
Hari ini, sama seperti hari pada umumnya pada hidupku yang membosankan. Hari ini adalah hari esok yang tak pernah aku tunggu, begitu juga dengan hari-hari selanjutnya. Buih beer pada gelasku mulai berkurang, aku memang tak terlalu menyukai minuman ini sehingga tak pernah habis kuminum; lalu untuk apa aku memasannya? Entahlah, mungkin ini hanya keisenganku saja.
Tak lama, terdengar alarm telepon genggamku berdering. Telihat tulisan “ 28 September, batas waktu akhir pengarsipan dokumen” pada layar ponselku. Alarm itu menunjukan aku harus segera kembali ke apartemen dan membereskan dokumen yang akan kuserahkan besok pada bos. Hari ini memang aku tak berencana berlama-lama di Bar ini, tapi cukup menyenangkan.
J’s Bar terlihat banyak pengunjung hari ini, sesuatu yang jarang trerjadi diluar hari libur tentunya. Tapi sudahlah, toh hari ini aku tak dapat berlama-lama di sini; kecuali kalau aku sudah siap dengan surat pemecatan di tanganku. Aku beranjak dari mejaku dan meninggalkan uang di dekat tagihanku.
Belum tiga langkah aku beranjak dari mejaku, seorang pria terlihat pucat dan ketakutan masuk ke dalam Bar. Seorang pria kulit hitam berseragam dokter menatap aku dan tamu lainnya yang mulai terheran-heran dengan tingkah laku pria tersebut.
“ Iblis telah tiba di dunia! Kita semua akan mati!” Teriak pria tersebut pada pengunjung Bar.
Seorang pria berkulit hitam lainnya menghampiri si dokter pucat. “ Barney, kau ini kenapa? Kau sudah mulai gila?”
“ Dengar kalian semua! Seluruh yang kukatakan ini fakta! Saat ini kota Raccoon telah diduduki oleh para mayat hidup!” Kata Barney memperingati. Spontan saja hampir sebagian besar pengunjung Bar tergelitik untuk tersenyum, bahkan ada yang tertawa terbahak-bahak tanpa malu. Sejujurnya aku pun salah satu yang tersenyum melihat tingkah laku dokter Barney.
Melihat reaksi yang diperlihatkan pengunjung lainnya tak seperti diharapkannya, dokter Barney membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju keluar Bar. “ Jangan pernah bilang aku tak pernah memperingatkan kalian semua! Kalau aku jadi kalian, aku akan meninggalkan Bar ini dan bergegas meninggalkan kota Raccoon.” Setelah itu dokter Barney melangkah keluar dan hilang dalam kegelapan.
Meskipun tadi aku sempat tersenyum melihat tingkah laku dokter tersebut, tapi aku merasakan dokter itu sedang tak mengada-ada. Sudahlah, lagipula aku tak punya waktu untuk mengurusi dokter itu. Saat ini lebih baik aku segera pulang ke apartemen dan menyelesaikan tugasku.
Aku langsung beranjak menuju pintu Bar, namun ada sedikit yang mengganggu pikiranku ketika tiba tepat di depat pintu Bar. Melalui jendela Bar yang lebar, aku dapat melihat seorang pria sedang merangkak merintih menuju Bar. Wajah pria itu berlumuran darah dan terlihat sangat ketakutan. Apakah pria itu korban tabrak lari? Langsung saja aku membuka pintu Bar dan hendak menolong pria tersebut, namun belum sempat aku beranjak dari tempatku berdiri aku melihat sesuatu yang paling mengerikan dalam hidupku. Segerombolan manusia mengelilingi pria itu dan langsung mencabik-cabik sang pria hingga tubuhnya tercerai berai tak berbentuk.
Entah kenapa tubuhku langsung terasa mual melihat kejadian itu, secara spontan tubuhku melakukan penolakan dan memuntahkan semua yang ada dalam lambungku saat itu juga. Gerombolan mahluk itu jelas bukan manusia, terlihat jelas dari sosok mereka yang terluka dan tak sedikit kehilangan anggota tubuhnya. Mereka adalah mayat hidup yang diceritakan dokter Barney tadi.
Aku langsung berbalik arah dan langsung menutup pintu Bar. Tubuhku yang bergetar langsung bersandar pada daun pintu, kini seluruh pengunjung Bar menatapku dengan aneh; sama halnya yang kami lakukan pada dokter Barney.
“ Kalian semua yang dicupakan oleh dokter Barney ternyata benar! Ada gerombolan mayat hidup diluar sana!” Memang ucapanku ini sama tidak masuk akalnya dengan yang diucapkan dokter Barney, namun para pengunjung Bar ini pun tidak terlalu bodoh tentunya membaca situasi ketika melihat dua orang berekspresi sama dengan cerita yang sama pula, tentu saja ada sesuatu yang aneh di luar sana.
Para pengunjung yang mulai penasaran mulai berlarian mendekati pintu dan jendela Bar untuk melihat keadaan diluar. Seperti halnya diriku, satu persatu ekspresi mereka mulai berubah menjadi ketakutan dan tak mempercayai yang dilihatnya. J si pemilik Bar langsung berlari menuju kantor belakang dan mengambil kunci Bar. Keputusan yang tepat menurutku untuk situasi saat ini. Di saat para pengunjung panik, sangat ceroboh bila membiarkan mereka semua berhamburan keluar dan dimangsa oleh para mayat hidup itu.
Hampir sebagian besar pengunjung J’s Bar terlihat ketakutan dan hanya segelintir saja yang berinisiatif mempersiapkan sesuatu. Sepertinya aku pun harus melakukan sesuatu jika tidak mau mati dimangsa oleh para mahluk itu. Tidak berlebihan jika aku berpikiran seperti itu, mengingat apa yang baru saja aku lihat diluar sana.
Sebenarnya aku memang selalu membawa sebuah pistol di tasku, ini semua demi menjaga diriku sendiri dari kriminalitas yang banyak terjadi di kota ini, tapi tak kusangka akan kugunakan benda ini pada situasi yang tak terduga semacam ini.
“ Kusarankan kalian mencari benda-benda yang dapat dijadikan sebagai alat pertahanan diri!” Kataku kepada yang lainnya, semua orang langsung mencari-cari benda yang dapat digunakan.
Aku mengintip ke arah luar melalui kaca yang terdapat di pintu Bar. Sepertinya para mahluk itu telah menyadari kehadiran kami di dalam sini; terlihat dari perhatian mereka yang mulai teralih ke arah J’s Bar. Menurut perhitunganku, tak sampai setengah jam Bar ini dapat dimasuki oleh mahluk-mahluk itu. Meskipun aku tak memiliki dasar dari kemiliteran ataupun persenjataan, jauh di dalam hatiku entah mengapa terasa menikmati ketegangan ini; apakah aku telah gila? Ya aku telah sedikit tak waras akibat tekanan pekerjaan.
Aku mengeluarkan pistolku dan mengisinya dengan beberapa butir peluru 9mm. Dalam hati aku ingin tersenyum, seorang warga sipil akhirnya menggunakan senjata yang telah lama ia punya; lagipula aku telah legal menggunakannya.
Aku mendekati J – si pemilik Bar, dan menanyakan apakah di Bar ini terdapat lorong rahasia atau pintu darurat lainnya. Beruntungnya, menurut J – Bar ini memang memiliki lorong rahasia yang nantinya akan tembus menuju rumahnya yang berada beberapa blok dari Bar ini. Tentu saja itu adalah harapan bagi kami yang terjebak di dalam sini.
“ Kalau begitu semuanya, lekas beranjak dari sini dan pergilah menuju ruangan rahasia bersama J! Aku akan berjaga di sini dengan beberapa orang yang memiliki alat pertahanan di sini.” Kataku. Hampir seluruh pengunjung Bar setuju dan berjalan mengikuti J.
“ Semuanya jangan lakukan itu!” Teriak seorang wanita muda keturunan asia. Dilihat dari penampilannya wanita itu masih berumur belasan atau paling tidak baru berusia dua puluh tahun; wanita yang berani menurutku. Wanita itu mengenakan kaos hitam dirangkap kemeja hijau, menggunakan celana jeans panjang dan menggendong ransel besar.
“ Apa kau mau membiarkan mereka semua mati di sini nona? Sama seperti yang terjadi pada pria yang di luar sana?” Tanyaku pada wanita itu dan disetujui oleh para pengunjung lainnya.
“ Apa kau tidak memperhitungkan kalau rumah J telah diduduki oleh para Zombi itu? Dan jika perkiraanku benar, maka kita hanya akan mengantarkan nyawa kita pada mahluk-mahluk itu.” Kata wanita itu.
“ Wow,,, analisis yang hebat nona, aku pun telah memperhitungkannya kemungkin itu terjadi; hanya saja presentase kemungkinan kita selamat lebih besar dari pada kita menunggu di Bar ini yang menurut perhitunganku tak lebih dari dua puluh menit para mahluk yang kau sebut sebagai Zombi itu menerobos ke dalam sini.” Kataku mulai mempertahankan argumen.
Wanita menatapku dengan pandangan tak percaya, kemudian ia berbalik dan berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke lantai dua. “ Lakukan saja sesuka kalian, hanya saja aku lebih tahu yang sedang kita hadapi ini dibandingkan kalian.” Rasa percaya diri yang harus aku akui, atau wanita itu memang mengetahui sesuatu tentang monster-monster di luar sana?
“ Sudahlah kalian berdua, saat ini bukan waktunya bertengkar kan?” Tiba-tiba seorang pemuda berkulit hitam berseragam karyawan subway kota Raccoon mencoba mendinginkan suasana diantara aku dan wanita itu. Pemuda yang sangat ceria menurutku; terlihat dari rambutnya yang dicat pirang.
“ Menurutku ada benarnya ucacapan Jim, di saat seperti ini sebaiknya kita semua bersatu!” Ucap pria berkulit hitam yang tadi mendekati dokter Barney. Sepertinya wanita itu menyerah dan akhirnya menuruni tangga dan mendekati kami bertiga.
“ Aku akan mengikuti kalian, hanya saja jangan pernah lupa kalau aku telah memperingatinya kalian kan!” Kata wanita itu sambil memalingkan wajahnya dari pandanganku.
“ Siapa namamu nona?” Tanyaku sopan.
“ Bukankah ada tata krama jika hendak menanyakan nama seseorang kau harus memberitahu namamu terlebih dahulu?” Ucap wanita itu ketus.
“ Maafkan aku kalau begitu. Namaku Andy Decarlo, aku seorang peneliti sekaligus programer di Umbrella Corporation, meskipun aku masih baru di sana.” Kataku memperkenalkan diri.
Wanita itu sedikit terkejut ketika aku menyebutkan pekerjaanku. “ Aku Yoko Suzuki, seorang pelajar biasa.” Kata wanita itu.
“ Lalu kalian?” Tanyaku kepada kedua orang sisanya. “ Maaf, aku memang sering melihat kalian di Bar ini tapi aku kurang bersosialisasi dengan yang lainnya.”
“ Aku Jim Chapman seorang karyawan subway kota Raccoon.” Tentu saja ia karyawan subway Raccoon, terlihat jelas dari pakaian yang dikenakannya. “ Dan ini Mark Wilkins, ia bekerja di perusahaan securty di kota Raccoon ini; ia juga memiliki masa lalu yang hebat loh.”
“ Sudahlah Jim, jangan ungkit tentang hal itu lagi!” Kata Mark memotong ucapan Jim.
“ Baiklah semuanya, apakah kalian telah mempersiapkan diri kalian?” Tanyaku dan dijawab oleh mereka dengan anggukan – kecuali Yoko yang hanya diam memandang dingin diriku.
Terdengar suara pecahan kaca dari arah depan Bar. Sepertinya tamu yang tak diharapkan itu akhirnya datang juga, untungnya para pengunjung lainnya telah pergi cukup lama dari Bar bersama J menuju lorong rahasia itu.
Mahluk-mahluk itu terlihat sangat menjijikan dan berjalan sangat lambat menuju ke arah kami. Apakah kami akan mati di sini? Mahluk apa itu sebenarnya? Apa yang terjadi sebenarnya di sini? Apakah aku sedang bermimpi? Semua pertanyaan itu memenuhi pikiranku hingga rasanya sangat sakit sekali.













0 komentar:
Posting Komentar