Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 20 April 2011

With No Reason, I Love U

0 komentar


"Hal yang paling kejam di dunia ini adalah ketika suatu hari nanti kau memandang ke dalam mata seseorang dan membuatnya jatuh cinta kepadamu, namun tak seujung kuku pun kau berniat membalas dan menangkapnya ketika dia terjatuh...."


*****


Kupejamkan mataku. Lapat-lapat. Merasakan alunan nada itu merambat pelan ke telingaku. Lagu yang sama. Lagu yang kuputar setiap malam sebelum tidur setelah aku mengenalmu. Apa kau tahu aku punya kebiasaan mendengarkan lagu ini setiap malam sambil mengumpulkan kepingan yang kau susun dalam ingatanku setiap harinya?

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Ah, aku ingat malam-malam di mana kau bertegur sapa denganku. Di bawah kelamnya langit malam yang cuma dihiasi satu dua bintang, kulihat kau duduk di sebuah meja bundar di depan sana. Menantiku. Tersenyum. Penuh cinta.

When the blazing sun is gone,
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Sudah berapa lama kau tak tersenyum seperti itu lagi padaku? Apa kau ingat? Apa masih kau ingat saat pertama kali kau mencoba menyapaku dan ikut masuk ke dalam jalanku? Mengapa kau harus berjuang ikut masuk dalam jalanku tetapi pada akhirnya membiarkanku tersesat sendirian? Tak bisa lagikah kau tuntun aku, ke arah mana aku harus pulang?

In the dark blue sky so deep
Through my curtains often peep
For you never close your eyes
Til the morning sun does rise
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are

Kau muncul seperti hantu disetiapku menarik nafas. Padahal sudah kututup mataku rapat-rapat. Tapi wajahmu masih jelas kulihat. Padahal sudah kusumpal telingaku. Namun suaramu terus bergema. Aku bisa gila. Aku nyaris gila!

Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are....

Benarkah kepergianku dari hidupmu adalah hal yang sangat kau inginkan?

'***

Aku tak percaya lagi pada apa yang disebut cinta.

Sejak mantan kekasihku memutuskan begitu saja hubungan kami karena merasa aku tak pantas untuknya. Membiarkanku terkapar di ranjang hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai aku hampir gila. Nyaris sinting.

Sia-sia jalinan kasih yang kurajut bersama dia selama hampir tiga tahun lamanya. Sia-sia semua yang kulakukan untuknya. Dia menendangku begitu saja. Sibuk kembali mencari rusuknya yang hilang, sementara aku tertinggal di sudut sana. Mengais sisa-sisa harapan yang masih tersisa dan mencoba bangkit sendirian.

Kututup diriku. Rapat-rapat. Bersama cinta pertamaku yang telah hilang, kubuang kunci hatiku ke dasar samudra. Sambil terus berharap, akan muncul seorang laki-laki yang kelak akan menemukan kunci itu dan membuka pintu hatiku – lagi. Suatu saat nanti.

Dan saat itulah aku bertemu denganmu. Tiga tahun kemudian. Pada suatu pertemuan tak terduga ketika aku usai mengikuti sebuah kelas aerobik di salah satu pusat fitness yang telah kugeluti selama sekian bulan sepulang kantor.

Kau mungkin bukan laki-laki istimewa. Kau tak terlalu tampan. Kau bukan laki-laki bergelimang harta. Tak ada getaran khusus yang singgah di hatiku ketika kau muncul di awal hari-hariku saat itu. Takhta di hatiku masih sama kosongnya seperti tiga tahun selama aku menjalani hidupku sendirian. Namun berbeda dengan laki-laki sebelumnya yang hanya berani berdiri dan mengetuk di muka pintu hatiku, kau memilih mendobrak masuk. Menjebol pertahanan yang selama ini mati-matian membentengiku.

Dengan segala upaya kau buat aku luluh. Biar pun di antara kita terbentang begitu banyak halangan. Kau meyakinkanku. Bahwa sekali pun kau bukan lelaki alim, kau juga bukan laki-laki bangsat yang berniat menyakitiku. Kata-katamu merasukiku. Semua perbuatanmu memikatku. Hingga akhirnya kau kubiarkan masuk menempati singgasana hatiku tanpa perlu menemukan kunci yang dulu pernah kubuang.

"Pemberkatan pernikahan bisa dilakukan dua kali di tempat yang berbeda, Ma...," kataku. Dengan air mata nyaris tumpah. Ketika Mama memintaku jangan menjalin hubungan denganmu karena keyakinan di antara kita yang berbeda jauh.

"Percaya sama Mama, Von. Semua yang Mama lakuin, cuma demi kebaikan kamu...." Mama menatapku dengan kesenduan yang mencabik hatiku. "Mama nggak mau nanti kamu nyesel, Von."

Tapi saat itu, cinta sudah membutakan mata hatiku. Bersama bisikanmu di telingaku dan genggaman tanganmu yang hangat kala itu, telah kuserahkan seluruh sudut dalam relungku untuk menjadi milikmu. Seluruhnya.

"Von...... Gue sayang banget sama lu.... Lu harus tau itu ya?" Bisikkanmu membuatku meremang. "Lu harus setia ya, karena gue juga cowok yang setia. Gue nggak akan nyakitin lu seperti yang dulu pernah mantan lu lakuin...."

Mendengarmu berkata demikian, air mataku jatuh dengan sendirinya. Rasa haru yang sekian lama raib, tiba-tiba saja meruamkan hatiku. Kubalas memelukmu. Kemudian menangis tanpa suara. Membiarkan tanganmu bergerak naik dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

"Gue akan buktiin kalau beda keyakinan, bukan alasan buat kita nggak bisa bersama.... Kalau Papa dan Mama lu nggak percaya, gue buktiin ke mereka. Kalau gue mau mempertahankan lu. Gue sayang banget sama lu, Von...."

Kuketatkan rangkulanku dan balas berbisik,

"Gue akan bantu lu buat ngomong sama Papa dan Mama. Gue akan yakinin mereka.... Kalau perbedaan keyakinan itu cuma masalah pribadi masing-masing orang.... Makasih ya, Sen.... Buat semua – yang udah lu lakuin buat gue...."

Jadilah aku berjuang. Bersama denganmu meniti kerikil dan batu tajam setiap kita melangkah. Tapi ada rasa senang yang tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata setiap kali aku melihat wajahmu. Ada rasa tenang dan nyaman yang kudapatkan ketika kau tersenyum hangat padaku.

Aku tak bisa. Tak bisa hidup tanpa melihatmu. Tak biasa hidup tanpamu. Sebab hampir setiap hari di sepanjang minggu, kau selalu ada untuk menemuiku. Hanya untuk melihat wajahku, katamu. Menantiku selesai mengikuti kelas aerobik, menjemputku ketika aku harus lembur, mengantarkanku pergi ke dokter, menemaniku makan malam jika aku sedang ngotot untuk diet, mencekokiku dengan bergelas-gelas es krim agar aku tak terlalu kurus, merecokiku dengan telepon, SMS, dan chatting-mu sepanjang hari. Menanyakan apakah aku sudah sarapan, apakah makanku banyak, apakah tidurku nyenyak, apakah makan siangku lezat, dan sebagai-bagainya. Membuatku merasa sesak karena dilimpahkan perasaan bahagia. Aku sangat – bahagia.

Kau selalu ada. Di setiap aku mengharapkanmu ada. Sampai akhirnya kedua orang tuaku dengan tangan terbuka menerimamu dalam keluargaku.

"Gue bukan cowok kaya, Von. Bukan juga cowok romantis. Gue cuma cowok sederhana yang bisa beliin ini buat lu." Kau mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan membukanya di hadapanku. "Cincin ini kecil. Juga bukan barang yang mahal. Mudah-mudahan lu bisa suka ya.... Nanti kalau gue punya duit lebih banyak, gue beliin lu lagi ya, yang lebih bagus...."

Sudah berapa kali aku menangis terharu akibat ulahmu – sungguh aku tak tahu. Tapi yang ada di hatiku saat ini, cuma ada ketulusan untuk mencintaimu dengan sederhana. Bukan materi yang kukejar. Bukan penampilan fisik yang kupuja. Aku mencintaimu. Dengan cinta yang tak memiliki alasan apa pun.

Tapi apa kau tahu? Kapal yang kukira akan berlabuh di dermaga indah, nyatanya kandas dihantam karang raksasa. Hanya dalam kurun waktu empat bulan kita menjalin hubungan, kau menghempaskanku.

"Jujur, gue nggak ngerasa punya perasaan apa pun lagi sama lu, Von.... Kalau kayak gini terus, gimana hubungan kita bisa awet?"

"Sejak – kapan?" tanyaku. Menahan gemetar yang menderaku hingga menggigil hebat.

"Gue nggak tau sejak kapan. Tapi belakangan ini jadi makin parah. Seakan-akan gue maksain diri buat jalanin ini semua sama lu."

"Jadi – lu mau mutusin gue...?"

"Hubungan kayak gini nggak bisa diterusin lagi. Kita baru empat bulan dan gue udah nggak ngerasa ada perasaan apa-apa lagi sama lu...."

"Tapi, gue – salah apa, Sen?" Kutahan rasa perih yang mencabikku tanpa ampun.

"Lu nggak ada salah, Von. Gue yang salah.... Perasaan gue yang salah. Gue sampe bertanya sama Tuhan, kalo akhirnya bisa kayak gini, kenapa awalnya gue bisa suka sama lu....?"

"Nggak perlu bertanya lagi," jawabku. Semakin pedih. "Karena lo nggak pernah bener-bener suka gue, Sen...."

Jangan kau tanya padaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Karena aku sendiri tak tahu. Karena aku sendiri tak mengerti. Aku tak pernah tahu apa alasannya. Hingga detik ini. Mengapa begitu mudah kau ubah perasaanmu padaku semudah kau membalikkan telapak tanganmu? Hilang kemana rasa cintamu yang meluap-luap beberapa waktu yang lalu itu padaku?

Tapi seringkali kenyataan memang sepahit itu, bukan?

Ternyata, tak butuh alasan yang jelas ketika kau menyukai seseorang dan berniat mempertahankannya dengan segenap upayamu. Pun tak perlu alasan yang jelas saat kau memilih menendangnya dari hidupmu, ketika kau tak lagi menginginkannya untuk ada di sampingmu.

Pada kenyataanya, cinta memang seperti itu. Bukan melulu indah seperti kisah dalam dongeng. Dan aku harus berkali-kali menampar pipiku sendiri agar aku bisa menyadarinya.

Oleh sebab itulah kutahan diriku dan tak bersujud memohon padamu untuk kembali padaku. Ini bukan sinetron. Bukan scene dari film layar lebar. Ini adalah kenyataan. Yang tak bisa kuhindari atau pura-pura kuanggap sedang tak terjadi.

"Tapi, Von. Lu nggak benci gue kan? Keluarga lu nggak benci gue kan? Kita masih bisa temenan kayak biasa kan?"

Air mataku runtuh. Mengapa kau masih bisa bertanya demikian padaku? Tak tahukah kau kalau pecutmu telah melecutku sampai berdarah?

Masih dengan menahan gemetar di sekujur tubuhku, aku menyahut,

"Papa nggak benci sama lu. Mama nggak benci sama lu. Ade gue juga nggak benci sama lu. Gue lebih lagi. Gue sayang dan percaya banget sama lu. Karena itu gue nggak akan benci sama lu...."

"Apa gue salah ya, Von...?"

"Gue nggak tau, Sen.... Cuma lu yang tau jawabannya...." Kuremas tanganku hingga kulitku nyaris terkelupas. Sakit sekali rasanya. Sakit hingga aku tak tahu bagaimana cara meredakannya. Adakah obat mujarab yang bisa menghilangkan sakit ini?

"Atau mungkin gue gila ya? Karena kadang-kadang gue bahkan ngerasa takut, tapi nggak tau apa yang harus gue takutin. Gue khawatir, tapi nggak ngerti apa yang gue khawatir-in. Gue – benci diri gue sendiri, Von...."

Aku menggigil. Makin menggila.

"Kan lu yang mutusin semuanya harus begini, Sen. Gue bisa apa...? Semua yang bisa gue lakuin buat lu, udah gue lakuin. Semua yang bisa gue perbuat, udah gue perbuat. Lu mau suruh gue yakinin orang tua gue, udah gue yakinin. Mau gue bantu nemenin lu setiap lu butuh gue, gue selalu usahain ada buat lu. Mau kita berjuang sama-sama dari nol, gue juga tetep pegang tangan lu.... Gue harus gimana lagi kalau ternyata semua yang gue lakuin ternyata nggak pernah ada artinya di mata lu...?"

Dadaku nyeri. Mengapa begini sakit rasanya ditinggalkan oleh laki-laki yang jelas-jelas kau tahu bahwa dia tak lagi mencintaimu?

"Gue – jahat ya, Von?"

"Lu baik kok...." Kugigit bibir bawahku hingga berdarah. Benar-benar berdarah. "Selalu baik di mata gue.... Mungkin – gue yang nggak pernah pantes buat dampingin lu...."

"Von...." Kau menyebut namaku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. "Apa kita bisa bertemu lagi...?"

Jeda beberapa jenak sebelum kuputuskan untuk memberimu jawaban.

"Bisa.... Kita – teman kan?"

"Iya," katamu. Tapi aku tak bisa lagi melihat parasmu. Aku bahkan tak tahu, apa sekarang kau sedang menangis atau malah tersenyum lega.

Apa aku bodoh? Hhhhh – mungkin aku memang bodoh. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Kalau berpisah adalah keputusan untuk membuatmu menjadi lebih bahagia, kurasa mungkin memang lebih baik begini. Cukup aku yang terluka. Cukup aku yang tersiksa.

Asalkan bisa bahagia, kau tak perlu tahu, seterpuruk apa aku setelah kehilanganmu....

Perlahan tapi pasti, kusumpal telingaku dan mendengarkan lagu yang setiap malam selalu kudengarkan untuk mengenang kebersamaan denganmu. Di sampingku, telah kutelan enam butir obat pereda sakit kepala yang kuharap dapat membuatku lebih tenang.

Aku tak mencoba untuk bunuh diri. Tidak. Aku hanya ingin merasakan kedamaian itu sebentar saja. Seperti sebelum kau meninggalkanku bergelung dalam kesendirian – lagi.

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Kusentuh sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin yang kau berikan padaku. Kudekap erat di bawah bantal sambil membiarkan air mata yang kutahan tumpah tak terkendali.

When the blazing sun is gone,
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

Kuharap aku bermimpi. Kuharap saat aku bangun nanti, aku masih bisa melihatmu. Menyambutku dan merangkulku dengan hangat seperti yang biasa kau lakukan.

In the dark blue sky so deep
Through my curtains often peep
For you never close your eyes
Til the morning sun does rise
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are

Sambil melipat kedua tanganku, aku berdoa. Berharap dengan sangat, semua ini segera berakhir.

Twinkle, twinkle, little star...

Berdoa supaya tubuhku menjelma menjadi sebuah bintang kecil yang bersinar di atas kepalamu setiap malam. Cukup hanya dengan melihatmu dari jauh dan mendoakanmu bahagia – sekali pun bukan aku yang kau pilih menjadi pendampingmu.

How I wonder what you are....

Bolehkah sekali lagi – aku mengharapkanmu – tetap ada di sampingku?

Twinkle, twinkle, little star...
How I wonder what you are....

Sampai kapan pun. Di mana pun kau berada. Kenang dan ingatlah – ada aku yang akan selalu mencintaimu – tanpa alasan....

Jumat, 18 Maret 2011

Kau bukakan Aku Gerbang Kehidupan

0 komentar

Sewaktu aku kecil, aku sering iba melihat tetua yang ditelantarkan oleh sekitarnya. Aku sering mendengar mengenai seorang janda yang tak berketurunan dan sudah tua renta, membina rumah tangga kembali pun hanya sebatas angan-angan, juga tentang perawan tua yang memutuskan menghidupi dirinya sendiri layaknya sebatang kara, terombang-ambing pada arus sungai kehidupan, berpacu dengan perih dan luka juga cercaan.


Kini pun, setelah aku dewasa merujuk kepada usiaku yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk-ku, aku tetap mencemaskan hal yang sama, tentang seorang nenek yang ditelantarkan oleh anak-anaknya, dan dijebloskan ke sebuah panti jompo. Atau tentang seorang renta yang mengalami stroke dan terkapar pada ranjang sebuah sal murah di Rumah Sakit.

Betapa hidup adalah sebuah siklus. Lahir, belajar, bekerja, membina rumah tangga, bermeditasi setelah mendapati kulit semakin keriput, rambut beruban, dan semua fungsi tubuh menua, ketika tanda-tanda kematian sudah semakin dekat, dan akhirnya menyambut ajal, mungkin dengan seulas senyum.

Walau kepercayaanku membuatku mengerti siklus hidup dan mati, namun aku takut harus mendapati orang yang kukenal meninggalkanku untuk selamanya, bahkan mungkin menghembuskan nafas terakhirnya di hadapanku.

Sebuah perpisahan yang menyakitkan bagiku. Karena walau mungkin secara rohani aku menyadari akan ada kehidupan setelah kematian, tetapi begitu menyakitkan untuk juga menyadari bahwa aku akan dipisahkan lama dengan seseorang yang kusayangi sampai akhirnya aku menyambut ajal juga suatu saat nanti.

“Geser agak dalam, angkat sedikit.” Brak. Freezer itu tertutup. Suhu tujuh derajat celcius.

“Permisi Dok, keterangan kematian pasien sudah selesai.” Ucap pria di sebelahku.

“Tolong diserahkan kopiannya kepada saya besok.” Jawabku singkat. Pria itu kemudian pergi.

Aku masih terpaku di depan freezer itu. Di bagian bawah, terdapat beberapa sesajen juga canang, beberapa dupa masih mencipta asap berwarna abu. Sebuah penghormatan terakhir, dan sayang hanya sebuah halusinasi, karena di sana tidak ada apa-apa selain ubin yang berair.

Jantungku seolah diremas. Di luar ruang mayat, aku mendapati beberapa orang duduk di ruang tunggu dan menangis, seorang bocah pria bersender di bahu seorang wanita muda, seorang pria berkumis dan nampak berwibawa mencakupkan kedua belah tangannya pada wajahnya. Aku mendekati mereka, dan ternyata tak ada siapapun di sana.

---

Tak banyak yang menangis untukmu. Hanya aku. Keluargamu entah di mana. Tapi aku berusaha untuk menemukan mereka untukmu. Aku ingin menceritakan kesahmu kepada putra-putramu.

Ingatkah kau sewaktu kita bercerita di taman, tidak dengan kata, tetapi dengan sinar mata. Sewaktu kau tertawa lebar, tidak dengan bibir tetapi dengan air mata bahagia yang mengalir deras di pipimu. Sewaktu aku menari dan melucu untukmu, tidak dengan gerak tetapi dengan sentuhanku pada kulit keriputmu.

Aku mengenalmu, lebih dari tujuanku sebelumnya. Aku makin menyayangimu, entah sosok apa yang telah memenuhi mataku, kau di mataku bagaikan seorang Ibu yang tak pernah kujumpai walau tentu aku memilikinya.

Ingatkah kau sewaktu aku memarahi suster-suster itu, ketika mereka dengan separuh hati menusukkan jarum infus itu ke tanganmu yang memar. Ingatkah kau sewaktu aku dengan tanganku memandikanmu dengan penuh sayang.
Dan kini, apa kau akan ingat, aku menggantikan putra-putramu menciumi tumitmu, melafalkan mantram untuk keabadian jiwamu.

Kau tahu, kau nampak cantik dengan hanya seulas senyum. Warna putih sangat cocok bagimu, karena kau begitu suci. Kau tahu, aku takut tanah itu menguburmu, aku takut kulit dan dagingmu digerogoti belatung.

Bunga merah itu terasa dingin di genggamanku, dan untuk menaburinya di atas tanah yang mengubur jasadmu membuatnya beku.

---

“Ka.......!!” teriak Arya di belakangku, aku menoleh dan dia menarikku ke dalam pelukannya, menghempaskan tubuh kami ke pinggir jalan. Setelahnya, kulihat sebuah truk kuning besar melaju kencang di hadapan kami.

Mataku melotot, kemudian air mata keluar dari rongganya. Aku memerhatikan Arya, dia meringis kesakitan, tangannya lecet. Kemudian aku menoleh kepada sunyi yang tak kunjung meninggalkan tempat pemakaman.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya padaku, aku mengangguk.

“Benar?” tanyanya lagi, aku meyakinkannya dengan anggukan lagi.

“Pulang denganku, ya?” tanyanya, aku memandang mobilku yang berada di seberang kami. Kemudian aku menggeleng.

“Atau kusopiri?” tanyanya, “biar kutinggal mobilku di sini.”

Aku menatapnya lekat, dia masih Arya yang dulu, Arya yang kukenal ketika OSPEK, dan semenjak itu terus menemaniku. Arya yang memilih meninggalkan beasiswa strata dua-nya untuk ikut mengasah bakat kerjanya di rumah sakit tempatku bekerja.

“Aku tidak bisa memberikan harapan lebih padamu,” Jawabku, “aku sulit untuk mencintai seseorang.”

Dia tersenyum, kemudian membantuku bangun. “Aku juga sulit. Karena itu, aku tak mau berpaling lagi pada yang lain.”

---

Aku menolak niat baiknya untuk mengantarku. Oh, Tuhan. Ada orang yang mencintaiku, dan aku tak bisa mencintainya. Dia Arya.. Seorang pria dengan tubuh jangkung dan sorot mata yang memabukkan, dari sanalah tiap wanita mengenalnya. Dia tampan. Betapa.

Sorot mataku bergeser ke sebelah kanan, ketika kudapati sebuah mobil merah melaju cepat dan menghantam mobilku. Bunyi klakson memekakan telinga, betapa aku akan mengingat semua detilnya, kepalaku terbentur, sesaat, kulihat darahku menciprati sekitar.

Aku akhirnya mengerti rasa itu, rasa yang hadir di kala jiwa terlepas dari raganya. Aku ternyata tak berbentuk, aku ternyata tak berwujud. Tapi aku bisa mendengar, aku bisa melihat, padahal jiwaku tak bermata dan tak bertelinga.

Kerumunan orang menyaksikan peristiwa itu. Ketika kulihat sesosok cahaya keluar dari dalam mobil merah yang menabrakku, perlahan jiwaku mulai berwujud, bercahaya.

Jiwaku membentuk dirinya seperti bentuk jasadku ketika hidup. Aku telah mati, dan seperti cerita orang tentang kematian, seharusnya aku tak menyadarinya, menyadari ajal menjemputku. Ah, tapi, hal itu begitu aneh untuk tidak disadari.

Empat orang yang mirip denganku mengerubungiku, berpakaian putih-putih layaknya seorang rohaniawan. Mereka berparas ayu, dan alang-alang dengan bunga berwarna merah terikat di kepalanya. Masing-masing dari mereka memegang bahuku dan tanganku. Mungkinkah mereka adalah saudara empat-ku, aku takut untuk berkata-kata, begitu cepat.

Sedang di seberang, pria itu sedang dituntun oleh seorang pria berpakaian hitam dengan wajah mengerikan, jemari dengan kuku-kuku yang begitu tajam itu menggenggam erat kapak dengan tongkat begitu panjang, di lehernya, terdapat usus manusia yang dililitkan layaknya kalung.

---

“Ibu..” ucapku terisak. Aku telah mati, dan aku tak pernah bertemu Ibuku lagi setelah aku dilahirkan, walau satu kesempatan pun.

Sebuah kereta kencana menerbangkan kami berlima di udara, satu demi satu lapisan atmosfer terlewati. Tak banyak kata, bahkan satu pun tak mampu terucap di antara kami.
Hanya ada satu kata yang terus kuteriakkan, “Ibu...”

Waktu berjalan lamat-lamat, dan sudah tak kurasakan udara memenuhi ronggaku, sudah sejak tadi. Ajal itu mengerikan, dijemputnya adalah hal yang sebelumnya tak kupikirkan.
Kemudian, kami tiba di suatu tempat, di depanku, terdapat seutas tali yang sama-sama bermuara pada sebuah gerbang yang begitu besar, gerbang istana. Sebuah istana megah seperti melayang di atas jurang yang dipenuhi magma meletup-letup. Di lautan magma itu, jiwa-jiwa terbakar dan meraung kesakitan, tetapi jiwa-jiwa itu tak kunjung hilang berubah jadi abu.

Aku menoleh kepada keempat wanita di sebelahku, mereka melayang di udara, lalu mereka menganggukkan kepalanya kepadaku. Aku melangkah gontai, tali itu begitu panjang, tali itu mungkin tak cukup kuat untuk menyangga bobotku.
Namun ternyata aku mampu berjalan di atas tali itu, dengan tangan-tangan yang memegangiku, di sebelah kiri dan kanan. Dua orang lainnya berjalan di depanku, pintu gerbang itu terbuka, bercahaya dengan sinar yang kekuningan, menyerap jiwaku, untuk terus mendekat.

“Cempaka.......” sampai kudengar suara itu. Suara seorang pria.

Aku tak berpaling, aku tahu betul, suara itu suara Arya.

“Cempaka.......” kudengar suara lainnya.

Rintihan hadir menemani suara itu, tangisan dan jeritan. “Cempaka....” aku tak mengenali suara siapa itu, tapi aku tahu pasti, itu adalah suara seorang wanita.

Berisik, gemuruh hadir dari magma yang meletup-letup. Seketika, burung-burung beraneka jenis beterbangan di atasku. Aku menoleh kepada empat wanita di sekitarku, mereka menghilang. Kemudian, aku tak bisa memastikan benda apa itu. Udara yang bergumpal dan transparan, datang ke arahku, gumpalan udara itu memelukku. “Cempaka, ini Ibu, sayang.”

Aku terpaku di tempatku, Ibuku telah meninggal? Karena itu semasa hidup aku tak pernah menemuinya sekali pun?

“Ibu..” ucapku lirih, gumpalan udara itu mengecup keningku.

“Terima kasih atas sujud terakhirmu, Nak. Terima kasih karena sudah memberi Ibumu ini kasih sayang di saat terakhirnya.” Lanjut gumpalan udara itu.

“Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti, pelukan itu merenggang, padahal aku menginginkannya, semakin erat lagi.

“Ibu adalah wanita tua itu, Ibu adalah yang meninggal tadi pagi. Kau adalah dokter yang merawat Ibu selama ini. Nak, Ibu tak bisa berkata banyak semasa hidup, tapi Ibu tahu itu kamu, Cempaka. Ibu sayang padamu.” Ucapnya penuh sayang. Jadi, selama ini aku selalu berada di sisi Ibuku, menemaninya, dan menjaganya? Dia stroke, tapi dia menyadari kehadiranku, sedang aku yang dalam keadaan sadar, tak bisa menyadari kehadirannya. Benar kata orang, kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Tapi kemana kau Ibu, selama puluhan tahun?

“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu,” Ucapnya terbata. “dan sekarang, kembalilah ke duniamu, Nak. Belum saatnya kau kembali kepada-Nya.”

“Aku tak ingin, Bu. Tak ada orang yang ingin kutemui lagi di dunia. Aku tak memiliki siapa-siapa.” Jawabku kering.
“Nak, kau tahu kan, kau pernah mendengar cerita Jaratkaru, kau adalah putri Ibu semata wayang, seperti dia yang bagaikan sebatang kara. Kau harus melanjutkan keturunan. Jika tidak, orang tuamu tidak akan mendapatkan tempat di alam ini. Kau harus hidup, Nak. Kembalilah,” Ucapnya, “demi Ibu dan Arya.”

Aku terdiam lama, demi Arya?

“Cempaka....” suara itu memanggilku lagi, suara Arya. Aku mencari asal suara.

Nihil. Kemudian aku menoleh, gumpalan udara itu menghilang, tak berbekas.

Lalu aku melihat sosok Arya, berdiri jauh membelakangiku. Aku mendekatinya, tapi dia semakin jauh, jarak itu sangat jauh. Dia duduk di sebuah kursi, kedua belah tangannya mengatup di wajahnya.

---

“Arya..” panggilku lirih, beberapa orang yang kukenal tersenyum kepadaku, beberapa dokter spesialis bedah yang pernah menjadi dosenku.

Operasi berhasil. Aku berhasil diselamatkan, dengan patah tulang telapak kaki sebelah kanan. Tetapi itu dapat disembuhkan, hanya beberapa bulan, mereka meyakinkan.
Arya sangat senang mengetahui aku selamat, selama aku dirawat inap, dia selalu menemaniku, dengan parsel buahnya, buku-buku favoritnya yang dia beri padaku, juga lelucon-leluconnya, dan akhirnya dia mendapatkan posisi yang dia idam-idamkan selama ini, dia berhasil menjadi seseorang yang istimewa di hatiku.

“Kalau begitu, kapan kita menikah?” tanyanya suatu saat, aku tahu dia bercanda karena setelahnya dia tertawa dan menyuapkan sepotong apel padaku. Aku pun hanya tertawa.
Kapan pun kita bisa menikah, Arya. Mertuamu sudah merestuinya.

Aku memejamkan mataku, Ibu, seandainya aku dapat mengingat wajahmu... tapi nyatanya aku tak dapat. Maafkan aku, Ibu.

Sejuta Kebencian Dan Cinta Untukmu

0 komentar

Aku tahu kau sudah meninggalkanku selamanya. Tapi kenapa aku masih saja tetap percaya bahwa kau ada, menemaniku, di sisiku, atau mungkin di dalam hatiku? Aku begitu bodoh untuk percaya bahwa kau memang menemaniku. Aku bodoh.

Aku tahu kau sudah pergi, bahkan mungkin kau melupakanku untuk selamanya. Aku tahu kau tak akan pernah datang lagi padaku, untuk sekedar mengingatkanku akan rupamu yang kini sudah kulupakan, walau kau baru tiga bulan pergi dariku.

Aku tahu, Mama. Aku sekarang membencimu. Mau apa Kau? Bisa apa? Kau tak mungkin datang padaku, tak mungkin marah karena aku membencimu, kau tak mungkin mencak-mencak seperti biasa, kau tak mungkin memukulku. Iya kan?

Aku benci sekali padamu, Ma. Melebihi benciku pada Tuhan, yang telah merebutmu dari sisiku. Aku benci sekali padamu, Ma. Aku benci sekali.

Aku benci sekali kau tinggal sendiri. Mau bilang apa Kau? Aku benci padamu, benci, benci, benci. Aku benci padamu!!!!! Kurang jelas kau dengar dari surga, hah?

AKU BENCI PADAMU, MAMA.

Aku benci kau tinggal sendiri. Aku benci kau telantarkan dan kau lupakan. Aku benci karena aku tak pernah bisa melihatmu lagi. Sekarang coba Kau tampakkan wujudmu di hadapanku? Apa kau bisa? Bisa? Aku benci sekali padamu, karena kau tak bisa melanggar aturan itu, karena kau tak bisa melanggarnya hanya sekali saja, kau seperti roh-roh orang yang telah mati, kau memang roh orang mati, dan kau memang sama saja dengan mereka, yang tidak berani menampakkan wujudnya lagi pada orang yang kau sayangi. Betul begitu? Ah, mau jawab apa Kau? Mulut pun kau tak punya lagi. Iya kan?

Aku benci padamu, Mama........ Karena kau tidak mengijinkanku menyusulmu. Aku benci kau suruh hidup sendiri di dunia ini, merasakan kepedihan, merasakan kekalahan, merasakan tangis yang asin. Aku benci, Mama.
Aku benci melihat fotomu di meja itu, maka baru saja aku banting fotomu. Bingkai itu pecah berkeping-keping, mau apa kau? Merengek karena fotomu itu pecah? Bisa kau marah padaku? Masih bisa?

Aku benci padamu, Ma. Karena kau meninggalkan sejuta cita-cita untuk kuwujudkan. Aku benci sekali padamu, Ma. Kau paksa aku mewujudkannya? Memang aku apamu, Ma? Budakmu? Apa kau sadar aku ini anakmu? Putri semata-wayangmu? Apa kau sadar, Ma? Apa kau masih ingat memiliki seorang anak? Atau kau sudah lupa?

Enak sekali, ya, tinggal di surga, Ma? Sampai kau melupakanku? Bisa-bisanya kau begitu padaku. Peduli apa kau denganku? Kau sudah keenakan di surga, dan tak mau kembali lagi ‘kan untuk menemuiku di bumi?

Aku benci kau jadikan budak kebodohanmu, aku benci kau suruh mengetik sms kepada nomormu yang sudah tidak aktif lagi, berapa kali kau suruh aku melakukannya? Kau sudah tak bisa membelikanku pulsa lagi. Aku benci kau suruh menuliskan diary untuk bercerita tentang hari-hariku kepadamu. Aku benci kau suruh menulis tentang rasa kehilanganku akan dirimu. Aku benci. Bisa kau menamparku karena aku membencimu? Bisa?

Mama... Kau di mana? Apa kau masih Mama yang sama? Temanku bilang, kau mungkin telah berubah wujud menjadi sosok yang tak akan mungkin bisa kukenali lagi. Dan aku benci harus merasa ketakutan di rumahku sendiri, aku pergi dari rumah kita itu, Ma. Aku takut mengingatmu. Aku takut mengingat kau merintih di kamar itu dan menangis kemudian. Aku takut di tempat manapun, aku takut pada sepi, dan kosong. Aku benci padamu, Ma. Atas segala upaya untuk membuatku bisa gila.

Aku benci padamu, Ma. Benci kau tinggalkan pada saudara-saudaramu, aku benci harus berpura-pura. Aku benci padamu, Ma. Benci kau titipkan pada orang yang bahkan tidak mengerti aku.

Aku benci padamu, Ma. Karena kau tidak menampakkan diri juga di hadapanku, atau minta maaf lewat mimpi karena kau telah pergi jauh dariku? Kau tak sempat mengucapkan kata terakhirmu, kau tak memberiku kesempatan untuk melihatmu hidup pada saat kau menghembuskan nafas terakhir.

Kau, tahu, Ma, aku, mengingatmu, sebagai, jenazah. Oh, bacalah dengan terbata-bata. Karena aku tak kuat mengucapkannya. Bacalah, Ma. Apa kau masih punya mata untuk membaca? Kurasa kau akan mendapatkan cadangan dari surga.

Aku benci padamu, Ma. Untuk seluruh sisa hidupku.
Aku benci padamu, dan aku tak kuat untuk mengutarakan lebih banyak alasan, lagi.

Aku benci padamu, Ma. Karena hanya itu yang kutahu saat ini.

Jangan suruh mereka membantuku supaya aku bisa meraih cita-citaku, jangan suruh mereka memberikan uangnya yang berdigit sembilan itu untuk membantuku melanjutkan pendidikanku, jangan. Aku ingin memakimu. Aku ingin mengutukmu, bolehkah malin kundang melakukan itu kepada Ibundanya, supaya dongeng kelak akan memiliki dua versi? Ah, tapi, kau sudah pergi. Percuma saja.

Aku membencimu, Ma. Karena kau membuatku mendapatkan banyak belas kasihan dari banyak pihak, karena kau tak mengijinkanku untuk terus menjadi gadis manja dan merengek di sisimu. Kau sudah tak kuat mengurusiku, ya, Ma?

Apa kau tahu, Ma? Di balik sejuta rasa benciku padamu.. tersimpan lebih banyak lagi rasa cintaku padamu. Kalau kau tak bisa kupaksa datang dengan kebencianku, apa kau akan datang dengan kata-kata cinta yang akan aku ucapkan sekarang?

Kenapa kau tak menampakkan dirimu, Ma? Lelahkah menempuh jarak dari surga kemari? Mari duduk di sebelahku kalau begitu. Mau minum sesuatu, Ma? Mungkin kau haus?
Semua bisa dibicarakan baik-baik, oke, aku terima.

Ma, aku tidak diterima pada fakultas yang kau suruh aku masuki, baru saja diumumkan. Jangan marah. Jangan memakiku, oh, jangan memukulku, jangan.

Jangan, Ma. Jangan.

Masih banyak jalan kata teman-temanku, masih banyak harapan. Beruntung kau sekolahkan aku di usia dini. Masih delapan kali kesempatanku untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru. Jadi, kau masih bisa menunggu kan, Ma?

Omong-omong, Ma. Apa kau sudah lupa denganku? Kenapa tak pernah datang? Aku sudah menyediakan teh untukmu. Oh, bicara apa aku, aku tak ingin gila karena kehilanganmu. Awas saja kalau itu terjadi, sumpah demi Tuhan, aku tak akan memaafkanmu.

Mama, apa aku bodoh? Sedemikian bodoh?

Mama, apa aku terlalu banyak menghabiskan kesempatan yang tersedia, porsi untukmu pun kuhabiskan. Begitu? Itu sebabnya, Ma?

Aku merasa bertambah bodoh setelah kepergianmu, tidak bisa lagi mengerti apapun yang dunia kata. Aku merasa terperangkap dan ingin mati.

Kau demikian percaya bahwa aku bisa melakukan semuanya, iya kan, Ma? Sampai kau tinggalkan aku sendiri di sini? Oh, demi Tuhan, jangan suruh orang lain mengaku-ngaku peduli padaku. Aku ingin KAU YANG PEDULI padaku.

Jangan suruh mereka sok baik padaku, mengatakan dengan penuh belas kasih, “semangat, masih ada jalan lain, hidup memang begitu, takdir memang seperti itu, ini memang nasibmu, terimalah semuanya dengan lapang dada.” JANGAN. Aku ingin kau yang ada di sisiku, biarpun kau akan memakiku, biarpun kau akan menamparku karena sudah keterlaluan selama ini, biarpun kau memukulku, atau memutilasi hatiku dengan pisau kata-katamu. Aku ingin kau yang menemaniku. Kurang jelas?

AKU MENGINGINKANMU, MA.

Ma, kalau aku tak pantas berkata, coba kau tanya pada dirimu sendiri? Apa kau boleh meninggalkan anakmu ini sendiri? Apa kau tak merasa bahwa kau harus mengajakku ikut? Aku ingin bersamamu, biarpun aku ditempatkan di neraka oleh Tuhan, yang jelas, aku ingin melihatmu, terus dan terus.

Ma, aku mohon sekali, datanglah padaku, ucapkan sesuatu. Kenapa kau tak pernah datang?

Aku benci harus merengek seperti balita, aku benci harus menangis lagi. Aku benci menjadi seperti ini. Musuhi aku saja, Ma. Musuhi.

Aku sakit, dan kau tak mau tahu. Cukup datangi aku melalui mimpi, dan sembuhkan aku dengan senyummu. Kau tak bisa menjadi dokter, memang, memang, kau memang tak bisa, maka kau suruh anakmu yang bodoh ini untuk menjadi dokter, iya, kan?

Kau tahu, Ma. Aku patut membencimu. Aku benci dunia kedokteran. Benci sekali. Apa kata dunia jika aku kau suruh menjadi dokter? Aku masih ingat bagaimana kau meninggal dengan tragis, aku tanya, ya, karena apa? Oh, iya, kau sudah lebih tahu, kau kan ada di atas sana, kau melihat segalanya kan, mungkin hanya aku yang tak kau lihat. Apa pedulimu kepada seorang bocah manja yang selalu berpura-pura tegar sepertiku? Apa pedulimu kepada putrimu sendiri?

Biarlah aku mengambil kesimpulanku sendiri.
Supaya aku tak terlalu larut dalam keadaan, supaya aku tak menangis tiap kali terjatuh, supaya aku tak lagi, tak lagi, tak akan lagi... mengingatmu.

Premis pertama, kau menganggapku anak manjamu walau begitu aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Premis kedua, aku memang anak manja.

Boleh kutambahkan? Aku adalah anak manja yang merengek meminta sesuatu kepadamu jika aku tertarik pada hal itu. Aku adalah anak manja yang selalu tidur denganmu tiap malam, dan memarahi Papa jika tidur denganmu. Aku adalah anak manja yang selalu ada di sebelahmu, dan selama ini sangat-sangat membutuhkanmu. Aku adalah anak manja yang selalu curhat tiap pagi, siang, sore, malam, dan sepanjang hidupku selama enam belas tahun, padamu. Aku adalah anak manja yang akan sebal karena kau tinggalkan tanpa alasan. Semoga kau tak lupa.

Konklusi, Aku bisa tegar untuk kau tinggalkan dan akan kau lupakan selamanya.

Lucu, ya? Silogisme-ku selalu berantakan, dan sekarang menjadi lebih berantakan lagi karena aku sangat kalut harus kehilanganmu.

Sudahlah, kau sudah pergi, dan tak akan bisa menjawab lagi semua tanyaku.

Kau sudah pergi dan tak akan bisa lagi membalas benci dan cinta yang aku beri padamu.

Kau sudah pergi dan akan terus pergi, melangkah lebih jauh, hidup di surga untuk beberapa lama, atau merasa derita neraka untuk beberapa saat, kemudian kau akan melakukan inkarnasi lagi, dan kita tidak akan saling mengingat lagi. Kita akan terus ber-reinkarnasi, berkali-kali, dan kita tidak akan saling mengingat lagi, dan kita akan saling melupakan, dan kita....... tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.

Aku mengerti itu, Ma. Aku sering membaca mengenai siklus kehidupan. Lahir, hidup, tumbuh kembang, menjalin persahabatan, saling menghargai, jatuh cinta, hidup berumah-tangga, membentuk keluarga baru, kemudian setelahnya, ketika Tuhan menunjukkan waktu yang semakin sempit untuk kita kembali kepada-Nya, kulit keriput, warna lapisan bola mata yang membiru, rambut beruban, organ-organ mengalami disfungsi, kita bermeditasi memohon surga untuk tempat kita setelah meninggal, lalu ajal menjemput, dan kita meninggal. Setelah kita meninggal, kita akan menjalani hidup di alam lain, kemudian kita ber-reinkarnasi. Kita akan saling melupakan. Seperti aku melupakan kehidupanku di masa lalu.

Jujur saja, aku benci sekali tidak dapat mengingat jelas. Aku benci melihat diriku sendiri yang kadang begitu sok pintar, sok tahu akan kehidupan. Nyatanya, aku sama seperti yang lain, kami tak pernah tahu apa-apa. Aku tak pernah bisa mengingat kelahiran lalu. Aku tidak bisa melihat masa yang akan datang, atau justru kehidupan selanjutnya.

Mama... yang jelas, di balik rasa benci, akan ada rasa cinta.. selamanya, untukmu.

P.S. Maafkan aku karena aku gagal, untuk sementara waktu.

Selasa, 08 Maret 2011

Interogasi Cinta

0 komentar

Aku takkan bisa berbohong lagi ketika tatapanmu sudah meminta penjelasan, bahkan sebelum suaramu terdengar, “Kenapa kau nggak pernah lagi mau makan malam denganku?” galak.

Aku membisu.

“Nggak cinta lagi, ya?”

Mungkin.

“Jawab, Chris…”

Hei! Interogasi ini berubah menjadi rengekan.

“Cinta, sejujurnya aku benci selalu berpura-pura suka pergi makan denganmu. Aku takut selera makanmu hilang jika aku ketahuan bohong.”

Kulihat bola matamu membesar. Khawatir? Tapi akan kuselesaikan saja. “Kau cuma tahu Castello CafĂ©; Mie Goreng, Nasi Goreng, Ifu Mie, Mie Tiaw, blablabla. Sialnya semua itu, hanya kerupuknya saja yang enak!”

“Jadi maumu apa?” tukasmu masih galak.

“Gimana kalau kau belajar memasak?”

^_^

Kamis, 03 Maret 2011

Masa Lalumu Dan Gadis Pemain Uding

0 komentar

Dia bersitatap denganmu, memandangmu dengan parasnya yang ayu.

Kau mendekatinya, tertarik oleh geraknya yang lemah lembut.

Kau mengulurkan tangan di hadapannya seraya berkata, “Permainan uding 1 mu indah sekali..”, dan dia tidak menjawab pertanyaanmu.

Dia juga tidak menjabat tanganmu, sama sekali tidak.

“Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang piawai memainkan alat musik itu..” ucapmu lagi, lebih halus.

Dia menggeleng, kemudian menatap dadamu, “Jiwa...”

Kamu memandangnya, terkesima.
Read more (2339 words)

“Jiwamu harus ikut mendengar.” Ucapnya pelan, oh, kau dengar.. suaranya begitu merdu, menyejukkan dan membasahi kering hatimu selama ini.

“Jiwaku?” tanyamu tak mengerti.

Dia hanya mengangguk.

Kau adalah seorang pria, penuh keingintahuan dan hasrat yang tak terpenuhi oleh perjalanan hidupmu, kau mendamba musik-musik yang dia mainkan.

Kau luruh di dalam tiap nada yang Ia perdendangkan, juga tiap syair yang dia lantunkan.

“Kau bisa mendengar?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaanmu sebelumnya, mungkin dianggapnya sekedar pertanyaan retoris. Kau mengangguk.

Dia tersenyum, kemudian meninggalkanmu.

Kau terbawa emosi dengan sosok gadis itu, elok rupawan dan lemah lembut, juga penuh misteri.

---

Tiap minggu kau selalu datang ke acara pertunjukkannya. Tak pernah terlewatkan olehmu petikan demi petikan udingnya yang menyayat. Merdu vokalnya yang mengiris hatimu takkan kau biarkan menjadi milik orang lain.

Kau menjadi pengagumnya di tengah kebisuanmu, kau bertepuk tangan riuh di tiap acara tari pergaulan rakyat Kutai, tari khas daerahmu, dengan senyum misteriusnya membayang di matamu. Tidak ada yang tahu, benih-benih cinta telah tumbuh di hatimu, dan air mukanya membuat benih-benih itu kian subur, sungguh jelitanya dia bagimu.

---

Kau mengenalnya, keluarganya, juga keterasingannya di lingkunganmu.

Dia bukan sosok gadis yang bersahabat dan riang, namun begitulah seorang bidadari bagimu, selalu misterius, layaknya gerak lakon penari Kancet Lasan 2 , dengan ritme tarian yang sederhana dan menggugah hati, menggambarkan agungnya sang burung enggang 3 ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon, mendarat dan terbang sesuka hati, layaknya dia bagimu, tersenyum dan mengerutkan dahi, sungguh elok.

Kau terus melamunkannya.

Dia hanya seorang pemain uding, sekedar gadis yang memetik dawai untuk menghiasi musik tingkilan 4 yang digelar pada acara tari pergaulan rakyat Kutai.

Keluarganya adalah orang terpandang walau tak kaya, karena berkepala-keluargakan seorang kepala adat. Mereka tinggal di bawah naungan lamin 5 layaknya masyarakat lainnya. Di sekitar lamin mereka, terdapat taman indah, bukan hanya dipenuhi bunga beragam warna, namun juga beberapa tumbuhan obat yang sangat sering keluarganya sumbangkan kepada orang yang membutuhkan, sungguh dermawan.

Di belakang rumahnya, aliran sungai mengalir deras, percikan air di bebatuannya terkadang memecah keheningan malam, diiringi dengung syahdu kadire 6 yang ditiup sang Ayah di kala rembulan membayang di permukaan sungai, dan kau akan termenung di kamarmu, ditemani temaram lilin.

Mereka begitu sederhana.

Dan kau begitu mengaguminya.

---

“Dia hanya seorang pemain uding!” ucap Ayahmu keras.

“Jangan jadikan aku layaknya Siti Nurbaya, Ayahanda. Aku laki-laki!” Jawabmu tak kalah keras.

Kau tidak menginginkan perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuamu untukmu.

“Intan, dia gadis kota, anak pejabat, cucu konglomerat, berasal dari keluarga baik-baik... Dia..”

“Tapi aku tidak akan kawin dengan keluarganya.” Potongmu keras.

“Aku akan kawin dengan orang yang kucintai.” Ucapmu lembut, jauh di dalam hati sanubari, kau berbisik pada dirimu, kau mencintainya, sangat mencintainya.

“Lihat Ayah si pemain uding itu, kepala adat yang miskin, tua renta, peyot. Kau suruh aku berbesan dengan tua bangka itu?” hardik Ayahmu keras, kau tak habis pikir, kemana perginya logika Ayahmu yang dibesarkan oleh belaian Ibu pertiwi? Bahkan Kepala Adat Daerahnya pun dihinanya senista itu.

“Kau orang hebat, Putraku. Lulusan Universitas ternama, menyandang predikat cumlaude , jangan kau hancurkan harapan besar Ibundamu ini kepadamu..” kali ini kau meradang, Ibumu mengambil alih, seseorang dimana surga terletak di telapak kakinya, tidak akan mungkin kau berani membantahnya.

“Ibunda.. Ini cinta, tulus dan sederhana, seperti yang kumiliki sepanjang usiaku, untukmu.” Bisikmu pelan, kau sama sekali tak berani menyakiti hatinya.

“Makan cintamu, kau akan kelaparan, anak durhaka!” bentak Ayahmu padamu.

Kau menundukkan kepalamu, kemudian Ibumu memegang pundakmu, wanita yang dulu melahirkan dan membesarkanmu dengan sepenuh hatinya kini bahkan hanya bisa meraih pundakmu, kau sudah tumbuh besar di ibukota, bertahun-tahun, badanmu berubah menjadi begitu kokoh laksana Gajah Mada 7 sang mahapatih.

“Nak, pertimbangkan lagi. Dia memiliki kepercayaan yang berbeda denganmu. Kau seorang muslim, dan dia hindu...” ucap Ibumu pelan, kau tersentak, Ibumu yang dahulu mengajarkanmu supaya memandang tiap ciptaan Tuhan atas baik buruk budhinya, kini mengajarimu untuk membedakanmu dan orang yang kau cintai berdasarkan SARA 8 .

“Kami sama-sama mempercayai Tuhan.” Hanya itu jawabanmu. Kau tahu, kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, gadis pujaan hatimu adalah gadis yang agung, menyembah Tuhan dengan segenap bakthinya.

“Kau telan mentah-mentah suara udingnya yang lapuk itu, sekarang mabuklah kau dibuatnya! Gadis miskin pemain uding tak tahu adat!” hardik Ayahmu lagi.

“Ayahanda, apalah artinya kekayaan jika kekayaan itu tak akan pernah membuat kita hidup dalam kebahagiaan?” ucapmu lembut, kau tak ingin terbawa arus emosi Ayahmu yang membara itu, kau ingin membuktikan, bahwa perihal cinta, tutur bahasa bisa membuat setiap orang terbang ke angkasa.

“Oh, sekarang kau berbicara mengenai kekayaan dengan Ayahmu ini! Kau lupa bagaimana Ayahmu bekerja keras mencari uang untuk membiayai kuliahmu?” teriak Ayahmu.

“Ayahanda, aku hargai jasamu. Tapi tidak begini caranya. Kita pernah punya masalah keuangan, jangan lagi Ayahanda ungkit-ungkit hal itu ke permukaan. Semuanya sudah berlalu.” Jawabmu pelan.

Ayahmu tersentak, kemudian beliau terdiam. Sementara Ibumu menangis tersedu-sedu di sebelahmu. “Tidak ada satu halpun yang berubah, Putraku. Tidak ada yang berlalu.” Ucap Ibumu sesenggakkan.

Kalian semua terdiam, hening dalam ulasan kemilau mentari yang masuk melalui celah-celah jendela lamin, jingga keperakkan, melebur dalam helaan nafasmu serta keringat yang membasuhi pelipis beserta lehermu.

“Kami berhutang.” Ucap Ibumu pelan.

“Jangan kau katakan itu kepada Anakmu yang tak tahu malu itu! Seorang anak durhaka tak akan mungkin melunasi hutang-hutang Ayahnya!” bentak Ayahmu di belakang Ibumu.

Kau terdiam. “Kami berhutang kepada keluarga besar Intan.” Ucap Ibumu kemudian.

“Sudahlah.. Cumlaude kedokteran durhaka ini tidak akan mau menghiraukan masalah keluarganya. Biarlah kita dihabisi oleh binatang peliharaan Pak Katar.” Ucap Ayahmu keras, kali ini Ayahmu berhasil melarutkan kesedihanmu di dalam tangis dan darah yang dicucurkan mereka untuk membiayai kuliahmu.

Kau terpaku. Dunia berbalik. Abad berganti abad, milenium berganti milenium. Dulu di kala abad menginjak angka 19, gadis bernama Siti Nurbaya 9 lah yang mesti menebus hutang orang tuanya kepada Datuk Maringgih 10 . Atau mungkin layaknya cerita daerah yang dituturkan dari mulut ke mulut para tetua di desamu, kisah yang berasal dari milenium sebelumnya, kisahmu layaknya kisah seorang gadis bernama Utan Along 11 yang dikawinkan secara paksa oleh orang tuanya dengan orang yang tak dia cintai. Kini, dunia akan menorehkan sejarahmu, mengukirnya sebagai kisah seorang pria suku Dayak yang dipaksa kawin dengan seorang gadis hanya karena hutang piutang kedua orang tuanya.

“Tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya.” Hanya itu yang diucapkan Ibundanya kemudian.

Kau renungkan kata-kata itu, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya, kau merenung, “Aku akan lunasi hutang itu, Ayahanda.” Ucapmu pelan.

---

Kau berada di sebuah resepsi perkawinan, perkawinanmu dengan Intan. Kau menangis dalam hati. Pria tak boleh menangis , ketika kalimat itu terucap dari mulut Ibumu, kau menjawab, aku tak akan menangis lagi Ibunda , dan kau menepati janji itu.

Kau tersenyum kepada semua hadirin, layaknya senyum khas yang dimiliki Alm. H. M. Soeharto 12 .

Acara resepsi perkawinanmu dihadiri oleh orang-orang besar, para pejabat negara, termasuk juga teman-teman dari keluarga mertuamu. Hanya sedikit orang dari desamu yang bisa menginjakkan kaki di Assembly Hall JCC 13 . Dari sedikit orang itu, wanita pujaanmu termasuk salah satunya, beserta Ayahandanya, seorang kepala adat di Kutai-Dayak.

Ribuan orang hilir mudik di hadapanmu, kau tetap menyebarkan senyummu, pipimu membentuk lesung pipitnya, bahkan pagi tadi, istrimu Intan sempat menggumamkan kata “manis” padamu.

Kau nampak berbeda di bawah balutan jas hitam mahal itu, tapi tetap saja hatimu meronta. Kau heran kepada tingkah polah kekanakkan Intan yang hingga kini masih memendam rasa cinta masa kecilnya kepadamu. Mengapa seorang gadis nan jelita berasal dari keluarga terhormat juga peraih gelar master di usia muda seperti Intan memilih dirimu yang kolot akan cinta.

---

Kau ingat sosokmu ketika kecil, bocah nakal dan iseng. Kau mengenal seorang gadis bernama Intan, teman masa kecil dari gadis pujaanmu. Intan, istrimu kini, kau teringat senyum gadis cilik itu padamu ketika kau kalungkan untaian bunga yang kau untai ketika itu, kau yang tak tahu adat berkata padanya, “Kawinlah denganku..” layaknya mamanda 14 perkawinan yang kau saksikan di panggung-panggung pementasan, dan Intan dengan senyumnya menjawab pernyataanmu, “Pasti.”

---

“Apa yang kau risaukan, suamiku?” tanyanya padamu, senyumnya merekah, Intan dewasa sama sekali tak nampak kekanak-kanakkan seperti tujuh tahun lalu, namun Intan dewasa adalah Intan yang menyimpan cinta masa kecilnya, impian-impian naif yang kau jejalkan padanya.

Kau menggeleng, kau menatap lurus, seorang wanita menyanyi, nyaring, merdu, kau terus menatapnya.. dia... dia... selalu menyanyi dengan segenap hatinya, mimik mukanya masam, lalu dia menangis. Sendu, perih, menyayat hatimu dan seluruh hadirin. Petikan udingnya tak kalah menyobek-nyobek perasaanmu. Perasaan hancur.

Kemudian dia melantunkan sebuah tembang, bukan tembang yang biasa dilagukannya, bukan bahasa yang kau bisa terjemahkan artinya, bukan lagu daerahmu.

Tatan hana wastu ngke ring loka,
wenanga panghibeka ning trsna,
apan ikang wwang agong trsnanya,
tan hana pahinya lawan tasik,
kapwa pisaningun kena ring hibek... 15

“Tidak ada benda di dunia ini yang akan dapat memenuhi cinta kasih, sebab orang yang cinta kasihnya sangat hebat, tidak ada bedanya dengan samudera, yang tidak sekalipun bisa penuh” diterjemahkannya tembang yang dilantunkannya tadi.

Hadirin terpesona, kemudian bertepuk tangan sejadi-jadinya. Merdu, sangat merdu. Air mukamu berseri, istrimu mendengus kesal.

“Masih seperti dulu, ya.. Kekagumanmu padanya..” Ucap Intan di sebelahmu, kaupun menoleh. Kecemburuan membakarnya.

Kau hanya tersenyum. Iya, cintamu padanya masih seperti dulu, ketika dalam hujan, kau bertemu pandang dengan seorang gadis kecil berkulit coklat dan bermata teduh, dia memayungimu, kemudian dia mengantarmu pulang ke rumahmu, sejak saat itu, kau mencintainya. Cintamu tumbuh di bawah hujan itu, melewati danau kenangan.

Beberapa saat kemudian, di dalam keheninganmu, iring-iringan musik bersiap. Prahi, gimar, tuukng tuat, dan pampong 16 dipajang apik di hadapan pria-pria besar teman masa kecilmu. Glunikng 17 dipegang oleh salah seorang lainnya, klentangan 18 juga sampe 19 tak ketinggalan.

Tanpa kau sadari, serunai 20 mulai ditiup. Lalu dibarengi oleh kesemua alat musik yang disiapkan tadi, lagi-lagi diakhiri oleh petikan uding gadis pujaanmu, tembang terakhir.

Kadyangganing watang kahala makambangan ring tasik,
Dadi ya kacunduka lawan kapwanya watang,
Niyatanya apasah muwah,
Dadi taya apanggih muwah,
Mangkana ta papanggih nikang sarwabhawa,
Lawan kapwanya,
Anitya ika,
Niyata makantang mapasah,
Dadi ta ya apanggih muwah... 21

“Sebagai misalnya batang kayu yang hanyut, terapung-apung di laut, dapat bersentuhan bertemu dengan batang kayu lainnya, yang tentunya berpisah lagi, namun dapat terjadi, bertemu lagi; demikianlah pertemuan semua makhluk itu dengan sesamanya, itu tidak kekal, akhirnya pasti akan berpisah, kendatipun dapat terjadi bertemu lagi..”

Kata penutup, mengungkapkan kekecewaan, tangis membasahi wajah gadis pujaanmu.

Kau menatapnya, dia menatapmu, tidak ada harapan memancar di matanya. Kau tak pernah memberi janji padanya. Tapi kau tahu, dia tahu, kalian saling mencintai.

Kau menangis, satu janji terpenuhi, janji lainnya tersilapkan.

---

Setelah hari itu, dia pergi selamanya dari kehidupanmu. Dia menggantung dirinya. Dan kini, kau mengenangnya lagi, dalam tangis, tanpa harap. Lirih kau ucapkan, “Benar Ibunda, tidak ada satupun orang yang boleh mengubur masa lalunya... Hingga kini aku sudah tua renta.”

---------------