Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Selasa, 27 Juli 2010

Semangat Berbagi Cinta

0 komentar

HARI INI, masih sangat pagi. Matahari belum lagi menampakkan diri di sebelah timur bumi. Polusi belum lagi sepenuh hati mencemari udara dan paru-paru. Kelam malam belum sepenuhnya terusir oleh gelembung embun dan fajar. Subuh masih melepuh. Kamu, cahaya mataku, masih berada di negeri mimpi, sebuah negeri bernama entah. Negeri yang mungkin padanya tak ada carut-marut seperti di negeri nyata ini.

Bundamu, anugerah terindah dalam hidup ayahmu ini, sedang sibuk dengan aktivitas remeh-temeh di dapur. Bundamu adalah peruntungan paling mengesankan, cahaya mataku. Kami memiliki banyak kesamaan yang sangat membahagiakan. Kami sama-sama suka tertawa, meski dalam jerit duka yang paling luka. Kami sama-sama suka membaca, meski dalam jejak huruf yang paling sulit dicerna.

Bundamu adalah peruntungan paling mengesankan. Setiap ayah ada di rumah, seperti subuh ini, Bundamu selalu menjadi pribadi yang istimewa. Menyiapkan nasi goreng dan susu hangat kesukaan ayah. Lalu, menemani ayah menyeruput susu dan melahap nasi goreng itu di ruang keluarga, sembari menyalakan televisi, menyimak berita terkini pagi ini. Setelah makan, biasanya, Bundamu akan tiduran di pangku ayah. Udara yang menerobos lewat celah pintu, jendela, dan ventilasi, menambah indahnya suasana. Selalu begini, setiap subuh menjelang pagi, jika ayah ada di rumah.

Bundamu adalah peruntungan yang paling membahagiakan. Di masa sulit yang paling sempit, undamu taklah pernah sedikit pun mengeluh. Bundamu, dalam ketegangan tuntutan kehidupan dan kesedihan yang menyayat, tetap bertahan. Setelah matahari meregang diri sejengkal di atas bumi, biasanya, kamu terbangun dengan teriakan khas dan menggelikan. Kecemasan seorang bocah dengan kebiasaan pipis di tempat tidur. Dan, bundamu tak pernah mengeluh-mengesah. Tangannya yang telaten dan cekatan menuntunmu ke pangku ayah, lalu menarik seprei yang basah dan dicemari air seni.

Begitulah, hingga kamu kembali bermain gembira di beranda, setelah bunda memandikanmu dengan cahaya cinta.

☼☼☼

PAGI INI, seperti biasa, ayah membaca satu demi satu e-mail dari beberapa kolega. Dari sekian banyak e-mail itu, ada satu yang cukup menggugah. Lagi-lagi e-mail berantai. E-mail yang dikirim secara estafet, tanpa ayah tahu siapa sebenarnya pengirim pertamanya. E-mail yang mengusik hati dengan sentilannya yang khas dan penuh kejutan.

Alkisah, sebagaimana ditutur dalam e-mail itu, seorang pengusaha ternama, yang telah dirawat selama tujuh hari di ruang ICU setelah terjatuh di kamar mandi, sedang didatangi Malaikat di dalam mimpi. Sang pengusaha ternama yang kaya raya sedang terbaring tanpa daya, tak bisa banyak berkata. Ia lebih banyak diam. Dan, menunggu.

”Jika dalam tempo 24 jam ada 50 orang mendoakan kesembuhanmu, Tuhan akan memberikan kesempatan hidup lebih lama untukmu. Jika kurang, ajal akan segera menjemputmu.”

Konon, demikian tutur sang Malaikat.

Pengusaha ternama itu menjawab dengan penuh percaya diri, ”Hanya 50 orang?”

”Ya.”

Pengusaha ternama itu lagi-lagi memperjelas. ”Tidak lebih tidak kurang, hanya 50 orang?”

Malaikat kembali menjawab yang sama, ”Ya!”

Setelah Malaikat itu pergi, dengan sisa-sisa tenaga, pengusaha ternama itu segera menghubungi keluarganya, rekan bisnisnya, teman sepermainannya, sahabat seangkatan sekolah dan kuliahnya. Dan, tentu saja, karyawan yang ribuan di banyak anak perusahaan yang dimilikinya. Tak ada yang tersisa. Semuanya dihubungi satu persatu lewat telepon langsung, bukan lewat pesan pendek. Hanya satu yang diminta pengusaha itu, ”Tolong doakan saya, sebelum jam 24 malam ini.”

Keesokan harinya, pada pukul 23.00 malam, sang Malaikat kembali bertandang. Kali ini, sedikit pun tak ada rasa cemas di benak pengusaha muda ternama itu. Bahkan, senyum tersunting di lengkung bibirnya.

”Apakah saya sudah bisa sembuh?” tanya pengusaha ternama itu, tak sabar.

Sang Malaikat dengan senyum teduhnya berkata lembut dan bijak, ”Memang masih ada satu jam tersisa, tapi hingga saat ini, baru ada tiga orang yang berdoa untukmu.”

Pengusaha ternama itu terpana. Ke mana semua sahabat sepermainan di masa kecilnya yang sering menemaninya mabuk-mabukan di pub dan diskotik? Ke mana ribuan karyawan yang menggantungkan harapan hidup di perusahaan, tempat di mana ia tercatat sebagai owner atau CEO? Ke mana semua keluarganya yang sering datang menyembah-nyembah meminta pinjaman uang dan pergi setelah ia memberinya plus bunga berupa sumpah serapah dan caci maki?

Pengusaha itu tak bisa menerima.

Sang Malaikat tak banyak bicara. Dengan isyarat yang mudah terbaca, Malaikat itu mengalihkan pandangan ke layar kaca, sebuah televisi ukuran besar yang tersedia di ruang ICU rumah sakit besar itu. Di televisi itu, terlihat istrinya sedang bersimpuh dengan lelehan air mata, berdoa sepenuh hati demi kesembuhan suaminya. Padahal, pengusaha ternama itu merasa tidak menelepon istrinya.

”Tuhanku,” tutur istrinya di layar kaca, ”Aku tahu suamiku bukanlah seorang ayah atau suami yang bijak. Ia kerapkali menyakiti hatiku. Entah lewat caci maki dan hinaannya. Juga lewat gamparan tangannya. Bahkan, ia sering mengkhianati kesucian pernikahan kami. Selingkuh di mana-mana. Pulang ke rumah dengan aroma alkohol dan mata memerah. Tapi, Tuhanku, anak-anakku membutuhkan kehadirannya. Saya tak mungkin membesarkan mereka seorang diri.”

Lalu, nampak istrinya menyudahi doa. Bergegas ke dapur menyiapkan makanan dan keperluan anak-anaknya. Sementara itu, di kamar anak-anaknya, dua orang putranya sedang bersimpuh meneteskan air mata.

Putranya yang sulung berdoa, ”Ya Allah, aku ahu ayahku galak. Ia jarang di rumah. Ia lalai memberi teladan yang baik. Tapi ia berjuang mencari uang demi aku, ya Allah. Maka, kumohon dengan sangat, ampuni ayahku ya Allah, angkat penyakitnya ya Allah.”

Putranya yang bungsu berdoa, ”Tuhanku, Engkau Maha Tahu betapa selama ini ayahku suka lalai menepati janji. Tapi Engkau juga pasti tahu ya Allah, ayahku membanting tulang demi aku ya Allah, maka sembuhkanlah ia.”

Menyaksikan film cinta isteri dan anak-anaknya, pengusaha muda itu mengalirkan air mata. Seluruh rongga sanubarinya serasa dipenuhi sesak penyesalan.

Sang Malaikat berkata, ”Sebenarnya, Allah rindu memberimu kesempatan hidup, karena cinta kasih tak terhingga dari mereka yang telah kau abaikan. Lihat isterimu yang tetap penuh cinta, meski kamu sering menyakitinya. Lihat anak-anakmu yang setia pada baktinya, meski sering kamu melalaikannya.”

Pengusaha ternama itu semakin tergugu. Air matanya tak lagi mengalir satu-satu.

”Sampaikan pada Tuhanku, ya Malaikat, jika kehadiranku hanya menyisakan luka di hati keluargaku, maka cabutlah nyawaku. Tapi jika kehadiranku yang kedua bisa membahagiakan mereka, angkatlah penyakitku.”

Malaikat itu tersenyum, ”Sayangnya..., baru tiga orang yang mendoakanmu.”

Pengusaha muda yang biasanya sangat arogan itu, sekarang tak bisa berbuat apa-apa.

”Memang, banyak yang mendoakanmu,” tutur Malaikat itu lagi. ”Ada yang berdoa demi kesembuhanmu, tapi minta dinaikkan gajinya. Jadi, doanya tidak ikhlas. Ada yang malah mencaci makimu karena sering kamu marahi tanpa alasan yang pasti. Bahkan ada yang menyumpahimu.”

Pengusaha ternama itu semakin terisak. Jeritnya membelah langit.

Di layar kaca, kurang seperempat jam dari waktu yang ditentukan, 47 orang anak yatim piatu di sebuah panti asuhan sedang menadahkan tangan. Mereka terlihat khusyuk menutur bebait doa. Bibir mereka menggeliat begitu hebat. Air mata mereka menetes. Tangis mereka membahana.

Pengusaha ternama itu terkesima. ”Siapa mereka?”

Sang Malaikat itu menjawab, ”Mereka anak yatim piatu di Panti Asuhan. Bulan lalu kamu menyerahkan bantuan makanan kepada mereka. Allah tahu kamu membantu karena popularitas dan keinginan dipuji. Tapi mereka mensyukuri bantuanmu, lalu mendoakan kesembuhanmu.”

”Bagaimana mereka tahu saya sakit?”

”Tadi pagi, salah seorang di antara mereka membaca koran bekas sehabis mengamen di jalanan. Mengenali wajahmu, lalu mengusulkan untuk mendoakanmu. Karena itu, Allah memberiku kuasa untuk menarik penyakit yang kamu derita.”

Pengusaha ternama itu tak kuasa menahan haru.

☼☼☼

DEMIKIANLAH CAHAYA MATAKU, jika cinta kita tumbuh karena dan atas nama Allah, maka tidak ada yang perlu kita cemaskan lagi. Pertolongan Allah akan selalu datang dari arah yang tidak kita duga. Allah pernah, masih akan, dan selalu akan ada, tetapi Dia tidak akan diperoleh dengan sekadar percaya, doa, atau bahkan pelaksanaan syariat saja. Tetapi juga bersyukur dan berterima kasih atas segala pemberian Allah adalah niscaya bagi kita.

Tak perlu menunggu sekarat untuk berbuat baik, seperti yang dialami pengusaha muda ternama yang kaya raya itu. Tak perlu menunggu Malaikat Maut menyambangi kita dengan tawaran muhasabah barulah kita mencoba berbagi kepada sesama. Cinta itu anugerah, demikian tutur Doel Sumbang. Ya. Cinta itu anugerah, ia membahagiakan jika kita membagi-bagikannya kepada mereka yang kita cinta, juga kepada tetangga dan sesama.

Begitu pun halnya, tak perlu menunggu koma barulah tergerak hati kita untuk mengakui kesalahan. Kita ini manusia, pasti pernah berbiat dosa. Hanya saja, seberapa cerdas kita mengelola rasa bersalah, lantas mengubahnya menjadi sebuah kesadaran baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik? Mengakui kesalahan adalah perbuatan yang sulit. Itu lumrah, karena semua manusia itu memelihara egonya. Namun, akan mudah jika kita berani ”menerima” ketidaksempurnaan kita.

Akan tetapi, seberapa pun sulitnya mengakui kesalahan, lebih sulit lagi meminta maaf. Seperti kasus pengusaha ternama itu, sangatlah berat ia meminta maaf kepada office boy di kantornya, karena perbedaan strata dan struktur perusahaan. Seorang majikan amat sulit mengakui kesalahan kepada anak buahnya. Seorang atasan merasa berat meminta maaf kepada bawahannya. Sekali lagi, ego kita sebagai manusia membangun dinding dan memenjara kesadaran kita. Ditambah lagi dengan godaan setan yang terus berkepanjangan.

☼☼☼

CAHAYA MATAKU, matahari semakin tinggi. Sudah waktunya ayah pergi. Mencari nafkah demi kita semua. Jangan lupa nak, sesering mungkin, teruslah berbagi cinta kepada sesama.

Berkaca pada Bundamu, yang tak pernah letih membagi rerupa cinta.

☼☼☼

0 komentar:

Posting Komentar