Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Senin, 31 Januari 2011

Pesan Terakhirmu: Cinta

0 komentar

Kegelapan sungguh menakutkan, dan sepi terlalu menyesakkan…

Di sini. Bahkan sekalipun ini aku—eksistensi yang baru menjejak jalan kehidupan sejauh beberapa jengkal langkah kaki-kaki kecilku—aku mengenal horor ini seolah aku sempat melewatinya dalam perjalananku menuju kesini beberapa waktu lalu.

Aroma menyengat itu beterbangan menghimpit sisa-sisa udara yang tersisa, datang dengan diiringi gaung bisikan sedingin es. Mengulurkan tangan.

…ini adalah milik kematian.

Aku bahkan tak ingat kenapa aku berada di sini. Sangat terang, sebelumnya. Juga hangat. Aku berada dalam pelukan wanita ini, yang tengah bersenandung sambil membelaiku lembut. Rasanya sangat tenang, juga lelah. Aku pun memejamkan mata, bersiap untuk bertemu dengannya lagi dalam mimpi…

Kemudian guncangan itu datang. Hal yang terakhir kudengar adalah jeritan wanita itu, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Lalu aroma serta bisikkan-bisikkan yang kubenci itu menyergap, merambat pelan, menghampiri kami dan tak terlihat dalam gelap. Kupikir… satu-satunya hal yang menghalangi mereka untuk meraih diriku adalah karena keberadaan wanita ini, yang masih kurasakan begitu dekat. Sebelah tangannya kokoh berdiri di sisi wajahku. Napasnya yang tersendat masih sehangat sebelumnya. Sesekali jemarinya yang gemetar mengelus pipiku, dan aku pun tahu bahaya takkan mampu menyentuhku. Tidak selama wanita ini tidak membiarkannya.

Entah sampai kapan kegelapan ini akan menyimpan kami di dalamnya. Aku pun tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi wanita ini tak pernah berubah. Tangannya yang membelaiku, napasnya yang memberi kehidupan, dan suaranya yang menenangkanku. Selama dia masih ada bersamaku, aku tidak perlu takut…

Tapi kemudian dia terbatuk. Kurasakan tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya, dan dia tersengal mengambil napas yang entah mengapa lebih sulit dari yang sudah-sudah. Tetes cairan dingin jatuh membasahi hidungku—berbau amis hampir serupa dengan aroma yang melingkupi kegelapan tempat kami berada.

Aku mulai merengek, mencemaskannya.

Kemudian kurasakan sebelah tangannya meraih sesuatu, mencari-cari di dalam kegelapan… Dan dia menemukannya, benda itu. Benda yang kemudian berpendar dengan sinarnya yang redup, namun bagaikan sebatang lilin di tengah lautan kegelapan di bawah reruntuhan… Wanita itu terpekur padanya sejenak, kemudian dia berpaling, tersenyum memandangku. Perlahan, dapat kulihat wajahnya dengan jelas.

Itu, mungkin adalah pertama kalinya aku melihat senyumannya dari sudut pandang itu. Ataukah mungkin terlalu lama berada di bawah kegelapan telah membuatku lupa akan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh tiap-tiap senyuman darinya? Kurasa, mungkin inilah senyuman terindahnya dari semua yang pernah diberikannya padaku…

“Tak apa,” katanya dengan suara lemah bergetar, meraih tangan kecilku lalu menggenggamnya. “…akan baik-baik saja…”

Tak lama kemudian, cahaya dari benda itu meredup. Dan pegangan wanita itu mengendur. Aku tahu jemarinya mendingin… Tiba-tiba saja kegelapan menjadi jauh lebih menakutkan. Suara napasnya, hangat tubuhnya, dan yang lebih lagi—detak jantungnya, perlahan menghilang. Kegelapan melolong, dan gaungnya menyelimutiku dengan beku yang tak tertahankan. Tidak, batinku. Jangan tinggalkan aku…! Kumohon jangan tinggalkan aku…! Aku menjulurkan tangan hendak meraihnya, dan aku dapat meraihnya! Tapi kenapa dia begitu dingin dan diam…?

Seketika itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sekeras-kerasnya. Berharap dia hanya tertidur, dan tangisanku akan membangunkannya seperti biasa. Tapi dia tidak kunjung terbangun. Tidak.

Alih-alih itu, terdengar suapa geseran dan benturan keras dari ketinggian yang tak dapat kujamah. Kemudian terang—bukan terang lilin. Terang yang amat sangat. Terang yang kurindukan, dan itu adalah pertanda aku bukan lagi bagian dari kegelapan. Mataku berkedip-kedip menyambutnya, tak terbiasa dan sembab oleh air mata. Kurasakan tangan-tangan menjamah tubuhku, salah satunya meraihku dan meletakkanku dalam gendongannya. Kedua tangan itu adalah milik seorang laki-laki berseragam hijau, tubuhnya bersimbah keringat, dan dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

Lebih banyak sosok-sosok berseragam serupa mendatangi kami, dan lebih banyak lagi menghampiri tempatku diangkat dari balik kegelapan. Kemudian aku melihatnya—wanita itu. Senyum masih tersia di wajahnya yang pucat dan ternoda merah. Aku menangis dan menjerit, menjulurkan tangan menginginkannya, sebab aku tahu kali ini dia akan terbangun di bawah sorot cahaya yang sama-sama kami nantikan… Tapi mereka bergegas membawanya pergi dariku. Aku pun hanya meratap menyaksikan kepergiannya.

“Lihat ini,” salah seorang pria mendekati pria yang menggendongku. Di telapak tangannya, tak lain tak bukan adalah benda itu, yang berpendar ketika kami masih berada dalam kegelapan dan kepada siapa wanita itu terpekur sebelum ia meninggalkanku…

Pria yang menggendongku mengambilnya dengan tangannya yang bebas, memperhatikannya dengan dahi berkerut, kemudian dua butir air mata bermunculan dari sudut-sudut matanya. Dia memelukku erat, menangis bersamaku tanpa kata-kata.

_________

Beberapa tahun berlalu, dan kini aku dapat berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Kembali, ke tempat ini. Tempat ini berubah, tentu saja. Pemerintah telah terus berupaya untuk membangun kembali kota ini semenjak gempa beberapa tahun lalu. Dan tempat kenangan yang ditunjukkan oleh paman yang baik hati itu kepadaku, adalah sebatang pohon meihua yang bunganya tengah mekar dan berguguran tertiup angin musim semi.

Aku merogoh sakuku dan menemukannya—ponsel itu. Ponsel yang menyimpan pesan terakhir wanita itu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, dengan punggung menyangga reruntuhan. Melindungiku, dan meninggal dalam prosesnya. Tentu saja aku masih menyimpan pesannya; bahkan pesan itulah yang menjagaku tetap hidup, dan terus mencintai hidup itu hingga saat ini.

“Anakku yang terkasih, aku harap pengorbananku ini akan menjagamu agar kamu tetap hidup. Dan jika kamu berhasil selamat, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu.”

Aku tersenyum, mengatupkan kedua tanganku dan menundukkan kepalaku, memejamkan mata.

Terima kasih telah melahirkanku. Aku pun akan terus mencintaimu sepanjang hidupku… mama.

END
______

berdasarkan kisah nyata, bisa dilihat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2563080
tribute untuk para korban gempa dimana saja. Saya berdoa semoga si anak dapat melanjutkan hidupnya dengan baik-baik.

Kamis, 27 Januari 2011

Anak Ku Erick

0 komentar

By Christine Wili

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

Rabu, 19 Januari 2011

Dandelion's Promise

0 komentar

Aku tak pernah benar-benar tahu pasti tanggal ulang tahunku.

Mungkin kau bertanya-tanya, bagaimana bisa aku berkata demikian. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak mengada-ngada. Aku serius. Karena aku benar-benar tak tahu. Atau tepatnya, tak pernah diberi kesempatan untuk tahu.

Menurut cerita yang kudengar, beberapa belas tahun yang lalu, di suatu malam tanggal 15 Desember -tanggal yang pada akhirnya dinobatkan sebagai tanggal ulang tahunku oleh Bunda-, ketika seorang wanita separuh baya berjalan pulang tergopoh-gopoh sambil menenteng dua keranjang kue buatannya yang tidak habis terjual, dia melihat sebuah peti telur usang teronggok di salah satu sudut rumahnya. Dia merasa heran, siapa yang meletakkan peti itu di depan gubuk tuanya yang reyot. Kemudian belum sempat dia berpikir lebih lama, bersamaan dengan suara halilintar yang memecah keheningan malam itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang menggelegar.

Wanita itu melarikan langkahnya, sesegera mungkin melongokkan kepalanya ke dalam peti itu, dan melihat seorang bayi mungil sedang menangis meraung-raung. Tubuhnya hanya terbalut sebuah kain putih tipis. Tangan kecilnya terkepal menggapai-gapai udara. Dengan tumpukan jerami dan rerumputan yang menjadi alas tidurnya, seorang bayi mungil telah ditinggalkan di sana. Di depan sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang wanita yang hanya hidup berdua bersama suaminya.

Mendengar tangisan yang begitu lirih, tanpa pikir panjang wanita itu segera meletakkan dua keranjang kue sumber penghasilannya begitu saja dan merengkuh makhluk mungil itu dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Dia membawanya masuk, mengganti kain tipis yang melingkupi tubuh bayi itu dengan selimut yang hangat.

Lalu ketika suaminya pulang ke rumah setelah seharian mengayuh becak tuanya dan mendengar penjelasan istrinya tentang bayi mungil yang tengah didekap erat-erat di dadanya itu, mendadak laki-laki itu menangis. Dia menangis dengan begitu terharu. Mulutnya langsung berkata-kata, menaikkan rasa syukur, karena katanya, dia tahu, Tuhan telah menjawab doanya. Doa manusia biasa yang selalu berharap dapat dikaruniai seorang anak. Sebab hampir lima belas tahun usia pernikahannya, belum pernah ada kehadiran tangis bayi dalam rumahnya yang tua dan sepi.

Berhari-hari pasangan itu berharap cemas. Memasang telinga dan membuka mata lebar-lebar untuk mencari tahu apakah ada berita kehilangan anak yang tersebar di sekitar pemukiman mereka. Tapi tahun demi tahun berlalu. Tak pernah terdengar segelintir beritapun tentang orang tua yang kehilangan bayi mereka.

Bayi mungil itu. Bayi perempuan bertubuh lemah. Yang terbuang tanpa sebab yang jelas. Yang karena takdir, telah dipertemukan dengan pasangan tua yang telah sekian lama mendambakan kehadiran malaikat kecil. Yang pada akhirnya datang diam-diam dan mengisi hari-hari mereka. Menjalin hubungan seperti layaknya orang tua dan anak, yang meski tak diikat oleh pertalian darah, namun menjadi tak terpisahkan oleh Sang Waktu.

Ya, tebakanmu benar. Akulah bayi itu.

Dua belas tahun kami hidup dalam limpahan kebahagiaan. Sekalipun kami bukan hidup dengan gelimangan harta. Meski menu makan malam kami mungkin hanya sepiring nasi hangat tanpa lauk, kami adalah orang-orang yang tak semiskin seperti apa yang kelihatan.

Aku bangga pada Ayah dan Bunda. Yang biarpun hanya memiliki sedikit dari penghasilan mereka mengayuh becak dan menjual kue, mereka dengan rutinnya selalu menyumbangkan hampir separuh dari pendapatan mereka yang tak seberapa itu ke sebuah panti asuhan yang terletak tak jauh dari rumah kami.

Bunda selalu mengajarkan padaku, ketika hatimu tergerak untuk memberi, jangan tunggu sampai kau hidup dalam berkelimpahan. Tapi lakukanlah itu ketika hidupmu masih dalam kekurangan. Karena memberi dari kelebihan itu adalah biasa, sedangkan membagi dari kekuranganlah yang bisa dikatakan sebagai suatu hal yang luar biasa.

Tatkala mendengar untaian perkataan Bunda pada suatu sore di perjalanan pulang kami menjual kue di stasiun itu, aku tak tahan lagi untuk tidak memeluknya. Dan bunda hanya balas mengusap kepalaku dengan lembut seraya berkata lagi,

"Suci..., maafkan Ayah dan Bunda ya...?"

Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya.

"Minta maaf untuk apa, Bunda?"

"Maaf karena kami tidak dapat memberikan kehidupan yang layak buatmu." Ada kegetiran yang mencuat di suaranya yang serak. "Maaf karena kami cuma bisa memberikanmu makan nasi tanpa lauk setiap harinya. Maaf karena kamu tidak mampu menyekolahkanmu. Maaf karena kami tidak sanggup memberikan baju-baju bagus untukmu."

Kutatap Bunda tanpa berkedip. Merasakan ada genangan yang mulai menyeruak keluar dan membasahi bola mataku.

"Suci nggak akan memaafkan Ayah dan Bunda." kataku.

Bunda memandang lurus-lurus ke arahku. Rasa pilu membayang di dua jendela jiwanya yang terlihat jelas olehku.

"Karena nggak ada yang perlu dimaafkan." lanjutku. Jelas melihat Bunda menahan nafasnya. "Ayah dan Bunda adalah dua hadiah terindah yang Tuhan berikan buat Suci. Kalian nggak pernah salah. Karena itulah, nggak ada yang perlu Suci maafkan."

Lalu di bawah temaram langit malam yang mulai merangkak datang, Bunda menangis. Merangkulku dengan lumuran cinta yang tak bisa dibandingkan dengan luasnya jagad raya.

Itulah hidupku. Indah. Dan nyaris sempurna.

Namun kesempurnaan yang kukira akan senantiasa mewarnai hari-hari kami sampai selamanya itu seakan terenggut oleh waktu tatkala seorang dokter di sebuah puskesmas yang kami kunjungi setelah beberapa hari aku jatuh sakit, mengatakan serangkaian kalimat yang selanjutnya meluluh-lantakkan hati Ayah dan Bunda.

"Leukimia." vonisnya. "Kanker darah. Ganas. Stadium akhir. Anak anda harus dibawa ke rumah sakit di pusat kota untuk mendapatkan perawatan. Di puskesmas ini segala fasilitasnya terbatas."

Aku tak terlalu tahu istilah-istilah yang disebutkan dokter tua berkacamata itu. Karena seperti yang kau ketahui, aku tak pernah mengecap pentingnya ilmu pendidikan yang membatasi pengetahuanku. Tapi yang kutahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi padaku. Sesuatu yang mengerikan. Sebab begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki bijaksana itu, wajah Ayah dan Bunda langsung pucat seputih kertas.

Sudah beberapa hari ini aku memang merasa tersiksa. Seperti ada sesuatu yang mencabik tubuhku dari dalam. Membuatku mimisan dan sekujur tubuhku dipenuhi lebam. Tapi mengapa melihat air muka Ayah dan Bunda saat ini membuatku terasa jauh lebih tersiksa?

Aku menggerakkan tubuhku. Memaksa berdiri di antara Ayah dan Bunda yang masih duduk menghadap dokter berjubah putih itu.

"Dokter." panggilku. "Suci pasti sembuh.... Bilang sama Ayah dan Bunda, Suci cuma sakit biasa dan pasti bisa sembuh. Pasti bisa sembuh, kan?"

Hening.

Tak ada jawaban.

Kemudian untuk alasan yang tak pernah kuketahui, Ayah dan Bunda menangis. Herannya lagi, dokter di hadapanku itu pun ikut-ikutan menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya aku melihat dua tetes air ikut jatuh di atas meja prakteknya.

'***

Terkadang, banyak hal di dunia ini yang terjadi tanpa mampu kita ketahui bagaimana akhir ceritanya. Banyak pula kisah yang tak bisa berakhir dengan akhir yang bahagia seperti kisah dalam dongeng. Sekalipun demikian, dengan lantang kukatakan kepadamu, meskipun dalam hidupku selama dua belas tahun ini mungkin tak kau lihat sebagai sesuatu yang sarat makna, kutegaskan, aku bahagia.

Aku sangat bahagia sekalipun Tuhan tak berkenan membiarkanku bertemu lagi dengan kedua orang tua kandungku. Aku bahagia diasuh oleh dua orang paling mulia yang pernah hadir mengisi hari-hariku. Aku bahagia dengan sepiring mie rebus yang disajikan oleh Bunda dan sebuah kue ulang tahun yang dibentuk sedemikian rupa dari nasi putih hangat oleh Ayah di setiap ulang tahunku yang tak pernah mereka lupakan.

Hanya satu penyesalanku saat ini.Aku menyesal ketika menyadari bahwa aku tak punya cukup waktu lagi untuk sekedar membalas budi dan menemani mereka di hari tua.

"Jadilah seperti bunga Dandelion, Suci...." bisik Bunda di telingaku. Suaranya yang basah menahan tangis membuat tengkukku meremang.

Aku menggumam tak jelas. Setengah mati kucoba menggerakkan tanganku yang terkulai di pangkuanku, tapi tak berhasil. Padahal aku ingin sekali menghapus air mata yang mengalir turun di kedua belah pipi Bunda yang telah dipenuhi dengan lipatan.

"Menjelmalah seperti bunga mungil bertopi putih itu." Bunda melanjutkan sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sekumpulan rerumputan hijau yang terbentang di hadapan kami. Duduk berdua di depan rumah ketika sore menjelang sudah menjadi ritual yang kami lakukan setelah dokter berjubah putih itu memvonisku bahwa aku terjangkit penyakit mengerikan itu. Bunda berhenti dari kegiatannya menjual kue dan melimpahkan semua waktunya hanya untuk menemaniku.

"Yang meskipun bertubuh lemah, terbuang, dan nyaris tak pernah diperhatikan karena bentuknya yang tidak istimewa, dia tidak pernah menyerah. Ketika angin menerbangkannya, dia akan melintasi angkasa dan mungkin akan terjatuh di tanah gersang, di atas jalan berbatu, dihimpit semak berduri, tapi dengan tegar, dia akan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup. Dia tak pernah hidup untuk menyerah...."

Kukerjapkan mataku yang terasa panas. Menangkap siluet bunga-bunga putih mungil yang menyembul di antara rerumputan hijau di hadapan kami dan meresapi kata-kata Bunda yang menyentuh relung hatiku yang paling dalam.

"Suci- sayang-...Bunda." Bibirku bergetar. Sudah hampir dua bulan berlalu dan penyakit itu merenggut seluruh kemampuanku untuk beraktivitas. Bahkan untuk sekedar berucap kata.

Bunda bangkit berdiri. Masuk kembali ke dalam rumah sambil menahan isaknya. Kuawasi gerak-geriknya dari sudut mataku yang seolah menorehkan luka dalam-dalam di hatiku.

Dan aku melihatnya. Mengobrak-abrik isi lemari pakaian usangnya dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.

"Kita ke kota ya, Suci." katanya. Mendekatiku kembali dengan air matanya yang berlinang-linang. "Bunda bawa semua yang Bunda punya. Semuanya. Kita pergi ke kota ya? Bunda bawa Suci berobat. Biar Suci sembuh. Kalau nggak cukup uangnya, Bunda bakal memohon sama Dokter di sana buat sembuhin suci. Gimana pun caranya. Biar Suci bisa sama-sama Bunda jualan kue lagi. Biar Suci masih bisa tungguin Ayah pulang dan makan malam sama-sama lagi. Biar Suci bisa rayain ulang tahun lagi. Meskipun cuma dengan sepiring mie rebus dan kue ulang tahun dari nasi putih.... Tapi kalau Suci sembuh, Ayah dan Bunda janji. Bunda janji akan buatin mie goreng paling enak buat Suci. Ayah janji akan beliin Suci kue ulang tahun yang besar. Sebesar ini."

Kulihat Bunda menggerak-gerakkan tangannya dan berkata-kata tanpa sempat mengambil nafas. Membuat dadaku terasa sesak dan bendungan di mataku roboh begitu saja.

"Kado terindah buat Suci- adalah Ayah- dan Bunda...." Segenap tenaga yang tersisa di tubuhku, kukerahkan untuk mengangkat tangan dan menyentuh pipi keriput Bunda. "Bertemu dengan Ayah dan Bunda- adalah harta tak ternilai- buat Suci...."

Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Bunda...." Kusentuh punggung tangan Bunda dengan sayang. "Suci mau... jadi bunga- dandelion." kataku. Terbata-bata. "Yang meskipun diterbangkan angin- dan hidup di tanah yang gersang, Suci nggak akan- berhenti berusaha. Tapi Bunda harus yakin-, setinggi apapun Suci pergi, sejauh- apapun, suatu hari nanti, Suci pasti kembali.... Kembali- ke tempat di mana Suci berasal. Itu- janji Suci. Janji bunga Dandelion...."

"Bunda mau Suci sembuh...." Dia terisak. Membiarkan gumpalan awan kelam merayap pelan di atas kepala kami dan menambah kesan sendu yang tak terungkapkan dengan kata-kata. "Bunda mau Suci ada di sisi Bunda selalu...."

Aku tersenyum. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku saat itu. Juga masih dalam diamku saat melihat sosok tua itu melangkah limbung dari kejauhan, merapatkan becak tuanya, dan tergesa-gesa menghampiriku yang terduduk di depan pintu rumah bersama Bunda.

"Suci- nggak pernah berhenti berjuang. Sesulit apapun- hidup Suci...." desahku. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Karena itu, Ayah dan Bunda- juga nggak boleh menyerah...."

Ayah mengecup keningku. Dengan kecupan yang lama dan dalam. Kurasakan ada air mata yang jatuh menyentuh pipiku. Air mata Ayah.

"Pergilah, Nak. Kalau sudah tak tahan, pergilah...." Dia berbisik lembut di telingaku. Menyiramiku dengan ketenangan yang tiada terbatas. "Ayah dan Bunda akan baik-baik saja. Kalau kamu juga baik-baik saja...."

Lalu suara tangisan terdengar bersahut-sahutan. Kurasakan rasa lelah yang begitu dahsyat menyeretku pada sensasi kehangatan tiada tara. Tiba-tiba saja kesakitan yang menggerayangiku selama sekian bulan ini lenyap tanpa sisa.

Kupejamkan mataku rapat-rapat. Berusaha terlelap dalam tidur yang panjang.

'***

Wanita berambut putih itu melangkah mondar-mandir. Kepanikan tersirat jelas di wajahnya. Peluh-peluh saling berlomba membanjiri tubuhnya. Sesekali dia mengaduh kebingungan dan mengerjapkan matanya dengan gelisah.

"Air hangat. Sebaskom lagi." perintahnya.

Seorang laki-laki yang sudah berusia enam puluh tahun yang berdiri tak jauh darinya tampak sepuluh kali lebih panik. Terseok-seok dia melangkah dan menuangkan air hangat yang sudah disiapkannya sedari tadi ke dalam sebuah baskom besar.

"Sudah kubilang. Dia harus dibawa ke rumah sakit." Ibu tua itu menggerutu. Tangannya yang penuh darah terlihat sibuk sekali. "Istrimu sudah lima puluh dua tahun. Dia sudah terlalu tua untuk melahirkan secara normal. Tenaganya sudah lemah. Dia bisa kehabisan darah karena pendarahan."

"Kami tidak punya uang untuk ke rumah sakit." Laki-laki itu memindahkan baskom berisi air hangat itu ke samping si ibu berambut putih.

"Ayo, mengejan." perintahnya lagi. Dicelupkannya sebuah handuk hangat ke dalam baskom yang baru disodorkan ke sampingnya.

Aku mengamati wanita lain yang berusia setengah abad itu terbaring dan mengerang kesakitan dalam kebisuanku.

"Dia kesulitan." Suara si ibu tua itu terdengar lagi. "Kurasa dia benar-benar harus dibawa ke rumah sakit. Persalinannya tidak bisa mengandalkan seorang bidan kacangan sepertiku."

"Aku bisa...." desah wanita itu. Si ibu berambut putih meliriknya. "Aku pasti bisa.... Sesulit apapun, akan kulahirkan anak ini...."

"Kau bisa kehilangan nyawamu." Dia memelototi wanita itu dengan garang.

"Kalau kau harus memilih... antara aku dan bayiku, jangan ragu, untuk memilihnya...."

Pasrah, ibu tua itu menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Akhirnya dia memerintahkan beberapa kali kepada wanita yang tengah terbaring itu untuk terus mengejan dan mengambil nafas secara berkala.

Kuamati paras ketiga sosok dengan berbagai ekspresi di hadapanku itu dan membiarkan sekelebatan pertanyaan menari-nari di kepalaku.

Ulang tahun.

Sudah mengertikah kau apa makna dari ulang tahun itu sendiri? Kurasa banyak dari antara kita yang sudah melupakan apa arti sebenarnya dari dua patah kata itu.

Seringkali dalam hidup kita, masing-masing dari kita terlalu sibuk dengan apa yang harus dilakukan untuk merayakan pesta ulang tahun yang semeriah mungkin. Namun jika kau berdiri di tempatku berdiri dan melihat apa yang tengah kulihat detik ini, kau mungkin baru bisa memahami perasaan macam apa yang sedang melumatku saat ini.

Ulang tahun ternyata bukan bicara mengenai kado apa yang akan kau terima, bukan mengenai sepiring mie panjang umur, kue ulang tahun dengan lilinnya, atau nyanyian selamat ulang tahun dari orang-orang yang kau harapkan ada untuk menemanimu.

Bukan....

Ulang tahun ternyata hanya sebuah hari yang istimewa di mana seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih dengan segenap hati, bahwa ada malaikat yang begitu mulia yang diutus Tuhan untuk menitiskanmu ke dunia ini. Wanita yang bersedia merenggang nyawanya. Merintih di antara perih dan kesakitan. Yang dengan tulus mengerahkan seluruh tenaga dan semua yang dimilikinya agar kau terlahir dengan sempurna di matanya.

Semua yang dimilikinya. Dikerahkannya bagimu.

Hanya untuk melihatmu bernafas. Demi sekedar mendengar tangisan rewelmu....

Aku melayangkan pandanganku. Menatap wanita yang terbaring itu sekali lagi. Dengan rasa haru yang menyusup penuh dalam seluruh rongga di dadaku.

"Sudah lahir." Ibu berambut putih mengendikkan bahu kanannya dan mengelap bulir keringat yang turun dari dahinya. Tangannya mengangkat sesosok bayi mungil dengan hati-hati. "Perempuan."

"Tapi tak bernafas." katanya lagi. Menggantikan kebahagiaan yang sesaat tadi sempat melumuri wajah wanita dan laki-laki tua itu. Dia menepuk-nepuk pantat bayi kecil itu dengan cemas.

Senyum tipis teruntai di bibirku. Merasa sangat lega karena aku tahu sebentar lagi akan segera tiba saatnya. Saat di mana aku akan menggenapi janjiku dulu.

Kuremas buku-buku jariku sambil memejamkan kedua mataku dan jelas merasakan tubuhku dialiri perasaan yang sehangat matahari senja. Tak lama kemudian, sekujur tubuhku terasa tersedot. Laksana ada medan magnet raksasa yang menarikku untuk masuk ke dalam boneka mungil dalam gendongan ibu tua yang baik hati itu. Tubuhku berubah menjadi serpihan yang berkilau dan melayang masuk ke atasnya.

Lalu bayi itu menangis.

Suaranya basah menggema. Meruntuhkan dinding ketegangan yang mewarnai paras ketiganya.

"Akhirnya...." Ibu tua itu berseru dengan nada ceria. Senang sekali seperti anak kecil mendapat permen. "Bayi perempuan yang cantik. Lahir tanggal 15 Desember. Manis seperti gula. Sudahkah kalian memikirkan nama untuknya?"

"Dandelion...." Suara wanita yang selalu kupuja itu terdengar perlahan di antara isak tangis yang menggaung. "Aku akan menamainya: Dandelion. Sebab dia yang pergi, kini telah kembali lagi ke tempatnya berasal...."

Kemudian kurasakan kesadaranku perlahan-lahan mulai menghilang. Namun masih dapat kurasakan kenyamanan yang menyelimutiku. Terlebih lagi ketika sepasang tangan yang begitu lembut itu menyambutku dalam dekapannya.

"Selamat datang, Dandelion kecilku...." Suara itu mendesah. Suara yang kukenal. Suara Bunda.

Kugelinjangkan tubuhku dengan manja.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Samar-samar suara di sekelilingku memudar. Kepingan-kepingan ingatan masa laluku tentang Ayah dan Bunda seakan ditarik keluar dengan paksa dari benakku.

Terima kasih telah melahirkanku, Bunda....

Aku mau berkata-kata, tapi tak bisa. Hanya suara tangis yang terus terdengar.

Tangisanku.

'***

Apa kau mengenal bunga dandelion? Mungkin dia cuma bunga kecil yang tumbuh di pinggir jalan dan tak pernah menarik perhatianmu. Tapi tahukah kau, dia bunga yang tegar?

Dia. Si topi putih yang lemah. Yang nyaris terlupakan di antara semarak warna-warni bunga lain yang jelita. Namun dia tak kenal kata menyerah. Meskipun diterbangkan angin tak tentu arah, jatuh di tanah yang gersang, di tepi jalan berbatu, dihimpit semak berduri, tapi dengan tegar, dia akan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup.

Dia tak pernah berhenti berusaha. Tujuan hidupnya hanya satu. Setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti, sejauh apapun dia telah pergi, dia akan kembali.

Dia akan kembali lagi ke tempat dari mana dia berasal. Dia pasti kembali. Untuk berterima kasih.

Itu janjinya.

'***.

Life

0 komentar

Apa kamu tahu apa arti hidup? Kalau kamu tidak tahu apa arti hidup sebenarnya, jangan coba jawab pertanyaanku.

Dengan langkah limbung kuseret kedua kakiku menyusuri jalan setapak yang tersembunyi di antara rerumputan hijau yang terhampar luas di hadapanku. Angin bertiup kencang, memainkan anak-anak rambut hingga jatuh ke dahiku. Matahari belum menyembul dari balik peraduannya, hanya semburat langit jingga yang muncul malu-malu dari balik bukit. Kubiarkan angin pagi menampar-nampar pipiku dan hawa dingin merasuk masuk sampai ke tulangku.

Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Mataku yang menerawang dengan hampa berhenti di satu titik. Batu nisan itu kokoh berdiri di hadapanku. Kuhentikan langkahku dan membungkuk. Dengan buku-buku jariku yang memucat, kusentuh nama yang terukir di batu nisan itu. Gesekan batu-batu kasar yang dingin itu menyakiti kulit tanganku ketika kutekan, tapi sama sekali tak kuhiraukan.

Lama aku termenung sebelum pada akhirnya detik ketika tawaku pecah, detik itu pulalah air mataku mengalir.

***

Aku benci Ayahku. Aku benci ibuku. Aku benci adikku. Aku benci orang-orang di sekitarku. Aku benci semua yang ada di dunia ini. Semuanya. Tak terkecuali diriku sendiri.

Ibu meninggalkanku ketika dia melahirkan Dania, adikku satu-satunya, setelah mengalami pendarahan yang hebat. Dania yang lahir dalam kondisi lemah jantung, menyita habis semua perhatian Ayah padaku. Ayah tidak pernah lagi peduli padaku. Semua perhatiannya hanya dicurahkan pada Dania seorang. Benda-benda kesayanganku diberikan pada Dania ketika dia merengek menginginkannya. Ayah tidak pernah datang ketika dalam pengambilan raport aku mendapat juara 1 di kelas. Tidak datang ketika aku memenangkan lomba melukis di sekolah. Juga tidak pernah datang ketika guruku mau membicarakan penyerahan beasiswa padaku. Dia tidak peduli padaku. Sama sekali.

Setiap kali aku berusaha menarik perhatiannya dengan cara menonjolkan diriku di semua bidang pelajaran dan memamerkan angka-angka yang luar biasa gemilang hampir di semua kertas ujianku, dia cuma mengibaskan tangannya dan hanya selalu memperhatikan Dania sepulang kerja. Apakah Dania demam? Apakah Dania ada mengeluh sakit? Apakah Dania sudah makan?

Aku muak. Muak dengan semua perhatiannya yang berlebihan pada adikku. Dia tidak tahu, kalau aku juga membutuhkan sedikit perhatiannya. Aku juga ingin dicintai. Seperti dulu. Ketika Dania belum muncul di kehidupanku dan memporak-porandakan semuanya.

Aku benci ibuku memilih melahirkan Dania padahal dia tahu hal itu akan membahayakan nyawanya. Aku benci Ayahku karena dia menumpahkan seluruh hidupnya hanya untuk putri bungsunya. Aku benci adikku karena dia mengacaukan semua kehidupanku. Aku benci teman-temanku ketika mereka selalu mengejek Ayahku adalah seorang laki-laki yang tidak baik karena dia tidak pernah muncul di segala situasi. Aku benci hidupku.

Tahun demi tahun kulewati dengan perjuangan berat yang tidak dapat kujelaskan dalam untaian kalimat. Aku merasa tertolak. Semua yang kulakukan di hadapan Ayah tidak pernah mendapat lirikan. Padahal aku hanya ingin dia melihatku dan tersenyum padaku seperti dulu, ketika Dania belum hadir dalam kehidupan kami. Tapi Ayah bahkan tidak pernah menoleh padaku sekalipun. Dia mengacuhkanku seakan-akan aku hanya bayangan di matanya.

Sudah tujuh tahun berselang dan inilah aku sekarang. Usiaku lima belas tahun. Aku tetap diriku yang dulu. Gadis kuper yang selalu meraih nilai pelajaran tertinggi di semua bidang pelajaran. Masih gadis yang sama yang menyabet semua piala di setiap ajang perlombaan yang kuikuti di dalam dan di luar sekolah. Tapi juga masih gadis yang sama dengan pendar harapan yang masih sama pula. Aku ingin Ayah memandangku sekali saja. Walau aku harus menukarkan semua yang kumiliki untuk mendapatkannya.

Dan saat yang kunanti itu tiba. Siang itu sepulang sekolah, sewaktu aku mendapati Dania mengerang kesakitan di ranjang kamarnya, hatiku bersorak kegirangan. Mungkin kedengarannya kejam. Tapi begitulah adanya. Ketika sekian tahun aku tidak bisa mencabut duri dalam daging yang membuat sekujur tubuhku kesakitan, rasanya ini adalah masa-masa paling indah yang pernah hadir dalam hidupku setelah sekian lama aku terkurung dalam kesendirianku yang tidak pernah usai.

Aku menatap wajah Dania yang pucat pasi dan bertabur peluh. Keningnya berkerut menahan sakit yang kelihatan luar biasa sampai nafasnya memburu. Aku tersenyum tawar. Akan kubiarkan dia mengerang kesakitan sampai akhirnya malaikat maut merenggut nyawanya. Setelah itu perhatian Ayah selama ini akan kembali padaku. Kulihat tangan kiri Dania menggapai-gapai di udara sementara matanya membelalak lebar dan tangan kanannya menekan dada kirinya kuat-kuat.

Sebentar lagi. Sebentar lagi penderitaanku dan penderitaannya akan berakhir.

....

Lima detik.

Lima belas detik.

Satu menit.

Ahhh. Lama sekali.... Dania masih bernafas. Dan aku kesal mengakui kalau kemungkinan lagi-lagi dia akan terselamatkan.

"Ya, ampun! Non Dania!!!" pekik seseorang yang muncul tiba-tiba dari balik pintu kamar Dania. Aku menoleh dan mendapati Bi Umi langsung berhambur di samping pembaringan Dania tanpa mengacuhkanku yang sejak tadi berdiri di sana, membongkar-bongkar isi laci di samping ranjangnya, mengeluarkan beberapa botol obat dengan panik, mengambil beberapa butir, dan langsung menaruhnya ke dalam mulut Dania. Sama sekali tidak peduli apakah Dania bisa menelannya atau tidak.

Aku mengepalkan tanganku dengan marah. Dalam hati aku berharap semoga saja Dania sudah terlalu lemah dan tidak mampu menelan obat yang diberikan padanya itu. Namun nyatanya aku keliru. Ayah tiba tidak lama kemudian setelah Bi Umi menelepon dan mengabarinya soal keadaan Dania, kemudian secepat kilat langsung melarikan Dania ke rumah sakit terdekat.

***

Lebih dari dua jam aku melihat wajah Ayah yang duduk dengan gelisah di salah satu kursi di depan ruang operasi yang memisahkan kami dengan Dania. Aku duduk selang satu kursi di samping Ayah. Mengamati wajahnya dalam diam. Menautkan sepasang alisku ketika melihat air mata menggenang di kedua matanya yang ternyata sudah dipenuhi kerutan. Entah sudah berapa lama aku tidak menatapnya sedekat ini. Aku mencintai Ayah. Aku ingin memeluk dan menggelayut manja di tangannya seperti dulu. Tapi keberanianku tidak ada. Aku takut Ayah menepisku seperti yang biasa dilakukannya jika aku berada terlalu dekat dengannya.

Tanganku yang gemetar bergerak hendak menyentuh punggung tangan Ayah. Dan ketika kulit tangan kami hampir bersentuhan, seketika saja Ayah bangkit berdiri dan langsung melarikan langkahnya ketika pintu operasi terkuak dan Dokter Bondan muncul dibaliknya. Dokter Bondan-lah yang menjadi dokter pribadi Dania sejak dia lahir.

"Bagaimana Dania?" Kulihat bibir Ayah bergetar panik. Diguncangkannya bahu Dokter Bondan dengan gelepar ketakutan yang luar biasa.

"Keadaannya kurang baik." Dokter Bondan menggeleng lemah. "Saya rasa waktunya tidak akan lama lagi. Lebih baik kalian mempersiapkan diri."

"Tidak mungkin!" sergah Ayah sengit. Entah kepada siapa. "Dania tidak boleh meninggal. Tiara telah meninggal untuk mempertahankannya. Dia tidak boleh meninggal."

"Terimalah kenyataan kalau keadaan Dania memang sudah lemah sejak dia lahir." Suara Dokter Bondan terdengar bijaksana. "Tidak ada hubungannya dengan Tiara. Istrimu yang telah memilih untuk tetap melahirkan Dania sekalipun nyawanya memang terancam. Dia tahu, kalau hidup dan mati bukan manusia yang mengaturnya...."

"Apa yang bisa kulakukan agar Dania selamat?" tanya Ayah dengan pandangan nanar. Bisa kubaca kekalutan yang membasahi suaranya yang serak. "Akan kulakukan apa saja agar Dania bisa selamat."

Sekali lagi Dokter Bondan menggeleng lemah.

"Cuma cangkok jantung yang bisa menyelamatkannya. Untuk mendapatkan pendonor yang cocok, membutuhkan waktu yang lama, sementara Dania tidak akan bisa bertahan melewati hari ini. Keadaannya sudah sangat kritis."

Kulihat Ayah melepaskan tangannya dari bahu Dokter Bondan. Tak sepatah katapun lagi yang meluncur dari mulutnya. Cuma air matanya yang tiba-tiba meluap bagaikan bendungan yang rubuh. Dikepalkannya tangannya hingga urat-urat di tangannya bermunculan. Dia meninju dinding rumah sakit dengan sekuat tenaganya, meraung, kemudian berlalu begitu saja.

Dalam keadaan tersihir karena tidak menyangka Ayah akan sedemikian terpukulnya bila kehilangan Dania, mataku tertumbuk pada darah segar yang menghiasi dinding rumah sakit itu. Darah Ayah. Darah yang dialirkannya untuk Dania.

Aku memejamkan mataku sesaat lalu bangkit dan mendekati Dokter Bondan. Kutarik jubah putihnya dan kupandangi dia sebelum akhirnya berkata.

Aku yakin, sebentar lagi Ayah pasti akan memperhatikanku.

***

Kalau dulu kukira aku akan membenci semua hal dalam kehidupanku, nyatanya aku salah besar. Karena tatkala aku melihat Ayah memegang tanganku seraya menangis begitu hebatnya dan memeluk tubuhku dengan erat, aku tahu pasti cintanya padaku tidak kalah besar seperti cintanya pada Dania. Aku merasa tersanjung. Merasa ada rasa bahagia yang nyaris membuatku meledak tak percaya. Terlebih lagi ketika kudengar bisikkan Ayah yang begitu lembut menyapu gendang telingaku. Tiga patah kata yang tidak akan pernah bisa kulupakan biar bagaimanapun juga.

"Ayah sayang Vania...."

Kupejamkan mataku dan merasakan kehangatan yang menyelimuti setiap sel di seluruh tubuhku.

Vania juga sayang Ayah....

***

Dengan langkah limbung kuseret kedua kakiku menyusuri jalan setapak yang tersembunyi di antara rerumputan hijau yang terhampar luas di hadapanku. Angin bertiup kencang, memainkan anak-anak rambut hingga jatuh ke dahiku. Matahari belum menyembul dari balik peraduannya, hanya semburat langit jingga yang muncul malu-malu dari balik bukit. Kubiarkan angin pagi menampar-nampar pipiku dan hawa dingin merasuk masuk sampai ke tulangku.

Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Mataku yang menerawang dengan hampa berhenti di satu titik. Batu nisan itu kokoh berdiri di hadapanku. Kuhentikan langkahku dan membungkuk. Dengan buku-buku jariku yang memucat, kusentuh nama yang terukir di batu nisan itu. Gesekan batu-batu kasar yang dingin itu menyakiti kulit tanganku ketika kutekan, tapi sama sekali tak kuhiraukan.

VANIA HADIWIJAYA

Lama aku termenung sebelum pada akhirnya detik ketika tawaku pecah, detik itu pulalah air mataku mengalir. Bukan air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia. Air mata kelegaan. Setidaknya dalam hidupku yang selama ini kukira tidak pernah berarti bagi orang lain, aku telah melakukan hal yang berharga bagi seseorang. Aku telah mempersembahkan kehidupan baru bagi Dania. Lewat jantung yang kudonorkan padanya.

Kulempar ingatanku pada waktu aku menarik jubah Dokter Bondan dan memohonnya dengan teramat sangat untuk mengambil jantungku untuk adikku. Adik yang selama ini kukira selalu kubenci, namun ternyata sekaligus sangat kucintai. Dokter Bondan membelalakkan matanya dan menasehatiku untuk tidak lagi berpikir akan hal itu, tapi tekadku sudah sebulat purnama. Aku pulang ke rumah saat itu, dan anak yang telah berusia lima belas tahun sepertiku, tahu betul apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri hidupku. Aku masuk ke dalam kamar Ayah, mencuri beberapa pil tidur yang kutahu sering ditenggak Ayah diam-diam, menulis pesan singkat bahwa aku akan mendonorkan jantungku untuk Dania, kemudian berbaring di atas ranjangku, membiarkan luka sayatan di tangan kiriku terus mengalirkan darah, sedangkan tangan kananku terkepal memegang secarik kertas.

Yang kutahu saat itu, aku mencintai Ayah. Aku mencintai Dania. Kalau dengan berbuat seperti ini, mereka bisa hidup dengan bahagia, aku akan melakukannya dengan ikhlas.

Dan aku tahu aku tidak keliru. Ketika Ayah membisikkan bahwa dia menyayangiku, aku tahu aku telah mendapatkan apa yang selama ini kuharapkan dalam hidupku. Rantai yang membelenggu hidupku sekian tahun ini seakan terputus begitu saja.

Apa kamu tahu apa arti hidup? Kalau kamu tidak tahu apa arti hidup sebenarnya, jangan coba jawab pertanyaanku. Karena hidup ternyata adalah sebuah hal yang sederhana. Hidup itu sendiri adalah anugrah. Orang-orang di sekelilingmu adalah berkat. Hidup itu indah, jika kamu memandangnya dengan cara yang indah. Bagiku, hidupku sendiri adalah suatu mukjizat yang luar biasa.

Sinar matahari mulai menelusup dari antara gumpalan-gumpalan kapas putih di langit, menyiramiku dengan kehangatan yang tak dapat kujelaskan. Mataku masih terpaku pada ukiran nama di batu nisan itu, sebelum akhirnya kulihat ada cahaya terang di ujung jalan sana yang seakan menarik perhatianku untuk mendekatinya. Aku bangkit, menggerakkan kakiku dan melangkah tanpa rasa ragu, masih dengan senyum yang tidak akan pernah pudar dari bibirku.

Ibu, Vania akan segera bertemu dengan Ibu lagi....

Kenangan di Album Foto

1 komentar

Kupandangi tumpukan album foto itu. Album-album foto yang sudah usang, termakan usia. Yah! Usang namun tetap terjaga rapi. Dengan sampulnya yang masih terlihat keapikannya, dengan setiap lembarannya yang sudah menguning menandakan usia album itu, album-album itu terlihat seperti benda kuno
bersejarah yang terawat dengan sempurna. Namun apabila kalian perhatikan dengan seksama dan cermat, album-album itu semakin sempurna dengan kehangatan yang memancar disetiap lembarannya, karena di setiap ujung lembarannya terdapat tekukan-tekukan halus, tanda album itu telah sekian kali dibuka dengan kasih sayang oleh pemiliknya terdahulu, yang tidak lain tidak bukan, adalah ibuku.

*******
Kuingat-ingat lagi masa kecilku. Aku bukanlah seorang anak yang termasuk dalam kategori dapat dibangga-banggakan, tidak seperti kakakku yang mempunyai segudang prestasi, tidak seperti kakakku yang mempunyai wajah cantik mengikuti garis wajah ibuku. Aku? Aku hanyalah NOL! Aku tidak pintar. Tidak juga cantik. Wajahku mengikuti wajah almarhum Bapakku, yang keras, bukan Ibuku. Mulanya, aku tidaklah menaruh perhatian sama sekali terhadap hal itu, terhadap kata-kata kerabat-kerabat yang sering bertandang ke rumah, terhadap teman-teman pria yang selalu membandingkanku dengan kakakku, karena ibu tak henti-hentinya menguatkan hatiku dengan berkata ‘Tidak apa-apa, yah jangan kamu pikirkan apa kata orang, Na. Kamu punya kelebihan, yang tidak dimiliki kakakkmu.’

Kata-kata dari ibuku sudah menjadi pedomanku dalam menjalani hidup. Namun, sungguh bodoh diriku percaya kata-kata itu untuk bertahun-tahun lamanya, hingga pada akhirnya kekuatan kata-kata itu musnah, ketika seseorang yang sangat kusukai memanfaatkanku untuk mendekati kakakku, kata-kata itu tidaklah lagi bermanfaat layaknya obat yang menenangkan, malah sebaliknya, sebagai racun yang menggerogoti hatiku.

Hatiku rapuh, hari demi hari. Perbandingan yang selalu kuterima, dan tatapan tidak percaya dari orang-orang kalau aku adalah adik dari Rena, seorang putri yang lebih dalam segala hal, sikap, perilaku, dan tentunya paras, justru semakin membuat hatiku jatuh ke lubang kelam yang semakin lama, semakin dalam, mengikis setiap saat.

Kuingat enam tahun yang lalu, saat aku berumur 22 tahun, aku melarikan diri dari rumahku, karena lelah dibanding-bandingkan dengan kakakku, walau bukanlah ibu yang membandingkanku. Aku muak dengan semua itu, Aku juga muak dengan ibu, walau sampai sekarang aku tidak begitu jelas apa alasanku hingga muak pada ibuku sendiri. Mungkin karena ibu selalu berusaha menguatkanku padahal kenyataannya aku memanglah NOL, aku tidak punya hal yang dapat kubanggakan.

Aku pergi dari wilayah amanku, Solo, ke Jakarta, daerah yang penuh dengan hingar-bingar dunia malam, daerah yang ramai akan kejahatan. Sudah setiap kali ibu mengingatkanku kalau Jakarta adalah tempat dimana banyak terdapat kejahatan. Tapi hal tersebut tidak lantas menyurutkan keteguhanku untuk kabur dan merantau ke Jakarta. Kupikir dengan pergi ke Jakarta, aku akan mendapatkan tempat untuk diakui, memberitahu kepada dunia kalau diriku itu penting, bukan nol lagi, namun terrnyata hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi aku bukan seorang yang pintar. Bertahun-tahun aku bekerja serabutan, seperti part-time menjadi cleaning service dan sebagainya, sampai suatu ketika, ada seorang laki-laki yang menawari pekerjaan sebagai model kepadaku, kupikir inilah titik terangku, dimana aku akan memulai karirku yang gemilang. Kuiyakan begitu saja! Tidak lagi kupedulikan segala masalah, yang terpenting aku menjadi seorang model. Segala yang kupunya, mulai dari harta sampai kehormatanku telah kuberikan kepada lelaki itu, lelaki yang pernah menawari pekerjaan model kepadaku. Kutunggu berbulan-bulan kabar akan pekerjaan baruku sebagai model, namun tak kunjung datang. Baru kutahu kalau semua itu hanyalah bohong belaka, aku tidak menjadi model, apalagi lelaki itu juga tidak lagi menghubungiku, aku telah dibuang. Tidak ada yang tersisa padaku, pekerjaanku sebagai model yang memang tak pernah ada, yang paling parah adalah tidak adanya harga diri dan kehormatan yang tersisa ditubuhku ini. Hatiku hampa. Pernah kakakku menelepon dari Solo, menanyakan kabarku, memintaku agar pulang karena ibu begitu rindu padaku, tapi pertanyaan dan permintaan itu tidak pernah kujawab karena gengsi untuk kembali, malu bertemu kerabat, malu bertemu kakak, apalagi malu bertemu ibu.

Akupun kembali bekerja serabutan di Jakarta, menjadi waitrees dan sebagainya, hingga untuk beberapa saat aku tidak memikirkan apa-apa, hanyalah pekerjaan sederhana seperti inilah yang ada di kepalaku, karena pekerjaan-pekerjaan seperti itulah yang dapat membekali kehidupanku di Jakarta walau hanya cukup untuk memberiku makan. Sampai suatu ketika kakakku kembali menelepon dari Solo. Isi teleponnya sama seperti teleponnya terdahulu, memintaku untuk kembali ke rumah, hanya saja dengan alasan yang berbeda. Ibu meninggal!

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian ibu ketempat yang tidak dapat kujangkau dan semenjak kedatanganku ke Solo. Tidak seperti kakakku dan kerabat-kerabat lainnya, aku tidak menangis sebegitu parah saat peti ibu dimasukkan ke liang kubur untuk selama-lamanya. Dan aku sekarang masih ada di Solo, menyiapkan keberangkatanku untuk kembali ke Jakarta di tengah hari yang hujan ini. Tapi di tengah bebenah untuk kepulanganku, kakak menghampiriku.
“Ratna, ini! Ibu menitip ini untukmu. Aku tak pernah tahu isinya, yang kutahu Ibu selalu melihat ini dengan penuh kasih sayang sambil menangis,” kata Kakakku memberikan album-album itu sambil menangis. Dan Iapun pergi.
******
Kubuka album itu satu demi satu. Sejarah kehidupanku seperti diputar, dari semenjak aku anak-anak hingga remaja. Banyak kenangan-kenangan yang kulupakan tentang ibu yang selalu ada disampingku tapi terekam dengan baik di album-album itu. Tak terasabulir-bulir air mata jatuh dari kelopak mataku. Kulanjutkan membuka lembaran-lembaran itu. Semakin aku membuka lembaran itu, semakin dalam pula tangisku. Sampai di akhir album foto itu terdapat sebuah surat yang ditujukkan untukku dari Ibu. Isinya sungguh membuatku menyesal akan segala tindakan bodoh yang kuperbuat selama ini.

Untuk : Ratna
Ratna, apa kabarmu? Mungkin ketika kamu membaca surat ini, Ibu sudah tidak ada disampingmu, Ibu sudah tidak bisa menemani kamu lagi. Ibu sungguh minta maaf Ratna, Ibu tidak mempunyai umur yang panjang, maaf karena Ibu bukanlah Ibu yang baik, Ibu tidak bisa memberi kekuatan padamu untuk menjalani hidup ini, Ibu minta maaf atas segala bandingan yang kamu terima karena Kakakmu. Ibu sungguh minta maaf Ratna. Ibu tahu pasti berat bagimu, Ratna, untuk tinggal seorang diri, apalagi Jakarta bukanlah pilihan yang mudah. Pasti banyak masalah yang terjadi padamu Ratna. Tapi betapa beratnya masalah itu hingga membuatmu terjatuh, Ibu akan tetap berada disini menunggumu berpaling pada Ibu. Kembali kepada Ibu. Ibu menunggumu dengan tangan terbuka lebar, menunggumu menceritakan segala yang menimpamu, menunggu tangisan atas teriakan hatimu yang telah lama kamu pendam. Mungkin Ibu bukanlah siapa-siapa yang dapat menghapuskan masalah itu, tapi Ibu berharap Ibu dapat meringankannya. Ibu rindu kamu dan sayang kamu, Ratna. Mungkin kamu sudah bosan mendengar ini, tapi kamu mempunyai kelebihan yang tidak kakakmu miliki. Percayalah itu, Ratna. Ratna, Ibu sudah tidak sanggup lagi untuk menulis lebih lanjut. Mungkin kita bisa berbincang nanti, Ibu sangat mengharapkan itu, walau bukan saat ini. Lanjutkan hidupmu Ratna, Ibu selalu mendukungmu dan menyayangimu.

Surat itu membuatku menangis semakin dalam di dalam kesendirianku. Pernah kuberpikir, kehampaanku disebabkan oleh kehormatan dan harga diri yang telah direnggut orang lain, tapi ternyata aku salah. Kehampaan ini disebabkan karena ibu tidak ada di sisiku.
“Maafkan aku Ibu, aku anak durhaka. Yah, kita akan berbincang nanti di sana setelah aku melanjutkan hidupku untuk menjadi lebih baik, entah di Solo maupun di Jakarta. Dan walau aku tak pernah mengatakan ini kepadamu, aku ingin sekali kau mendengar kataku ini disana, di tempat yang kuyakini tempat terbaik untukmu, ibu yang paling baik,” kataku kepada surat itu.
Akupun bangkit ke arah jendela dan membukanya.
“AKU JUGA SAYANG KAMU, IBU!” teriakku kepada langit yang menampakkan pelangi sehabis hujan itu.

Naif Tentang Cinta

0 komentar

Script 1
Seperti mentari yang menerangi malam dan bulan yang menggantikan surya di siang hari, aku bingung. Ketika semua orang bicara dan mengakui bahwa cinta itu luar biasa dan memiliki pacar yang menyayangi kita adalah impian, aku hanya gigit jari sendiri karena tak mengerti. Oke. Bahkan makna pacaran itu apa dan apa yang biasa mereka lakukan ketika pacaran saja aku tidak mengerti. Dan plak! Kak Sri memukul punggungku seperti biasa, rusuh, mengagetkan semua orang. “Mikirin apaan sih?” Sebelum aku sempat menjawab, dia langsung menarik tanganku dan memutar tubuhku sehingga aku berada di depannya. Lalu dengan enaknya mendorongku sambil menuruni tangga. Terima kasih, pasangan praktekku, karena Kakak, turun tangga rasanya seperti terbang.

Script 2
Dan seperti petir yang menyambar langsung kedua mataku, aku jadi buta seketika dan seluruh tubuhku gemetar karena sengatan listrik yang tak terduga, kamu datang secara tiba-tiba. Sayangnya, jarak ratusan kilometer memisahkan kita. Jujur, aku senang kalau kamu muncul di kotak obrolan di facebook dan agak menyesal ketika tahu bahwa kamu sempat menyapaku tapi karena aku terlalu asyik berselancar di situs lain, kamu sudah offline. Yah, awalnya hanya sebatas itu dan kenangan bahwa di masa lalu kita pernah punya cerita. Tapi aku nggak pernah membayangkan kalau akhirnya seperti ini.
“Biasa dia mah kayak gitu,” aku mendengar Yati bicara pada Yusni. “Udah diemin aja. Selama dia nggak teriak-teriak kayak orang gila, biarin aja.”

Script 3
Entah kenapa, rasanya menyenangkan sekali berada di sekeliling orang yang tersenyum kepada kita. Tertawa bersama. Menikmati hidup di antara masa-masa sulit kuliah dan berbagi kebersamaan. Jika dibayangkan, layaknya azalea yang indah bergabung dengan kastuba muda dan bunga matahari yang cerah. Aku nggak tahu kalau orang bilang seperti itulah yang namanya jatuh cinta. Tapi yang jelas, meskipun aku melakukan kesalahan paling fatal di hari itu, suasana hatiku tetap baik-baik saja. Meski aku nggak tersenyum terus-menerus seperti orang yang sakit jiwanya, aku tahu kalau aku senang.
“Cerianya nggak kayak biasanya deh. Kesetanan atau kenapa lu, Mbak?” komentar mereka yang tak mengerti. Dan kakak Sri-ku yang iseng dengan senangnya menzalimiku, semakin menjadi-jadi, karena aku menikmati keisengannya tapi nggak membalasnya.
“Stresss!” desah Kak Sri kesal sendiri karena aku tak berkutik tapi malah memandanginya dengan tatapan menang.

Script 4
Lagi-lagi, seperti bumi ada di langit dan langit ada di bumi, aku bingung. Kamu menganggap aku sebagai pacar kamu. Pacar kamu! Padahal aku nggak ngerti tugas aku sebagai pacar kamu itu apa. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu nggak bosan sama aku dan sebagainya. Karena aku memang belum pernah pacaran. Mungkin pernah sekali dan itu hanya permainan belaka. Tapi yang dulu kan beda! Sedangkan kamu? Entahlah berapa banyak mantanmu tapi yang pasti kamu lebih tahu tugas seorang pacar itu apa untuk pacarnya? Aku menunggu kabar kamu, tapi kamu belum juga mengabari. Aku mau mengabari, tapi pulsaku hanya nol. Jadi? Jadinya aku bingung. Lalu, ketika kamu telepon aku, aku sering sekali heran, apa sih yang biasanya orang-orang bicarakan ketika sedang berpacaran? Terus-terang, aku seperti seorang zaman purba yang masuk ke zaman modern dan menggunakan mobil tiba-tiba, bingung, benda apa ini dan apakah harus kugunakan karena aku tak tahu guna dari benda besar konyol yang bisa bergerak. Karena itulah, perasaanku selalu bilang, kamu pasti bosan padaku karena memang kenyataan, aku ini membosankan. Sayang sekali, naif.
“Kok sekarang diem? Kemarin sumringah aja deh kayaknya,” Yusni mengamati wajahku sambil menjilati Magnum.

Script 5
Waktu berjalan demikian cepat tanpa terasa, seperti angin. Aku pulang dan kita bertemu. Aku canggung melihat kamu. Ternyata kamu tetap yang dulu, dengan tubuh kurusmu yang khas dan rambut ikalmu yang sedikit gondrong. Dan di saat seperti itu, aku kumat, aku bingung, aku... sama sekali tak tahu harus apa yang aku lakukan. Jadilah aku seonggok patung bodoh. Dan kamu malah tersenyum. Kupikir mungkin kamu juga bingung pada diriku yang konyol ini. Lalu kamu mengajakku makan malam bersama, di warung tenda pinggir jalan, menikmati kwetiau dan dengan... canggung. Pada saat itu, aku tahu, kamu melirikku lewat sudut matamu, kemdian tangan kananmu melayang menyentuh sudut bibirku. Secara refleks, kutampik tanganmu. Well, menurutku itu terlalu aneh karena persis seperti yang ditunjukkan di televisi. Apakah memang harus begitu? Baiklah, lagi-lagi kuakui kalau aku nggak biasa. Selama liburanku di rumah, aku menghabiskan waktuku denganmu. Dan jujur, aku kaget, darahku mendidih seketika ketika kamu menyentuh tanganku pertama kali. Ketika kamu memaksaku berpegangan erat ketika aku duduk di belakangmu saat kamu mengantarku pulang. Di saat kamu mengecup kepalaku pertama kali. Haruskah seperti itu? Aku... masih belum terbiasa. Seperti renjatan yang mahadahsyat ketika kamu mengecup pipiku dan sudut bibirku. Aku tahu apa yang kamu pikirkan tapi menurutku itu terlalu jauh dan... ya! Aku tidak terbiasa. Aku terdiam bukan karena menikmati tapi karena otakku sibuk berpikir, apakah seperti ini yang disebut pacaran? Aku terhenyak. Dan di malam itu, otakku terlalu lelah untuk menemukan jawabannya. Di malam itu pula, aku sendiri tanpa teman-teman sekamarku di kos.

Script 6
Tak terasa, aku harus meninggalkanmu. Kembali ke aktivitasku di kota lain yang berjarak ratusan kilometer dari kota kita. Sejujurnya, berat bagiku tapi aku tak mau terlihat lemah di matamu. Kamu mengantarku pergi. Tapi begitu kamu pulang, aku merasa kehilangan kamu. Dan di saat itu, aku ingin kamu berada di sampingku, mengelus pipiku, menggenggam tanganku dan aku menyandarkan kepalaku di dadamu. Sayangnya, kini jarak memisahkan kita untuk sementara dan komunikasi kita hanya lewat dunia maya. Aku bertanya dalam hatiku, apakah ini yang namanya rindu? Bisakah kalian menjelaskan kepadaku agar aku tidak naif lagi?