Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Sabtu, 31 Juli 2010

Ada Yang Memperhatikan Kita

0 komentar

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dg tangannya yg lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya. Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di linkungannya.

Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku?" dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Di antara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaray diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang.
Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit.

Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan.

Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa.

Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan drinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dg sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya. Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu.Dia
merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. "Saya buta, tak bisa melihat!" teriak Yasmin. "Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya."

Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri. Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dg tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dg tenang Burhan pergi ke tempat dinas.

Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya.
Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni.

Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dg mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, "saya sungguh iri padamu". Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu
bicara padanya. "Anda bicara pada saya?"

" Ya", jawab sopir bus. "Saya benar-benar iri padamu". Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri?

"Apa maksud anda?" Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
"Kamu tahu," jawab sopir bus, "Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan melindungimu".

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari
penglihatan. Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

---------------------------

Kita ibarat orang buta
Yg diperintahkan bekerja dan berusaha
Kita adalah orang buta
Yg diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja
Kita tak bisa melihat Tuhan dan malaikat
Tapi Dia terus membimbing
Dia memompa semangat kita
Cemas dan khawatir dg langkah kita
Dan tersenyum puas
Melihat kita berhasil melewati ujian-NYA

Kisah Peter dan Tina

0 komentar

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.


Tina : "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."

Peter : "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."

(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina : "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter : "Eh? permainan apaan?"

Tina : "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter : "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."

Tina : "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter : "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"

Tina : "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."

(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)


Hari ke 2:

Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.


Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.

Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt,
makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.


Hari ke 7:

Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.


Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.
Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.

Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.


Hari ke 41:

Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.

Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.


Hari ke 67:

Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.



Hari ke 72:

Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.

Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.

Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang"
kemudian peramal itu meneteskan air mata.


Hari ke 84:

Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.

Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.

Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.

Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.


Hari ke 99:

Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.

Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.


15:20 pm

Tina : "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "

Peter : "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"

Tina : "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"

Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.





15:30 pm

Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.

Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Peter : "Ada apa pak?"

Orang asing : "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"

Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.

Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.

Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.

Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.

Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.



23:53 pm

Dokter : "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."

Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.

Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya.

Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.

Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.





Dear Peter...

ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.

Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.

Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.

Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.

Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.

Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,

Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku.
Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.


23:58

Peter : "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?

Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.

Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!

Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!

Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.

Hari itu adalah hari ke 100...








PS:

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.

Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.

Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Kisah Seseorang yang Mencari Ridho Illahi

0 komentar

Hari terakhir dari hari-hari pembalasan (judgement day/lauful hisab)…

Saat yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Pintu besar itu berderak keras, dan cahaya dari ruangan yang ada di dalamnya pun memancar keluar. Pintu surga telah terbuka.

Ratusan ribu orang yang berada di depan firdaus pun segera berdiri dari duduknya. Mereka menangis. Menangis karena mencium bau surga yang semerbak harumnya. Dan menangis karena dari trilyunan manusia yang hidup sepanjang zaman, hanya mereka yang berhak memasuki gerbang nirwana. Sungguh manusia sangat berdosa.

Mereka yang berada di dasar jembatan penghitungan (siratal mustaqim) menjerit-jerit. Mereka menangis ketakutan karena segera akan diangkut ke neraka. Tangisan yang menyayat hati. Karena jelas sekali terdengar, sebab tak ada pembatas antara calon penghuni surga dan calon penghuni neraka. Kecuali sebuah jembatan sebesar sehelai rambut manusia dibagi tujuh. Api dibesarkan untuk melelehkan tubuh para pendosa, meredam tangis para durjana.

Terdengarlah suara Tuhan (Allah SWT).

“Masuklah, wahai hamba-Ku yang beriman. Segala dosamu telah terbalaskan. Kini kau akan tinggal di surga-Ku selamanya.” Mereka yang berada di paling dekat dengan pintu surga dapat melihat sebuah tirai raksasa di ujung surga. Itulah hijab (pembatas Tuhan dan manusia). Segera, hijab itu akan terbuka, dan manusia dapat bertemu dengan Tuhan mereka. “Masuklah, wahai hamba-Ku yang beriman. Segera setelah itu pintu surga akan kututup selamanya. Hingga mereka yang ada di dalam akan merasakan nikmat yang abadi, dan mereka yang ada di luar akan kekal di dalam neraka.” Para bidadari pun mulai memainkan musiknya. Kontras dengan suara jeritan para manusia durhaka yang ada di lembah siksa pembalasan.

Orang-orang itu pun mulai masuk ke surga melalui celah-celah yang disediakan. Pedagang yang jujur melalui celah berkah kejujuran yang ditaburi intan berlian. Para mujahid melalui celah syahid yang dijaga oleh peri-peri dengan vagina mereka yang terus perawan. Setiap manusia mempunyai celah pintu surganya sendiri. Kecuali Abu Bakar yang dipanggil dari segala penjuru.

Kerumunan di depan pintu surga itu pun menipis dengan cepat karena orang-orang berlarian memasuki tanah yang dijanjikan. Mereka ingin segera bermandikan sungai susu, dan mengendarai kuda yang terbuat dari Zamrud. Bilal ingin segera mengenakan sepatu surga yang telah dijanjikan. Dan Umar ingin segera bertemu dengan istri-bidadarinya yang bermata sendu.

Para penghuni surga berlari. Berlari. Masuk ke dalam surga. Sampai akhirnya tersisa satu orang yang terdiam memegangi pintu surga. Wajahnya yang sudah tanpa dosa menunduk sedih. Ia akan segera memulai kisah seseorang yang mencari ridho Illahi.

“Wahai hamba-Ku.” Suara dari balik hijab menyapanya. Orang itu mendongakkan kepala menatap ke kain sutra yang memisahkan dirinya dengan wajah Tuhan-Nya. Air matanya berlinang karena Tuhan telah secara pribadi memanggil dirinya. “Mengapa engkau tidak masuk?” Tanya Tuhan.

Anak dan istri dari si hamba segera menghampiri pria itu. Mereka menarik-narik suami dan ayah mereka. Tapi pria itu bergeming. Ia tetap berpegangan pada pintu surga.

“Ada apa gerangan, wahai hamba-Ku?” Tuhan kembali bersuara. “Ceritakanlah pada-Ku masalahmu.”

Sang hamba masih terus menangis. Ia amat menikmati suara merdu Tuhan-Nya. Tapi perlahan-lahan tangisnya mereda. Kemudian ia mengumpulkan keberaniannya. Dan akhirnya berbicara.

“Aku tak mau masuk surga, Tuhan-Ku.” Jawabnya dengan mantab.

“Apa?” Jawab Tuhan lembut. “Apa alasanmu, kekasihku? Tentu kau tahu jika kau tak masuk sekarang, maka kau tak akan pernah masuk surga-Ku. Pintu surga akan kukunci selamanya.”

Para malaikat terbang menghampirinya. Menyuruh sang Hamba melupakan kebodohannya dan segera masuk. Keluarga sang hamba menangis panik dan makin keras mencoba menarik suami dan ayah mereka.

Setelah keributan kecil itu mereda, sang hamba kembali menghadap ke hijab Tuhan-Nya. Ia kembali berbicara. “Tuhan, demi Allah, aku bukanlah hamba yang takabur. Tetapi semenjak aku hidup di dunia, aku telah bertekad untuk tidak masuk surga. Demi ridho-Mu.”

“Wahai hamba-Ku, kekasih-Ku. Aku telah ridho jika engkau masuk surga-Ku. Maka jika ada hal yang membuatmu menolak ridho-Ku, ceritakanlah sekarang.” Tuhan berfirman.

“Ya, ada apa? Ceritakanlah? Kenapa kau tak mau masuk surga?” Orang-orang dan malaikat-malaikat di sekitar hamba itu melemparkan pertanyaan yang tumpang-tindih kepadanya. “Ceritakanlah! Ceritakanlah!”

Akhirnya hamba itu kembali membuka mulutnya. Ia tak mengindahkan orang-orang dan malaikat di sekitarnya. “Wahai Tuhan, tahukah kamu apa arti ‘Mencari Ridho-Mu’?”

“Tentu, kekasih-Ku. Mencari ridho-Ku artinya kau melakukan segala hal karena-Ku. Karena cinta-Mu pada-Ku. Bukan karena kau mengharapkan pujian. Atau niat meraih imbalan lainnya.” Tuhan menjawab dengan mesra. “Dan kau telah melakukan hal itu, hamba-Ku.”

“Benarkah itu, Tuhan-ku?” Tanya sang hamba.

“Benar.”

Malaikat Raqib dan Atid (malaikat yang mencatat amal baik-buruk manusia) pun terbang menghampiri sang hamba. “Kau adalah contoh sempurna dari hamba yang mencari ridho-Nya.” Kata mereka. “Sejak kecil, kau membagi ilmu-mu pada teman-temanmu karena kau tahu Tuhan menyukai orang yang membagikan ilmu yang bermanfaat. Saat dewasa, kau menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang miskin karena kau ingin menjalankan sunnah Rasul untuk ‘memberi kail, dan bukan ikan’. Saat tua kau meninggalkan kekayaanmu, dan menjadi penjaga masjid. Solat dan berzikir tiap hari. Tapi, anak-anakmu tetap merasakan warisan hartamu dan hidup baik. Bahkan kau pulang seminggu dua kali untuk menjalankan kewajibanmu memberikan nafkah batin bagi istrimu. Dan semua kau lakukan karena kau mencari ridho-Nya.”

Hamba itu masih bertanya hanya pada Tuhan. “Benarkah aku telah melakukan semua itu karena mencari ridho-Mu?”

Tuhan berkata dengan suara yang penuh cinta. “Benar, hamba-Ku. Aku Tuhan-mu. Aku dapat mendengar isi hatimu yang paling dalam. Dan aku benar-benar mendengar keikhlasanmu untuk mencapai ridho-Ku.”

“Benarkah aku melakukan semua itu, hanya demi ridho-Mu, Tuhan?!” Suara sang hamba mulai bergetar.

“Benar, kekasih-Ku.”

“Benar, kah?!?” Suara sang hamba makin terdengar berat.

“Benar, hamba-Ku. Kekasih-Ku. Benar, wahai, ikhsan (orang yang ikhlas).”

“LALU KENAPA KAU GANJAR AKU DENGAN SURGA-MU?!?” Hamba itu berteriak, kemudian menangis tersedu-sedu. Sang hamba bersimpuh dan menangis hingga bahunya yang indah terguncang-guncang dan wajahnya yang putih berkilatan karena air mata memantulkan cahaya surga.

Semuanya terdiam. Manusia. Malaikat. Tuhan. Diam. Yang terdengar hanyalah suara tangis sang Hamba.

Nabi Muhammad berlari ke depan sang hamba. “Wahai Ridho bin Syamsi bin Samawi.” Muhammad memanggil nama sang Hamba. “Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam beramal.”

Muhammad menyentuh pundak sang Hamba. Sang hamba kemudian menjawab dengan berbisik, tapi semua orang dapat mendengarnya. “Apakah aku berlebihan jika aku tak menginginkan yang lain... kecuali ridho-Nya?”

Tuhan bertanya, “kau tak menginginkan surga-Ku?”

“Tidak.”

Tuhan terdiam. Kemudian berkata, “Baiklah.” Semua mahluk yang ada di sana terhenyak mendengarnya. “Lalu apa yang engkau inginkan?”

Dibantu oleh Muhammad, sang hamba berdiri. “Wahai, Tuhan-Ku, kekasih-Ku. Aku tak menginginkan surga-Mu. Aku juga telah mendapatkan pembalasan-Ku. Maka hanya satu hal yang dapat Kau lakukan.” Sang Hamba menunjuk ke kawanan binatang yang juga telah mendapatkan pembalasan. “Dalam hadits Qudsi-Mu yang indah, Kau mengatakan bahwa binatang tidak akan masuk surga. Setelah mendapatkan pembalasan atas tindakannya, mereka akan Kau ubah jadi abu. Selesai menjalani tugas mereka sebagai ciptaan-Mu.”

Istri sang hamba yang menyadari arah pembicaraan suaminya, langsung mendekap tubuh sang hamba dan menangis tersedu-sedu. Sang hamba meneruskan ucapannya. “Jadikanlah aku abu. Karena semua kebaikan yang kulakukan adalah untuk mendapat ridho-Mu, dan bukan surga-Mu.”

Anak gadis sang hamba yang paling besar menyuruh sang hamba menatap matanya, dan mengatakan bahwa sang hamba tidak serius. Adik-adik sang gadis mendekap tubuh ayah mereka, karena takut menghadapi kenyataan bahwa mungkin mereka akan berpisah selamanya.

“Jadi kau menolak surga-Ku?” Tanya Tuhan.

“Demi Allah, tidak. Saya hanya merasa bahwa dengan menerima bayaran dari kebaikanku, maka nikmat ridho-Mu akan berkurang.”

“Baiklah. Jika itu yang kau inginkan.”

Maka sang Hamba pergi menjauhi pintu surga. Ia berikan cangkir yang berisi air danau Hijjaz (air pereda dahaga bagi orang beriman yang telah menjalani pembalasan) kepada istrinya, “wahai istriku, ambillah cangkir ini sebagai kenangan atas diriku. Aku pun tak meminum air ini walau pun aku haus sekali. Aku merasa jika aku menghilangkan dahagaku, artinya aku tidak total mencari ridho Tuhan-Ku.” Istri sang Hamba tak berani melangkah keluar dari garis surga. Sang Hamba terus pergi menjauh.

Setelah berada bersama para hewan, sang hamba kembali menghadap surga.

“Adakah keinginan-mu yang mau dikabulkan?” Tanya Tuhan.

“Ya. Aku ingin melihat wajah-Mu, Tuhan-Ku.” Sang hamba menjawab dengan penuh harap.

“Kau harus kecewa hamba-Ku. Karena Aku hanya akan membuka hijab-Ku setelah pintu surga ditutup. Kau tak akan pernah melihat wajah Tuhan-Mu.”

Sang hamba menunduk lesu mendengar jawaban ini. Tetapi ia ridho. Demi ridho-Nya.

“Sesungguhnya kalian menyaksikan bahwa aku bukanlah hamba yang pamrih.” Sang Hamba berkata sebelum tubuhnya meledak menjadi jutaan kepingan debu.

Rabiah Al-Adawiyah (seorang sufi) membisikkan puisinya, “Wahai Tuhan, ku tak layak ke surga-Mu...”

Tuhan pun menutup pintu surga-Nya.

************************************************************************

Selasa, 27 Juli 2010

Religia

0 komentar


(Gadis)

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Karena aku tak bisa melihat tangis yang dia sembunyikan.

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Mengamatinya merentangkan tangan di kejauhan,
Sementara aku memegangi payungku di pagar rumahku.

Aku sering berkata padanya, bahwa aku tak punya siapa-siapa dalam hidupku.
Tanpa kusadari: bahwa aku selalu memilikinya untuk mendengarkanku bercerita.

Andai dia tahu, dia membuatku banyak berpikir.
Seperti yang sering dia dengar setiap kali aku meracau;
Bahwa aku benci keterikatan.
Dan dia selalu membuatku berpikir
Bagaimana seandainya jika aku kehilangannya?

*

(Pria)

Sore itu hujan, aku mendorong kursi rodanya – entah menuju ke mana. Dia bersikeras memintaku meninggalkannya sendirian di kamarnya yang pengap oleh bau obat-obatan atau membiarkan suster jaga mengajaknya jalan-jalan berkeliling. Kubilang aku tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuanku.

“Aku ingin makan bubur,” ujarnya. Sementara dia membiarkan senampan makanan dari rumah sakit di meja di sebelah ranjangnya, tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, kami melihat banyak burung gereja beterbangan di langit, “Besok aku akan menjadi salah satunya,” dia berkata lirih.

Dia selalu percaya bahwa sebuah entitas ketika meninggalkan fisiknya yang telah mati kemudian akan bermanifestasi terlebih dulu menjadi hewan tertentu sebelum terlahir kembali. Dia satu-satunya gadis yang kukenal telah mendalami kepercayaan timur tentang reinkarnasi bahkan semenjak usia sembilan tahun.

“Kamu tahu, aku sudah kehilangan Ibuku di hari dia melahirkanku,” ujarnya.

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas di pikiranku, semua kenangan tentang kebersamaan kami berputar-putar di dalam orbitalnya, tereksitasi satu per satu di dalam tempurung kepalaku, semakin kehilangan energi tiap kali kusadari bahwa aku akan kehilangannya sebentar lagi.

“Itu membuatku berpikir, mungkin waktu itu malaikat surga bertanya padanya, antara dia memilih untuk terus hidup dan membiarkanku mati atau dia mati untuk membiarkanku bisa terus hidup,” lanjutnya.

Mendorong kursi rodanya saat dia sedang merasa hampir mati, membuatku kehilangan daya gerakku sama sekali.

“Dan nyatanya dia memilih mati,” dia mengakhiri ceritanya.

Beratnya sudah turun sebanyak dua puluh kilogram selama setahun dia menjalani kemoterapi. Usianya baru dua puluh satu tahun, dan dia menderita kanker otak. Tumor di otaknya tidak membuatnya kehilangan daya pikirnya atau menurunkan kecerdasannya, bahkan setiap hari semenjak dia dirawat inap di rumah sakit, dengan banyak jenis buku yang dia baca, membuatku takut dia akan mengalahkanku setiap kali kami berdebat tentang sesuatu.

Sebelumnya dia selalu kalah pada diskusi tentang apapun yang kusukai, dan aku selalu seimbang tiap kali diajaknya berdebat tentang hal-hal yang dia sukai. Kami membicarakan tentang kecerdasan artifisial, kemungkinan penyebab kiamat, kadang aku membicarakan tentang ilmuwan matematika, dan dia membahas mengenai kesamaan mereka dengan tokoh-tokoh psikologi. Sejujurnya, dia tidak akan tergantikan.

“Dia memberimu hidup selama dua puluh tahun,” ujarku kemudian, “Yang dia tidak yakin apakah dia akan membutuhkan seperempat dari waktunya itu untuk terus menantikan seorang putri sepertimu.”

Ibunya melahirkannya di usia empat puluh tahun, dan sebagaimana umumnya wanita pra-menopause, mereka akan kehilangan kesuburannya menjelang usia empat puluh lima. Aku yakin, Ibunya berprinsip bahwa natalitas seimbang dengan mortalitas di usianya yang empat puluh itu. Dia pasti tidak mau membuang-buang waktunya untuk menunggu titipan Tuhan di tahun-tahun setelah dia kehilangan putrinya dalam operasi caesar.

“Seandainya dia tahu, bahwa putrinya tidak akan berumur panjang,” dia menjawab, “Apa mungkin dia mau mengorbankan nyawanya?”

“Sayangnya manusia tidak pernah tahu,” sejenak aku terdiam, merangkai kata-kata di kepalaku, “Keajaiban apa yang akan Tuhan beri di sepanjang perjalanan hidupnya. Dia mengambil resiko untuk menerima keajaiban Tuhan, seorang putri sepertimu.”

Dia menarik nafasnya dan di sepanjang perjalanan kami membeku dalam diam.

“Aku pernah membayangkan tentang masa depan, di mana kita bisa kembali masa lalu dengan mesin waktu,” ujarnya, “Aku ingin kembali ke hari kelahiranku, memperingatkan Ibuku bahwa aku tak perlu lahir.”

”Semua anak lima tahun memikirkan itu setiap menonton film berjenis fiksi sains masa depan, dan terutama mereka yang tak pernah merasa memiliki masa lalunya sepenuhnya,” jawabku. Aku tak menyalahkannya dengan pikirannya itu. Sayangnya, melihat gelar sarjananya, aku tak yakin dia akan menyukai pembicaraan lebih jauh tentang kemungkinan keterkaitan antara teori dilatasi waktu dan rangkaian mesin-mesin yang akan membutuhkan biaya minimal sebesar satu miliar dolar. Dia tidak pernah menyukai materi dimensi tiga, dan jika dia ingin membicarakan tentang dunia, sayangnya dia harus mengerti ruang berdimensi empat. Sayangnya lagi, aku bahkan juga tidak mengerti.

Kami sampai di kafetaria rumah sakit. Aku memesan dua mangkuk bubur ayam hangat dan dengan sigap mengambil dua botol air mineral ukuran 600 ml. Kupinggirkan kedua kursi plastik yang menghalangi kursi rodanya. Lalu kami duduk di pinggir taman, di ujung timur kafetaria.

Darah mengucur dari hidungnya. Tangannya tidak bisa dia gerakkan untuk menghapusnya, dia mengalami kelumpuhan kedua tangan dua minggu yang lalu. Kuambil tisu dari tas ranselku. Tas ranselku selalu penuh akan segala sesuatu kebutuhannya.

“Seandainya kita tidak pernah bertemu,” ujarnya ketika aku menghapus darah yang keluar dari kedua rongga hidungnya. Darah itu terus mengucur dan tak berhenti. Kuambil daun tumbukkan di wadah plastik di dalam ranselku – obat herbal untuk menghentikan mimisan – kuletakkan di lubang hidungnya.

Beberapa saat, darahnya berhenti.

“Seandainya kita tidak saling jatuh cinta dan juga tidak menikah..”

Aku terpaku karena kalimat terakhir darinya. Kutatap matanya, tubuhnya tidak bisa bergerak, yang dia miliki hanya wajahnya, ekspresi mata dan kata-kata yang timbul tenggelam dari bibir tipis itu.

“Kita bahkan belum dikaruniai keturunan,” lanjutnya. Dia bahkan tidak menangis ketika mengucapkan itu. Dia tidak pernah menangis di hadapanku, padahal dia seorang wanita, “Aku belum sempat berkorban untuk anakku.”

Aku mengerti perasaannya. Dilahirkan oleh seorang Ibu yang dari cerita orang-orang di sekelilingnya – lebih memilih mati untuk melihat putrinya lahir, pasti akan menimbulkan trauma yang besar baginya, juga menyebabkan kewajiban untuk melakukan hal yang sama, yang bahkan tak dia ketahui diberikan oleh siapa dan semenjak kapan perasaan bersalah itu menempel di pundaknya bagai parasit.

“Seandainya lelaki boleh hamil,” aku berkata. Dia tertawa, tapi tawanya tidak bisa selincah dulu. Ketika dia menggerakkan tangannya memukul bahuku setiap kali aku melempar lelucon, ketika bahkan setelah itu aku selalu menerima kecupan mesra darinya di keningku.

“Aku akan membiarkanmu mencari wanita lain, setelah aku meninggal,” ujarnya, “Sejujurnya, aku merasa bersalah atas semua hal buruk yang terjadi di hidupmu setelah kamu menikah denganku. Maaf.”

Sungguh aku tidak dapat berkata-kata atas pemintaan maafnya. Dia adalah segala-segalanya bagiku, dan ketika segala-galanya itu merelakanku, aku bahkan berpikir aku tak perlu hidup.

“Aku akan adopsi seorang putri,” jawabku, “Bukan seorang istri.”

Dia tersenyum, air matanya mengalir di wajahnya. Sungguh sangat jarang aku melihatnya menangis.

“Aku mencintaimu.” Kata-kata terakhirnya, sebelum akhirnya dia menutup matanya, untuk selamanya.

*

(Gadis Kecil)

Aku melihat seorang pria gagah datang. Teman-temanku berlarian mengerubunginya, para pria berseragam hitam di belakangnya membawa puluhan parsel cantik untuk dibagikan. Kulihat teman-temanku berteriak tentang permen, coklat, dan semuanya berwarna-warni. Kulihat dari kejauhan, alangkah cantiknya parsel-parsel itu.

Aku menutup bukuku dan berlari ke kamar, bersembunyi supaya tidak ditemukan. Aku tidak mau diadopsi oleh siapapun. Dan tiap kali orang datang untuk mengadopsi anak, aku meringkuk di dalam kegelapan kamarku.

Namun seseorang membuka pintu kamarku, menyalakan lampu. Dia menemukanku. Dia berjalan ke arahku.

“Boneka itu lucu,” pria gagah itu berkata, tersenyum. Aku tahu arti dari sinar mata itu, dan betapa aku merasa tidak aman disorot dengan mata elang itu.

“Apa kamu mau mengadopsiku?” aku bertanya.

Dia tertawa lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak jika kamu tidak mau.”

“Kenapa kamu memilih menemuiku?” tanyaku, bingung.

“Karena kamu katanya adalah gadis yang paling cerdas di panti asuhan ini,” aku tak yakin apa dia menjawab jujur. Tapi aku tidak pernah bersekolah, aku tidak mungkin terlihat cerdas, “Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti dengan kalimat terakhirnya.

“Berbahaya bagiku untuk menemukan seorang putri yang akan kuadopsi di luar sana,” dia menunjuk keluar, kudengar suara tawa teman-teman seusiaku, “Aku tahu, juga berbahaya bagiku untuk mengobrol denganmu sekarang. Kamu pasti mencurigaiku.”

Aku menatapnya. Pria gagah itu cerdas. Seperti sosok Ayah yang kubaca di buku-buku.
“Sejujurnya aku memilihmu, karena namamu persis seperti nama yang kami pilih untuk anak kami,” dia duduk di sisiku. Aku yakin dia butuh bercerita. Dia merangkul bahuku.

“Aku dan mendiang istriku sudah membuat sebuah nama panggilan untuk anak kami kelak. Namanya sesuai dengan milikmu,” dia melanjutkan, “Bonusnya, aku menemukan gadis kecil yang juga cerdas.”

“Kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

Dia tersenyum, “Aku tidak pernah membayangkan akan mengobrol seperti ini dengan anak berusia sembilan tahun.”

Aku menatap kesal ke arahnya. Aku tahu sejak tadi dia berusaha merayuku untuk bisa dia adopsi, “Aku bukan gadis sembilan tahun jika kamu melihat buku-buku yang aku baca.”

“Oh, ya?” Senyumnya makin kentara, “Buku-buku apa yang kamu baca?”

“Buku-buku yang ingin kubaca.” Semoga jawabanku tepat sasaran.

“Berarti di usia semuda ini, kamu sudah memiliki selera,” dia menjawab sopan, “Apa kamu sering membaca buku-buku kriminal? Sejak tadi, kuperhatikan, kamu sangat takut kalau aku mengadopsimu.”

“Aku membaca buku-buku spriritual,” jawabku.

Aku tahu dia tidak yakin dengan jawabanku. Karena setelahnya dia hanya mengangguk, mengangkat kedua alisnya, dan terdiam.

“Jadi kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

“Karena dia brilian,” jawabnya. Aku tidak mengerti, tapi dia melanjutkan, “Dia menderita tumor otak stadium akhir. Teknologi di dunia belum bisa mendeteksi tumor otak dalam tingkat kuantum, dan orang-orang yang menderita tumor otak, hanya akan mengetahui kanker itu ketika dia sudah pada stadium akhir.”

Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

“Omong-omong, pertanyaanmu tentang istriku tadi bagiku terdengar kurang sopan,” ujarnya, “Bagaimana kalau aku memberimu penawaran?”

Aku menatapnya. Lekat, “Apa?”

“Aku ingin mendidikmu sebagai anakku.” Akhirnya dia menyampaikan maksudnya.

“Alasannya?” aku bertanya.

“Istriku yang memintanya. Aku yakin dia sedang duduk di sebelahmu sekarang.” Dia tersenyum dan membelai rambutku.

Kemudian dia melangkah keluar.

*

(Pria)

Aku yakin dengan pertanda-pertanda yang dia berikan. Dengan simbol-simbol dalam mimpiku. Gadis kecil ini secerdas dia ketika berusia sembilan tahun.

Dia duduk di sisiku, membaca buku berbahasa Prancis. Dia bilang dia mendapatkannya dari seorang donatur di panti. Aku heran anak seusia dia yang dibesarkan di panti asuhan bisa menguasai empat bahasa dunia. Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab.

Kata para suster penjaga panti asuhan, mereka bahkan tidak pernah mengajarinya membaca.

Kubiarkan aku kagum oleh kecerdasannya. Seperti kubiarkan dia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya aku mengadopsinya.

Mobil kami melaju cepat.

Kuharap aku bisa membesarkan dia seperti putri kandungku sendiri.


Oleh Panah Hujan

Cinta dan Wanita

0 komentar

Awal Juni 2008, ayah mendapat kiriman e-mail dari beberapa sahabat. Bukan kiriman e-mailnya yang luar biasa, karena ayah setiap hari akrab dengan beragam e-mail dari berbagai mailing-list yang ayah ikuti. Yang luar biasa sekaligus biasa-biasa saja adalah isi e-mail itu. Barangkali kelak jika kamu beranjak dewasa, cahaya mataku, e-mail sejenis tidak bisa kamu temukan lagi. Karenanya, ayah mencoba mengabadikan e-mail itu lewat catatan cinta seorang ayah ini.
Read more (1552 words)

Kabarnya, suatu hari seorang Ibu meminta tolong kepada anaknya untuk membantu merapikan kamar tidurnya sendiri, karena sang Ibu, saat itu, sedang sibuk menyiapkan lauk di dapur. Tanpa mengucapkan sepatah kata sang anak pergi meninggalkan Ibunya. Beberapa saat kemudian, anak itu kembali dan mendapati Ibunya masih sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan selembar kertas bertuliskan sesuatu. Sang Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diberikan oleh sang anak dan membacanya.

Ongkos membantu Ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp 20.000
2) Menjaga adik: Rp 20.000
3) Membuang sampah: Rp 5.000
4) Membereskan Tempat Tidur: Rp 10.000
5) Menyiram bunga: Rp 15.000
6) Menyapu Halaman: Rp 15.000
Jumlah Hutang Ibu: Rp 85.000

Selesai membaca, sang Ibu tersenyum memandang anaknya yang raut mukanya berbinar-binar. Sang Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.

1) Ongkos mengandung dirimu selama 9 bulan: GRATIS.
2) Ongkos berjaga sepanjang malam ketika kamu sakit: GRATIS.
3) Ongkos mengasuh dan merawatmu selamanya: GRATIS.
4) Ongkos mendidikmu: GRATIS.
5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu: GRATIS.
Jumlah Keseluruhan Cinta Kasih Ibu padamu: GRATIS.

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah Ibu, memeluknya dan berkata, "Saya mencintai Ibu". Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya, "LUNAS, telah dibayar". Lantas menyerahkan pada Ibunya.

Demikianlah cahaaya mataku, kasih ibu selalu sepanjang jalan. Sementara, kasih sayang seorang anak boleh jadi hanya semata sepanjang galah. Meski, tentu saja, kasih sayang sang anak yang hanya sepanjang galah itu pasti bisa dijadikan sepanjang jalan. Selamanya. Abadi. Kasih hakiki. Kasih tanpa awal tanpa akhir.



Matahari mulai berdandan, merias senja dengan rona memerah. Cahaya mataku, gerimis baru saja pergi membawa cemas. Anak-anak di jalanan bermain air genangan, pada seorang perempuan aku dikepung kenangan1). Bundamu, cahaya mataku, yang tiga tahun kemarin meregang nyawa berjuang melahirkan kamu ke muka bumi, hari ini menjadi layaknya Ibu Kartini, mencecar benak Ayah dengan rerupa kampanye emansipasi. Bundamu, cahaya mataku, yang pernah menawarkan diri menjadi kuli tukang nyuci pakaian tetangga manakala dapur kita terancam kelangsungannya, menjadi geram melihat rerupa perilaku lelaki yang menjadikan perempuan semata subyek kehidupan, bahkan pelengkap penderita.

“Perempuan itu empunya cinta,” kata Bundamu. “Tidak semestinya perempuan diletakkan semata sebagai pendukung cerita, pemeran figuran yang kehadirannya hanya memberi secuil makna.“

Aku, ayahmu yang berusaha bijak, hanya mengirim serangkum senyum, lewat angin yang berembus begitu semilir. Aku mengenal bundamu, sebaik seperti aku mengenal diri sendiri.

“Bukan jamannya lagi perempuan dilecehkan!” Tegas Bundamu.

Ya, aku setuju. Oleh karena perempuan dicipta dari tulang iga, maka selayaknya perempuan berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan lelaki. Perempuan tidak boleh merasa lebih tinggi, apalagi lebih berkuasa, karena bukan dicipta dari tulang kepala. Tak semestinya pula lelaki menginjak-nginjak keturunan Hawa, apalagi berlaku semena-mena, karena dulu Hawa dicipta bukan dari tulang kaki. Sekali lagi, perempuan itu sejajar dengan lelaki. Artinya, jika lelaki bisa jadi menteri atau presiden, kenapa perempuan tidak? Namun, kita tidaklah patut menjadi salah kaprah dengan begitu saja bersetuju ketika perempuan berkeras ingin menjadi petinju, pegulat, atau apa pun yang mengutamakan kekuataan otot. Bukan karena anti emansipasi, melainkan karena menyadari betapa perempuan dicipta dari tulang iga yang lemah dan rapuh, bukan dari tulang kering kaki ramping dan kokoh.

“Sejatinya, perempuan tidak semata untuk dinikahi, lantas dikawini dan dibuahi,” lanjut Bundamu. “Perempuan itu rumah yang ramah, tempat semua bisa istirah meredam amarah dan gelisah. Perempuan itu benteng yang mentereng, tempat lelaki bisa bertahan dan menyusun strategi baru, guna melawan tekanan hidup yang tak terperi. Perempuan adalah istana tercinta, tempat kita semua bisa petantang-petenteng ke sana-ke mari menenteng bahagia.”

Ya, begitulah Bundamu memahami makna eksistensi perempuan dan keperempuanan. Jadi, cahaya mataku, jangan pernah menyesali diri karena dilahirkan sebagai perempuan. Apalagi sampai memaksa diri untuk berubah menjadi lelaki. Pun begitu sebaliknya, adalah naïf jika seorang lelaki mengingkari diri dengan melebur karakter menjadi perempuan.

Marilah sejenak kita berpaling, menelisik kanan-kiri. Bagaimana caranya orang-orang sekitar kita memandang dan menghargai perempuan? Benarkah mereka telah memperlakukan perempuan dengan cara yang semestinya? Apakah mereka masih mengikat diri bahwa perempuan hanya semata pemuas syahwat? Apakah mereka meletak makna betapa perempuan dicetak hanya semata untuk menjadi budak? Perempuan itu surga. Di dunia menjadi sandaran tempat kita bisa rehat melepas penat. Di akhirat menjadi bidadari dengan kecantikan dan kelimpahan cinta yang teramat memikat.

Hanya saja, bagaimana cara kita mengelola dan menerima perbedaan, itulah pertanyaannya. Kita bisa saja menjadi begitu kritis, tapi tidak selamanya harus memetakan posisi sebagai lawan. Sesekali kita bisa menjadi kawan, yang mengkritik dengan tawaran solusi, bukan melulu teguran pedas yang dikemas dengan bahasan sepenuh benci. Jika kita menyikapi perbedaan sebagai bibit pertentangan, maka yang lahir bukanlah penemuan penyelesaian, melainkan pertengkaran yang jelas tidak mengenakkan. Hidup ini pilihan, demikian lazimnya banyak orang sering berfilsafat. Pilihan kita bukanlah semata hanya meneruskan perbedaan sebagai pemicu permusuhan, tetapi juga bisa berlapang dada menerima perbedaan.

Pilihan kita adalah dari mana kita menilai sikap kritis ini. Dari kecurigaan, ketersinggungan, kemarahan, atau dari kasih sayang, mahabah, atau kepedulian? Memulai sikap kritis dari kemarahan, kecurigaan, atau ketersinggungan akan berbeda sama sekali dengan memberangkatkan sikap kritis dari kasih sayang, mahabah, dan kepedulian2).

“Kita bisa berbeda, Bunda, tanpa harus saling memaki,” kata Ayah, sembari menutup percakapan dengan selembar senyum, yang kabarnya senyum terindah bagi Bundamu.



Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihat.”

Ketika itu Rasulullah tidak langsung menjawab, malah balik bertanya. “Apakah ibumu masih hidup?”

“Ya,” jawab Jahimah.

Rasulullah berkata, “Teguhlah berbakti kepadanya, karena surga berada di telapak kakinya!3)”

Cahaya mataku, apakah yang bisa kita simak dari pengalaman Jahimah? Banyak. Di antaranya, keutamaan berbakti kepada ibunda. Jika jihad kita utamakan karena buahnya adalah surga, maka surga itu ada di dekat kita, di telapak kaki ibu. Berarti, jika ingin menjadi penikmat surga, syaratnya ringan dan mudah: hanya berbakti. Tidak perlu garansi sertifikat tanah atau BPKB kendaraan bermotor. Juga tidak harus dengan menjaminkan SK Pegawai atau mengajukan slip gaji. Surga itu, masya Allah, sangat dekat dengan kita. Sangat dekat. Begitu dekatnya, sehingga kita kerapkali melalaikannya.

Cahaya mataku, dari sejarah yang jejaknya direkam oleh An-Nasa’i berdasarkan rekomendasi rawi Mu’wiyah Ibn Jahimah itu, kita bisa bercermin diri. Sejauh mana kita memahami pentingnya bakti itu? Apakah kita calon penghuni surga karena sukses membuat ibunda tersenyum dan bahagia? Sebaliknya, jangan-jangan kita malah telah mengisi formulir menuju neraka, karena seringnya kita membantah dan bersuara keras kepada ibunda. Na’udzubillah.

Akan tetapi, cahaya mataku, janganlah picik menilai makna petuah Rasulullah itu. Sungguh, Maha Suci Allah. Rasulullah tidak sekadar bertitah tentang surga dan cara memasukinya. Apalagi jika kita menganggap penting kehadiran seorang ibu hanya karena kita ingin masuk surga. Sejatinya, kita memaknai petuah itu dengan menempatkan sosok ibunda sebagai pribadi yang selalu menjadi anutan di tengah ingar-bingar modernisasi. Sosok ibunda harus menjelma sebagai fokus utama cinta kita, dibanding kemaruk pada “rindu” berlebihan kepada “kekasih lawan jenis kita”. Sehingga, tidaklah layak kita berteriak “sebentar” jika ibunda meminta kita melakukan sesuatu, sementara dengan ringan kita menawarkan jasa “apa yang bisa aku bantu” kepada sang kekasih hati. Dan, sangatlah mengenaskan jika kita sampai berkata, “Ibu di dalam saja, jangan keluar. Aku malu jika teman-temanku melihat ibu.”

Masya Allah.

Dari segala penjuru kita sering diingatkan betapa pentingnya menghormati dan berbakti kepada ibunda. Hanya saja, seberapa jauh segala rerupa saran itu itu kita lakukan secara nyata? Bahkan, banyak remaja begitu piawai memilih alasan setiap kali mendapat “tugas” dari ibundanya. Sebut saja F, tetangga sebelah rumah. Setiap kali disuruh ikut antri minyak tanah, jawabannya hanya dua. Pertama: “Sebentar Bu, lagi tanggung nih.” Kedua: “Nanti saja Bu.” Lain lagi dengan R, teman sekelas bibimu di SD Negeri favorit di kecamatan kita. Setiap kali ibundanya minta tolong, jawaban yang dilontarkannya pastilah: “Aku melulu sih disuruh-suruh, yang lain dong bro.”

Astaghfirullah.

Sekali lagi, hidup ini pilihan. Kamu, cahaya mataku, bisa memilih dengan leluasa: menjadi anak penuh bakti atau berlumur dosa.

Setiap manusia leluasa memilih antara pahala atau pun dosa. Hanya saja, alangkah ruginya kita, jika menjatuhkan pilihan pada rerupa dosa.

Konon, sepotong dosa dan kesalahan adalah penjajah. Sebab sebuah dosa adalah segel di atas catatan malaikat. Mengikat abadi. Membuat kita tidak leluasa. Dosa demi dosa adalah deposito yang kita simpan di Bank Perbuatan. Kelak, deposito itu akan menentukan keputusan Pengadilan TUHAN.

Selain itu, orang yang bersalah tidak akan pernah tenang hidupnya. Hatinya serasa terus-terusan dikejar-kejar dosa. Hidupnya senantiasa merasa diburu-buru kesalahan. Itulah mengapa sehingga Rasulullah mengingatkan, “Barangsiapa yang yang amal baiknya membuat hatinya senang dan amal buruknya membuat dirinya sedih, maka dia itu adalah Muslim.”4)



Matahari masih juga mematut-matut diri. Senja semakin membayang di sebelah barat Parung. Para buruh pabrik garmen mulai berlomba meninggalkan gapura tempat mereka bekerja.

Mari cahaya mataku, mari kita mengurangi peluang dosa dengan lebih banyak berbakti. Tentu saja, terutama kepada ibunda.

Rasanya baru kemarin5) aku menikahi Bundamu.

sebelah selatan jakarta, 29/06/08

CATATAN:

1) Sajak Suatu Sore Saat Hujan karya M. Aan Mansyur dalam bukunya Hujan Rintih-rintih.

2) Lihat Eko Novianto dalam Sudahkah Kita Tarbiyah: Refleksi Seorang Mutarabbi, hal. 89.

3) Lihat Satu Tiket ke Surga karya Zabrina A. Bakar, hal. 6.

4) Baca juga Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda karya Ahmad Zaerofi AM., hal. 169.

5) Sajak Rasanya Baru Kemarin karya Musthofa Bisri.



Oleh Khrisna Pabichara

Antara Kejujuran, Kekerasan, dan Cinta

0 komentar

MATAHARI BELUM LAGI tanak di ubun-ubun, cahaya mataku, ketika ayah bergegas mengeja kejut di hati. Lagi-lagi ulah para petinggi negeri ini bertingkah layaknya pelawak dengan leluconnya yang tidak lucu. Menimbulkan satire dan sinisme. Menumpuk rasa tidak percaya warga negara terhadap orang-orang yang selama ini menyandang amanah sebagai wakil mereka. Ya, sungguh mengenaskan berita pagi ini. Entah di koran, pun juga di televisi. Bahkan di radio-radio. Seorang wakil rakyat, lagi-lagi, tertangkap tangan sedang di suap di sebuah hotel berbintang. Duh! Betapa ketidakjujuran menjadi wabah yang menular ke seluruh rongga bangsa.

Ya, masih sangat pagi, ayah sudah dikejutkan oleh berita penangkapan anggota wakil rakyat di Senayan. Lagi-lagi, pemicunya adalah dugaan korupsi atau penerimaan suap. Kali ini, karena diduga terlibat dalam kasus menerima suap pengadaan kapal patrol Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Bagaimana rakyat bisa percaya pada wakil-wakil mereka, jika moral mereka bisa dibeli?

☼☼☼

PADA MULANYA, kita membiasakan pemelajaran cara berbohong yang baik dan benar kepada anak-anak kita. Biasanya, dari hal-hal kecil. Misalnya, ketika kita memaksa putra-putri kita berbohong saat menerima telepon dari seseorang, yang menanyakan keberadaan kita. Lalu, kita meminta putra-putri kita itu untuk berbohong, dengan mengatakan bahwa kita sedang tidak berada di rumah. Padahal, kita sedang berada di samping sang anak yang menerima telepon, sembari memberi instruksi dengan suara berbisik dan mata melotot. Itulah pelajaran berbohong pertama yang akan terus mengakar di benak sang anak, bahkan hingga sampai mereka dewasa.

Bob Talbert pernah berpesan, ”Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari mereka apa yang perlu diperhitungkan.” Kita setengah mati, dengan mulut berbusa, mengajari putra-putri kita tentang nilai-nilai kejujuran, tapi kita sendiri mempraktekkan begini loh cara berbohong seperti pada kasus menerima telepon itu.

Kita jadi lupa bahwa kita telah menanam benih ”ketidakjujuran”. Tanpa kita sadari, kita telah telah melatih mereka untuk berbuat atau mengerjakan sesuatu ”yang tidak benar”.

Maka, kita lupa memperhitungkan kelak apa yang akan terjadi jika sang anak berdalih dengan seribu satu alasan, ketika mereka melakukan kesalahan. Misalnya, saat mereka sedang berada di rumah teman, menginap. Lalu, kita selaku orang tua yang sedang panik kebetulan menelepon temannya itu, untuk menanyakan apakah anak kita ada di sana. Sang anak yang enggan kenyamanannya terganggu, berdasarkan kebiasaan yang telah kita ajarkan, tanpa rasa berdosa meminta temannya untuk menjawab bahwa ia tidak ada di sana.

Apakah kita akan marah? Tidak mungkin, kan! Mengapa? Karena kita sendiri yang mengajarkan cara berbohong itu kepada sang anak.

Kita sering meminta buah hati cahaya mata kita untuk ”mendengar” petuah-petuah kita, tetapi kita sendiri lupa ”mendengarkan” apa sebenarnya yang diinginkan oleh sang anak.

☼☼☼

KEMUDIAN, setelah putra-putri kita besar, mereka semakin terbiasa mencari alasan pembenaran. Jika mereka mendapat amanah sebagai pejabat negara, mereka tahu betul bagaimana caranya menilep harta rakyat, lalu ”melempar batu setelah menyembunyikan tangan”. Jika mereka menjadi pengusaha, terutama jasa konstruksi, mereka sangat paham cara tepat untuk memanipulasi biaya proyek hingga keuntungan jadi berlipat, tidak peduli kualitas bangunan atau mutu proyek yang dikerjakan.

Jika mereka menjadi guru, mereka akan memilih menjadi guru yang tega mendidik dengan cara yang tidak mendidik. Seperti kebiasaan menjemur sembari hormat kepada bendera di halaman sekolah, hanya karena muridnya lupa memakai kaos kaki seragam. Atau mencubit daging perut dengan spenuah rasa sakit, karena siswa lupa menyelesaikan pekerjaan rumah.

Salahkah pilihan sang anak itu? Tidak. Karena kita, sebagai orang tua, telah menanamkan kebencian dan ketidakjujuran di kedalaman sanubari mereka.
Sebutlah beberapa kisah memilukan, karena himpitan ekonomi keluarga sehingga banyak orang tua memilih berlaku kejam pada anaknya. Kasus Indah Sari (3,5 tahun) dan Lindah Syaputra (11 bulan) dibakar di rumah mereka oleh ibu kandung mereka sendiri. Alkisah, pemicunya tak lebih karena tekanan ekonomi, karena suaminya yang pedagang asongan di kaki lima, terus-terusan terkena penggusuran dan razia, sehingga tak sempat lagi mendapat rezeki.

Siapakah yang patut kita salahkan? Ibunyakah yang tega membakar anaknya itu? Bapaknyakah karena tak mampu menafkahi keluarga? Petugas Trantibkah karena mengejar-ngejar sang bapak yang pedagang asongan itu? Pejabat Pemdakah karena menetapkan aturan yang melarang pedagang asongan berkeliaran di kaki lima karena dituding penyebab kemacetan dan ketidakindahan lingkungan? Mungkinkah juga wakil rakyat di DPRD yang menyetujui Perda-perda yang ”kurang berpihak pada wong cilik itu”?

Entahlah, cahaya mataku, mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, sama sulitnya dengan mencari jarum di sela-sela tumpukan jerami.

Lain lagi dengan kisah tragis Herman (6), sang anak ajaib yang mampu memakan tanah. Bukan karena ”kehebatan” memakan tanah itu yang langka, melainkan karena bapaknya, Uci, yang berprofesi sebagai kuli bangunan, tak mampu membeli makanan, apalagi membeli susu. Maka, jangan heran jika Herman tumbuh kurang gizi dan memilih tanah sebagai menu tambahan. Dan kita hanya bisa merasa miris menyaksikan beritanya lewat tayangan liputan beberapa stasiun televisi. Ah, mungkin karena kita telah lupa bagaimana caranya kita bisa peduli.

Jangan pula kita abaikan kisah sedih Eko Haryanto, siswa kelas VI sebuah SD di Tegal, yang mencoba mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, karena menjelang ujian akhir Eko masih menunggak SPP selama 10 bulan. Eko akhirnya memilih gantung diri sebagai cara untuk lari dari rasa malu, meski Eko gagal meninggal karena percobaan bunuh dirinya yang kurang profesional.

Belum lagi kasus-kasus kekerasan seperti geng motor yang banyak memakan korban. Juga kasus percobaan atau pendidikan seks salah kaprah yang pernah marak di mana-mana. Bahkan, banyak yang direkam oleh kamera, lantas disebar di dunia maya tanpa sedikit pun rasa risih dan malu.

Salahkah seorang Herman yang akhirnya memilih tanah sebagai makanan favorit, bukan coklat sebagai laiknya remaja masa kini? Apakah Eko termasuk remaja berperilaku menyimpang karena memilih mati daripada hidup menanggung malu, hanya karena tidak mampu membayar biaya sekolahnya? Bagaimana dengan pesta seks yang dipertontonkan di dunia maya dan diabadikan secara sembunyi-sembunyi oleh kaum remaja? Tentu saja, tidak sepenuhnya kesalahan itu ada di tangan generasi harapan kita, tetapi juga ada pada pendahulunya, termasuk teladan anggota dewan yang memamerkan cara ”bercinta” bagi para remaja!

☼☼☼

KETIDAKJUJURAN ITU bermula dari pemelajaran bagaimana caranya berbohong dengan bijak, seperti kasus menerima telepon. Kelak, ketika mereka tumbuh makin dewasa, mereka semakin cerdas untuk ”akal-akalan” dengan kepentingan rakyat dan negara.

Maka, terjadilah kasus heboh seorang Artalyta dengan kehebatan sinetron telepon genggamnya. Pun beberapa pejabat Kejaksaan Agung yang seharusnya berdiri sebagai masinis penegakan hukum di persada tercinta, malah ”begitu bernyali meminta uang sangu”, tanpa sedikit pun rasa malu. Belum lagi dalih pengacara seorang tersangka kasus suap terhadap seorang anggota dewan, yang dengan enteng menjawab bahwa kebiasaan sunat-menyunat uang proyek di Departemen Perhubungan, mungkin juga di departemen lainnya, adalah hal yang biasa.

Ya, karena sejak kecil kita telah terbiasa dan membiasakan diri untuk mengajarkan kitidakjujuran, juga kekerasan. Dan, bukan cinta. Ya, bukan cinta.
Sehingga, kita tidak perlu kaget jika banyak penyimpangan terjadi ketika anak-anak kita itu tumbuh menjadi dewasa.
Semoga, cahaya mataku, hal seperti ini tidak terjadi pada dirimu.

Amin.

☼☼☼

Oleh Khrisna Pabichara

Semangat Berbagi Cinta

0 komentar

HARI INI, masih sangat pagi. Matahari belum lagi menampakkan diri di sebelah timur bumi. Polusi belum lagi sepenuh hati mencemari udara dan paru-paru. Kelam malam belum sepenuhnya terusir oleh gelembung embun dan fajar. Subuh masih melepuh. Kamu, cahaya mataku, masih berada di negeri mimpi, sebuah negeri bernama entah. Negeri yang mungkin padanya tak ada carut-marut seperti di negeri nyata ini.

Bundamu, anugerah terindah dalam hidup ayahmu ini, sedang sibuk dengan aktivitas remeh-temeh di dapur. Bundamu adalah peruntungan paling mengesankan, cahaya mataku. Kami memiliki banyak kesamaan yang sangat membahagiakan. Kami sama-sama suka tertawa, meski dalam jerit duka yang paling luka. Kami sama-sama suka membaca, meski dalam jejak huruf yang paling sulit dicerna.

Bundamu adalah peruntungan paling mengesankan. Setiap ayah ada di rumah, seperti subuh ini, Bundamu selalu menjadi pribadi yang istimewa. Menyiapkan nasi goreng dan susu hangat kesukaan ayah. Lalu, menemani ayah menyeruput susu dan melahap nasi goreng itu di ruang keluarga, sembari menyalakan televisi, menyimak berita terkini pagi ini. Setelah makan, biasanya, Bundamu akan tiduran di pangku ayah. Udara yang menerobos lewat celah pintu, jendela, dan ventilasi, menambah indahnya suasana. Selalu begini, setiap subuh menjelang pagi, jika ayah ada di rumah.

Bundamu adalah peruntungan yang paling membahagiakan. Di masa sulit yang paling sempit, undamu taklah pernah sedikit pun mengeluh. Bundamu, dalam ketegangan tuntutan kehidupan dan kesedihan yang menyayat, tetap bertahan. Setelah matahari meregang diri sejengkal di atas bumi, biasanya, kamu terbangun dengan teriakan khas dan menggelikan. Kecemasan seorang bocah dengan kebiasaan pipis di tempat tidur. Dan, bundamu tak pernah mengeluh-mengesah. Tangannya yang telaten dan cekatan menuntunmu ke pangku ayah, lalu menarik seprei yang basah dan dicemari air seni.

Begitulah, hingga kamu kembali bermain gembira di beranda, setelah bunda memandikanmu dengan cahaya cinta.

☼☼☼

PAGI INI, seperti biasa, ayah membaca satu demi satu e-mail dari beberapa kolega. Dari sekian banyak e-mail itu, ada satu yang cukup menggugah. Lagi-lagi e-mail berantai. E-mail yang dikirim secara estafet, tanpa ayah tahu siapa sebenarnya pengirim pertamanya. E-mail yang mengusik hati dengan sentilannya yang khas dan penuh kejutan.

Alkisah, sebagaimana ditutur dalam e-mail itu, seorang pengusaha ternama, yang telah dirawat selama tujuh hari di ruang ICU setelah terjatuh di kamar mandi, sedang didatangi Malaikat di dalam mimpi. Sang pengusaha ternama yang kaya raya sedang terbaring tanpa daya, tak bisa banyak berkata. Ia lebih banyak diam. Dan, menunggu.

”Jika dalam tempo 24 jam ada 50 orang mendoakan kesembuhanmu, Tuhan akan memberikan kesempatan hidup lebih lama untukmu. Jika kurang, ajal akan segera menjemputmu.”

Konon, demikian tutur sang Malaikat.

Pengusaha ternama itu menjawab dengan penuh percaya diri, ”Hanya 50 orang?”

”Ya.”

Pengusaha ternama itu lagi-lagi memperjelas. ”Tidak lebih tidak kurang, hanya 50 orang?”

Malaikat kembali menjawab yang sama, ”Ya!”

Setelah Malaikat itu pergi, dengan sisa-sisa tenaga, pengusaha ternama itu segera menghubungi keluarganya, rekan bisnisnya, teman sepermainannya, sahabat seangkatan sekolah dan kuliahnya. Dan, tentu saja, karyawan yang ribuan di banyak anak perusahaan yang dimilikinya. Tak ada yang tersisa. Semuanya dihubungi satu persatu lewat telepon langsung, bukan lewat pesan pendek. Hanya satu yang diminta pengusaha itu, ”Tolong doakan saya, sebelum jam 24 malam ini.”

Keesokan harinya, pada pukul 23.00 malam, sang Malaikat kembali bertandang. Kali ini, sedikit pun tak ada rasa cemas di benak pengusaha muda ternama itu. Bahkan, senyum tersunting di lengkung bibirnya.

”Apakah saya sudah bisa sembuh?” tanya pengusaha ternama itu, tak sabar.

Sang Malaikat dengan senyum teduhnya berkata lembut dan bijak, ”Memang masih ada satu jam tersisa, tapi hingga saat ini, baru ada tiga orang yang berdoa untukmu.”

Pengusaha ternama itu terpana. Ke mana semua sahabat sepermainan di masa kecilnya yang sering menemaninya mabuk-mabukan di pub dan diskotik? Ke mana ribuan karyawan yang menggantungkan harapan hidup di perusahaan, tempat di mana ia tercatat sebagai owner atau CEO? Ke mana semua keluarganya yang sering datang menyembah-nyembah meminta pinjaman uang dan pergi setelah ia memberinya plus bunga berupa sumpah serapah dan caci maki?

Pengusaha itu tak bisa menerima.

Sang Malaikat tak banyak bicara. Dengan isyarat yang mudah terbaca, Malaikat itu mengalihkan pandangan ke layar kaca, sebuah televisi ukuran besar yang tersedia di ruang ICU rumah sakit besar itu. Di televisi itu, terlihat istrinya sedang bersimpuh dengan lelehan air mata, berdoa sepenuh hati demi kesembuhan suaminya. Padahal, pengusaha ternama itu merasa tidak menelepon istrinya.

”Tuhanku,” tutur istrinya di layar kaca, ”Aku tahu suamiku bukanlah seorang ayah atau suami yang bijak. Ia kerapkali menyakiti hatiku. Entah lewat caci maki dan hinaannya. Juga lewat gamparan tangannya. Bahkan, ia sering mengkhianati kesucian pernikahan kami. Selingkuh di mana-mana. Pulang ke rumah dengan aroma alkohol dan mata memerah. Tapi, Tuhanku, anak-anakku membutuhkan kehadirannya. Saya tak mungkin membesarkan mereka seorang diri.”

Lalu, nampak istrinya menyudahi doa. Bergegas ke dapur menyiapkan makanan dan keperluan anak-anaknya. Sementara itu, di kamar anak-anaknya, dua orang putranya sedang bersimpuh meneteskan air mata.

Putranya yang sulung berdoa, ”Ya Allah, aku ahu ayahku galak. Ia jarang di rumah. Ia lalai memberi teladan yang baik. Tapi ia berjuang mencari uang demi aku, ya Allah. Maka, kumohon dengan sangat, ampuni ayahku ya Allah, angkat penyakitnya ya Allah.”

Putranya yang bungsu berdoa, ”Tuhanku, Engkau Maha Tahu betapa selama ini ayahku suka lalai menepati janji. Tapi Engkau juga pasti tahu ya Allah, ayahku membanting tulang demi aku ya Allah, maka sembuhkanlah ia.”

Menyaksikan film cinta isteri dan anak-anaknya, pengusaha muda itu mengalirkan air mata. Seluruh rongga sanubarinya serasa dipenuhi sesak penyesalan.

Sang Malaikat berkata, ”Sebenarnya, Allah rindu memberimu kesempatan hidup, karena cinta kasih tak terhingga dari mereka yang telah kau abaikan. Lihat isterimu yang tetap penuh cinta, meski kamu sering menyakitinya. Lihat anak-anakmu yang setia pada baktinya, meski sering kamu melalaikannya.”

Pengusaha ternama itu semakin tergugu. Air matanya tak lagi mengalir satu-satu.

”Sampaikan pada Tuhanku, ya Malaikat, jika kehadiranku hanya menyisakan luka di hati keluargaku, maka cabutlah nyawaku. Tapi jika kehadiranku yang kedua bisa membahagiakan mereka, angkatlah penyakitku.”

Malaikat itu tersenyum, ”Sayangnya..., baru tiga orang yang mendoakanmu.”

Pengusaha muda yang biasanya sangat arogan itu, sekarang tak bisa berbuat apa-apa.

”Memang, banyak yang mendoakanmu,” tutur Malaikat itu lagi. ”Ada yang berdoa demi kesembuhanmu, tapi minta dinaikkan gajinya. Jadi, doanya tidak ikhlas. Ada yang malah mencaci makimu karena sering kamu marahi tanpa alasan yang pasti. Bahkan ada yang menyumpahimu.”

Pengusaha ternama itu semakin terisak. Jeritnya membelah langit.

Di layar kaca, kurang seperempat jam dari waktu yang ditentukan, 47 orang anak yatim piatu di sebuah panti asuhan sedang menadahkan tangan. Mereka terlihat khusyuk menutur bebait doa. Bibir mereka menggeliat begitu hebat. Air mata mereka menetes. Tangis mereka membahana.

Pengusaha ternama itu terkesima. ”Siapa mereka?”

Sang Malaikat itu menjawab, ”Mereka anak yatim piatu di Panti Asuhan. Bulan lalu kamu menyerahkan bantuan makanan kepada mereka. Allah tahu kamu membantu karena popularitas dan keinginan dipuji. Tapi mereka mensyukuri bantuanmu, lalu mendoakan kesembuhanmu.”

”Bagaimana mereka tahu saya sakit?”

”Tadi pagi, salah seorang di antara mereka membaca koran bekas sehabis mengamen di jalanan. Mengenali wajahmu, lalu mengusulkan untuk mendoakanmu. Karena itu, Allah memberiku kuasa untuk menarik penyakit yang kamu derita.”

Pengusaha ternama itu tak kuasa menahan haru.

☼☼☼

DEMIKIANLAH CAHAYA MATAKU, jika cinta kita tumbuh karena dan atas nama Allah, maka tidak ada yang perlu kita cemaskan lagi. Pertolongan Allah akan selalu datang dari arah yang tidak kita duga. Allah pernah, masih akan, dan selalu akan ada, tetapi Dia tidak akan diperoleh dengan sekadar percaya, doa, atau bahkan pelaksanaan syariat saja. Tetapi juga bersyukur dan berterima kasih atas segala pemberian Allah adalah niscaya bagi kita.

Tak perlu menunggu sekarat untuk berbuat baik, seperti yang dialami pengusaha muda ternama yang kaya raya itu. Tak perlu menunggu Malaikat Maut menyambangi kita dengan tawaran muhasabah barulah kita mencoba berbagi kepada sesama. Cinta itu anugerah, demikian tutur Doel Sumbang. Ya. Cinta itu anugerah, ia membahagiakan jika kita membagi-bagikannya kepada mereka yang kita cinta, juga kepada tetangga dan sesama.

Begitu pun halnya, tak perlu menunggu koma barulah tergerak hati kita untuk mengakui kesalahan. Kita ini manusia, pasti pernah berbiat dosa. Hanya saja, seberapa cerdas kita mengelola rasa bersalah, lantas mengubahnya menjadi sebuah kesadaran baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik? Mengakui kesalahan adalah perbuatan yang sulit. Itu lumrah, karena semua manusia itu memelihara egonya. Namun, akan mudah jika kita berani ”menerima” ketidaksempurnaan kita.

Akan tetapi, seberapa pun sulitnya mengakui kesalahan, lebih sulit lagi meminta maaf. Seperti kasus pengusaha ternama itu, sangatlah berat ia meminta maaf kepada office boy di kantornya, karena perbedaan strata dan struktur perusahaan. Seorang majikan amat sulit mengakui kesalahan kepada anak buahnya. Seorang atasan merasa berat meminta maaf kepada bawahannya. Sekali lagi, ego kita sebagai manusia membangun dinding dan memenjara kesadaran kita. Ditambah lagi dengan godaan setan yang terus berkepanjangan.

☼☼☼

CAHAYA MATAKU, matahari semakin tinggi. Sudah waktunya ayah pergi. Mencari nafkah demi kita semua. Jangan lupa nak, sesering mungkin, teruslah berbagi cinta kepada sesama.

Berkaca pada Bundamu, yang tak pernah letih membagi rerupa cinta.

☼☼☼

Senin, 12 Juli 2010

Harry Potter And The Attachment Grandma (Part II)

0 komentar


Chapter 3
The “Half Blood” Prince

Di lapangan utama, pertandingan Quidditch antara tim Hogwarts dan tim Merapi Jaya sedang berlangsung. Pertandingan ini jauh lebih ramai daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya, sebab pertandingan ini akan sangat menentukan kehormatan kedua sekolah yang saling bersaing itu. Pertandingan yang berjalan dengan sengit itu dipenuhi oleh sorak sorai penonton, terutama dari pendukung tim Merapi Jaya.

“Merapi Jaya, Merapi Jaya, ayoo bantai Hogwarts…! Merapi Jaya, Merapi Jaya… ayoooo bantai Hogwarts,” begitulah yel-yel para penonton.

Sementara itu, pendukung dari tim Hogwarts lebih banyak diam dan mendukung secara sembunyi-sembunyi, hal itu disebabkan karena para pendukung Hogwarts tiba-tiba saja mendapat surat ancaman misterius yang ditulis secara bilingual:

---------------------------------------------
-Surat Ancaman Bilingual-

Dalam Bahasa Indonesia: Dulu kalian pernah menjajah kami, namun sekarang… kalian masih menjajah negara kami. Namun setidaknya kami akan menjaga harga diri sekolah kami, dan oleh karena itu kami akan menang, apapun yang terjadi. Merapi Jaya adalah jiwa raga kami, darah daging kami! Kami yang miskin dan jarang bayar pajak ini rela mengeluarkan uang untuk menyokong tim Merapi Jaya. Kami rela berkelahi dan tawuran demi membela tim Merapi Jaya, mencorat-coret pagar, tembok dan bangunan lainnya. Dan oleh karena itu, kalau sampai Hogwarts menang, jangan harap kalian bisa pulang ke negara kalian dengan selamat! Kami akan mencincang kalian, mengirimkan santet atau teluh ke sekolah kalian! Kalian akan mandul tujuh turunan, sehingga untuk mencapai tujuh turunan itu kalian harus melakukan kloning. Kalian akan menderita serangan jantung, kanker, gangguan kehamilan dan janin, serta impotensi! Awas!

In English: I kill you! I kill you!

-----------------------------------------------

Di tengah lapangan, Harry Potter tampak begitu kewalahan. Ia sudah pernah bertanding dengan berbagai tim Quidditch dari negara-negara lain, namun belum pernah menghadapi lawan setangguh ini. Seperti beberapa waktu lalu, ia masih mampu mengalahkan tim Quidditch dari Arab yang bertanding menggunakan permadani terbang, tapi tim Quidditch dari Indonesia sungguh berbeda, mereka tidak menaiki sapu atau permadani, melainkan terbang begitu saja, mengendarai angin (seperti Voldemort).

Sementara itu, di sudut lapangan, Mak Lampir memperhatikan Harry yang sedang bertanding di atas sapu terbangnya. Kemudian ia mengangkat tongkat tengkoraknya setinggi bahu, memutarnya sampai ujung tongkat mengarah ke atas. Dari mata tengkorak di ujung tongkat itu, keluarlah sebuah sinar merah yang menyerupai garis lurus, sinar itu mengarah sampai ke atas, sampai membuat sebuah titik di dada Harry. Mak Lampir sedang membidik Harry. Harry menyadarinya ketika ia melihat sebuah titik merah yang mengikuti kemanapun ia pergi, dan ia pun menyadari dari mana sinar itu berasal.

“Amburadul!” Mak Lampir mengucapkan mantra.

Sebuah sinar hijau keluar dari tongkat Mak Lampir dan langsung melesat secepat kilat ke arah Harry, untungnya Harry sudah menyadarinya terlebih dahulu, sehingga ia masih sempat menghindar. Sinar hijau itu menghantam sapu terbang Harry dan merubahnya menjadi vacuum cleaner, Harry pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Tolooong!” Harry berteriak.

Di sudut lapangan yang lain, Dumbledore menyadari hal itu, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya. Dari tongkat sihirnya itu keluar sebuah sinar yang langsung membungkus Harry dan membawanya dengan selamat ke dekat Dumbledore berada.

“Te… terima kasih…,” nafasnya terengah-engah, “terima kasih Profesor Dumb.”

Plak. Jenggot Dumbledore menampar Harry.

“Kau tidak apa-apa? Aku tidak menyangka kalau ia akan langsung mengincarmu,” ucap Dumbledore polos.

“Siapa dia sebenarnya?” tanya Harry sambil memegangi pipinya yang merah.

“Dia adalah Attachment Grandma, seorang penyihir yang sangat kuat dan kejam. Mungkin kekuatannya setara dengan….,”

“Dengan siapa?”

“Dengan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, Tom Riddle alias Voldemort.”

“Tapi kau baru saja menyebutnya.”

“Aku lupa.”

“Berkali-kali?”

“Sudahlah. Ayo Harry, kita harus memperingatkan murid-murid yang lain sebelum keadaan menjadi gawat,” Dumbledore menoleh ke arah deretan bangku penonton yang diduduki oleh siswa-siswi Hogwarts.

Mak Lampir yang tadi berada di sudut lapangan, kini langsung terbang ke tengah-tengah arena Quidditch, “Bubar! Bubar kalian semua!,” ia tertawa selama tiga menit, “sekarang, tangkap Harry Potter!”

Para anggota tim Merapi Jaya yang sedang bertanding Quidditch segera menuruti perintah Mak Lampir untuk mengejar Harry dan mengabaikan pertandingan. Para supporter yang ganas pun juga dilepaskan dari penjara bertegangan tinggi yang mengurung mereka atas perintah Mak Lampir. Mereka semua mengejar Harry dan Dumbledore, mengeluarkan seluruh kemampuan sihir mereka untuk menyerang atau berubah wujud: menjadi naga, kalajengking raksasa, tyranosaurus, brontosaurus, atau Dewi Persik. Dumbledore kewalahan menghalau semua serangan itu, bahkan ketika para guru Hogwarts yang lain ikut membantu, ternyata tak membawa banyak perubahan.

Harry yang sedang berlindung di balik kursi penonton, dikagetkan oleh Mak Lampir yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Jurus Mak Lampir berpindah tempat adalah pada tingkat yang tinggi, sehingga tak seperti penyihir-penyihir amatir yang saat berpindah tempat harus memunculkan awan atau asap—-atau pada beberapa penyihir berpengalaman biasanya mengeluarkan suara plop atau bang, Mak Lampir bisa menghilang dan berpindah tempat tanpa mengeluarkan asap atau awan, tapi hanya sebuah efek suara yang berbunyi “ting!”.

“Akhirnya kita bisa bertemu juga,” ucap Mak Lampir, lalu ia tertawa selama tujuh menit.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa sepertinya seluruh penyihir jahat dan kuat selalu saja mengincarku?” Harry mengeluh sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Aku tidak ke sini untuk membunuhmu, tapi aku hanya ingin mengajakmu bergabung bersamaku,” Mak Lampir tertawa selama satu detik.

“Bergabung? Kenapa?”

“Baiklah, tentunya kau ingin mengetahui rahasia terbesar tentang dirimu, bukan begitu? Apakah kau sudah siap untuk mendengarkan siapa jati dirimu sebenarnya, Harry Potter?”

“Certainly.”

Mak Lampir kemudian tertawa selama dua puluh menit sebelum akhirnya memulai penjelasannya, “Kau… sebenarnya… kau adalah… Gerandong!” ia tertawa lagi.

Harry membenarkan kacamatanya, lalu menatap Mak Lampir dengan tenang, tidak ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya.

“Kenapa kau tidak terkejut sama sekali? Apakah kau sudah tahu sejak awal?” tanya Mak Lampir heran.

“Tentu saja aku sudah tahu. Kau bukan orang pertama yang menyebutku demikian. Aku sadar, aku memang Gerandong,” ucap Harry tenang, lalu seberkas senyum tersungging di bibirnya.

“Tidak mungkin! Mustahil…, seharusnya cuma aku saja yang tahu bahwa kau adalah jelmaan Gerandong! Siapa yang memberitahumu sebelum aku?” Mak Lampir tampak kebingungan.

Harry tersenyum penuh kemenangan, “Sudah sering terjadi. Setiap kali tante-tante atau wanita yang lebih tua berusaha mendekatiku, mereka selalu mengatakan bahwa aku adalah Gerandong.”

“Itu Berondong!” ucap Mak Lampir setengah berteriak dengan suara seraknya.

Harry Potter tampak terkejut, keringat menetes di pelipisnya, jantungnya berdetak semakin kencang, “Apa? Lalu… apa itu Gerandong?”

“Gerandong adalah monster terkuat yang pernah aku ciptakan. Dulu, setelah Gerandong dipenjara di kahyangan, aku menggunakan Ajian Pengunduh Sukma untuk melebur jiwa Gerandong dan membentuknya menjadi seorang anak kecil. Namun karena saat itu baskom ajaibku sedang mengalami gangguan koneksi, akhirnya terjadilah kesalahan yang menyebabkan kau terlempar ke Inggris dari kahyangan. Dan sekarang, adalah saatnya kau kembali padaku, Gerandong, Pangeran Berdarah Campuran: manusia dan siluman,” ucap Mak Lampir, kali ini tidak tertawa.

“Fitnah! Fitnah! Semua itu adalah kebohongan! Aku adalah Harry Potter, ayahku bernama James Potter!” ucap Harry sambil berteriak-teriak.

“Bukan! Ayahmu adalah Mardian Si Siluman Harimau!”

“Aaahhh!!!” Harry berteriak kesakitan, seperti ada sesuatu yang menyeruak keluar dari dalam dirinya. Tenggorokannya tercekat, kepalanya terasa berat bukan main, secara sekilas muncul potongan-potongan ingatannya di masa lalu sebagai Gerandong.

“Sekarang kau mengerti kan, kenapa kau bisa selamat dari mantra Voldemort ketika kau masih kecil dulu? Itu karena pada saat itu aku menggunakan kekuatanku untuk melindungimu dari jauh. Yang melindungimu bukan Lilly Potter, tetapi aku! Kau juga bisa berbicara parseltongue karena kau adalah setengah siluman!”

“Jangan dengarkan dia, Harry! Itu semua dusta!” tiba-tiba Dumbledore hinggap di samping Harry.

“Oh, rupanya kau, Ki Dumbi,” ucap Mak Lampir ketika melihat Dumbledore.

“Namaku Albus Dumbledore!” ucap Dumbledore sambil menatap Mak Lampir tajam.

“Lihatlah sekarang, apa yang terjadi pada murid kesayanganmu itu? Ia akan kembali ke wujud aslinya! Hahaha!”

Dumbledore memeriksa keadaan Harry yang sudah berlutut sambil terlihat menggigil. Ia dapat melihat rambut-rambut hitam yang tumbuh di sekujur tubuh Harry secara cepat: di kening, leher, tangan, dan betisnya. Bekas luka di keningnya juga tampak bercahaya dan menjadi semakin besar. Sementara itu Harry terus mengerang kesakitan, ia berguling-guling di atas lantai.

“Hentikan semua ini!” ucap Dumbledore pada Mak Lampir, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya dan sebuah sinar biru menyerang Mak Lampir.

Mak Lampir menggerakkan ujung tongkatnya dan menyerap sinar yang dikeluarkan Dumbledore, kemudan ia tertawa terkekeh-kekeh. Merasa kekuatannya tidak sebanding, Dumbledore mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia terlihat gugup dan berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau sudah tahu, kekuatan sihirmu masih jauh di bawahku. Kau tidak memiliki apapun untuk mengalahkanku!” ucap Mak Lampir sambil maju beberapa langkah.

Mak Lampir mengayunkan tongkatnya, lalu sebuah sinar merah terpancar dan menghantam kaki sebelah kanan Dumbledore, memaksanya untuk berlutut. Ia meringis menahan sakit, tapi kemudian ia menatap Mak Lampir dalam-dalam.

“Baiklah, Attachment Grandma. Kau memang memiliki segalanya, segala kekuatan yang tak kumiliki. Tapi tahukah kau? Aku sungguh kasihan padamu, karena ada sesuatu yang kumiliki…, tapi tidak pernah kau miliki seumur hidupmu…,” ucap Dumbledore dengan tenang.

Mak Lampir terdiam sejenak, ia menatap mata Dumbledore dengan tajam sambil berpikir. Tidak lama kemudian ia terkekeh geli, “Biar kutebak… Cinta? Kasih sayang? Persahabatan?”

“Bukan! Jenggot sepanjang satu meter!” Dumbledor mengambil tongkat sihirnya dan mengayunkannya ke arah jenggotnya sendiri, “Beardus Extensius!”

Tiba-tiba saja jenggot putih Dumbledore menjadi semakin panjang dan semakin kuat, lalu jenggot itu menjalar menuju ke arah Mak Lampir. Mak Lampir terkejut dengan apa yang dilihatnya, lalu jenggot itu pun membelit tubuh Mak Lampir dan mengangkatnya sampai empat meter di atas tanah. Mak Lampir menjerit kesakitan karena tubuhnya diremas oleh jenggot Dumbledore.

“Sekarang, menyerahlah dan kembalikan Harry Potter ke wujudnya semula!” ancam Dumbledore sambil mengacungkan tongkat sihirnya.

“Itulah yang sedang kulakukan, bodoh! Wujud asli Harry Potter adalah Gerandong!” suara Mak Lampir terdengar agak terputus-putus.

Dumbledore mengerutkan keningnya, dengan berbuat demikian ia membuat jenggotnya lebih erat lagi mengikat Mak Lampir. Mak Lampir berteriak-teriak kesakitan, sementara Harry sudah menjadi setengah manusia berbulu lebat.

Dalam keadaan yang menegangkan tersebut, tiba-tiba terdengar sebuah suara ledakan, dan tempat itu pun terasa berguncang dengan hebatnya. Dumbledore kehilangan keseimbangan, sehingga Mak Lampir terjatuh dari ikatannya. Semua orang di tempat itu menerka-nerka dari mana asal ledakan itu. Awalnya mereka mengira itu adalah salah satu ledakan yang berasal dari pertarungan antara murid-murid Hogwarts dan murid-murid Padepokan Merapi, tapi ternyata ledakan itu berasal dari sebuah bom yang meledak di pintu masuk stadion.

Sekonyong-konyong sekelompok orang berbaju gamis dan berbaju koko—beberapa di antaranya memakai sorban—masuk ke tengah-tengah lapangan. Mereka membawa golok atau bambu runcing dan ada juga yang membawa bendera yang diacung-acungkan ke atas. Di tengah lapangan mereka membuat formasi, dan salah seorang pemimpinnya mulai berorasi dengan memakai pengeras suara.

“Kami umumkan pada semua yang berada di sini, bahwa tempat ini akan kami tutup dan segel karena merupakan tempat praktek ilmu sihir! Kalian semua para penyihir adalah orang-orang musyrik yang bekerja sama dengan setan, oleh karena itu kami tidak akan segan-segan untuk melakukan tindakan apapun yang diangap perlu!“

Tiba-tiba saja seorang siswa Padepokan Merapi yang telah berubah menjadi T-Rex berusaha menyerang orang yang sedang berorasi tersebut dengan cara mencakarnya. Laki-laki itu terpental beberapa meter, tapi kemudian bangkit kembali. Ia memperlihatkan tubuhnya yang sama sekali tak menunjukkan luka atau cedera apapun, lalu ia tersenyum lebar.

“Percuma saja kalian menyerang kami! Kami kebal terhadap senjata tajam dan senjata api! Karena kami adalaaah… Pasukan Berani Kebal!” ucap orang itu dengan bangga. Kemudian masing-masing anggotanya yang lain mempertontonkan kemampuan kebal senjata mereka dengan cara membacok dan menusuk tubuh mereka sendiri yang tentunya tak menimbulkan luka sedikitpun.

Ternyata mereka berasal dari PBK atau Pasukan Berani Kebal, salah satu kelompok bersenjata yang sebenarnya berniat untuk pergi ke Gaza pada saat terjadi konflik dengan Israel beberapa minggu lalu, namun karena mereka ditolak oleh Palestina, akhirnya mereka memutuskan untuk menggerebek Padepokan Merapi yang terbukti sebagai tempat praktek sihir dan perdukunan.

Seorang penyihir dari Padepokan Merapi menggunakan tongkat sihirnya untuk menyerang salah seorang anggota PBK dengan sebuah bola api yang cukup besar. Anggota PBK yang memakai sorban itu memukul bola api tersebut dan melenyapkannya, sekali lagi ia membacok tubuhnya sendiri untuk memperlihatkan kekebalannya, “Ilmu sihir kalian tidak akan mempan terhadap kami. Tapi jangan disalahartikan, imu kebal kami bukan ilmu sihir, soalnya kami membaca doa dulu. Hiaaa!” orang itu kemudian berlari dan bertarung dengan penyihir Padepokan Merapi yang tadi menyerangnya.

Di sisi lain, Dumbledore memanfaatkan kekacauan itu untuk menggendong Harry dan menyelamatkannya, namun Mak Lampir menyadari hal itu, ia segera menghadang Dumbledore yang jenggotnya sudah kembali ke bentuk semula.

“Kau tak akan pergi membawa anak itu!” tukas Mak Lampir.

“Tidak. Tidak akan kubiarkan kau merusak masa depan anak ini seperti yang kau lakukan kepadaku dulu!” ujar Dumbledore berang.

“Dulu?”

“Ya, dulu! Ketika aku masih sangat kecil dan kau sedang bertamasya keliling Eropa, kau yang saat itu sudah setua dan sejelek sekarang, tiba-tiba saja menghampiriku. Kau melakukan hal yang sangat buruk kepadaku, sehingga semenjak saat itu aku kehilangan rasa tertarik terhadap perempuan, semenjak saat itulah aku menjadi gay! Dan sekarang, banyak penggemar Harry Potter yang menghakimi aku!” Dumbledore terlihat semakin berang sekaligus sedih.

“Itu bukan urusanku! Sekarang berikan anak itu kepadaku…!”

Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar terjadi tepat di samping Mak Lampir, sehingga ia terpental sampai beberapa meter. Mak Lampir terbatuk-batuk dan berusaha bangkit, namun seketika itu juga tiga orang anggota PBK menyerang Mak Lampir dan cukup membuat Mak Lampir kewalahan. Melihat kejadian itu, Dumbledore tidak membuang-buang kesempatan, ia segera menghilang bersama Harry ke dalam asap hijau yang ia ciptakan.

Epilogue

Harry, Hermione, dan Ron duduk dengan tenang di dalam kereta sihir yang akan membawa mereka kembali ke Hogwarts. Masing-masing dari mereka tampak begitu kelelahan, bahkan Ron dan Hermione sempat tertidur beberapa jam yang lalu. Namun tidak demikian dengan Harry, ia tidak sempat tidur, karena ia harus terus menerus mencukur rambut-rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Dumbledore telah meyakinkan dirinya bahwa kata-kata Mak Lampir mengenai dirinya sebagai Gerandong adalah kebohongan belaka, dan rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya itu adalah semacam kutukan yang belum ditemukan penangkalnya. Oleh karena itu sampai penangkalnya ditemukan, Harry harus terus membawa alat cukur kemanapun ia pergi.

“Hormon, apa kau tahu mantra untuk membebaskanku dari kutukan ini?”

Plak.

Kunjungan ke Indonesia ternyata telah membawa pengaruh besar bagi para murid Hogwarts. Selain mereka telah menyaksikan sendiri sisi gelap dan anarkis dari dunia sihir, mereka juga mendapatkan pengalaman dan oleh-oleh yang unik. Seperti misalnya Ron yang menyelundupkan tuyul di dalam tasnya, atau Si Kembar Weasley yang berhasil menguasai ilmu babi ngepet: sepanjang perjalanan pulang George menjelma menjadi babi ngepet dan berkeliaran di seluruh gerbong, sementara Fred dengan sabar menjaga lilin—-dan terkadang dengan usil sengaja meniupnya.

Sementara itu, di gerbong utama, para guru masih sibuk berusaha mengembalikan tubuh Severus Snape ke dalam bentuknya semula. Sampai sejauh ini, mereka berhasil memperbaiki 90% dari susunan tubuh Snape, namun beberapa bagian masih sulit untuk diperbaiki; telinganya masih ada di pantat dan letak ibu jari tangannya masih tertukar dengan jari telunjuk. Mereka mengakui, bahwa mantra amburadul yang digunakan oleh Mak Lampir sangat berbeda dengan mantra-mantra sejenis yang mereka ketahui, sehingga untuk menghilangkan kutukannya mereka harus menggunakan mantra yang lokal pula. Dumbledore masih sibuk meraba-raba sekujur tubuh Snape untuk mencari bagian yang salah—-dan Snape menatapnya dengan perasaan terganggu—-sementara McGonagall masih terus membolak-balik halaman buku Mantrapedia Indonesia.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Dumbledore.

“…yes,” jawab Snape singkat dengan tatapan matanya yang dingin dan wajah yang pucat.

“Jangan merasa terganggu. Kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum buku Harry Potter bagian selanjutnya terbit,” ucap Dumbledore, “atau Voldemort akan menertawakan kita.”

“…yes.”

THE END

Keterangan:

1) PBK bukan nama partai dan tidak ada hubungannya dengan organisasi manapun di Indonesia.
2) Viking dan The Jak yang ada dalam cerita ini tidak ada hubungannya dengan yang ada di dunia nyata.
3) Dumbledore adalah gay diambil dari pernyataan J.K. Rowling sendiri, dan bukan bertujuan untuk mendiskreditkan kelompok tertentu.
4) Harry Potter, Ron, Hermione, Dumbledore, Severus Snape, George & Fred Weasley, Mc Gonagall, Lort Voldemort, Quidditch, Mak Lampir, dan Gerandong adalah tokoh-tokoh yang tetap merupakan milik penulis asli masing-masing.
5) Terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada cerita Harry Potter dan Mak Lampir/Misteri Gunung Merapi yang asli.
6) Nama Dewi Persik hanya cameo.

Harry Potter and The Attachment Grandma

0 komentar


Pada suatu waktu (tentunya sebelum kejadian di Harry Potter and The Deathly Hallows), sekolah sihir Hogwarts diundang untuk menghadiri open house sebuah sekolah sihir di Indonesia. Bagi penyihir-penyihir di daratan Eropa, bisa mengunjungi sekolah sihir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi, sebab selama ini para penyihir Indonesia selalu menutup diri dari dunia luar, sehingga kesaktian mereka kerap kali menjadi misteri. Pada acara tersebut rencananya akan diadakan pertandingan-pertandingan dari berbagai macam cabang sihir dan juga pertandingan persahabatan Quidditch. Tentu saja seeker terbaik Hogwarts, Harry Potter diikutsertakan dalam pertandingan itu, bersama dengan pemain Quidditch terbaik lainnya yang dipiih dari seluruh asrama. Mereka benar-benar tak punya bayangan pemain Quidditch seperti apa yang dimiliki Indonesia, sebab olahraga ini masih terbilang asing bagi penyihir Indonesia.

Kereta sihir Hogwarts terbang di atas daerah tropis di garis khatulistiwa, sementara langit malam yang gelap dapat terlihat dari jendela kereta dimana Harry, Hermione, dan Ron duduk sambil melamun.

“Selamat datang di negeri eksotis,” gumam Ron, memecah lamunan mereka.

“Well, aku merasa kita akan segera melihat makhluk-makhluk sihir yang tak pernah kita lihat sebelumnya,” ucap Hermione sambil membolak-balik sebuah buku tebal setebal buku telepon.

“Apa maksudmu, Hormon?” tanya Harry dengan suara yang aneh.

“Hermione!” protes Hermione diikuti oleh suara tawa cekikikan Ron.

“Harry baru saja memakan coklat Namus Scramblus, dia tidak akan bisa mengucapkan nama orang dengan benar selama tiga hari tiga malam,” Ron menjelaskan sambil menahan tawa.

“Dan kau yang memberikan coklat itu?” tanya Hermione sambil melirik pada Ron.

“Not really….”

“Hei, Hormon, kau belum menjawab pertanyaanku,” ujar Harry.

Hermione memukul wajah Harry dengan buku tebal di tangannya sebanyak tiga belas kali, menimbulkan luka yang cukup serius, namun tidak menyembuhkan kutukan Namus Scramblus yang ada di lidah Harry saat ini. Harry hanya bisa pasrah dengan perlakuan yang ia terima sambil kemudian menangkap buku tebal itu saat Hermione melemparnya.

“Hantupedia: Ensiklopedia hantu dan makhluk-makhluk sihir di Indonesia,” Harry membaca judul yang tertera di buku itu dengan lantang.

“Sst… jangan keras-keras, aku merasa salah satu dari mereka akan mendatangi kita,” ucap Hermione sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Mereka bertiga memasang telinga baik-baik, berusaha mendengarkan suara-suara halus yang nyaris tak terdengar. Selain mereka bertiga, tampaknya para murid yang lain sudah tertidur lelap, sementara para guru berada di gerbong yang lain, sehingga suasana menjadi begitu hening. Di antara suara mesin kereta yang digerakan dengan tenaga sihir, terdengar pelan suara sesuatu yang bergesekan, atau lebih tepatnya seperti sesuatu yang diseret. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda bahwa makhluk apapun yang membuat suara itu sudah semakin dekat dengan tempat duduk mereka.

Tidak sampai satu menit kemudian, sesosok perempuan berbaju perawat lewat di samping mereka. Perempuan itu tidak berjalan, melainkan menyeret tubuhnya sendiri di lantai dengan gerakan yang pelan namun berat. Tubuh makhluk itu dipenuhi darah dan kotoran, beberapa bagian bajunya tampak terkoyak-koyak. Harry, Hermione dan Ron menatap makhluk itu sambil menahan nafas. Suasana pun menjadi tegang, sementara Hermione mengambil Ensiklopedia dari tangan Harry dan mencari-cari data mengenai makhluk itu.

“Ah, ini dia. Nama makhluk itu adalah Suster Ngeshoot,” bisik Hermione.

“Apa artinya?” tanya Ron sambil melirik.

“Dalam Bahasa Inggris, berarti Sliding Nurse,” jawab Hermione.

“Sliding Nurse?” gumam Harry, ia merasa bisa mengucapkan nama itu dengan benar, sebab itu bukan nama manusia.

“Benar-benar eksotis,” gumam Hermione lagi.

Di belakang makhluk itu, sesosok raksasa tinggi besar muncul dan menimbulkan suara berdebam yang keras setiap kali melangkah. Makhluk itu tercatat sebagai Buto Ijo atau The Blind Green, masih merupakan kerabat jauh dari Troll. Di belakang The Blind Green, sekelompok anak kecil berkepala botak berlarian ke sana ke mari sambil sesekali mengambil dompet para murid yang tertidur. Makhluk-makhluk itu teridentifikasi sebagai Tuyul atau Indonesian Pickpocket Dwarf, spesialisasi dalam mencuri uang. Di belakangnya lagi, seekor babi sihir sedang menggesek-gesekkan tubuhnya ke setiap pintu gerbong. Babi itu tercatat sebagai Babi Ngepet, atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Itchy Boar, spesialisasi juga dalam mencuri uang—seperti orang Indonesia pada umumnya.

Mereka bertiga tidak hentinya berdecak kagum saat melihat parade makhluk-makhluk sihir asal Indonesia itu. Namun mereka tak mampu lagi berdecak kagum ketika makhluk-makhluk yang lebih menyeramkan muncul, misalnya ketika Sundal Bolong atau Hollow Bitch menatap mereka dan memperlihatkan punggungnya yang berlubang penuh darah, sambil makan sate seratus tusuk. Atau ketika Child of Kunti menghampiri mereka dan mencekik Harry.

“Expeliarmus!” Ron berusaha menyerang makhluk itu, tapi ternyata tidak mempan.

“Tampaknya mantra semacam itu tidak berguna, kita harus mencari mantra yang lebih lokal!” ucap Hermione sambil membolak-balik halaman bukunya, sementara Harry sudah hampir mati kehabisan nafas.

Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Hermione menemukan juga sebuah mantra lokal yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengusir makhluk berbahaya itu.

“Ini dia!”

“Cepatlah! Wajah Harry sudah terlihat seperti Kau-Tahu-Siapa, begitu buruk,” ucap Ron.

“A… ana kidung rumeksa ing wengi, teguh hayu huputa ing lar. Luputa bilahi jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala,” Hermione mengambil nafas sebelum melanjutkan mantranya, ia tidak biasa merapal mantra yang panjang dan berbahasa aneh seperti itu.

Sementara itu, Harry sudah hampir mati dicekik Child of Kunti sejak sepuluh menit yang lalu, wajahnya sudah membiru dan matanya melotot, “Ho… Hormon… cepattt… cepat…,”

“Gu… gu… gumaning wong luput, geni atemah tirta, maling adon tan ana ngarah ing mami, guna duduk pan sirna!” lalu Hermione mengayunkan tongkat sihirnya.

Child of Kunti tertawa cekikian dengan suara yang melengking, setelah itu baru ia melepaskan tangannya dari leher Harry. Harry terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sakit bukan main, sementara itu Child of Kunti meninggalkan mereka bertiga dan bergabung dengan rombongan hantu lainnya yang sudah bergerak ke gerbong berikut. Mereka bertiga akhirnya bisa bernafas dengan lega—kecuali Harry. Untunglah setelah itu tak ada lagi rombongan hantu yang lewat sehingga mereka bisa beristirahat dan tertidur pulas. Namun sayangnya, Hermione tidak menyadari bahwa mantra yang tadi ia bacakan selain berfungsi untuk menghilangkan pengaruh sihir juga berguna untuk mempermudah jodoh. Itulah mengapa dari luar jendela kereta, Child of Kunti terus memandangi Harry tanpa berkedip….

Chapter 2
The Witch Which Watches Who Wears Watch Wich is a Bitch

Esok paginya, rombongan Hogwarts telah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh surat undangan sihir. Mereka semua turun dari kereta dipimpin oleh para guru dan kemudian berhenti di depan sebuah papan besar yang berhiaskan tengkorak manusia dan bertuliskan: PADEPOKAN ILMU GAIB GUNUNG MERAPI (sedang dalam renovasi, hati-hati banyak jenglot berkeliaran). Di sebelahnya ada terjemahan dalam Bahasa Inggris yang tampaknya baru saja dibuat: WIZARDRY AND BLACK MAGIC SCHOOL OF MOUNT MERAPI (renovation in progress, beware of Ugly-Looking-Long Haired-Vampiric-Living-Mini-Voodo-Doll).

“Tempat yang menyeramkan, bukan begitu?” ujar Dumbledore ketika Severus Snape menghampirinya.

“Ah, kurasa demikian,” Snape memicingkan matanya dan menatap puncak gunung merapi.

“Kita harus menjauhkan anak-anak dari Kita-Tidak-Tahu-Siapa,” ucap Dumbledore lagi.

“Ya. Dia adalah Seseorang-Yang-Namanya-Tak-Bisa-Disebut-Karena-Sekalipun-Kita-Ingin-Menyebutnya-Kita-Tidak-Tahu-Siapa-Namanya-Atau-Bahkan-Siapa-Dia,” Snape lalu menghela nafas dan berdeham pelan.

“Untuk itulah kau ada di sini, Severus.”

“Jangan khawatir, anak-anak ada dalam pengawasanku. Terutama bocah itu.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam Padepokan, dan kini mereka menyaksikan sebuah lapangan besar yang merupakan arena pertandingan Quidditch dan pertandingan lain yang akan diadakan. Di salah satu sudut stadion, para pendukung tim Quidditch Indonesia bersorak-sorai dan membuat keributan, mereka tampak begitu brutal sehingga bagian tempat duduk mereka harus dijaga dengan segel sihir tingkat tinggi. Harry dapat melihat sekelompok supporter Quidditch yang membawa bendera bertuliskan Viking sedang adu mulut dengan kelompok supporter lain yang membawa bendera bertuliskan The Jak. Keributan mereka semakin lama semakin parah, sehingga seorang pengawas keamanan harus menyetrum mereka dengan listrik sihir bertegangan tinggi.

Harry duduk di antara Severus Snape dan Dumbledore. Sejak masuk ke dalam sini ia sudah merasa tak nyaman dengan cara Snape mengawasinya, seolah-olah ia tak pernah sedetikpun melepaskan pandangannya. Di sebelah kanan Harry, Albus Dumbledore sedang mengelus-ngelus jenggotnya yang berwarna putih sambil menonton pertandingan pertama yang akan digelar. Quidditch ada di rangkaian pertandingan ke-empat, jadi Harry punya banyak waktu untuk menonton pertandingan sebelumnya.

Pertandingan pertama adalah Transfigurasi, yaitu kemampuan untuk merubah diri sendiri menjadi bentuk lain, misalnya binatang--dikenal juga dengan istilah Animorph. Seorang siswa Hogwarts yang cukup berbakat maju ke tengah lapangan dan menunjukkan kemampuannya, dalam sekejap saja ia telah berubah menjadi seekor kucing hitam yang lincah. Beberapa saat kemudian, seorang siswa yang lain langsung berubah menjadi seekor kelelawar yang bisa terbang kemana-mana. Para pendukung dari Hogwarts memberikan tepuk tangan meriah, sementara para pendukung dari Indonesia tak henti mencacinya.

“Siapa yang paling hebat? Padepokan Merapi yang terkuat…, ganyang Hogwarts! Ganyang Hogwarts!” begitulah bunyi yel-yel mereka.

Ketika tiba giliran Padepokan Merapi, seorang anak laki-laki berumur lima belas tahun maju ke tengah lapangan dan memperkenalkan diri sebagai Ki Karang Anom. Ia lalu merapal sebuah mantra, dan seketika itu juga ia berubah menjadi sesosok makhluk. Bukan kelelawar, bukan kucing, apalagi tikus; ia berubah menjadi Tyranosaurus! Siswa-siswi Hogwarts terdiam, mereka tidak menyangka ada kemampuan seperti itu, bahkan para guru Hogwarts pun dibuat terkejut. Tidak hanya sampai disitu, Tyranosaurus itu pun berubah lagi menjadi seekor kalajengking raksasa yang tidak memiliki bayangan dan memiliki kontras warna yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya.

“Mencengangkan…,” gumam Snape.

“Aku belum pernah melihat sihir semacam itu sebelumnya,” tambah Dumbledore.

“Tak bisa dipercaya, seolah dibuat dengan efek komputer,” ujar Harry.

Setelah pertunjukan pembuka itu, tibalah saatnya bagi Kepala Sekolah Padepokan Merapi untuk memberi kata sambutan dan ucapan selamat datang. Kepala Sekolah Padepokan Merapi ternyata adalah seorang wanita, sama tuanya dengan Dumbledore, namun memiliki wajah yang lebih menakutkan dan berpakaian serba hitam. Dumbledore seketika itu juga gemetar, begitu pula dengan Snape. Seseorang-Yang-Kita-Tidak-Tahu-Siapa ternyata adalah Mereka-Tahu-Siapa.

“Wanita… wanita itu…,” gumam Dumbledore cemas, keringat menetes di pelipisnya.

“Ini berbahaya. Aku tidak menyangka dialah kepala sekolahnya,” ucap Snape.

“Siapa dia?” tanya Harry penasaran.

“Dia adalah… Mak Lampir…,” jawab Dumbledore.

“Atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai, Attachment Grandma,” tambah Snape.

Setelah beberapa kali melakukan check sound, Mak Lampir akhirnya memulai pidato penyambutannya. Pertama-tama, ia mulai dengan tertawa sepuas-puasnya, kurang lebih selama sepuluh menit, baru setelah itu ia mulai berbicara.

“Tamu undangan dari sekolah Hogwarts yang kami hormati, senang sekali rasanya bisa menjamu kalian di sekolah kami yang megah ini. Sudah lima ratus tahun kami tidak pernah mengundang siapapun ke dalam sekolah ini, ini adalah kehormatan buat kalian. Dahulu kala, ketika negara kalian menjajah negara kami, kami sebagai para penyihir tak pernah tinggal diam. Kami selalu pro-aktif dalam menjalankan berbagai konspirasi, yang kadang berpihak kepada penguasa, kadang berpihak kepada para pejuang. Lalu setelah Indonesia merdeka, kami pun tetap berperan di balik layar, mengendalikan para penguasa, pejabat, dan infotainment. Oleh karena itu, saya selaku kepala sekolah di tempat ini, ingin memberikan satu wejangan: Jas Hitam! Jangan sekali-sekali meremehkan ilmu hitam! Hahahahaha….“

Pidato Mak Lampir ditutup dengan tertawa bersama-sama kurang lebih selama lima belas menit—itulah mengapa penjual permen pelega tenggorokan begitu laku di stadion ini— setelah itu ia pun terbang dan menghilang di balik stadion. Susunan acara selanjutnya dibacakan oleh seorang MC tamu, yaitu Laksmini Pendekar Seksi dari Gunung Lawu.

Snape dan Dumbledore terlihat semakin gelisah, terlihat dari tatapan mata Snape yang semakin tajam dan Dumbledore yang mengelus jenggotnya semakin cepat. Sementara itu Harry juga tampak gugup, karena sebentar lagi ia harus bertanding Quidditch melawan penyihir-penyihir Indonesia yang tampak menyeramkan itu.

“Tampaknya aku harus pergi,” ujar Snape.

“Baiklah, lakukan apa yang seharusnya dilakukan,” ucap Dumbledore sambil mengelus jenggotnya dengan gerakan semakin cepat.

Snape mengangguk pelan, lalu segera bangkit dari tempat duduknya. Namun sebelum ia pergi, ia menatap Harry sekali lagi, “Potter, tetap di sini, jangan pergi kemana-mana.”

“Tapi sebentar lagi aku harus bertanding,” ujar Harry.

“Aku tidak peduli,” ucap Snape ketus.

“Profesor Dumb…?” Harry meminta pembelaan dari Dumbledore, tapi ia malah ditampar oleh Dumbledore menggunakan jenggotnya.

“Jangan memanggilku begitu, itu membuatku terdengar bodoh!”

“Ma.. maaf, Profesor Dumb, tapi aku terkena sihir Na…,”

Harry ditampar lagi oleh jenggot Dumbledore, berkali-kali. Sementara itu, Snape langsung pergi ke belakang stadion, menuju sebuah lorong gelap yang sepi.

***

Lorong itu sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya lampu petromak di dindingnya, selain itu bau kemenyan terasa begitu menyegat dan memenuhi setiap bagan lorong. Ketika Snape melangkah lebih jauh lagi, ia menemukan sebuah nampan berisi makanan ringan, ayam, dan nasi. Ia bergumam pelan, menggerutu tentang bagaiman penyihir Indonesia terlalu berbaik hati kepada makhluk-makhluk sihir mereka. Gerutuan Snape berhenti ketika dari kejauhan ia melihat sesosok penyihir yang sedang ia cari-cari.

“Attachment Grandma…,” ucap Snape pelan sambil menghampiri sosok Mak Lampir di lorong itu.

Mak Lampir berbalik, lalu tertawa terbahak-bahak—jenis tawa yang sudah dipatenkan agar tak ditiru oleh penyihir Malaysia. Kemudian ia menatap Snape, seolah sudah begitu lama mengenalnya, begitu mendalam, begitu penuh kenangan.

“Ah…, Siphilis Snake!” ucapnya.

“Severus Snape!” ucap Snape kesal.

Mak Lampir tertawa lagi, lalu memukul-mukulkan tongkat kepala manusianya ke atas lantai. Ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Terkadang ia memang lebih dikenal sebagai nenek sirih daripada nenek sihir.

“Ki Sanak, sudah lama kita tak berjumpa,” ucap Mak Lampir.

“Aku bukan Ki Sanak!” Snape semakin kesal.

Mak Lampir tertawa lagi, kali ini sampai terbatuk-batuk—tampaknya ia menelan sirihnya.

“Bagaimana? Kau suka sekolahku? Mungkin sebaiknya kau pindah saja ke sini, tampangmu lebih cocok di sekolah ini,” ucap Mak Lampir, lalu tertawa, lagi.

“Tempat ini, penuh dengan aroma kegelapan. Ya, mungkin cocok untukku,” jawab Snape tenang.

“Hmm…, bagaimana kabar Dumb-Ble-Dore itu? Tadi aku melihatnya dari lapangan, ia masih bersama anak itu ya?”

“Ya,” diam-diam Snape menyiapkan tongkat sihir di balik jubahnya, “dan sekarang aku mulai berpikir, tentang tujuanmu yang sebenarnya mengundang kami ke sini.”

“Tentu saja untuk studi banding. Sekolah kami sedang berusaha untuk mendapatkan lisensi sekolah sihir standar internasional atau SSSI, makanya kami ingin studi banding dengan kalian. Tapi tampaknya kalianlah yang harus belajar dari kami,” ia tertawa lagi.

“Jangan bohong kepadaku. Aku tak akan membiarkan kau menyentuh anak itu!”

Snape mengeluarkan tongkat sihirnya dan akan membaca mantra, tapi ternyata Mak Lampir memiliki gerakan yang lebih cepat.

“Amburadul!” ucap Mak Lampir sambil menggoyangkan tongkatnya.

Seketika itu juga, sebuah sinar hijau keluar dari kepala tengkorak di tongkat Mak Lampir dan langsung menghantam Snape. Ia tersungkur dan merasakan sesuatu perubahan telah terjadi pada tubuhnya. Ia kaget bukan main ketika menyadari bahwa susunan tubuhnya telah berubah. Kaki di kepala, kepala di kaki. Mata ada di mata kaki, sementara mata kaki ada di mata. Sementara itu Mak Lampir tertawa puas, suara tawanya dapat memekakkan telinga Snape yang kini sudah berada di pantatnya.

“Kau jauh lebih lemah dariku. Aku ini Date Eater, terutama saat berbuka puasa,” ucap Mak Lampir, “kau sendiri tahu bahwa kekuatanku lebih unggul, bahkan dari Voldemort sekalipun.”

“Kalau memang kau sekuat dan sekejam itu, kenapa kau tidak membunuhku saja?” tanya Snape sambil mengejek. Mulutnya kini ada di dengkul.

“Tentu saja karena kau masih dibutuhkan di buku Harry Potter episode selanjutnya, bodoh! Apa harus kuberikan spoiler tentang siapa yang akan membunuhmu nanti?” ucap Mak Lampir sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya.

“Ja… jangan.”

Mak Lampir tertawa lagi, seolah 75% waktu hidupnya ia habiskan hanya untuk tertawa—dan karena dia immortal, maka itu akan sangat lama sekali. Kemudian ia berjalan melewati Snape yang masih dalam keadaan amburadul, ia keluar menuju lapangan dimana pertandingan Quidditch sedang berlangsung, dimana Harry tengah bertanding.

TO BE CONTINUED…
------