Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Selasa, 27 Juli 2010

Religia

0 komentar


(Gadis)

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Karena aku tak bisa melihat tangis yang dia sembunyikan.

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Mengamatinya merentangkan tangan di kejauhan,
Sementara aku memegangi payungku di pagar rumahku.

Aku sering berkata padanya, bahwa aku tak punya siapa-siapa dalam hidupku.
Tanpa kusadari: bahwa aku selalu memilikinya untuk mendengarkanku bercerita.

Andai dia tahu, dia membuatku banyak berpikir.
Seperti yang sering dia dengar setiap kali aku meracau;
Bahwa aku benci keterikatan.
Dan dia selalu membuatku berpikir
Bagaimana seandainya jika aku kehilangannya?

*

(Pria)

Sore itu hujan, aku mendorong kursi rodanya – entah menuju ke mana. Dia bersikeras memintaku meninggalkannya sendirian di kamarnya yang pengap oleh bau obat-obatan atau membiarkan suster jaga mengajaknya jalan-jalan berkeliling. Kubilang aku tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuanku.

“Aku ingin makan bubur,” ujarnya. Sementara dia membiarkan senampan makanan dari rumah sakit di meja di sebelah ranjangnya, tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, kami melihat banyak burung gereja beterbangan di langit, “Besok aku akan menjadi salah satunya,” dia berkata lirih.

Dia selalu percaya bahwa sebuah entitas ketika meninggalkan fisiknya yang telah mati kemudian akan bermanifestasi terlebih dulu menjadi hewan tertentu sebelum terlahir kembali. Dia satu-satunya gadis yang kukenal telah mendalami kepercayaan timur tentang reinkarnasi bahkan semenjak usia sembilan tahun.

“Kamu tahu, aku sudah kehilangan Ibuku di hari dia melahirkanku,” ujarnya.

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas di pikiranku, semua kenangan tentang kebersamaan kami berputar-putar di dalam orbitalnya, tereksitasi satu per satu di dalam tempurung kepalaku, semakin kehilangan energi tiap kali kusadari bahwa aku akan kehilangannya sebentar lagi.

“Itu membuatku berpikir, mungkin waktu itu malaikat surga bertanya padanya, antara dia memilih untuk terus hidup dan membiarkanku mati atau dia mati untuk membiarkanku bisa terus hidup,” lanjutnya.

Mendorong kursi rodanya saat dia sedang merasa hampir mati, membuatku kehilangan daya gerakku sama sekali.

“Dan nyatanya dia memilih mati,” dia mengakhiri ceritanya.

Beratnya sudah turun sebanyak dua puluh kilogram selama setahun dia menjalani kemoterapi. Usianya baru dua puluh satu tahun, dan dia menderita kanker otak. Tumor di otaknya tidak membuatnya kehilangan daya pikirnya atau menurunkan kecerdasannya, bahkan setiap hari semenjak dia dirawat inap di rumah sakit, dengan banyak jenis buku yang dia baca, membuatku takut dia akan mengalahkanku setiap kali kami berdebat tentang sesuatu.

Sebelumnya dia selalu kalah pada diskusi tentang apapun yang kusukai, dan aku selalu seimbang tiap kali diajaknya berdebat tentang hal-hal yang dia sukai. Kami membicarakan tentang kecerdasan artifisial, kemungkinan penyebab kiamat, kadang aku membicarakan tentang ilmuwan matematika, dan dia membahas mengenai kesamaan mereka dengan tokoh-tokoh psikologi. Sejujurnya, dia tidak akan tergantikan.

“Dia memberimu hidup selama dua puluh tahun,” ujarku kemudian, “Yang dia tidak yakin apakah dia akan membutuhkan seperempat dari waktunya itu untuk terus menantikan seorang putri sepertimu.”

Ibunya melahirkannya di usia empat puluh tahun, dan sebagaimana umumnya wanita pra-menopause, mereka akan kehilangan kesuburannya menjelang usia empat puluh lima. Aku yakin, Ibunya berprinsip bahwa natalitas seimbang dengan mortalitas di usianya yang empat puluh itu. Dia pasti tidak mau membuang-buang waktunya untuk menunggu titipan Tuhan di tahun-tahun setelah dia kehilangan putrinya dalam operasi caesar.

“Seandainya dia tahu, bahwa putrinya tidak akan berumur panjang,” dia menjawab, “Apa mungkin dia mau mengorbankan nyawanya?”

“Sayangnya manusia tidak pernah tahu,” sejenak aku terdiam, merangkai kata-kata di kepalaku, “Keajaiban apa yang akan Tuhan beri di sepanjang perjalanan hidupnya. Dia mengambil resiko untuk menerima keajaiban Tuhan, seorang putri sepertimu.”

Dia menarik nafasnya dan di sepanjang perjalanan kami membeku dalam diam.

“Aku pernah membayangkan tentang masa depan, di mana kita bisa kembali masa lalu dengan mesin waktu,” ujarnya, “Aku ingin kembali ke hari kelahiranku, memperingatkan Ibuku bahwa aku tak perlu lahir.”

”Semua anak lima tahun memikirkan itu setiap menonton film berjenis fiksi sains masa depan, dan terutama mereka yang tak pernah merasa memiliki masa lalunya sepenuhnya,” jawabku. Aku tak menyalahkannya dengan pikirannya itu. Sayangnya, melihat gelar sarjananya, aku tak yakin dia akan menyukai pembicaraan lebih jauh tentang kemungkinan keterkaitan antara teori dilatasi waktu dan rangkaian mesin-mesin yang akan membutuhkan biaya minimal sebesar satu miliar dolar. Dia tidak pernah menyukai materi dimensi tiga, dan jika dia ingin membicarakan tentang dunia, sayangnya dia harus mengerti ruang berdimensi empat. Sayangnya lagi, aku bahkan juga tidak mengerti.

Kami sampai di kafetaria rumah sakit. Aku memesan dua mangkuk bubur ayam hangat dan dengan sigap mengambil dua botol air mineral ukuran 600 ml. Kupinggirkan kedua kursi plastik yang menghalangi kursi rodanya. Lalu kami duduk di pinggir taman, di ujung timur kafetaria.

Darah mengucur dari hidungnya. Tangannya tidak bisa dia gerakkan untuk menghapusnya, dia mengalami kelumpuhan kedua tangan dua minggu yang lalu. Kuambil tisu dari tas ranselku. Tas ranselku selalu penuh akan segala sesuatu kebutuhannya.

“Seandainya kita tidak pernah bertemu,” ujarnya ketika aku menghapus darah yang keluar dari kedua rongga hidungnya. Darah itu terus mengucur dan tak berhenti. Kuambil daun tumbukkan di wadah plastik di dalam ranselku – obat herbal untuk menghentikan mimisan – kuletakkan di lubang hidungnya.

Beberapa saat, darahnya berhenti.

“Seandainya kita tidak saling jatuh cinta dan juga tidak menikah..”

Aku terpaku karena kalimat terakhir darinya. Kutatap matanya, tubuhnya tidak bisa bergerak, yang dia miliki hanya wajahnya, ekspresi mata dan kata-kata yang timbul tenggelam dari bibir tipis itu.

“Kita bahkan belum dikaruniai keturunan,” lanjutnya. Dia bahkan tidak menangis ketika mengucapkan itu. Dia tidak pernah menangis di hadapanku, padahal dia seorang wanita, “Aku belum sempat berkorban untuk anakku.”

Aku mengerti perasaannya. Dilahirkan oleh seorang Ibu yang dari cerita orang-orang di sekelilingnya – lebih memilih mati untuk melihat putrinya lahir, pasti akan menimbulkan trauma yang besar baginya, juga menyebabkan kewajiban untuk melakukan hal yang sama, yang bahkan tak dia ketahui diberikan oleh siapa dan semenjak kapan perasaan bersalah itu menempel di pundaknya bagai parasit.

“Seandainya lelaki boleh hamil,” aku berkata. Dia tertawa, tapi tawanya tidak bisa selincah dulu. Ketika dia menggerakkan tangannya memukul bahuku setiap kali aku melempar lelucon, ketika bahkan setelah itu aku selalu menerima kecupan mesra darinya di keningku.

“Aku akan membiarkanmu mencari wanita lain, setelah aku meninggal,” ujarnya, “Sejujurnya, aku merasa bersalah atas semua hal buruk yang terjadi di hidupmu setelah kamu menikah denganku. Maaf.”

Sungguh aku tidak dapat berkata-kata atas pemintaan maafnya. Dia adalah segala-segalanya bagiku, dan ketika segala-galanya itu merelakanku, aku bahkan berpikir aku tak perlu hidup.

“Aku akan adopsi seorang putri,” jawabku, “Bukan seorang istri.”

Dia tersenyum, air matanya mengalir di wajahnya. Sungguh sangat jarang aku melihatnya menangis.

“Aku mencintaimu.” Kata-kata terakhirnya, sebelum akhirnya dia menutup matanya, untuk selamanya.

*

(Gadis Kecil)

Aku melihat seorang pria gagah datang. Teman-temanku berlarian mengerubunginya, para pria berseragam hitam di belakangnya membawa puluhan parsel cantik untuk dibagikan. Kulihat teman-temanku berteriak tentang permen, coklat, dan semuanya berwarna-warni. Kulihat dari kejauhan, alangkah cantiknya parsel-parsel itu.

Aku menutup bukuku dan berlari ke kamar, bersembunyi supaya tidak ditemukan. Aku tidak mau diadopsi oleh siapapun. Dan tiap kali orang datang untuk mengadopsi anak, aku meringkuk di dalam kegelapan kamarku.

Namun seseorang membuka pintu kamarku, menyalakan lampu. Dia menemukanku. Dia berjalan ke arahku.

“Boneka itu lucu,” pria gagah itu berkata, tersenyum. Aku tahu arti dari sinar mata itu, dan betapa aku merasa tidak aman disorot dengan mata elang itu.

“Apa kamu mau mengadopsiku?” aku bertanya.

Dia tertawa lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak jika kamu tidak mau.”

“Kenapa kamu memilih menemuiku?” tanyaku, bingung.

“Karena kamu katanya adalah gadis yang paling cerdas di panti asuhan ini,” aku tak yakin apa dia menjawab jujur. Tapi aku tidak pernah bersekolah, aku tidak mungkin terlihat cerdas, “Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti dengan kalimat terakhirnya.

“Berbahaya bagiku untuk menemukan seorang putri yang akan kuadopsi di luar sana,” dia menunjuk keluar, kudengar suara tawa teman-teman seusiaku, “Aku tahu, juga berbahaya bagiku untuk mengobrol denganmu sekarang. Kamu pasti mencurigaiku.”

Aku menatapnya. Pria gagah itu cerdas. Seperti sosok Ayah yang kubaca di buku-buku.
“Sejujurnya aku memilihmu, karena namamu persis seperti nama yang kami pilih untuk anak kami,” dia duduk di sisiku. Aku yakin dia butuh bercerita. Dia merangkul bahuku.

“Aku dan mendiang istriku sudah membuat sebuah nama panggilan untuk anak kami kelak. Namanya sesuai dengan milikmu,” dia melanjutkan, “Bonusnya, aku menemukan gadis kecil yang juga cerdas.”

“Kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

Dia tersenyum, “Aku tidak pernah membayangkan akan mengobrol seperti ini dengan anak berusia sembilan tahun.”

Aku menatap kesal ke arahnya. Aku tahu sejak tadi dia berusaha merayuku untuk bisa dia adopsi, “Aku bukan gadis sembilan tahun jika kamu melihat buku-buku yang aku baca.”

“Oh, ya?” Senyumnya makin kentara, “Buku-buku apa yang kamu baca?”

“Buku-buku yang ingin kubaca.” Semoga jawabanku tepat sasaran.

“Berarti di usia semuda ini, kamu sudah memiliki selera,” dia menjawab sopan, “Apa kamu sering membaca buku-buku kriminal? Sejak tadi, kuperhatikan, kamu sangat takut kalau aku mengadopsimu.”

“Aku membaca buku-buku spriritual,” jawabku.

Aku tahu dia tidak yakin dengan jawabanku. Karena setelahnya dia hanya mengangguk, mengangkat kedua alisnya, dan terdiam.

“Jadi kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

“Karena dia brilian,” jawabnya. Aku tidak mengerti, tapi dia melanjutkan, “Dia menderita tumor otak stadium akhir. Teknologi di dunia belum bisa mendeteksi tumor otak dalam tingkat kuantum, dan orang-orang yang menderita tumor otak, hanya akan mengetahui kanker itu ketika dia sudah pada stadium akhir.”

Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

“Omong-omong, pertanyaanmu tentang istriku tadi bagiku terdengar kurang sopan,” ujarnya, “Bagaimana kalau aku memberimu penawaran?”

Aku menatapnya. Lekat, “Apa?”

“Aku ingin mendidikmu sebagai anakku.” Akhirnya dia menyampaikan maksudnya.

“Alasannya?” aku bertanya.

“Istriku yang memintanya. Aku yakin dia sedang duduk di sebelahmu sekarang.” Dia tersenyum dan membelai rambutku.

Kemudian dia melangkah keluar.

*

(Pria)

Aku yakin dengan pertanda-pertanda yang dia berikan. Dengan simbol-simbol dalam mimpiku. Gadis kecil ini secerdas dia ketika berusia sembilan tahun.

Dia duduk di sisiku, membaca buku berbahasa Prancis. Dia bilang dia mendapatkannya dari seorang donatur di panti. Aku heran anak seusia dia yang dibesarkan di panti asuhan bisa menguasai empat bahasa dunia. Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab.

Kata para suster penjaga panti asuhan, mereka bahkan tidak pernah mengajarinya membaca.

Kubiarkan aku kagum oleh kecerdasannya. Seperti kubiarkan dia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya aku mengadopsinya.

Mobil kami melaju cepat.

Kuharap aku bisa membesarkan dia seperti putri kandungku sendiri.


Oleh Panah Hujan

0 komentar:

Posting Komentar