihua yang bunganya tengah mekar dan berguguran tertiup angin musim semi.

Aku merogoh sakuku dan menemukannya—ponsel itu. Ponsel yang menyimpan pesan terakhir wanita itu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, dengan punggung menyangga reruntuhan. Melindungiku, dan meninggal dalam prosesnya. Tentu saja aku masih menyimpan pesannya; bahkan pesan itulah yang menjagaku tetap hidup, dan terus mencintai hidup itu hingga saat ini.

“Anakku yang terkasih, aku harap pengorbananku ini akan menjagamu agar kamu tetap hidup. Dan jika kamu berhasil selamat, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu.”

Aku tersenyum, mengatupkan kedua tanganku dan menundukkan kepalaku, memejamkan mata.

Terima kasih telah melahirkanku. Aku pun akan terus mencintaimu sepanjang hidupku… mama.

END
______

berdasarkan kisah nyata, bisa dilihat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2563080
tribute untuk para korban gempa dimana saja. Saya berdoa semoga si anak dapat melanjutkan hidupnya dengan baik-baik.

Kamis, 27 Januari 2011

Anak Ku Erick

0 komentar

By Christine Wili

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”