
Dia bersitatap denganmu, memandangmu dengan parasnya yang ayu.
Kau mendekatinya, tertarik oleh geraknya yang lemah lembut.
Kau mengulurkan tangan di hadapannya seraya berkata, “Permainan uding 1 mu indah sekali..”, dan dia tidak menjawab pertanyaanmu.
Dia juga tidak menjabat tanganmu, sama sekali tidak.
“Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang piawai memainkan alat musik itu..” ucapmu lagi, lebih halus.
Dia menggeleng, kemudian menatap dadamu, “Jiwa...”
Kamu memandangnya, terkesima.
Read more (2339 words)
“Jiwamu harus ikut mendengar.” Ucapnya pelan, oh, kau dengar.. suaranya begitu merdu, menyejukkan dan membasahi kering hatimu selama ini.
“Jiwaku?” tanyamu tak mengerti.
Dia hanya mengangguk.
Kau adalah seorang pria, penuh keingintahuan dan hasrat yang tak terpenuhi oleh perjalanan hidupmu, kau mendamba musik-musik yang dia mainkan.
Kau luruh di dalam tiap nada yang Ia perdendangkan, juga tiap syair yang dia lantunkan.
“Kau bisa mendengar?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaanmu sebelumnya, mungkin dianggapnya sekedar pertanyaan retoris. Kau mengangguk.
Dia tersenyum, kemudian meninggalkanmu.
Kau terbawa emosi dengan sosok gadis itu, elok rupawan dan lemah lembut, juga penuh misteri.
---
Tiap minggu kau selalu datang ke acara pertunjukkannya. Tak pernah terlewatkan olehmu petikan demi petikan udingnya yang menyayat. Merdu vokalnya yang mengiris hatimu takkan kau biarkan menjadi milik orang lain.
Kau menjadi pengagumnya di tengah kebisuanmu, kau bertepuk tangan riuh di tiap acara tari pergaulan rakyat Kutai, tari khas daerahmu, dengan senyum misteriusnya membayang di matamu. Tidak ada yang tahu, benih-benih cinta telah tumbuh di hatimu, dan air mukanya membuat benih-benih itu kian subur, sungguh jelitanya dia bagimu.
---
Kau mengenalnya, keluarganya, juga keterasingannya di lingkunganmu.
Dia bukan sosok gadis yang bersahabat dan riang, namun begitulah seorang bidadari bagimu, selalu misterius, layaknya gerak lakon penari Kancet Lasan 2 , dengan ritme tarian yang sederhana dan menggugah hati, menggambarkan agungnya sang burung enggang 3 ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon, mendarat dan terbang sesuka hati, layaknya dia bagimu, tersenyum dan mengerutkan dahi, sungguh elok.
Kau terus melamunkannya.
Dia hanya seorang pemain uding, sekedar gadis yang memetik dawai untuk menghiasi musik tingkilan 4 yang digelar pada acara tari pergaulan rakyat Kutai.
Keluarganya adalah orang terpandang walau tak kaya, karena berkepala-keluargakan seorang kepala adat. Mereka tinggal di bawah naungan lamin 5 layaknya masyarakat lainnya. Di sekitar lamin mereka, terdapat taman indah, bukan hanya dipenuhi bunga beragam warna, namun juga beberapa tumbuhan obat yang sangat sering keluarganya sumbangkan kepada orang yang membutuhkan, sungguh dermawan.
Di belakang rumahnya, aliran sungai mengalir deras, percikan air di bebatuannya terkadang memecah keheningan malam, diiringi dengung syahdu kadire 6 yang ditiup sang Ayah di kala rembulan membayang di permukaan sungai, dan kau akan termenung di kamarmu, ditemani temaram lilin.
Mereka begitu sederhana.
Dan kau begitu mengaguminya.
---
“Dia hanya seorang pemain uding!” ucap Ayahmu keras.
“Jangan jadikan aku layaknya Siti Nurbaya, Ayahanda. Aku laki-laki!” Jawabmu tak kalah keras.
Kau tidak menginginkan perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuamu untukmu.
“Intan, dia gadis kota, anak pejabat, cucu konglomerat, berasal dari keluarga baik-baik... Dia..”
“Tapi aku tidak akan kawin dengan keluarganya.” Potongmu keras.
“Aku akan kawin dengan orang yang kucintai.” Ucapmu lembut, jauh di dalam hati sanubari, kau berbisik pada dirimu, kau mencintainya, sangat mencintainya.
“Lihat Ayah si pemain uding itu, kepala adat yang miskin, tua renta, peyot. Kau suruh aku berbesan dengan tua bangka itu?” hardik Ayahmu keras, kau tak habis pikir, kemana perginya logika Ayahmu yang dibesarkan oleh belaian Ibu pertiwi? Bahkan Kepala Adat Daerahnya pun dihinanya senista itu.
“Kau orang hebat, Putraku. Lulusan Universitas ternama, menyandang predikat cumlaude , jangan kau hancurkan harapan besar Ibundamu ini kepadamu..” kali ini kau meradang, Ibumu mengambil alih, seseorang dimana surga terletak di telapak kakinya, tidak akan mungkin kau berani membantahnya.
“Ibunda.. Ini cinta, tulus dan sederhana, seperti yang kumiliki sepanjang usiaku, untukmu.” Bisikmu pelan, kau sama sekali tak berani menyakiti hatinya.
“Makan cintamu, kau akan kelaparan, anak durhaka!” bentak Ayahmu padamu.
Kau menundukkan kepalamu, kemudian Ibumu memegang pundakmu, wanita yang dulu melahirkan dan membesarkanmu dengan sepenuh hatinya kini bahkan hanya bisa meraih pundakmu, kau sudah tumbuh besar di ibukota, bertahun-tahun, badanmu berubah menjadi begitu kokoh laksana Gajah Mada 7 sang mahapatih.
“Nak, pertimbangkan lagi. Dia memiliki kepercayaan yang berbeda denganmu. Kau seorang muslim, dan dia hindu...” ucap Ibumu pelan, kau tersentak, Ibumu yang dahulu mengajarkanmu supaya memandang tiap ciptaan Tuhan atas baik buruk budhinya, kini mengajarimu untuk membedakanmu dan orang yang kau cintai berdasarkan SARA 8 .
“Kami sama-sama mempercayai Tuhan.” Hanya itu jawabanmu. Kau tahu, kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, gadis pujaan hatimu adalah gadis yang agung, menyembah Tuhan dengan segenap bakthinya.
“Kau telan mentah-mentah suara udingnya yang lapuk itu, sekarang mabuklah kau dibuatnya! Gadis miskin pemain uding tak tahu adat!” hardik Ayahmu lagi.
“Ayahanda, apalah artinya kekayaan jika kekayaan itu tak akan pernah membuat kita hidup dalam kebahagiaan?” ucapmu lembut, kau tak ingin terbawa arus emosi Ayahmu yang membara itu, kau ingin membuktikan, bahwa perihal cinta, tutur bahasa bisa membuat setiap orang terbang ke angkasa.
“Oh, sekarang kau berbicara mengenai kekayaan dengan Ayahmu ini! Kau lupa bagaimana Ayahmu bekerja keras mencari uang untuk membiayai kuliahmu?” teriak Ayahmu.
“Ayahanda, aku hargai jasamu. Tapi tidak begini caranya. Kita pernah punya masalah keuangan, jangan lagi Ayahanda ungkit-ungkit hal itu ke permukaan. Semuanya sudah berlalu.” Jawabmu pelan.
Ayahmu tersentak, kemudian beliau terdiam. Sementara Ibumu menangis tersedu-sedu di sebelahmu. “Tidak ada satu halpun yang berubah, Putraku. Tidak ada yang berlalu.” Ucap Ibumu sesenggakkan.
Kalian semua terdiam, hening dalam ulasan kemilau mentari yang masuk melalui celah-celah jendela lamin, jingga keperakkan, melebur dalam helaan nafasmu serta keringat yang membasuhi pelipis beserta lehermu.
“Kami berhutang.” Ucap Ibumu pelan.
“Jangan kau katakan itu kepada Anakmu yang tak tahu malu itu! Seorang anak durhaka tak akan mungkin melunasi hutang-hutang Ayahnya!” bentak Ayahmu di belakang Ibumu.
Kau terdiam. “Kami berhutang kepada keluarga besar Intan.” Ucap Ibumu kemudian.
“Sudahlah.. Cumlaude kedokteran durhaka ini tidak akan mau menghiraukan masalah keluarganya. Biarlah kita dihabisi oleh binatang peliharaan Pak Katar.” Ucap Ayahmu keras, kali ini Ayahmu berhasil melarutkan kesedihanmu di dalam tangis dan darah yang dicucurkan mereka untuk membiayai kuliahmu.
Kau terpaku. Dunia berbalik. Abad berganti abad, milenium berganti milenium. Dulu di kala abad menginjak angka 19, gadis bernama Siti Nurbaya 9 lah yang mesti menebus hutang orang tuanya kepada Datuk Maringgih 10 . Atau mungkin layaknya cerita daerah yang dituturkan dari mulut ke mulut para tetua di desamu, kisah yang berasal dari milenium sebelumnya, kisahmu layaknya kisah seorang gadis bernama Utan Along 11 yang dikawinkan secara paksa oleh orang tuanya dengan orang yang tak dia cintai. Kini, dunia akan menorehkan sejarahmu, mengukirnya sebagai kisah seorang pria suku Dayak yang dipaksa kawin dengan seorang gadis hanya karena hutang piutang kedua orang tuanya.
“Tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya.” Hanya itu yang diucapkan Ibundanya kemudian.
Kau renungkan kata-kata itu, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya, kau merenung, “Aku akan lunasi hutang itu, Ayahanda.” Ucapmu pelan.
---
Kau berada di sebuah resepsi perkawinan, perkawinanmu dengan Intan. Kau menangis dalam hati. Pria tak boleh menangis , ketika kalimat itu terucap dari mulut Ibumu, kau menjawab, aku tak akan menangis lagi Ibunda , dan kau menepati janji itu.
Kau tersenyum kepada semua hadirin, layaknya senyum khas yang dimiliki Alm. H. M. Soeharto 12 .
Acara resepsi perkawinanmu dihadiri oleh orang-orang besar, para pejabat negara, termasuk juga teman-teman dari keluarga mertuamu. Hanya sedikit orang dari desamu yang bisa menginjakkan kaki di Assembly Hall JCC 13 . Dari sedikit orang itu, wanita pujaanmu termasuk salah satunya, beserta Ayahandanya, seorang kepala adat di Kutai-Dayak.
Ribuan orang hilir mudik di hadapanmu, kau tetap menyebarkan senyummu, pipimu membentuk lesung pipitnya, bahkan pagi tadi, istrimu Intan sempat menggumamkan kata “manis” padamu.
Kau nampak berbeda di bawah balutan jas hitam mahal itu, tapi tetap saja hatimu meronta. Kau heran kepada tingkah polah kekanakkan Intan yang hingga kini masih memendam rasa cinta masa kecilnya kepadamu. Mengapa seorang gadis nan jelita berasal dari keluarga terhormat juga peraih gelar master di usia muda seperti Intan memilih dirimu yang kolot akan cinta.
---
Kau ingat sosokmu ketika kecil, bocah nakal dan iseng. Kau mengenal seorang gadis bernama Intan, teman masa kecil dari gadis pujaanmu. Intan, istrimu kini, kau teringat senyum gadis cilik itu padamu ketika kau kalungkan untaian bunga yang kau untai ketika itu, kau yang tak tahu adat berkata padanya, “Kawinlah denganku..” layaknya mamanda 14 perkawinan yang kau saksikan di panggung-panggung pementasan, dan Intan dengan senyumnya menjawab pernyataanmu, “Pasti.”
---
“Apa yang kau risaukan, suamiku?” tanyanya padamu, senyumnya merekah, Intan dewasa sama sekali tak nampak kekanak-kanakkan seperti tujuh tahun lalu, namun Intan dewasa adalah Intan yang menyimpan cinta masa kecilnya, impian-impian naif yang kau jejalkan padanya.
Kau menggeleng, kau menatap lurus, seorang wanita menyanyi, nyaring, merdu, kau terus menatapnya.. dia... dia... selalu menyanyi dengan segenap hatinya, mimik mukanya masam, lalu dia menangis. Sendu, perih, menyayat hatimu dan seluruh hadirin. Petikan udingnya tak kalah menyobek-nyobek perasaanmu. Perasaan hancur.
Kemudian dia melantunkan sebuah tembang, bukan tembang yang biasa dilagukannya, bukan bahasa yang kau bisa terjemahkan artinya, bukan lagu daerahmu.
Tatan hana wastu ngke ring loka,
wenanga panghibeka ning trsna,
apan ikang wwang agong trsnanya,
tan hana pahinya lawan tasik,
kapwa pisaningun kena ring hibek... 15
“Tidak ada benda di dunia ini yang akan dapat memenuhi cinta kasih, sebab orang yang cinta kasihnya sangat hebat, tidak ada bedanya dengan samudera, yang tidak sekalipun bisa penuh” diterjemahkannya tembang yang dilantunkannya tadi.
Hadirin terpesona, kemudian bertepuk tangan sejadi-jadinya. Merdu, sangat merdu. Air mukamu berseri, istrimu mendengus kesal.
“Masih seperti dulu, ya.. Kekagumanmu padanya..” Ucap Intan di sebelahmu, kaupun menoleh. Kecemburuan membakarnya.
Kau hanya tersenyum. Iya, cintamu padanya masih seperti dulu, ketika dalam hujan, kau bertemu pandang dengan seorang gadis kecil berkulit coklat dan bermata teduh, dia memayungimu, kemudian dia mengantarmu pulang ke rumahmu, sejak saat itu, kau mencintainya. Cintamu tumbuh di bawah hujan itu, melewati danau kenangan.
Beberapa saat kemudian, di dalam keheninganmu, iring-iringan musik bersiap. Prahi, gimar, tuukng tuat, dan pampong 16 dipajang apik di hadapan pria-pria besar teman masa kecilmu. Glunikng 17 dipegang oleh salah seorang lainnya, klentangan 18 juga sampe 19 tak ketinggalan.
Tanpa kau sadari, serunai 20 mulai ditiup. Lalu dibarengi oleh kesemua alat musik yang disiapkan tadi, lagi-lagi diakhiri oleh petikan uding gadis pujaanmu, tembang terakhir.
Kadyangganing watang kahala makambangan ring tasik,
Dadi ya kacunduka lawan kapwanya watang,
Niyatanya apasah muwah,
Dadi taya apanggih muwah,
Mangkana ta papanggih nikang sarwabhawa,
Lawan kapwanya,
Anitya ika,
Niyata makantang mapasah,
Dadi ta ya apanggih muwah... 21
“Sebagai misalnya batang kayu yang hanyut, terapung-apung di laut, dapat bersentuhan bertemu dengan batang kayu lainnya, yang tentunya berpisah lagi, namun dapat terjadi, bertemu lagi; demikianlah pertemuan semua makhluk itu dengan sesamanya, itu tidak kekal, akhirnya pasti akan berpisah, kendatipun dapat terjadi bertemu lagi..”
Kata penutup, mengungkapkan kekecewaan, tangis membasahi wajah gadis pujaanmu.
Kau menatapnya, dia menatapmu, tidak ada harapan memancar di matanya. Kau tak pernah memberi janji padanya. Tapi kau tahu, dia tahu, kalian saling mencintai.
Kau menangis, satu janji terpenuhi, janji lainnya tersilapkan.
---
Setelah hari itu, dia pergi selamanya dari kehidupanmu. Dia menggantung dirinya. Dan kini, kau mengenangnya lagi, dalam tangis, tanpa harap. Lirih kau ucapkan, “Benar Ibunda, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya... Hingga kini aku sudah tua renta.”
---------------













0 komentar:
Posting Komentar