
Meskipun aku berpikir banyak hal tentang berbagai hal; pada kenyataannya mahluk-mahluk itu tetap melangkah mendekati kami. Kenapa aku harus berpikir seperti itu di saat genting ini, yang kutahu sekarang aku harus menuruti instingku untuk bertahan hidup dari mahluk-mahluk ini.
Sebuah suara desingan senapan terdengar dari sebelahku; tak lama kemudia kulihat salah satu dari mahluk itu terjatuh kebelakang. Ternyata Mark-lah yang menembak salah satu mahluk itu; tapi berkat itu pula aku kini telah tersadar dari lamunanku.
“ Bukan waktunya melamun, nak!” Kata Mark memperingatiku tanpa mengalihkan perhatiannya pada gerakan mahluk-mahluk itu.
“ Terima kasih, Mark.” Aku pun kini tak ragu lagi menarik pelatuk pistol.
Aku memang tidak memiliki dasar kemiliteran, tapi aku sering berlatih menembak dengan senapan api; setidaknya ini akan membantuku di masa seperti ini. Aku mengarahkan moncong pistolku ke arah kepala sesosok mahluk wanita yang wajahnya telah terkelupas dan salah satu bola matanya hilang dari rongganya.
Tanpa ragu aku menekan pelatuk pistol dan memuntahkan timah panas tepat di dahi mahluk wanita itu. Ia langsung tersungkur, wajahnya memandang langit-langit Bar, diam tak bergerak. Berbeda dengan mahluk-mahluk lain yang ditembaki oleh Mark ataupun mahluk yang dipukuli oleh Jim atau Yoko yang terus bangkit kembali.
Otakku terus berpikir mengapa kasusku berbeda dengan yang lainnya, apakah ini hanyalah kebetulan semata? Ayolah otakku! Cepatlah kau berpikir! Kau tak mau mati kan dalam keadaan berpikir seperti ini? Sementara aku berpikir keras, para mahluk itu terus menerus mendekatiku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Saat aku menembak kepalanya, sesuatu yang menerima cedera terbesar adalah otak. Tidak salah lagi! Lagipula otak memang yang memerintahkan seluruh kinerja saraf di seluruh tubuh. Maka jika otak mahluk ini dicederai atau dihancurkan akan terjadinya disfungsi kinerja tubuh mahluk itu atau bisa dikatakan mati. Meskipun perhitungan kemungkinan hipotesaku cukup besar, namun tidak mencapai seratus persen. Akan tetapi percuma saja jika aku berpikir terus-menerus tanpa melakukan percobaan.
Aku mengarahkan moncong pistolku ke arah kepala mahluk pria tua renta namun terlihat enerjik untuk ukuran mahluk-mahluk itu. Tanpa ragu-ragu aku menembak kepalanya hingga otaknya muncrat keluar. Mahluk pria tua itu langsung terjatuh tak bergerak lagi. Dalam hatiku yang terdalam sangat senang melihat perhitunganku berhasil.
“ Tembak kepalanya atau hancurkan kepalanya! Mereka tidak akan bangkit kembali!” Kataku memberitahu yang lainnya. Tanpa ragu, mereka semua langsung menuruti intruksi dariku.
Entah darimana sajakah kesadaranku sejak tadi, atau ini semua gara-gara aku terlalu fokus berpikir sejak tadi sehingga tak menyadari mahluk-mahluk itu telah memenuhi ruang Bar dan mendesak kami.
Sesosok mahluk itu yang semula berjalan lamban; tiba-tiba berlari menghadangku. Sebisa mungkin aku menghindar dari terkamannya, dan menendang tubuhnya sekuat tenaga hingga menabrak sebuah meja Bar. Tanpa kusadari, sesosok mahluk lainnya telah berdiri tepat dibelakangku dan bersiap menerkamku. Untung saja aku langsung siaga melepaskan pegangan pistolku dan menahan terkamannya dengan kedua tanganku. Kini kedua mata kami saling berhadap-hadapan; matanya yang keruh dan tak fokus memandangku kosong namun sangat bernafsu. Mulutnya yang berliur terus-menerus berusaha menggigitku tanpa henti.
Tak kusangka mahluk ini memiliki kekuatan yang cukup besar sehingga membuatku terdesak hingga tak mampu bergerak ataupun membuatnya menjauh dari tubuhku. Jujur saja, menahan mahluk ini agar tak menerkamku sangat menguras energi, mungkin jika terus menerus seperti ini aku akan mati kehabisan tenaga atau mati diterkam mahluk-mahluk lainnya yang berjalan mendekatiku dengan lamban. Padahal mereka mampu berlari seperti halnya mahluk yang tadi kutendang; memang lambatnya jalan mereka membuatku memiliki harapan selamat, tapi itu sangat membuatku depresi oleh ketakutan.
Sebuah desingan terdengar kencang, tak lama kemudia mahluk yang berusaha menerkamku roboh dengan kepala yang hancur. Ternyata Mark telah menyelamatkanku, aku berhutang budi padanya.
“ Jangan main-main terus, nak! Ini bukan permainan game seperti yang sering kau mainkan!” Ucap Mark.
Enak saja ia bilang aku main-main. Apa ia tak tahu aku berpikir keras sejak tadi untuk keselamatan mereka juga. Tapi sudahlah, ia telah menyelamatkanku. Aku bersyukur untuk itu.
“ Mereka tak ada habis-habisnya.” Kata Jim dengan nada sedikit pesimis.
Memang benar yang diucapkan oleh Jim, meskipun kita telah berhasil membunuh satu persatu mahluk itu, namun jumlah mereka sama sekali tak berkurang, mungkin jumlah mereka malah bertambah banyak.
“ Yoko coba kau cek jalan rahasia J! Apakah masih bisa dilalui atau tidak!” Kataku sambil terus menembaki mahluk-mahluk itu.
“ Jangan sok akrab denganku! Panggil aku Suzuki!” Kata wanita itu.
Cih, sempat-sempatnya wanita itu membahas yang seperti ini di saat yang tak tepat.
“ Baiklah, Suzuki! Kami mengharapkanmu.” Kataku menuruti permintaannya. Tak lama aku berkata demikian, wanita itu langsung beranjak menuju tempat persembunyian J.
Tak lama kemudian Suzuki datang kembali dan memberitahu kami bahwa jalan menuju lorong rahasia J sangat aman, ia tak melihat tanda-tanda mahluk itu pada lorong rahasia. Aku menyuruh mereka semua untuk berjalan terlebih dahulu ke arah lorong rahasia. Setidaknya aku belum bisa meninggalkan tempat ini, aku harus melakukan sesuatu pada mahluk-mahluk ini agar tak mengejar kami nantinya.
“ Jangan menjadi sok pahlawan, nak! Ayo kita bersama-sama menuju lorong itu!” Kata Mark.
“ Ada yang harus kulakukan! Tenanglah, aku tak akan bertindak konyol. Percayalah!” Kataku untuk membuat mereka semua mempercayaiku.
Akhirnya mereka semua setuju meninggalkanku dan terlebih dahulu pergi menuju lorong rahasia J. Pandanganku kembali teralih ke arah mahluk-mahluk itu yang terus mendekatiku. Jika aku tak melakukan sesuatu pada mahluk itu, mereka semua akan mengejar kami di lorong rahasia dan itu semua akan menjadi aksi bunuh diri. Apalagi pengunjung yang telah terlebih dahulu pergi menuju lorong telah menunggu kami di sebuah tempat di seberang lorong itu.
Tiba-tiba pandangan mataku melihat sesuatu yang mungkin berguna nantinya. Aku berlari menuju meja bartender dan mengambil beberapa botol vodka berukuran kecil dan memasukkannya ke dalam tasku. Tiba-tiba salah satu mahluk itu meloncat ke balik meja bartender dan langsung menatapku dengan nafsu menerkam. Kini kondisi kedua tanganku tak bisa digunakan memegang pistol dan menembaknya dengan akurat, selain karena tangan kiriku memegang tas yang sangat berat, aku juga tak terbiasa menggunakan pistol dengan menggunakan satu tangan.
Mahluk itu berlari menubrukku hingga terjatuh, namun aku masih mampu menahan usahanya yang terus berusaha menerkamku dengan menahan tubuhnya dengan kakiku. Apakah kali ini aku akan mati? Toh kini tak ada Mark yang akan membantuku, tapi jika aku mati sekarang para mahluk ini akan mengejar Mark dan yang lainnya.
Aku mulai mencari sesuatu yang sekiranya bisa digunakan untuk menyerang mahluk ini. Akhirnya aku meraih sebuah botol vodka besar yang kosong dan langsung memukulkannya ke kepala mahluk itu hingga botolnya pecah, tapi sepertinya usahaku tak berhasil. Aku menusukkan pecahan botol ke kepala mahluk itu hingga membuat mahluk itu menjerit. Lalu tangan kiriku melepaskan pegangannya pada tas dan memegang kepala mahluk itu dengan tangan kananku. Tanpa ragu-ragu aku mematahkan tulang leher mahluk itu dan mebuatnya tak bergerak lagi.
Beberapa mahluk itu meloncati ke belakang meja bartender dan mengepungku dari arah kanan serta kiriku. Aku langsung bangkit, lalu mengambil tasku dan sebuah linggis yang terdapat di bawah meja bartender milik J - mungkin linggis ini ia gunakan untuk keperluan darurat. Dengan menggunakan linggis tersebut aku memukul kepala mahluk-mahluk itu hingga mereka terjatuh. Kini kesempatanku untuk keluar dari meja bartender ini untuk menyusul yang lainnya.
Aku membabi buta memukul-mukul tubuh mahluk-mahluk itu dengan linggis hingga akhirnya aku membuka jalan menuju lorong rahasia. Aku berlari sekuat tenaga menaiki tangga di lantai dua. Aku mengambil dua buah botol vodka dan melubangi tutup botolnya dengan menggunakan penaku, lalu aku merobek bajuku dan menyumbat lubang di kedua tutup botol. Dengan cepat aku mengambil geretan dan membakar kain di salah satu botol dan meleparkan botol tersebut ke arah kerumunan mahluk-mahluk tersebut hingga terlihat sebuah ledakan yang menghancurkan sebagian dari jumlah mahluk-mahluk itu. Mahluk-mahluk yang selamat dari ledakan mulai bangkit kembali dan berkerumun kembali berjalan munuju tangga. Aku langsung membakar botol sisanya dan melemparkannya pada kerumunan itu hingga membuat tubuh-tubuh mereka hancur.
Melihat mereka roboh dan hancur semua aku tak membuang waktu dan menuruni tangga. Aku langsung berlari menuju lorong rahasia milik J yang terletak di ujung bagian gudang Bar. Ternyata Mark dan yang lainnya tak meninggalkan aku, mereka semua menungguku di pintu lorong rahasia dengan wajah terlihat lega – meskipun raut wajah Suzuki hanya sedikit memperlihatkan itu.
Kami semua memasuki pintu dan mengunci pintu itu dari dalam. Setelah merasa telah menguncinya dan memberikan penahan dengan kuat; kami semua berjalan menyelusuri lorong untuk bergabung dengan pengunjung lainnya di seberang sana.













0 komentar:
Posting Komentar