Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 19 Januari 2011

Kenangan di Album Foto

1 komentar

Kupandangi tumpukan album foto itu. Album-album foto yang sudah usang, termakan usia. Yah! Usang namun tetap terjaga rapi. Dengan sampulnya yang masih terlihat keapikannya, dengan setiap lembarannya yang sudah menguning menandakan usia album itu, album-album itu terlihat seperti benda kuno
bersejarah yang terawat dengan sempurna. Namun apabila kalian perhatikan dengan seksama dan cermat, album-album itu semakin sempurna dengan kehangatan yang memancar disetiap lembarannya, karena di setiap ujung lembarannya terdapat tekukan-tekukan halus, tanda album itu telah sekian kali dibuka dengan kasih sayang oleh pemiliknya terdahulu, yang tidak lain tidak bukan, adalah ibuku.

*******
Kuingat-ingat lagi masa kecilku. Aku bukanlah seorang anak yang termasuk dalam kategori dapat dibangga-banggakan, tidak seperti kakakku yang mempunyai segudang prestasi, tidak seperti kakakku yang mempunyai wajah cantik mengikuti garis wajah ibuku. Aku? Aku hanyalah NOL! Aku tidak pintar. Tidak juga cantik. Wajahku mengikuti wajah almarhum Bapakku, yang keras, bukan Ibuku. Mulanya, aku tidaklah menaruh perhatian sama sekali terhadap hal itu, terhadap kata-kata kerabat-kerabat yang sering bertandang ke rumah, terhadap teman-teman pria yang selalu membandingkanku dengan kakakku, karena ibu tak henti-hentinya menguatkan hatiku dengan berkata ‘Tidak apa-apa, yah jangan kamu pikirkan apa kata orang, Na. Kamu punya kelebihan, yang tidak dimiliki kakakkmu.’

Kata-kata dari ibuku sudah menjadi pedomanku dalam menjalani hidup. Namun, sungguh bodoh diriku percaya kata-kata itu untuk bertahun-tahun lamanya, hingga pada akhirnya kekuatan kata-kata itu musnah, ketika seseorang yang sangat kusukai memanfaatkanku untuk mendekati kakakku, kata-kata itu tidaklah lagi bermanfaat layaknya obat yang menenangkan, malah sebaliknya, sebagai racun yang menggerogoti hatiku.

Hatiku rapuh, hari demi hari. Perbandingan yang selalu kuterima, dan tatapan tidak percaya dari orang-orang kalau aku adalah adik dari Rena, seorang putri yang lebih dalam segala hal, sikap, perilaku, dan tentunya paras, justru semakin membuat hatiku jatuh ke lubang kelam yang semakin lama, semakin dalam, mengikis setiap saat.

Kuingat enam tahun yang lalu, saat aku berumur 22 tahun, aku melarikan diri dari rumahku, karena lelah dibanding-bandingkan dengan kakakku, walau bukanlah ibu yang membandingkanku. Aku muak dengan semua itu, Aku juga muak dengan ibu, walau sampai sekarang aku tidak begitu jelas apa alasanku hingga muak pada ibuku sendiri. Mungkin karena ibu selalu berusaha menguatkanku padahal kenyataannya aku memanglah NOL, aku tidak punya hal yang dapat kubanggakan.

Aku pergi dari wilayah amanku, Solo, ke Jakarta, daerah yang penuh dengan hingar-bingar dunia malam, daerah yang ramai akan kejahatan. Sudah setiap kali ibu mengingatkanku kalau Jakarta adalah tempat dimana banyak terdapat kejahatan. Tapi hal tersebut tidak lantas menyurutkan keteguhanku untuk kabur dan merantau ke Jakarta. Kupikir dengan pergi ke Jakarta, aku akan mendapatkan tempat untuk diakui, memberitahu kepada dunia kalau diriku itu penting, bukan nol lagi, namun terrnyata hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi aku bukan seorang yang pintar. Bertahun-tahun aku bekerja serabutan, seperti part-time menjadi cleaning service dan sebagainya, sampai suatu ketika, ada seorang laki-laki yang menawari pekerjaan sebagai model kepadaku, kupikir inilah titik terangku, dimana aku akan memulai karirku yang gemilang. Kuiyakan begitu saja! Tidak lagi kupedulikan segala masalah, yang terpenting aku menjadi seorang model. Segala yang kupunya, mulai dari harta sampai kehormatanku telah kuberikan kepada lelaki itu, lelaki yang pernah menawari pekerjaan model kepadaku. Kutunggu berbulan-bulan kabar akan pekerjaan baruku sebagai model, namun tak kunjung datang. Baru kutahu kalau semua itu hanyalah bohong belaka, aku tidak menjadi model, apalagi lelaki itu juga tidak lagi menghubungiku, aku telah dibuang. Tidak ada yang tersisa padaku, pekerjaanku sebagai model yang memang tak pernah ada, yang paling parah adalah tidak adanya harga diri dan kehormatan yang tersisa ditubuhku ini. Hatiku hampa. Pernah kakakku menelepon dari Solo, menanyakan kabarku, memintaku agar pulang karena ibu begitu rindu padaku, tapi pertanyaan dan permintaan itu tidak pernah kujawab karena gengsi untuk kembali, malu bertemu kerabat, malu bertemu kakak, apalagi malu bertemu ibu.

Akupun kembali bekerja serabutan di Jakarta, menjadi waitrees dan sebagainya, hingga untuk beberapa saat aku tidak memikirkan apa-apa, hanyalah pekerjaan sederhana seperti inilah yang ada di kepalaku, karena pekerjaan-pekerjaan seperti itulah yang dapat membekali kehidupanku di Jakarta walau hanya cukup untuk memberiku makan. Sampai suatu ketika kakakku kembali menelepon dari Solo. Isi teleponnya sama seperti teleponnya terdahulu, memintaku untuk kembali ke rumah, hanya saja dengan alasan yang berbeda. Ibu meninggal!

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian ibu ketempat yang tidak dapat kujangkau dan semenjak kedatanganku ke Solo. Tidak seperti kakakku dan kerabat-kerabat lainnya, aku tidak menangis sebegitu parah saat peti ibu dimasukkan ke liang kubur untuk selama-lamanya. Dan aku sekarang masih ada di Solo, menyiapkan keberangkatanku untuk kembali ke Jakarta di tengah hari yang hujan ini. Tapi di tengah bebenah untuk kepulanganku, kakak menghampiriku.
“Ratna, ini! Ibu menitip ini untukmu. Aku tak pernah tahu isinya, yang kutahu Ibu selalu melihat ini dengan penuh kasih sayang sambil menangis,” kata Kakakku memberikan album-album itu sambil menangis. Dan Iapun pergi.
******
Kubuka album itu satu demi satu. Sejarah kehidupanku seperti diputar, dari semenjak aku anak-anak hingga remaja. Banyak kenangan-kenangan yang kulupakan tentang ibu yang selalu ada disampingku tapi terekam dengan baik di album-album itu. Tak terasabulir-bulir air mata jatuh dari kelopak mataku. Kulanjutkan membuka lembaran-lembaran itu. Semakin aku membuka lembaran itu, semakin dalam pula tangisku. Sampai di akhir album foto itu terdapat sebuah surat yang ditujukkan untukku dari Ibu. Isinya sungguh membuatku menyesal akan segala tindakan bodoh yang kuperbuat selama ini.

Untuk : Ratna
Ratna, apa kabarmu? Mungkin ketika kamu membaca surat ini, Ibu sudah tidak ada disampingmu, Ibu sudah tidak bisa menemani kamu lagi. Ibu sungguh minta maaf Ratna, Ibu tidak mempunyai umur yang panjang, maaf karena Ibu bukanlah Ibu yang baik, Ibu tidak bisa memberi kekuatan padamu untuk menjalani hidup ini, Ibu minta maaf atas segala bandingan yang kamu terima karena Kakakmu. Ibu sungguh minta maaf Ratna. Ibu tahu pasti berat bagimu, Ratna, untuk tinggal seorang diri, apalagi Jakarta bukanlah pilihan yang mudah. Pasti banyak masalah yang terjadi padamu Ratna. Tapi betapa beratnya masalah itu hingga membuatmu terjatuh, Ibu akan tetap berada disini menunggumu berpaling pada Ibu. Kembali kepada Ibu. Ibu menunggumu dengan tangan terbuka lebar, menunggumu menceritakan segala yang menimpamu, menunggu tangisan atas teriakan hatimu yang telah lama kamu pendam. Mungkin Ibu bukanlah siapa-siapa yang dapat menghapuskan masalah itu, tapi Ibu berharap Ibu dapat meringankannya. Ibu rindu kamu dan sayang kamu, Ratna. Mungkin kamu sudah bosan mendengar ini, tapi kamu mempunyai kelebihan yang tidak kakakmu miliki. Percayalah itu, Ratna. Ratna, Ibu sudah tidak sanggup lagi untuk menulis lebih lanjut. Mungkin kita bisa berbincang nanti, Ibu sangat mengharapkan itu, walau bukan saat ini. Lanjutkan hidupmu Ratna, Ibu selalu mendukungmu dan menyayangimu.

Surat itu membuatku menangis semakin dalam di dalam kesendirianku. Pernah kuberpikir, kehampaanku disebabkan oleh kehormatan dan harga diri yang telah direnggut orang lain, tapi ternyata aku salah. Kehampaan ini disebabkan karena ibu tidak ada di sisiku.
“Maafkan aku Ibu, aku anak durhaka. Yah, kita akan berbincang nanti di sana setelah aku melanjutkan hidupku untuk menjadi lebih baik, entah di Solo maupun di Jakarta. Dan walau aku tak pernah mengatakan ini kepadamu, aku ingin sekali kau mendengar kataku ini disana, di tempat yang kuyakini tempat terbaik untukmu, ibu yang paling baik,” kataku kepada surat itu.
Akupun bangkit ke arah jendela dan membukanya.
“AKU JUGA SAYANG KAMU, IBU!” teriakku kepada langit yang menampakkan pelangi sehabis hujan itu.

1 komentar:

  1. ceritanya seru juga, penasaran sama lanjutannya hahaha~ :D

    BalasHapus