Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Jumat, 18 Maret 2011

Sejuta Kebencian Dan Cinta Untukmu

0 komentar

Aku tahu kau sudah meninggalkanku selamanya. Tapi kenapa aku masih saja tetap percaya bahwa kau ada, menemaniku, di sisiku, atau mungkin di dalam hatiku? Aku begitu bodoh untuk percaya bahwa kau memang menemaniku. Aku bodoh.

Aku tahu kau sudah pergi, bahkan mungkin kau melupakanku untuk selamanya. Aku tahu kau tak akan pernah datang lagi padaku, untuk sekedar mengingatkanku akan rupamu yang kini sudah kulupakan, walau kau baru tiga bulan pergi dariku.

Aku tahu, Mama. Aku sekarang membencimu. Mau apa Kau? Bisa apa? Kau tak mungkin datang padaku, tak mungkin marah karena aku membencimu, kau tak mungkin mencak-mencak seperti biasa, kau tak mungkin memukulku. Iya kan?

Aku benci sekali padamu, Ma. Melebihi benciku pada Tuhan, yang telah merebutmu dari sisiku. Aku benci sekali padamu, Ma. Aku benci sekali.

Aku benci sekali kau tinggal sendiri. Mau bilang apa Kau? Aku benci padamu, benci, benci, benci. Aku benci padamu!!!!! Kurang jelas kau dengar dari surga, hah?

AKU BENCI PADAMU, MAMA.

Aku benci kau tinggal sendiri. Aku benci kau telantarkan dan kau lupakan. Aku benci karena aku tak pernah bisa melihatmu lagi. Sekarang coba Kau tampakkan wujudmu di hadapanku? Apa kau bisa? Bisa? Aku benci sekali padamu, karena kau tak bisa melanggar aturan itu, karena kau tak bisa melanggarnya hanya sekali saja, kau seperti roh-roh orang yang telah mati, kau memang roh orang mati, dan kau memang sama saja dengan mereka, yang tidak berani menampakkan wujudnya lagi pada orang yang kau sayangi. Betul begitu? Ah, mau jawab apa Kau? Mulut pun kau tak punya lagi. Iya kan?

Aku benci padamu, Mama........ Karena kau tidak mengijinkanku menyusulmu. Aku benci kau suruh hidup sendiri di dunia ini, merasakan kepedihan, merasakan kekalahan, merasakan tangis yang asin. Aku benci, Mama.
Aku benci melihat fotomu di meja itu, maka baru saja aku banting fotomu. Bingkai itu pecah berkeping-keping, mau apa kau? Merengek karena fotomu itu pecah? Bisa kau marah padaku? Masih bisa?

Aku benci padamu, Ma. Karena kau meninggalkan sejuta cita-cita untuk kuwujudkan. Aku benci sekali padamu, Ma. Kau paksa aku mewujudkannya? Memang aku apamu, Ma? Budakmu? Apa kau sadar aku ini anakmu? Putri semata-wayangmu? Apa kau sadar, Ma? Apa kau masih ingat memiliki seorang anak? Atau kau sudah lupa?

Enak sekali, ya, tinggal di surga, Ma? Sampai kau melupakanku? Bisa-bisanya kau begitu padaku. Peduli apa kau denganku? Kau sudah keenakan di surga, dan tak mau kembali lagi ‘kan untuk menemuiku di bumi?

Aku benci kau jadikan budak kebodohanmu, aku benci kau suruh mengetik sms kepada nomormu yang sudah tidak aktif lagi, berapa kali kau suruh aku melakukannya? Kau sudah tak bisa membelikanku pulsa lagi. Aku benci kau suruh menuliskan diary untuk bercerita tentang hari-hariku kepadamu. Aku benci kau suruh menulis tentang rasa kehilanganku akan dirimu. Aku benci. Bisa kau menamparku karena aku membencimu? Bisa?

Mama... Kau di mana? Apa kau masih Mama yang sama? Temanku bilang, kau mungkin telah berubah wujud menjadi sosok yang tak akan mungkin bisa kukenali lagi. Dan aku benci harus merasa ketakutan di rumahku sendiri, aku pergi dari rumah kita itu, Ma. Aku takut mengingatmu. Aku takut mengingat kau merintih di kamar itu dan menangis kemudian. Aku takut di tempat manapun, aku takut pada sepi, dan kosong. Aku benci padamu, Ma. Atas segala upaya untuk membuatku bisa gila.

Aku benci padamu, Ma. Benci kau tinggalkan pada saudara-saudaramu, aku benci harus berpura-pura. Aku benci padamu, Ma. Benci kau titipkan pada orang yang bahkan tidak mengerti aku.

Aku benci padamu, Ma. Karena kau tidak menampakkan diri juga di hadapanku, atau minta maaf lewat mimpi karena kau telah pergi jauh dariku? Kau tak sempat mengucapkan kata terakhirmu, kau tak memberiku kesempatan untuk melihatmu hidup pada saat kau menghembuskan nafas terakhir.

Kau, tahu, Ma, aku, mengingatmu, sebagai, jenazah. Oh, bacalah dengan terbata-bata. Karena aku tak kuat mengucapkannya. Bacalah, Ma. Apa kau masih punya mata untuk membaca? Kurasa kau akan mendapatkan cadangan dari surga.

Aku benci padamu, Ma. Untuk seluruh sisa hidupku.
Aku benci padamu, dan aku tak kuat untuk mengutarakan lebih banyak alasan, lagi.

Aku benci padamu, Ma. Karena hanya itu yang kutahu saat ini.

Jangan suruh mereka membantuku supaya aku bisa meraih cita-citaku, jangan suruh mereka memberikan uangnya yang berdigit sembilan itu untuk membantuku melanjutkan pendidikanku, jangan. Aku ingin memakimu. Aku ingin mengutukmu, bolehkah malin kundang melakukan itu kepada Ibundanya, supaya dongeng kelak akan memiliki dua versi? Ah, tapi, kau sudah pergi. Percuma saja.

Aku membencimu, Ma. Karena kau membuatku mendapatkan banyak belas kasihan dari banyak pihak, karena kau tak mengijinkanku untuk terus menjadi gadis manja dan merengek di sisimu. Kau sudah tak kuat mengurusiku, ya, Ma?

Apa kau tahu, Ma? Di balik sejuta rasa benciku padamu.. tersimpan lebih banyak lagi rasa cintaku padamu. Kalau kau tak bisa kupaksa datang dengan kebencianku, apa kau akan datang dengan kata-kata cinta yang akan aku ucapkan sekarang?

Kenapa kau tak menampakkan dirimu, Ma? Lelahkah menempuh jarak dari surga kemari? Mari duduk di sebelahku kalau begitu. Mau minum sesuatu, Ma? Mungkin kau haus?
Semua bisa dibicarakan baik-baik, oke, aku terima.

Ma, aku tidak diterima pada fakultas yang kau suruh aku masuki, baru saja diumumkan. Jangan marah. Jangan memakiku, oh, jangan memukulku, jangan.

Jangan, Ma. Jangan.

Masih banyak jalan kata teman-temanku, masih banyak harapan. Beruntung kau sekolahkan aku di usia dini. Masih delapan kali kesempatanku untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru. Jadi, kau masih bisa menunggu kan, Ma?

Omong-omong, Ma. Apa kau sudah lupa denganku? Kenapa tak pernah datang? Aku sudah menyediakan teh untukmu. Oh, bicara apa aku, aku tak ingin gila karena kehilanganmu. Awas saja kalau itu terjadi, sumpah demi Tuhan, aku tak akan memaafkanmu.

Mama, apa aku bodoh? Sedemikian bodoh?

Mama, apa aku terlalu banyak menghabiskan kesempatan yang tersedia, porsi untukmu pun kuhabiskan. Begitu? Itu sebabnya, Ma?

Aku merasa bertambah bodoh setelah kepergianmu, tidak bisa lagi mengerti apapun yang dunia kata. Aku merasa terperangkap dan ingin mati.

Kau demikian percaya bahwa aku bisa melakukan semuanya, iya kan, Ma? Sampai kau tinggalkan aku sendiri di sini? Oh, demi Tuhan, jangan suruh orang lain mengaku-ngaku peduli padaku. Aku ingin KAU YANG PEDULI padaku.

Jangan suruh mereka sok baik padaku, mengatakan dengan penuh belas kasih, “semangat, masih ada jalan lain, hidup memang begitu, takdir memang seperti itu, ini memang nasibmu, terimalah semuanya dengan lapang dada.” JANGAN. Aku ingin kau yang ada di sisiku, biarpun kau akan memakiku, biarpun kau akan menamparku karena sudah keterlaluan selama ini, biarpun kau memukulku, atau memutilasi hatiku dengan pisau kata-katamu. Aku ingin kau yang menemaniku. Kurang jelas?

AKU MENGINGINKANMU, MA.

Ma, kalau aku tak pantas berkata, coba kau tanya pada dirimu sendiri? Apa kau boleh meninggalkan anakmu ini sendiri? Apa kau tak merasa bahwa kau harus mengajakku ikut? Aku ingin bersamamu, biarpun aku ditempatkan di neraka oleh Tuhan, yang jelas, aku ingin melihatmu, terus dan terus.

Ma, aku mohon sekali, datanglah padaku, ucapkan sesuatu. Kenapa kau tak pernah datang?

Aku benci harus merengek seperti balita, aku benci harus menangis lagi. Aku benci menjadi seperti ini. Musuhi aku saja, Ma. Musuhi.

Aku sakit, dan kau tak mau tahu. Cukup datangi aku melalui mimpi, dan sembuhkan aku dengan senyummu. Kau tak bisa menjadi dokter, memang, memang, kau memang tak bisa, maka kau suruh anakmu yang bodoh ini untuk menjadi dokter, iya, kan?

Kau tahu, Ma. Aku patut membencimu. Aku benci dunia kedokteran. Benci sekali. Apa kata dunia jika aku kau suruh menjadi dokter? Aku masih ingat bagaimana kau meninggal dengan tragis, aku tanya, ya, karena apa? Oh, iya, kau sudah lebih tahu, kau kan ada di atas sana, kau melihat segalanya kan, mungkin hanya aku yang tak kau lihat. Apa pedulimu kepada seorang bocah manja yang selalu berpura-pura tegar sepertiku? Apa pedulimu kepada putrimu sendiri?

Biarlah aku mengambil kesimpulanku sendiri.
Supaya aku tak terlalu larut dalam keadaan, supaya aku tak menangis tiap kali terjatuh, supaya aku tak lagi, tak lagi, tak akan lagi... mengingatmu.

Premis pertama, kau menganggapku anak manjamu walau begitu aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Premis kedua, aku memang anak manja.

Boleh kutambahkan? Aku adalah anak manja yang merengek meminta sesuatu kepadamu jika aku tertarik pada hal itu. Aku adalah anak manja yang selalu tidur denganmu tiap malam, dan memarahi Papa jika tidur denganmu. Aku adalah anak manja yang selalu ada di sebelahmu, dan selama ini sangat-sangat membutuhkanmu. Aku adalah anak manja yang selalu curhat tiap pagi, siang, sore, malam, dan sepanjang hidupku selama enam belas tahun, padamu. Aku adalah anak manja yang akan sebal karena kau tinggalkan tanpa alasan. Semoga kau tak lupa.

Konklusi, Aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Lucu, ya? Silogisme-ku selalu berantakan, dan sekarang menjadi lebih berantakan lagi karena aku sangat kalut harus kehilanganmu.

Sudahlah, kau sudah pergi, dan tak akan bisa menjawab lagi semua tanyaku.

Kau sudah pergi dan tak akan bisa lagi membalas benci dan cinta yang aku beri padamu.

Kau sudah pergi dan akan terus pergi, melangkah lebih jauh, hidup di surga untuk beberapa lama, atau merasa derita neraka untuk beberapa saat, kemudian kau akan melakukan inkarnasi lagi, dan kita tidak akan saling mengingat lagi. Kita akan terus ber-reinkarnasi, berkali-kali, dan kita tidak akan saling mengingat lagi, dan kita akan saling melupakan, dan kita....... tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.

Aku mengerti itu, Ma. Aku sering membaca mengenai siklus kehidupan. Lahir, hidup, tumbuh kembang, menjalin persahabatan, saling menghargai, jatuh cinta, hidup berumah-tangga, membentuk keluarga baru, kemudian setelahnya, ketika Tuhan menunjukkan waktu yang semakin sempit untuk kita kembali kepada-Nya, kulit keriput, warna lapisan bola mata yang membiru, rambut beruban, organ-organ mengalami disfungsi, kita bermeditasi memohon surga untuk tempat kita setelah meninggal, lalu ajal menjemput, dan kita meninggal. Setelah kita meninggal, kita akan menjalani hidup di alam lain, kemudian kita ber-reinkarnasi. Kita akan saling melupakan. Seperti aku melupakan kehidupanku di masa lalu.

Jujur saja, aku benci sekali tidak dapat mengingat jelas. Aku benci melihat diriku sendiri yang kadang begitu sok pintar, sok tahu akan kehidupan. Nyatanya, aku sama seperti yang lain, kami tak pernah tahu apa-apa. Aku tak pernah bisa mengingat kelahiran lalu. Aku tidak bisa melihat masa yang akan datang, atau justru kehidupan selanjutnya.

Mama... yang jelas, di balik rasa benci, akan ada rasa cinta.. selamanya, untukmu.

P.S. Maafkan aku karena aku gagal, untuk sementara waktu.

0 komentar:

Posting Komentar