
MATAHARI BELUM LAGI tanak di ubun-ubun, cahaya mataku, ketika ayah bergegas mengeja kejut di hati. Lagi-lagi ulah para petinggi negeri ini bertingkah layaknya pelawak dengan leluconnya yang tidak lucu. Menimbulkan satire dan sinisme. Menumpuk rasa tidak percaya warga negara terhadap orang-orang yang selama ini menyandang amanah sebagai wakil mereka. Ya, sungguh mengenaskan berita pagi ini. Entah di koran, pun juga di televisi. Bahkan di radio-radio. Seorang wakil rakyat, lagi-lagi, tertangkap tangan sedang di suap di sebuah hotel berbintang. Duh! Betapa ketidakjujuran menjadi wabah yang menular ke seluruh rongga bangsa.
Ya, masih sangat pagi, ayah sudah dikejutkan oleh berita penangkapan anggota wakil rakyat di Senayan. Lagi-lagi, pemicunya adalah dugaan korupsi atau penerimaan suap. Kali ini, karena diduga terlibat dalam kasus menerima suap pengadaan kapal patrol Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Bagaimana rakyat bisa percaya pada wakil-wakil mereka, jika moral mereka bisa dibeli?
☼☼☼
PADA MULANYA, kita membiasakan pemelajaran cara berbohong yang baik dan benar kepada anak-anak kita. Biasanya, dari hal-hal kecil. Misalnya, ketika kita memaksa putra-putri kita berbohong saat menerima telepon dari seseorang, yang menanyakan keberadaan kita. Lalu, kita meminta putra-putri kita itu untuk berbohong, dengan mengatakan bahwa kita sedang tidak berada di rumah. Padahal, kita sedang berada di samping sang anak yang menerima telepon, sembari memberi instruksi dengan suara berbisik dan mata melotot. Itulah pelajaran berbohong pertama yang akan terus mengakar di benak sang anak, bahkan hingga sampai mereka dewasa.
Bob Talbert pernah berpesan, ”Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari mereka apa yang perlu diperhitungkan.” Kita setengah mati, dengan mulut berbusa, mengajari putra-putri kita tentang nilai-nilai kejujuran, tapi kita sendiri mempraktekkan begini loh cara berbohong seperti pada kasus menerima telepon itu.
Kita jadi lupa bahwa kita telah menanam benih ”ketidakjujuran”. Tanpa kita sadari, kita telah telah melatih mereka untuk berbuat atau mengerjakan sesuatu ”yang tidak benar”.
Maka, kita lupa memperhitungkan kelak apa yang akan terjadi jika sang anak berdalih dengan seribu satu alasan, ketika mereka melakukan kesalahan. Misalnya, saat mereka sedang berada di rumah teman, menginap. Lalu, kita selaku orang tua yang sedang panik kebetulan menelepon temannya itu, untuk menanyakan apakah anak kita ada di sana. Sang anak yang enggan kenyamanannya terganggu, berdasarkan kebiasaan yang telah kita ajarkan, tanpa rasa berdosa meminta temannya untuk menjawab bahwa ia tidak ada di sana.
Apakah kita akan marah? Tidak mungkin, kan! Mengapa? Karena kita sendiri yang mengajarkan cara berbohong itu kepada sang anak.
Kita sering meminta buah hati cahaya mata kita untuk ”mendengar” petuah-petuah kita, tetapi kita sendiri lupa ”mendengarkan” apa sebenarnya yang diinginkan oleh sang anak.
☼☼☼
KEMUDIAN, setelah putra-putri kita besar, mereka semakin terbiasa mencari alasan pembenaran. Jika mereka mendapat amanah sebagai pejabat negara, mereka tahu betul bagaimana caranya menilep harta rakyat, lalu ”melempar batu setelah menyembunyikan tangan”. Jika mereka menjadi pengusaha, terutama jasa konstruksi, mereka sangat paham cara tepat untuk memanipulasi biaya proyek hingga keuntungan jadi berlipat, tidak peduli kualitas bangunan atau mutu proyek yang dikerjakan.
Jika mereka menjadi guru, mereka akan memilih menjadi guru yang tega mendidik dengan cara yang tidak mendidik. Seperti kebiasaan menjemur sembari hormat kepada bendera di halaman sekolah, hanya karena muridnya lupa memakai kaos kaki seragam. Atau mencubit daging perut dengan spenuah rasa sakit, karena siswa lupa menyelesaikan pekerjaan rumah.
Salahkah pilihan sang anak itu? Tidak. Karena kita, sebagai orang tua, telah menanamkan kebencian dan ketidakjujuran di kedalaman sanubari mereka.
Sebutlah beberapa kisah memilukan, karena himpitan ekonomi keluarga sehingga banyak orang tua memilih berlaku kejam pada anaknya. Kasus Indah Sari (3,5 tahun) dan Lindah Syaputra (11 bulan) dibakar di rumah mereka oleh ibu kandung mereka sendiri. Alkisah, pemicunya tak lebih karena tekanan ekonomi, karena suaminya yang pedagang asongan di kaki lima, terus-terusan terkena penggusuran dan razia, sehingga tak sempat lagi mendapat rezeki.
Siapakah yang patut kita salahkan? Ibunyakah yang tega membakar anaknya itu? Bapaknyakah karena tak mampu menafkahi keluarga? Petugas Trantibkah karena mengejar-ngejar sang bapak yang pedagang asongan itu? Pejabat Pemdakah karena menetapkan aturan yang melarang pedagang asongan berkeliaran di kaki lima karena dituding penyebab kemacetan dan ketidakindahan lingkungan? Mungkinkah juga wakil rakyat di DPRD yang menyetujui Perda-perda yang ”kurang berpihak pada wong cilik itu”?
Entahlah, cahaya mataku, mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, sama sulitnya dengan mencari jarum di sela-sela tumpukan jerami.
Lain lagi dengan kisah tragis Herman (6), sang anak ajaib yang mampu memakan tanah. Bukan karena ”kehebatan” memakan tanah itu yang langka, melainkan karena bapaknya, Uci, yang berprofesi sebagai kuli bangunan, tak mampu membeli makanan, apalagi membeli susu. Maka, jangan heran jika Herman tumbuh kurang gizi dan memilih tanah sebagai menu tambahan. Dan kita hanya bisa merasa miris menyaksikan beritanya lewat tayangan liputan beberapa stasiun televisi. Ah, mungkin karena kita telah lupa bagaimana caranya kita bisa peduli.
Jangan pula kita abaikan kisah sedih Eko Haryanto, siswa kelas VI sebuah SD di Tegal, yang mencoba mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, karena menjelang ujian akhir Eko masih menunggak SPP selama 10 bulan. Eko akhirnya memilih gantung diri sebagai cara untuk lari dari rasa malu, meski Eko gagal meninggal karena percobaan bunuh dirinya yang kurang profesional.
Belum lagi kasus-kasus kekerasan seperti geng motor yang banyak memakan korban. Juga kasus percobaan atau pendidikan seks salah kaprah yang pernah marak di mana-mana. Bahkan, banyak yang direkam oleh kamera, lantas disebar di dunia maya tanpa sedikit pun rasa risih dan malu.
Salahkah seorang Herman yang akhirnya memilih tanah sebagai makanan favorit, bukan coklat sebagai laiknya remaja masa kini? Apakah Eko termasuk remaja berperilaku menyimpang karena memilih mati daripada hidup menanggung malu, hanya karena tidak mampu membayar biaya sekolahnya? Bagaimana dengan pesta seks yang dipertontonkan di dunia maya dan diabadikan secara sembunyi-sembunyi oleh kaum remaja? Tentu saja, tidak sepenuhnya kesalahan itu ada di tangan generasi harapan kita, tetapi juga ada pada pendahulunya, termasuk teladan anggota dewan yang memamerkan cara ”bercinta” bagi para remaja!
☼☼☼
KETIDAKJUJURAN ITU bermula dari pemelajaran bagaimana caranya berbohong dengan bijak, seperti kasus menerima telepon. Kelak, ketika mereka tumbuh makin dewasa, mereka semakin cerdas untuk ”akal-akalan” dengan kepentingan rakyat dan negara.
Maka, terjadilah kasus heboh seorang Artalyta dengan kehebatan sinetron telepon genggamnya. Pun beberapa pejabat Kejaksaan Agung yang seharusnya berdiri sebagai masinis penegakan hukum di persada tercinta, malah ”begitu bernyali meminta uang sangu”, tanpa sedikit pun rasa malu. Belum lagi dalih pengacara seorang tersangka kasus suap terhadap seorang anggota dewan, yang dengan enteng menjawab bahwa kebiasaan sunat-menyunat uang proyek di Departemen Perhubungan, mungkin juga di departemen lainnya, adalah hal yang biasa.
Ya, karena sejak kecil kita telah terbiasa dan membiasakan diri untuk mengajarkan kitidakjujuran, juga kekerasan. Dan, bukan cinta. Ya, bukan cinta.
Sehingga, kita tidak perlu kaget jika banyak penyimpangan terjadi ketika anak-anak kita itu tumbuh menjadi dewasa.
Semoga, cahaya mataku, hal seperti ini tidak terjadi pada dirimu.
Amin.
☼☼☼
Oleh Khrisna Pabichara













0 komentar:
Posting Komentar