Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Jumat, 18 Maret 2011

Kau bukakan Aku Gerbang Kehidupan

0 komentar

Sewaktu aku kecil, aku sering iba melihat tetua yang ditelantarkan oleh sekitarnya. Aku sering mendengar mengenai seorang janda yang tak berketurunan dan sudah tua renta, membina rumah tangga kembali pun hanya sebatas angan-angan, juga tentang perawan tua yang memutuskan menghidupi dirinya sendiri layaknya sebatang kara, terombang-ambing pada arus sungai kehidupan, berpacu dengan perih dan luka juga cercaan.


Kini pun, setelah aku dewasa merujuk kepada usiaku yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk-ku, aku tetap mencemaskan hal yang sama, tentang seorang nenek yang ditelantarkan oleh anak-anaknya, dan dijebloskan ke sebuah panti jompo. Atau tentang seorang renta yang mengalami stroke dan terkapar pada ranjang sebuah sal murah di Rumah Sakit.

Betapa hidup adalah sebuah siklus. Lahir, belajar, bekerja, membina rumah tangga, bermeditasi setelah mendapati kulit semakin keriput, rambut beruban, dan semua fungsi tubuh menua, ketika tanda-tanda kematian sudah semakin dekat, dan akhirnya menyambut ajal, mungkin dengan seulas senyum.

Walau kepercayaanku membuatku mengerti siklus hidup dan mati, namun aku takut harus mendapati orang yang kukenal meninggalkanku untuk selamanya, bahkan mungkin menghembuskan nafas terakhirnya di hadapanku.

Sebuah perpisahan yang menyakitkan bagiku. Karena walau mungkin secara rohani aku menyadari akan ada kehidupan setelah kematian, tetapi begitu menyakitkan untuk juga menyadari bahwa aku akan dipisahkan lama dengan seseorang yang kusayangi sampai akhirnya aku menyambut ajal juga suatu saat nanti.

“Geser agak dalam, angkat sedikit.” Brak. Freezer itu tertutup. Suhu tujuh derajat celcius.

“Permisi Dok, keterangan kematian pasien sudah selesai.” Ucap pria di sebelahku.

“Tolong diserahkan kopiannya kepada saya besok.” Jawabku singkat. Pria itu kemudian pergi.

Aku masih terpaku di depan freezer itu. Di bagian bawah, terdapat beberapa sesajen juga canang, beberapa dupa masih mencipta asap berwarna abu. Sebuah penghormatan terakhir, dan sayang hanya sebuah halusinasi, karena di sana tidak ada apa-apa selain ubin yang berair.

Jantungku seolah diremas. Di luar ruang mayat, aku mendapati beberapa orang duduk di ruang tunggu dan menangis, seorang bocah pria bersender di bahu seorang wanita muda, seorang pria berkumis dan nampak berwibawa mencakupkan kedua belah tangannya pada wajahnya. Aku mendekati mereka, dan ternyata tak ada siapapun di sana.

---

Tak banyak yang menangis untukmu. Hanya aku. Keluargamu entah di mana. Tapi aku berusaha untuk menemukan mereka untukmu. Aku ingin menceritakan kesahmu kepada putra-putramu.

Ingatkah kau sewaktu kita bercerita di taman, tidak dengan kata, tetapi dengan sinar mata. Sewaktu kau tertawa lebar, tidak dengan bibir tetapi dengan air mata bahagia yang mengalir deras di pipimu. Sewaktu aku menari dan melucu untukmu, tidak dengan gerak tetapi dengan sentuhanku pada kulit keriputmu.

Aku mengenalmu, lebih dari tujuanku sebelumnya. Aku makin menyayangimu, entah sosok apa yang telah memenuhi mataku, kau di mataku bagaikan seorang Ibu yang tak pernah kujumpai walau tentu aku memilikinya.

Ingatkah kau sewaktu aku memarahi suster-suster itu, ketika mereka dengan separuh hati menusukkan jarum infus itu ke tanganmu yang memar. Ingatkah kau sewaktu aku dengan tanganku memandikanmu dengan penuh sayang.
Dan kini, apa kau akan ingat, aku menggantikan putra-putramu menciumi tumitmu, melafalkan mantram untuk keabadian jiwamu.

Kau tahu, kau nampak cantik dengan hanya seulas senyum. Warna putih sangat cocok bagimu, karena kau begitu suci. Kau tahu, aku takut tanah itu menguburmu, aku takut kulit dan dagingmu digerogoti belatung.

Bunga merah itu terasa dingin di genggamanku, dan untuk menaburinya di atas tanah yang mengubur jasadmu membuatnya beku.

---

“Ka.......!!” teriak Arya di belakangku, aku menoleh dan dia menarikku ke dalam pelukannya, menghempaskan tubuh kami ke pinggir jalan. Setelahnya, kulihat sebuah truk kuning besar melaju kencang di hadapan kami.

Mataku melotot, kemudian air mata keluar dari rongganya. Aku memerhatikan Arya, dia meringis kesakitan, tangannya lecet. Kemudian aku menoleh kepada sunyi yang tak kunjung meninggalkan tempat pemakaman.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya padaku, aku mengangguk.

“Benar?” tanyanya lagi, aku meyakinkannya dengan anggukan lagi.

“Pulang denganku, ya?” tanyanya, aku memandang mobilku yang berada di seberang kami. Kemudian aku menggeleng.

“Atau kusopiri?” tanyanya, “biar kutinggal mobilku di sini.”

Aku menatapnya lekat, dia masih Arya yang dulu, Arya yang kukenal ketika OSPEK, dan semenjak itu terus menemaniku. Arya yang memilih meninggalkan beasiswa strata dua-nya untuk ikut mengasah bakat kerjanya di rumah sakit tempatku bekerja.

“Aku tidak bisa memberikan harapan lebih padamu,” Jawabku, “aku sulit untuk mencintai seseorang.”

Dia tersenyum, kemudian membantuku bangun. “Aku juga sulit. Karena itu, aku tak mau berpaling lagi pada yang lain.”

---

Aku menolak niat baiknya untuk mengantarku. Oh, Tuhan. Ada orang yang mencintaiku, dan aku tak bisa mencintainya. Dia Arya.. Seorang pria dengan tubuh jangkung dan sorot mata yang memabukkan, dari sanalah tiap wanita mengenalnya. Dia tampan. Betapa.

Sorot mataku bergeser ke sebelah kanan, ketika kudapati sebuah mobil merah melaju cepat dan menghantam mobilku. Bunyi klakson memekakan telinga, betapa aku akan mengingat semua detilnya, kepalaku terbentur, sesaat, kulihat darahku menciprati sekitar.

Aku akhirnya mengerti rasa itu, rasa yang hadir di kala jiwa terlepas dari raganya. Aku ternyata tak berbentuk, aku ternyata tak berwujud. Tapi aku bisa mendengar, aku bisa melihat, padahal jiwaku tak bermata dan tak bertelinga.

Kerumunan orang menyaksikan peristiwa itu. Ketika kulihat sesosok cahaya keluar dari dalam mobil merah yang menabrakku, perlahan jiwaku mulai berwujud, bercahaya.

Jiwaku membentuk dirinya seperti bentuk jasadku ketika hidup. Aku telah mati, dan seperti cerita orang tentang kematian, seharusnya aku tak menyadarinya, menyadari ajal menjemputku. Ah, tapi, hal itu begitu aneh untuk tidak disadari.

Empat orang yang mirip denganku mengerubungiku, berpakaian putih-putih layaknya seorang rohaniawan. Mereka berparas ayu, dan alang-alang dengan bunga berwarna merah terikat di kepalanya. Masing-masing dari mereka memegang bahuku dan tanganku. Mungkinkah mereka adalah saudara empat-ku, aku takut untuk berkata-kata, begitu cepat.

Sedang di seberang, pria itu sedang dituntun oleh seorang pria berpakaian hitam dengan wajah mengerikan, jemari dengan kuku-kuku yang begitu tajam itu menggenggam erat kapak dengan tongkat begitu panjang, di lehernya, terdapat usus manusia yang dililitkan layaknya kalung.

---

“Ibu..” ucapku terisak. Aku telah mati, dan aku tak pernah bertemu Ibuku lagi setelah aku dilahirkan, walau satu kesempatan pun.

Sebuah kereta kencana menerbangkan kami berlima di udara, satu demi satu lapisan atmosfer terlewati. Tak banyak kata, bahkan satu pun tak mampu terucap di antara kami.
Hanya ada satu kata yang terus kuteriakkan, “Ibu...”

Waktu berjalan lamat-lamat, dan sudah tak kurasakan udara memenuhi ronggaku, sudah sejak tadi. Ajal itu mengerikan, dijemputnya adalah hal yang sebelumnya tak kupikirkan.
Kemudian, kami tiba di suatu tempat, di depanku, terdapat seutas tali yang sama-sama bermuara pada sebuah gerbang yang begitu besar, gerbang istana. Sebuah istana megah seperti melayang di atas jurang yang dipenuhi magma meletup-letup. Di lautan magma itu, jiwa-jiwa terbakar dan meraung kesakitan, tetapi jiwa-jiwa itu tak kunjung hilang berubah jadi abu.

Aku menoleh kepada keempat wanita di sebelahku, mereka melayang di udara, lalu mereka menganggukkan kepalanya kepadaku. Aku melangkah gontai, tali itu begitu panjang, tali itu mungkin tak cukup kuat untuk menyangga bobotku.
Namun ternyata aku mampu berjalan di atas tali itu, dengan tangan-tangan yang memegangiku, di sebelah kiri dan kanan. Dua orang lainnya berjalan di depanku, pintu gerbang itu terbuka, bercahaya dengan sinar yang kekuningan, menyerap jiwaku, untuk terus mendekat.

“Cempaka.......” sampai kudengar suara itu. Suara seorang pria.

Aku tak berpaling, aku tahu betul, suara itu suara Arya.

“Cempaka.......” kudengar suara lainnya.

Rintihan hadir menemani suara itu, tangisan dan jeritan. “Cempaka....” aku tak mengenali suara siapa itu, tapi aku tahu pasti, itu adalah suara seorang wanita.

Berisik, gemuruh hadir dari magma yang meletup-letup. Seketika, burung-burung beraneka jenis beterbangan di atasku. Aku menoleh kepada empat wanita di sekitarku, mereka menghilang. Kemudian, aku tak bisa memastikan benda apa itu. Udara yang bergumpal dan transparan, datang ke arahku, gumpalan udara itu memelukku. “Cempaka, ini Ibu, sayang.”

Aku terpaku di tempatku, Ibuku telah meninggal? Karena itu semasa hidup aku tak pernah menemuinya sekali pun?

“Ibu..” ucapku lirih, gumpalan udara itu mengecup keningku.

“Terima kasih atas sujud terakhirmu, Nak. Terima kasih karena sudah memberi Ibumu ini kasih sayang di saat terakhirnya.” Lanjut gumpalan udara itu.

“Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti, pelukan itu merenggang, padahal aku menginginkannya, semakin erat lagi.

“Ibu adalah wanita tua itu, Ibu adalah yang meninggal tadi pagi. Kau adalah dokter yang merawat Ibu selama ini. Nak, Ibu tak bisa berkata banyak semasa hidup, tapi Ibu tahu itu kamu, Cempaka. Ibu sayang padamu.” Ucapnya penuh sayang. Jadi, selama ini aku selalu berada di sisi Ibuku, menemaninya, dan menjaganya? Dia stroke, tapi dia menyadari kehadiranku, sedang aku yang dalam keadaan sadar, tak bisa menyadari kehadirannya. Benar kata orang, kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Tapi kemana kau Ibu, selama puluhan tahun?

“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu,” Ucapnya terbata. “dan sekarang, kembalilah ke duniamu, Nak. Belum saatnya kau kembali kepada-Nya.”

“Aku tak ingin, Bu. Tak ada orang yang ingin kutemui lagi di dunia. Aku tak memiliki siapa-siapa.” Jawabku kering.
“Nak, kau tahu kan, kau pernah mendengar cerita Jaratkaru, kau adalah putri Ibu semata wayang, seperti dia yang bagaikan sebatang kara. Kau harus melanjutkan keturunan. Jika tidak, orang tuamu tidak akan mendapatkan tempat di alam ini. Kau harus hidup, Nak. Kembalilah,” Ucapnya, “demi Ibu dan Arya.”

Aku terdiam lama, demi Arya?

“Cempaka....” suara itu memanggilku lagi, suara Arya. Aku mencari asal suara.

Nihil. Kemudian aku menoleh, gumpalan udara itu menghilang, tak berbekas.

Lalu aku melihat sosok Arya, berdiri jauh membelakangiku. Aku mendekatinya, tapi dia semakin jauh, jarak itu sangat jauh. Dia duduk di sebuah kursi, kedua belah tangannya mengatup di wajahnya.

---

“Arya..” panggilku lirih, beberapa orang yang kukenal tersenyum kepadaku, beberapa dokter spesialis bedah yang pernah menjadi dosenku.

Operasi berhasil. Aku berhasil diselamatkan, dengan patah tulang telapak kaki sebelah kanan. Tetapi itu dapat disembuhkan, hanya beberapa bulan, mereka meyakinkan.
Arya sangat senang mengetahui aku selamat, selama aku dirawat inap, dia selalu menemaniku, dengan parsel buahnya, buku-buku favoritnya yang dia beri padaku, juga lelucon-leluconnya, dan akhirnya dia mendapatkan posisi yang dia idam-idamkan selama ini, dia berhasil menjadi seseorang yang istimewa di hatiku.

“Kalau begitu, kapan kita menikah?” tanyanya suatu saat, aku tahu dia bercanda karena setelahnya dia tertawa dan menyuapkan sepotong apel padaku. Aku pun hanya tertawa.
Kapan pun kita bisa menikah, Arya. Mertuamu sudah merestuinya.

Aku memejamkan mataku, Ibu, seandainya aku dapat mengingat wajahmu... tapi nyatanya aku tak dapat. Maafkan aku, Ibu.

0 komentar:

Posting Komentar