Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Rabu, 13 Oktober 2010

Crimson Beach (Final Part)

0 komentar

Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia, 1934

Sebuah padang rumput luas nan hijau. Dikelilingi gunung – gunung biru yang tinggi menjulang ke langit. Langit biru yang tak berbatas. Awan beriak sangat tinggi di atas sana. Hembusan angin gunung lembut menerpa wajah.

Sebuah pukulan telak mendarat keras di pipi kananku. Aku terjungkal ke belakang. Rasa sakit ini menyengat – nyengat. Pipiku menggembung saat kuraba.

“Rasakan itu, Silly Tony Boy!”
“Yeah, kau pantas menerimanya, dasar pengecut!”

Di hadapanku berdiri dua orang preman yang seusia denganku. Yang bertubuh besar dan sedang mengelus tinjunya bernama Billy Westcraft, anak pemilik bar di kota Diamond Hill. Dan yang kurus berpangku tangan di sebelahnya bernama Shane Redneck, anak pemilik Bank. Mereka memang Bengal yang berkuasa di kota ini.

Sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Bukannya aku tidak kuat. Tetapi sulit sekali menahan sakit di hati ini. Saat itu aku masih 12 tahun. Aku belum bisa mengendalikan tangisanku. Air mataku meleleh begitu saja. Begitu juga dengan hidung dan tenggorokanku. Aku tak bisa berbuat apa – apa kecuali menangis tersedu – sedu di hadapan mereka. Kemudian mulutku bergerak sendiri. Mencoba mengatakan alasanku menemui mereka.

“Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu, pengecut?” Tanya Billy dengan nada menggertak.
“Topi. .itu. . “ jawabku terbata – bata. “Kumohon . . berikan topi itu.. .”
“Apa? Topi?”
“Maksudmu ini?” Shane mengeluarkan topi cantik dari sakunya.

“Ooh, betapa cantiknya. Apa ini yang kau inginkan.” Billy pura – pura mengaguminya.
“Lihat – lihat!” Shane menunjuk sesuatu di topi. “Ada bordir namanya, M-a-r-y A-n-n-e”
“Mary-Anne Lewis ?! Kau bercanda ya?” Billy terperanjat. Ia merebut topi itu. “Kau benar! Ini punya Mary-Anne si mutiara StoneHead’s farm! Aku tak percaya ini.”

Mereka malah bermain – main daripada memberikan topi itu. Mereka terkesan mengolok – olok diriku. Memang kelasku lebih rendah dari mereka. Ayahku hanya petani biasa. Ibuku menjadi pelayan keluarga Lewis Stonehead, pemilik lading pertanian tempat ayahku bekerja. Tak ada hak social yang memungkinkanku untuk melawan mereka.

“Kumohon, berikan topi itu.”
Billy dan Shane berhenti bermain topi. Mereka kembali menatapku dengan tajam.
“Jadi ini yang kau inginkan? Apa kau sedang bermimpi, heh?” ujar Billy.
“Yeah, mana mungkin sampah seperti itu berpacaran dengan anak majikannya, heh. Mendengarnya pun aku muak.”
“Oh, aku punya ide! Bagaimana kalau kau mencoba memukulku di pipi ini. Kalau berhasil, topi ini kuberikan padamu, setuju?”
“Yeah setuju!” Shane membalas. “Aku taruhan $10, dia tidak akan berani memukulmu.”
“Kau dengar itu Tony? Sekarang ayo pukul aku. Di sini nih!”

Billy menyodorkan wajahnya mendekatiku. Ia menantangku untuk memukulnya. Tapi tanganku sangat berat digerakkan. Tubuhku telah dikuasai rasa takut. Aku hanya bisa mengangkat tangan ke depan mukanya saja.

“Ah, lama!”

Billy malah mendorong kepalaku hingga terjatuh kembali.

“Lihat, ia tidak berani Shane, aku kalah taruhan. Ini $10 milikmu.” Ia memberikan lembaran uang pada Shane.
“Terimakasih, pal. Kau tahu mengapa ia tidak dapat memukulmu? Karena ia Pengecut!”
“Yeah pengecut, sana pulang ke Mama. Ini topimu.”

Billy melemparkan topi cantik itu, kemudian pergi sambil tertawa sinis. Aku ditinggalkan dalam keadaan menyedihkan. Sedih karena aku memang seorang pengecut. Orang yang sangat menyedihkan. Aku hanya bisa terlentang melihat langit sambil menangis. Pengecut yang tak berguna

Tiba – tiba seseorang menghampiriku, tak jelas siapa dia.
***
Omaha Beach, Normandia, Prancis, 6 Juni 1944
07.20
50 meter menuju Shingle

“Mundur! Mundur Semua!”
“Sial, Berlindung!”
“Pasukan Satu! Serang dari sayap kanan! Pasukan Dua, Tembakan perlindungan!”
“MEDIIISSS! God Dammit, Dimana ParaMedis!”
“Arrgghh! Tolong. . aku sekarat!”
“Ibuuu! Aku ingin pulang!”
“Kubunuh kalian, F***ING NAZI’s!”

Kegaduhan, teriakan, keramaian yang tak terkendali memenuhi udara di pantai bersimbah darah. Pasukan AS dibuat kocar – kacir oleh pasukan Jerman. Salah perhitungan, kurang akuratnya strategi, atau mental yang tidak siap dapat menjadi penyebab situasi ini. Kemungkinan penyebab terakhirlah yang aku alami saat ini

Aku masih bertahan di obstacle dimana aku diselamatkan oleh prajurit sniper yang kini tewas. Jantungku berdebar keras. Keringat dingin mengalir deras dari seluruh tubuhku. Tanganku menggenggam erat senapan serbu. Aku takut. Takut sekali. Melihat badai senapan mesin, ledakan meriam Flak88, tentara yang tewas, mendengar suara – suara yang menggelegar. Semua ini membuat badanku sulit digerakkan. Berat sekali. Bahkan aku belum menembakkan satupun butir peluru dari senapan ini.

Sejenak perhatianku teralih pada pantai. Beberapa Landing Craft mendarat, melepaskan puluhan tentara baru untuk menambah jumlah personil. Sementara itu, dari udara, pasukan terjun paying satu per satu turun dari pesawat Dakota. Langit bagai hujan manusia. Aku merasa lega mengingat jumlah kekuatan personil terus bertambah. Namun hati kecilku berkata sebaliknya. “Mau apa kalian ke sini ? Apa kalian ingin mati ?”

SIIIUUUUUTT. . . .

Terdengar suara seperti luncuran kembang api raksasa. Saat aku melihat ke atas, sebuah benda yang bersinar membelah langit dengan ekornya yang panjang. Itu bukanlah sesuatu yang indah. Itu adalah. .

“Ya Tuhan, MORTAR!”

DUAARR!

Granat mortar itu turun menghujam pasukan yang baru keluar dari Landing Craft. Mereka tewas seketika beberapa saat setelah menginjakkan kakinya di pantai. Sementara yang selamat, sekarat dengan kondisi yang mengenaskan.

ZBAM, ZBAM, Dredet-det-det,ZBAM

Kini suara ledakan dan senapan mesin saling mendominasi. Tidak bisa. Aku tidak bisa maju lagi. Aku tidak mau mati. Aku ingin pulang. Ibu, tolong aku.

“Tony . . .”

Sayup – sayup terdengar suara seseorang memanggilku. Serta merta aku mencari sumber panggilan itu.

“Pvt. Tony Brewster! Di sini!”

Aku menemukannya, orang yang memanggilku. Ia berlindung di balik karung pasir.

“Letnan McLausky. Sir!?”
“Tony, apa yang kau lakukan di sana? Cepat maju ke belakang panzer!” teriak McLausky sambil menunjuk ke arah bangkai Panzer dengan senjatanya.

“Äku tak bisa Sir, aku takut sekali!”
“What the F*** did you say? Cepat bergerak, aku akan melindungimu!”
Sebenarnya aku ingin sekali mematuhi perintah atasanku, tetapi rasa takut ini telah menguasai seluruh tubuhku.

“Negative Sir, aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku ini pengecut Sir”

Ya. Aku memang pengecut. Sejak bergabung dengan militer. Aku adalah yang paling lemah dalam kompi. Aku tak mahir dalam menembak, berlatih fisik, bahkan menbalas ejekan rekan satu kamp. Yang kulakukan hanyalah mengantar makanan, amunisi dan dokumen. Aku tak akan ada di sini jika kompi Bird tidak kekurangan personil. Memang alasanku bergabung dengan militer bukanlah menjadi patriot negara. Ada alasan lain.

“Kalau begitu untuk apa kau kemari?”
“Ha ?”
“Dengar prajurit, kau mau bilang dirimu pengecut, atau sampah sekalipun, itu takkan membawamu pulang. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menjalankan perintah atasanmu dan menembak pasukan Jerman, mengerti?”
“Tapi Sir, aku tetap tidak bisa. . “

“Very well, kalau kau tetap di sini, matilah kau.”

Dia serius. Letnan itu menembakkan senjatanya ke arahku. Untunglah tidak kena. Tetapi ini lebih menakutkan daripada tertembak musuh. Namun karenanya aku berhasil menggerakkan tubuhku lagi.

“Ökay, Sir. Bergerak menuju panzer!”

Aku berlari sekuat tenaga menuju bangkai panzer yang terkena meriam. Aku tak menghiraukan lagi desingan peluru dan meriam. Pandanganku hanya terfokus pada panzer tersebut.

“Äwas! FIRE IN THE HOLE!”

Aku mendengar seseorang memberiku peringatan tapi aku tak tahu siapa itu, yang pasti aku merasa peringatan itu pasti tertuju padaku setelah aku melihat sebuah granat kayu yang tergeletak di dekatku.

Aku berusaha untuk menghempaskan badanku.

DUUAAAARRRR

. . .
. . . . . .
. . . . . . . . . .. aku terhempas

Suara itu menggelegar bagai halilintar yang menghujam bumi. Seakan menjebol gendang telingaku. Tak ada satupun suara yang kudengar selain suara yang mendenging. Tubuhku melayang di udara kemudian jatuh ke tanah. Aku memandang lurus ke langit. Ternyata langit masih biru. Dihiasi dengan awan – awan yang beriak. Hal ini membuatku kembali ke masa lalu.
***

Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia
10 tahun yang lalu

Aku terbaring di atas padang rumput luas yang terhampar di ladang Jim Stonehead. Pandanganku lurus ke atas, menatap langit yang biru tak berbatas dengan penuh rasa kekecewaan. Kecewa dengan diriku sendiri yang menyedihkan. Kecewa mendapati diriku yang sangat pengecut. Pengecut terbesar yang ada di muka bumi. Rasa sakit di hati ini lebih sakit daripada memar di pipi ini. Air mataku terus mengalir.

Tiba – tiba seseorang menghampiriku. Ia berdiri di dekat kepalaku kemudian membungkuk hingga wajahnya mendekati wajahku. Kini aku ingat siapa dia.

“Mary-Anne Lewis. . “
“Yap, ini aku. . “

Wajah cantik itu tersenyum. Aku langsung bangkit berdiri kemudian secepatnya menghapus air mata ini. Aku malu untuk memperlihatkan wajah cengengku padanya. Gadis itu mengenakan pakaian putri bangsawan dengan rok panjang, sangat anggun. Ia juga memegang payung kecil untuk melindunginya dari panas matahari

Aku membuang muka meyembunyikan wajahku. Mary menyadarinya. Iapun mendekat kemudian tangannya menyentuh wajahku, mencoba menghapus air mataku.

“Mary. .? “
“Mengapa kau menangis?”
“Mary aku. . . “

Kata – kata sulit untuk kuungkapkan karena perih rasa sakit di hati ini dari manusia yang paling memalukan. Tapi dengan sabar ia menanti untuk mendengarkan lanjutan perkataanku. Memberiku tak ada pilihan kecuali meneruskan pembicaraan.

“. . .aku seorang pengecut. . “
“. . Hmm? Pengecut?”
“Benar. . “

Aku memjamkan mata. Aku tak berani melihat ekspresinya ketika gadis yang kukagumi mencemoohku. Apapun reaksinya sudah siap kuterima. Karena inilah kenyataan yang sebenarnya.
“Äh, topiku!”

Ternyata yang kudengar malah berbeda dengan yang kupikirkan. Ia malah mengambil topinya yang selama ini kugenggam tanpa menyadarinya. Seolah – olah ia tidak mendengarkan apa yang tadi kuucapkan.

“Wah senangnya, terimakasih – terimakasih!”
“Mary?”

Sepetinya ia senang sekali mendapatkan topinya kembali. Ia memakainya kemudian menari – nari. Ketika ia berhenti, ia menhampiriku lagi.

“Kau berhasil memenuhi janjimu untuk mencari topiku yang hilang lalu kenapa kamu mengatakan dirimu pengecut?”
“Ha?”
Kau bukan pengecut, Tony. Pengecut adalah orang yang tidak bisa memenuhi janjinya. Kau adalah pahlawanku,Tony.”
“Begitukah ?”

Kata – kata Mary saat itu seakan memberikan cahaya pada diriku yang redup. Baru kali itu aku merasa dihargai atas apa yang kulakukan. Dan aku menyadari bahwa selama ini aku salah menilai diriku sendiri.

“Hey, Tony?”
“Yeah?”
“Maukah kau menjadi pahlawanku lagi dan menjadi pahlawan bagi semua orang?”
“Hah, bagaimana caranya?”
“Mungkin menjadi prajurit dan berjuang akan membuatmu menjadi pahlawan bagi Negara.”

Sekarang aku ingat tujuanku bergabung dengan militer. Menjadi pahlawan bagi semua orang dan Mary. Kemudian semua pandanganku menjadi putih kembali. Samar – samar semua menghilang, kemudian samar – samar pemandangan baru mulai terlihat.
***

”Ëdward, cepat kau tekan di bagian sini!”
“Sial, aku kehabisan peluru. Randy, bawakan magasin ke sini!”
“Cooper, cepat ambil morfin, kau dan Scott, cepat keluarkan serpihan granat di kakinya!”
“Sial, Tony, Ayo kuatkan dirimu sialan!”

Suara gaduh kembali memenuhi kepalaku. Aku kembali ke peperangan. Perasaan aneh melingkupi seluruh tubuhku. Saat aku sadar, aku mendapati 4 orang prajurit berusaha melakukan sesuatu pada tubuhku yang terbaring. Dan kakiku telah dibalut perban.

“Letnan, dia sadar!”
“Oh Tony! Syukurlah kau kembali. Darimana saja kau ini?”
“Letnan McClausky? Apa yang terjadi?”
Kepalaku sedikit terasa pening. Aku masih belum mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
“Kau terkena ledakan granat dan hampir kehilangan kakimu.” Tentara Medis Scott.
“Sayang sekali, untuk sementara kakimu tak bisa kau gerakkan.”

“Damn it!”

Mereka benar, kakiku mati rasa. Ini membuatku tak bisa maju lagi ke baris pertahanan Jerman. Sepertinya, aku tak bisa lepas dari status pengecut. Ini mungkin takdirku.

“Katakanlah Letnan. Apa aku seorang pegecut?”

“Prajurit Tony.’ Letnan menjawab sambil memegang bahuku.

“Kalau kau seorang pengecut, seharusnya dari awal kau sudah mengundurkan diri dari militer. Tapi kenyataannya kau masih tetap bersama kami. Berjuang di tengah ketakutan dan kematian demi menjalankan tugas. Menepati janji yang kau ikrarkan saat pertama kali bergabung dengan militer. Kau bukan pengecut. Kau adalah pemberani. Kau adalah pahlawan. Lihatlah orang – orang yang di sekitarmu sekarang. Mereka percaya padamu hingga tak rela untuk membiarkanmu, seorang pahlawan gugur seorang diri.”

Aku tergugah. Kata - kata itu mirip dengan yang dikatakan Mary saat itu.

“Tapi, sir. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Kakiku tidak bisa digerakkan. “

Letnan kini memegang helm di kepalaku.

“Dengar nak, prajurit bisa saja kehilangan anggota tubuh, bahkan nyawa. Tapi mereka tidak boleh kehilangan harga diri dan semangat juang. Pertahankanlah kedua hal itu, prajurit.”
“Yeah itu benar.”
“Cool”
“Kami akan selalu bersamamu, kawan.”

Perkataan letnan didukung sikap setuju dari keempat prajurit lain. Mereka membuatku semangat kembali. Aku ingin sekali membuat mereka menghargai atas apa yang bisa kulakukan.

“Äku mengerti, Sir!”
“Lagipula masih ada yang bisa kau lakukan sekarang.”
“Apa itu. Sir?”
“Kami akan bergerak ke depan. Dari sini, aku ingin kau melakukan tembakan perlindungan.”
Letnan memberikan senjata laras panjang dengan scope.

“Aku ingin kau menembak gunner yang ada di sebelah sana dengan sekali tembak” Letnan menunujuk gunner di belakang senjata mesin di salah satu benteng.
“Sekarang kau menjadi sniper. Buktikan padaku bahwa kau bisa Ok?”
“Yes, sir!”
“Okay boys! Ayo kita bergerak!”
Letnan meninggalkan diriku bersama keempat prajurit lainnya.

Untuk pertama kalinya di sini aku diberi kepercayaan untuk menjalankan tugas khusus yang sangat berperan penting. Melindungi pasukan penembus pertahan. Aku memang belum berpengalaman menjadi penembak jitu. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak mau bernasib sepeti sniper sebelumnya.

Aku memasang senapan di celah kecil di panzer. Aku mencoba mengatur napas untuk menenangkan diri. Memperlambat denyut jantung. Setelah cukup tenang. Aku mulai membidik dari balik scope. Terlihat. Musuh yang berada cukup jauh, seolah berjarak cukup dekat dariku dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku mulai menahan napas. Memposisikan crosshair di kepalanya. Kutarik pelatuk.

DAARR

Ia jatuh. Akhirnya ia jatuh. Aku senang sekali. Untuk pertama kalinya aku menembakkan senjata dan peluru itu mengenai musuh. Eits, membunuh satu musuh masih tidak berpengaruh apa – apa. Secepatnya aku mengokang senjata. Bersiap untuk membidik musuh berikutnya.

DARR
DARR
DARR

Setiap tentara musuh yang kubidik berhasil kutembak. Darahku mendidih. Aku jadi kecanduan membunuh. Sasaran selanjutnya adalah gunner di benteng paling kanan.

Aku kembali membidik dari scope. Ia terlihat sibuk mengarahkan senjata mesinnya. Ini sasaran empuk. Aku tinggal menarik pelatuk, kemudian.

Tunggu. Aku merasakan firasat aneh. Sepertinya ada seseorang yang mengincarku. Benar saja, di samping gunner itu, sniper Jerman justru mengarahkan senjatanya sambil membidik. Sama seperti yang kulakukan. Dan aku merasakan ia membidik ke arahku.

Oh tidak. Ia membidikku. Aku bisa mati seperti Mr.Sniper. Sial, aku harus berlindung. Tapi sepertinya tidak sempat. Saat kusadari ia siap menekan pelatuk.

DUAARR

Tiba – tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar. Aku memejamkan mata sejenak menahan suara itu. Saat aku membuka mata, benteng yang jadi sasaranku telah hancur berkeping – keeping diikuti sorak sorai tentara Amerika. Pasukan Letnan McClausky berhasil menembus pertahanan Jerman kemudian meledakkan benteng terakhir. Kini keadaan berbalik. Tentara Jerman kocar – kacir lalu mundur ke pedalaman. Pertempuran di pantai berakhir dengan kemenangan sekutu.

Aku gembira di tengah sorak – sorai kemenangan. Namun aku tak bisa berjingkrak seperti tentara lain lakukan. Kakiku cedera dan tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa menatap dari posisiku saja. Entah apakah tindakanku menembak musuh membantu atau tidak, tapi aku senang bisa berkontribusi dalam kemenangan ini.

Aku kemudian merasa lelah dan lemas. Pandanganku semakin kabur. Selruh tenagaku seakan terkuras habis hingga tak bisa menggerakkan badanku. Mungkin aku kehilangan banyak darah saat terkena granat tadi. Akhirnya, aku kembali tergeletak di tanah.

Äyah. . .ibu. . Mary. . maaf. . .aku tidak . . bisa pulang. .
***

Tanggal 6 Juni 1944, sekitar 6500 kapal laut mendaratkan lebih dari 130.000 orang di 5 tempat di pantai – pantai Normandia : Utah, Omaha, Gold, Juno dan Sword. 12.000 pesawat udara memastikan kebolehannya di udara membom pertahanan Jerman. Sekutu merasa yakin bahwa peperangan akan dimenangkannya. Di pantai Utah 23.000 tentara Sekutu mendarat dan 197 orang menjadi korban, dan lebih dari 4.649 tentara Amerika Serikat menjadi korban ketika bertempur di pantai Omaha melawan tentara Jerman. Pertempuran di Omaha Beach disebut sebagai pertempuran paling berdarah dalam pertempuran Normandia.
***

12 Juni 1944
Rumah sakit St. Albertus, Maryland, Amerika Serikat

Aku terbangun dari tidur panjangku sejak pertempuran di Omaha Beach seminggu yang lalu. Begitu banyak peristiwa yang telah kualami. Saat – saat kemenangan, saat – saat yang tragis, dan saat – saat diriku terjebak dalam kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, aku telah pulang.

Di kamar rumah sakit ini, aku dikelilingi orang – orang yang amat kusayangi. Ayah, ibu, Mary – Anne Lewis, bahkan duet brandalan Billy dan Shane. Sinar kegembiraan itu amat terang terpancar dari wajah mereka. Ibu terus menangis bersyukur sambil memeluku. Begitupun ayah yang tak kuasa menahan air mata.

“Semuanya, aku pulang.”
“Selamat datang kembali.”

Mary menjawabnya. Ia kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang amat cantik dan mempesona. Putri pemilik ladang itu tumbuh dewasa dengan sangat baik dan matang. Suatu hari aku ingin sekali menjadi pendamping hidupnya.
Mary berjalan menghampiriku. Kemudian tanpa ragu ia memberikan kecupan di keningku. Rasanya hangat.

“Selamat, sekarang kau benar – benar menjadi seorang pahlawan.”
“Mary, tetapi aku tidak terlalu berjasa dalam pertempuran.”

“Cck cck cck”
Mary menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Tonyku sayang, pahlawan tidak dinilai dari seberapa besar jasa yang ia berikan. Tetapi seberapa besar ia memberi kebahagiaan pada orang yang dijanjikannya. Kau telah membahagiakan kami dengan pulang dengan selamat.”

“Mary....”

Aku sangat terharu. Aku tak menyangka bahwa pengecut seperti aku ini ternyata dapat memberi kebahagiaan bagi orang lain. Hal ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Air mata ini juga tak tertahankan. Aku menangis dalam pelukan Mary.

Ëhm, maaf mengganggu. Bisa minta perhatian sebentar?”

Kami melepaskan rangkulan. Di hadapanku berdiri seorang perwira Angkatan Darat AS.

“Saya Komandan Jerry Hathaway. Saya menemuimu untuk memberi tahumu tentang berbagai hal mengenai situasi peperangan. Pertama saya mengucapkan selamat atas kepulanganmu dengan selamat, prajurit. Kedua, Saat ini pasukan Penerjun 101 berhasil mengambil alih kota Carentan dari Jerman. Terima kasih, berkat jasamu, Letnan Eddie McClausky dan pasukannya berhasil membuka pertahanan Jerman di Omaha Beach. Ketiga, oleh karena itu, kau dipromosikan dari Prajurit menjadi Korporal dan mulai berlaku efektif pada misi pertempuran selanjutnya. Itu saja pesan dari Jenderal Cunnings. Bagaimana tanggapanmu?”

Akhrinya aku benar – benar dihargai. Walaupun aku hanya naik pangkat sebagai Mayor, namun aku sangat senang dan bangga. Namun aku sudah membuat keputusan yang bulat.

“Komandan Hathaway, sir. Sampaikan pesan saya pada Jenderal Cunings bahwa saya berterima kasih atas promosinya, tapi saya sudah lelah untuk bertempur. Saya ingin mengundurkan diri dari dinas militer dan hidup di jalan yang sudah kupilih. Maafkan saya atas keputusan yang sembrono ini. Dan Hormat saya pada beliau.”

Ya, inilah keputusan akhir hidupku. Aku ingin hidup tenang bersama orang – orang yang kusayangi dan selalu menjadi pahlawan bagi mereka.

Tamat

Crimson Beach ( First Part )

0 komentar

Pantai
Tempat di mana ombak berkejaran
Tempat di mana pasir putih terbentang
Tempat di mana langit biru tak pernah berakhir
Dan angin lembut berhembus dari cakrawala
Di sana, kedamaian datang pada orang yang mencarinya

Tetapi
Tidak pada hari ini
***

6 Juni 1944, pukul 7.00
Laut yang kasar, Normandia, Perancis
Hari-H

Gulungan ombak besar menerpa, mengguncangkan Landing Craft (kapal angkut tentara) yang membawaku dan ke-51 prajurit yang lainnya. Setiap guncangan yang kuterima mengingatkanku ketika pertama kali berlatih rodeo dengan ayah. Terima kasih ayah yang telah melatih perutku untuk tidak mual pada saat seperti ini. Pvt.(Private / prajurit) Richardson yang berdiri di kiri depanku tak dapat menahan desakan dari perutnya. Iapun membanjiri kapal dengan sarapannya.

Kapal yang mengarungi lautan kasar ini membawa kami, tentara divisi Infantry ke-29, Bird Company menuju salah satu pantai di Normandia yang diberi nama sandi “Omaha”, nama daerah di AS. Pantai Omaha adalah salah satu tempat pendaratan pasukan AS yang berangkat dari Inggris selain tempat – tempat lainnya seperti Sword beach, Juno, Point-du-hoc, Gold, Utah, dan lainnya.

Perjalanan ini bukanlah rekreasi. Kami diberi misi untuk menyerang basis Jerman yang ada di Perancis. Kami pergi untuk berperang. Itulah sebabnya, orang – orang di sini tak satupun yang merasa senang. Perasaan takut, gelisah, khawatir, dan patriotisme mengisi udara di atas kapal ini. Aku sendiri tak tahu apa yang kurasakan saat ini

Berbagai macam ekpresi muram ditunjukan para tentara Bird Company. Pvt Ramshey tak berhenti berdoa. Pvt.Elias memegang erat senapan serbunya sambil memanggil ibunya. Medic Scott terus menegak whisky untuk menghilangkan rasa takut. Pada dasarnya kompi ini berisi freshmen yang belum pernah diuji di medan perang sesungguhnya. Tak heran jika semuanya kalut.

Samar – samar kudengar dentuman – dentuman yang kukenali sebagai suara meriam artileri “Flak 88” milik Jerman. Kami semakin dekat dengan medan perang. Debaran jantung kurasakan semakin keras. Perasaanku semakin tak menentu. Di depan, cebar – cebur air melompat ke udara diikuti ledakan menyambut iringan Landing Craft pasukan AS menuju pantai Omaha. Aku yakin rekan – rekan dari kompi lain juga merasakan hal yang sama denganku. Dari udara, pesawat – pesawat angkatan udara berputar – putar di atas pantai seperti lalat sambil melepaskan rudal dan bom demi membersihkan pantai.

Di sebelah kiri, sebuah kapal Landing Craft yang membawa sebagian kompi Able bergerak lebih cepat dari kapal ini. Tak diduga, sebuah peluru Flak 88 tiba – tiba menghujam kapal tersebut tepat dan meledak di depan mataku.

“Oh Tuhan !”

Aku tak percaya hal ini. Tampaknya tak ada satupun dari mereka yang selamat. Mereka gugur lebih dahulu sebelum tiba di medan perang. Dan kami bisa menjadi sasaran berikutnya. Sementara itu, di arah jam 3, Landing Craft yang membawa tank Sherman tersangkut Ramp (Rangka beton yang mencuat ke atas) beranjau kemudian meledak. Pasukan tank beserta tank hancur berantakan dan jatuh ke laut.

Satu per satu kompi gugur. Suara – suara benturan antara peluru dengan baja pelindung kapal mulai terdengar. Kami sudah memasuki medan pertempuran.

Sgt.(sersan) Willard yang duduk di barisan kedua berbalik menghadap kami.

“Bird Company ! Dengarkan aku baik – baik!”

Ia berteriak untuk memberikan instruksi. Berarti sebentar lagi kami akan mendarat.

“Sebentar lagi kita tiba di Omaha Beach, tugas kalian adalah berlari menyusuri pantai hingga point Shingle! Mengerti kalian ?!”

“Yes sir !” kami serempak menjawab.

Shingle adalah nama parit pertahanan luar Jerman.

“Ada dua aturan dalam pertempuran ini!” Sgt.Willard melanjutkan. “Pertama, kalian tidak berguna jika kalian mati! Kedua, kalian ke sini untuk jadi pahlawan, bukan jadi pengecut, paham ?! Ada pertanyaan ?!”

“Yes sir! No Sir!”

“Sekarang siapkan senjata kalian. Hari ini kita akan menghajar para Kraut (Jerman) keparat itu !”

Kami mempersiapkan senjata dan mental kami. Aku sendiri mengisi peluru M1-Garrand kemudian menggenggamnya erat – erat. Seluruh perasaan takut aku kurung dalam kepalan tanganku.

Kapal berguncang pertanda kami telah mendarat di pantai. Suara desingan peluru semakin sering terdengar bahkan mengisi udara. Kemudian palka ramp depan pun dibuka

“SEERAAANG !”

6 Juni 1944, pukul 07.20
Omaha Beach, Normandia, Perancis
Hari-H

Dret-det-det-det! Blam-blam! Dzing! Siiuut. . Duaarr!

Berbagai macam suara dentuman dan letusan senjata langsung menyeruak, membahana ketika perisai depan kapal diturunkan. Sebuah pemandangan yang luar biasa mengerikan terbentang di pantai di hadapanku. Mayat – mayat prajurit bergelimpangan di mana – mana. Yang terluka mengerang kesakitan dengan kondisi miris. Aku bahkan melihat seorang prajurit tergeletak dengan usus terburai sambil meringis dan memanggil ibu dan ayahnya.

“MAJUU!” perintah sersan Willard.

Kamipun serempak berlari sekuat tenaga menuju ke daratan pantai diikuti ratusan tentara dari kompi lain, yang mendarat pada gelombang yang sama. Tugas kami saat ini cukup sederhana, yaitu berlari menuju point pertemuan Shingle di parit pertahanan luar Jerman. Namun yang tersulit adalah bertahan hidup dari serangan pertahanan Jerman dalam perjalanan. Ini mempertaruhkan nyawa kami.

“Maju Bird Company! Tinggalkan kapal!”

Sekuat tenaga aku berlari dalam rombongan kompi menembus hujan peluru yang deras menerpa. Hujan yang dimana setiap tetesannya adalah kematian.

DUAARR!

Beberapa saat kemudian, sesuai perkiraan sersan, kapal yang kami tumpangi meledak dihajar peluru meriam. Sedikit saja terlambat, nyawa bisa melayang. Kalau sudah begini, tak ada jalan untuk kembali.

“Ayo, tim! Tetap bersama – sama! Jangan sampai berpisah!”

Di hadapan kami menjulang tebing terjal. Di puncaknya terdapat 3 sampai 4 benteng pos pertahanan Jerman. Di jendela pengintainya terpasang senapan mesin MG-42 yang dapat memuntahkan 100 peluru 7.59 mm dalam 1 detik. Aku dapat melihat proyektilnya seperti anak panah api yang melesat bagai kilat dan siap menembus siapapun yang ada di hadapannya. Pasukan MG42 juga ada yang berada di balik tumpukan karung pasir.

Selain senjata mesin, yang paling berbahaya adalah meriam artileri anti tank dan pesawat Flak88. Ia dapat menembakkan peluru 88mm sejauh 5 km. Ia juga dapat menghancurkan apapun yang disentuhnya dalam radius 5 m. Kami sudah kehilangan banyak tank karenanya. Pertahanan yang hebat dan tidak seimbang mengingat senjata kami saat ini hanya senapan serbu biasa.
***

Kami masih terus berlari ke arah tebing. Pasir pantai ini membuat langkahku sangat berat. Suasana di sini ramai sekali. Riuh renyah teriakan para prajurit yang kalang kabut membuat perintah atasan menjadi tidak jelas. Beberapa prajurit kami membalas tembakan ke arah Jerman, namun berakhir dengan tewasnya prajurit tersebut karena dibalas dengan senapan mesin.

Ledakan – ledakan peluru meriam mengepung kami. Bekasnya membentuk lubang kawah besar. Aku tak mau melihat prajurit yang tubuhnya hancur terkena ledakannya. Suara desing peluru MG42 bagai membelah kepala dari telinga kiri ke telinga kanan.

“Badai di depan! Berlindung!” sersan tiba – tiba berteriak.

Di Hadapan, badai peluru meluncur ke arah kami sambil menjejakkan lubang di atas pasir. Prajurit – prajurit dengan sigap melompat menjauhinya kemudian tiarap. Ada juga yang lelet. Iapun tewas terkena amukannya. Sedangkan aku.

Sial, aku malah berdiri terpaku melihat badai peluru bagai puting beliung di tengah padang pasir. Butir – butir pasir yang diterbangkannya bagai peri yang sedang menari. Aku terus memperhatikannya hingga ia berada beberapa inchi lagi, dan kemudian. . .

Seseorang menarikku.

Ketika sadar aku berada di balik obstacle (pagar besi penghalang tank). Seorang prajurit sniper (penembak jitu) melepaskan cengkeramannya di bajuku.

“Apa yang kau lakukan,nak? Apa kau ingin mati? “ demikian ia membentakku.

“Ma-maaf, aku. Aku. .”
“Tenangkan dirimu, Rookie (pemula)!”

Perlahan, aku memperlambat napasku. Aku masih tak percaya aku masih hidup padahal barusan aku hampir disentuh malaikat maut. Tanganku gemetar dengan hebat. Jantungku berdebar kencang. Melihatku, sniper itu menepuk bahuku.

“Tenanglah, kau beruntung Rookie. Tidak seperti dia. .”
“Oh Jeez . .”
Sniper itu menunjuk mayat yang tergeletak di sebelahnya. Seorang prajurit AS yang tewas kehilangan batok kepalanya. Otaknya menghambur keluar.

“Dengarkan aku Rookie, MG42 itu masih memburu kita. Untuk sementara, kamu tetap di sini dulu. Aku akan memebersihkan mereka untukmu.”
“Yes sir!”

Aku mengikuti perintahnya. Ia terlihat sangat berpengalaman dalam medan perang. Dengan tenang ia mengisi peluru senjata laras panjang Springfield sambil menghisap cerutu kemudian diarahkan melalui sela – sela pagar. Dengan tajam, matanya memburu Kraut melalui scope (teropong) senjatanya.

Daarr! Seorang tentara Jerman tewas
“One Down!” serunya.

Daarr! “Two down, one more ago”

Daarr!

Aku terkejut. Yang jatuh kali ini justru Mr.Sniper sendiri. Ternyata kraut telah menyadari posisi kami dan segera menembak sebelum sniper itu menembaknya. Peluru mereka menembus scope dan mengenai mata sniper hingga tewas seketika.

“Shit! God Damn!”

Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan. Badai senapan mesin masih berburu, meriam mengintai, dan musuh telah mengetahui posisiku.

bersambung...

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pensil dan Penghapus

0 komentar


Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Aku mencintai Artha. Aku sudah menyukainya sejak awal kami bertemu pada ujian pendafaran masuk kampus sekitar tujuh tahun yang lalu. Artha tidak terlalu tampan. Tapi juga tidak jelek. Dia memiliki sepasang bola mata hitam kecoklatan, sepasang alis mata yang tidak terlalu tebal, hidung yang tidak dapat dikatakan mancung, dan bibir tipis yang kemerahan. Wajahnya yang oval dibingkai dengan rahang yang kokoh, dengan lesung pipit di pipi kirinya jika dia tersenyum. Tubuhnya tinggi dengan pundak yang lebar.

Aku sangat, sangat, sangat terpesona padanya. Aku masih ingat dengan jelas ketika pada ujian pendaftaran masuk itu, setengah jam sebelum ujian berakhir aku baru sadar kalau jawaban yang kulingkari dengan pensil 2B pada kertas jawabanku itu terlompat satu. Ada lima puluh soal yang diujikan. Dan ketika aku sampai pada nomor terakhir di kertas soal, aku baru menyadari kalau pada kertas jawabanku, aku baru sampai pada nomor empat puluh sembilan. Setelah kuperiksa ulang, rupanya aku melewatkan soal nomor sembilan, dan menuliskan jawaban nomor sepuluh di soal menjadi nomor sembilan di kertas jawabanku, dan seterusnya.

Kurogoh-rogoh isi tasku mencari sebuah penghapus dan tidak menemukan benda yang kucari di sana. Itu membuatku panik. Aku duduk dengan gelisah sementara dahiku mulai berkeringat dingin. Aku tidak mau kalau aku sampai tidak lulus ujian masuk karena hal konyol seperti ini. Kulirik kanan kiriku dengan bingung. Aku sudah hampir menangis. Kemudian tiba-tiba dari belakang, seseorang menyentuh pundakku.

“Mau pinjam?” tanyanya. Kulirik mata pengawas yang tertuju pada kami. Lalu secepat kilat aku mengangguk seadanya dan mengambil penghapus itu dari tangannya. Itulah pertama kalinya aku memperhatikannya. Oh, bukan memperhatikan. Tepatnya, aku jatuh cinta padanya.

Tuhan sungguh baik padaku. Pertemuan kami tidak berakhir sampai di sana. Dia membiarkan kami satu kelas, satu organisasi, dan yang terpenting, memiliki satu perasaan yang sama. Empat bulan setelah awal pertemuan kami, Artha memintaku menjadi pacarnya dan membuatku hampir pingsan karena terlalu bahagia.

Artha pacar pertamaku. Dan aku berharap dia juga akan menjadi yang terakhir dalam hidupku. Sampai saat itu tiba. Saat hubunganku dengan Artha yang nyaris empat tahun berakhir begitu saja ketika dia memutuskan untuk pindah ke Jepang dan melanjutkan studinya di sana. Tidak pernah ada lagi kabar yang kudengar dari Artha semenjak kepergiannya. Dia seolah hilang ditelan bumi. Meninggalkanku sendirian digulung kesedihan.

Dua tahun kemudian aku bertemu Arga di perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tempatku melamar pekerjaan. Pertama kali melihatnya, aku seperti menemukan getaran yang telah lama hilang di hatiku. Matanya sama jernih dengan mata Artha. Senyumnya sama lembut dengan senyum Artha. Cintanya sama tulus dengan cinta Artha yang dulu pernah singgah dalam hidupku. Kubiarkan Arga mencuri tempat Artha dan menambal lubang yang menganga lebar di sana. Juga membiarkan Arga melingkarkan cincin di jari manis kananku malam ini.

Aku menikah dengan Arga.

Yang tidak pernah kusangka adalah aku akan melihat Artha lagi. Setidaknya aku tidak pernah mengira akan bertemu lagi dengan Artha pada malam ini. Malam pernikahanku. Malam di mana aku dengan sah menjadi milik orang lain.

Dunia ini sempit. Sangat sempit. Teramat sempit sampai terasa nyaris menghimpit tubuhku.

Ketika pandangan mata kami bertabrakan, aku dapat membaca kesakitan maha dahsyat yang menggemuruh di kedua bola matanya. Kesakitan yang aku tahu dia tidak berpura-pura. Sepasang mata Artha yang masih sama dengan tiga tahun yang lalu sebelum dia meninggalkanku. Aku hampir menjerit. Hampir berteriak dan memeluk laki-laki yang kini sedang bergerak mendekat dan menyalamiku.

“Selamat ya.” katanya lirih. Suara yang setengah mati kuimpikan selama tiga tahun ini.

Tapi kekagetanku tidak berhenti sampai di sana. Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir Artha, membuat ulu hatiku begitu nyeri seakan dihantam dengan palu godam.

“Kamu akan menjadi kakak iparku yang paling cantik mulai malam ini.” ucapnya dengan menguntai seulas senyum pahit. Mata Artha yang biasa selalu tersenyum lembut, malam ini terlihat basah berkaca-kaca.

Kutatap punggung Artha yang bergerak menjauh, kemudian dengan segera kualihkan pandanganku dan menatap Arga dengan pandangan tak percaya.

“Kamu punya adik?” tanyaku menahan sakit yang membuat mataku mulai terasa panas tergenang air mata. “Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?”

“Artha maksudmu?” Arga balas bertanya padaku dengan lembut. “Dia adik satu ayah lain ibu denganku. Aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Lagipula dia baru saja pulang dari Jepang malam ini. Ayah yang memintanya untuk datang ke pestaku dan menjemputnya dari bandara langsung kemari. Untung Ayah tidak terlambat datang ke pesta kita.”

Arga tertawa kecil. Tapi aku sudah tidak bisa ikut tertawa lagi. Jawaban Arga membuatku terhenyak. Kugigit bibirku kuat-kuat. Aku sungguh ingin berteriak. Aku ingin memanggil Artha untuk kembali ke hadapanku. Tapi lidahku terasa kelu. Suaraku tercekat entah di mana. Dan pada saat aku menemukan kembali suaraku, Arga telah menggenggam tangan kananku dan meremasnya dengan penuh kehangatan. Aku merasa tubuhku melemas. Aku tidak bisa mengkhianati Arga. Aku sendiri yang telah memutuskan untuk memilih Arga. Aku harus belajar mencintainya sebagaimana dia mencintaiku.

Kuurungkan niatku dan membuang pandanganku dari Arga, sekali lagi melihat Artha yang kini berdiri beberapa belas meter di hadapanku sebelum akhirnya dia berpaling dan berlalu pergi dari pestaku.

Sekarang aku tahu pasti mengapa mata dan senyum Arga sama persis dengan yang dimiliki Artha....

***

Aku memutuskan untuk mengakui semuanya pada Arga. Kuceritakan semuanya pada Arga mulai dari awal perkenalanku dengan Artha, betapa aku mencintainya, dan betapa aku sangat bahagia menjalin hubungan dengannya selama itu, serta merasa masih mencintainya sampai detik ini sekalipun aku telah menikah. Aku sempat mengira Arga akan mengamuk dan menamparku keras-keras di kamar pengantin kami malam itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia malah memelukku erat-erat dan berbisik dengan lembut di telingaku. Bisikan yang membuat tengkukku berdiri dan menangis begitu terharu.

“Artha akan kembali ke Jepang besok pagi. Temui dia yang terakhir kalinya, Reyn. Supaya kamu dapat melepaskan masa lalumu dan melangkah untuk masa depanmu.”

Arga merenggangkan pelukannya. Kemudian dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia mengangkat daguku dan menatap mataku dalam-dalam. Disekanya air mataku dengan sangat perlahan, seakan-akan jika dia mencoba menyentuhku lebih kuat sedikit saja, aku akan retak seperti porselen yang terbanting ke lantai.

“Kamu tahu kenapa kaca spion mobil lebih kecil dari kaca depannya?” tanyanya hangat. “Karena Tuhan menginginkan manusia lebih sedikit melihat ke belakang dan lebih banyak melihat ke depan, Reyn....”

Untaian kalimat Arga yang begitu tulus membuatku terisak-isak seperti orang gila. Separuh karena merasa bersalah padanya, separuh lagi merasa bersalah pada Artha. Tapi di saat seperti ini pun Arga tidak menghakimiku. Dia hanya membiarkanku menangis dalam pelukannya hingga malam kian larut dan aku tertidur di dadanya yang bidang.

***

Kulihat Artha tersentak ketika melihat kehadiranku dan Arga di bandara pagi itu, namun dengan segera dia mencoba menguasai dirinya. Arga mengucapkan salam perpisahan singkat pada Artha dan pamit untuk ke kamar kecil sebentar. Aku tahu Arga sengaja melakukannya dan memberikan waktu padaku untuk berdua saja dengan Artha.

“Sekali lagi, selamat ya.” ujar Artha terbata-bata. “Aku yakin Arga orang yang sangat baik. Dia pasti akan menjagamu lebih daripada dia menjaga dirinya sendiri.”

“Kenapa tiga tahun yang lalu kamu memutuskan pergi dan tidak pernah memberiku kabar sama sekali?” tanyaku tanpa menggubris ucapannya.

“Karena aku merasa tidak pantas untukmu.” tukas Artha setelah diam sesaat dan kembali membuatku merasa ada garam yang tertabur di lukaku yang belum sembuh. “Kamu tahu pasti aku bukan terlahir dari keluarga berada. Dan ketika aku tahu kalau ternyata ibuku hanya wanita yang dimadu, aku merasa tertampar. Aku merasa hidup mendorongku hingga terjatuh ke jurang yang paling dalam. Kemudian aku memutuskan pergi ke Jepang berkat beasiswa yang kudapatkan dengan susah payah, berusaha memperbaiki hidup dan menata hatiku di sana, sehingga ketika aku kembali nanti, aku bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih layak pada ibu... dan tadinya- padamu juga.”

Kukerjapkan mataku yang terasa perih. Sebisa mungkin kutahan air mata yang mendesak keluar dari kedua mataku yang sembab.

“Tapi kurasa aku terlambat.” Bibir tipis Artha tersungging getir. “Kamu sudah menemukan orang lain yang seribu bahkan sejuta kali lebih baik dariku. Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang pernah kulakukan. Dia akan menjagamu seumur hidupmu.”

Aku mencari-cari kebohongan dan kemarahan dalam setiap ucapan Artha dan tidak menemukannya. Dia tulus mengatakannya. Dia ikhlas membiarkanku mengecap kebahagiaan dengan orang lain. Ketulusan yang membuatku merasa kerdil dan egois telah menyalahkannya selama ini.

“Dulu, aku pernah mencintaimu. Sekarang pun sama.” lanjut Artha sederhana. “Tapi dengan cinta yang berbeda. Aku akan menghormatimu sebagai kakak iparku dan juga akan mengunjungimu setiap kali ketika aku kembali ke Jakarta untuk menemui ibu.”

Usai berucap demikian, Artha menarik tangan kiriku dan meletakkan sesuatu di tanganku.

“Jangan buka tanganmu sebelum pesawatku tinggal landas.” ucapnya pelan.

Kugenggam benda pemberian Artha erat-erat sembari mengikuti langkahnya yang akhirnya memisahkan kami dalam ruangan berbeda karena pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat. Aku memandangnya. Dia memandangku. Kukembangkan telapak tanganku. Dia juga. Kutempelkan telapak tangan kananku pada telapak tangan kirinya, tapi tak tersentuh. Kami dibatasi sebuah kaca. Aku dapat melihatnya dengan jelas, namun tidak lagi dapat menyentuhnya. Dia bukan milikku lagi. Saat ini dan selamanya.

***

Awan putih laksana gulali indah yang menghias langit pagi itu. Seberkas cahaya dan sebuah pesawat yang tampak seperti miniatur, menggores permukaan langit sejauh mataku memandang.

Dengan tangan yang gemetar hebat, kubuka tangan kiriku yang terkepal memegang pemberian Artha tadi. Mataku terpaku pada sebuah benda kecil di telapak tangan kiriku. Mungkin bukan benda yang istimewa bagi orang lain. Tapi sangat berarti dalam hidupku.

Sebuah penghapus.

Air mataku tumpah.

Berlinang-linang.

***

“Kamu tahu? Kita adalah pensil dan penghapus.” kata Artha seraya membelai rambutku malam itu. Malam pertama ketika dia mengungkapkan perasaannya padaku dan mengajakku makan malam berdua.

“Pensil dan penghapus?” Kutatap wajahnya dan menyatukan alisku dengan pandangan tak mengerti.

“Kamu pensilnya dan aku penghapusnya.” Artha tersenyum begitu lembut dan hampir membuatku meleleh bahagia. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu. Sampai mungkin akhirnya aku akan menghilang dan kamu akan menemukan yang baru sebagai penggantiku….”

***

Pikiranku masih terseret pada kenangan masa lalu kalau saja bukan tepukan pelan di kedua bahuku menarikku kembali ke alam nyata. Aku menoleh sekejab dan mendapati Arga menatapku dengan penuh kasih sayang.

Aku menarik nafas dalam-dalam sampai paru-paruku terasa penuh. Kubalas tatapan Arga dengan penuh rasa terima kasih yang tak mampu kuwujudkan dalam kata-kata.

Arga menggamit lenganku, kemudian membiarkanku mengikuti langkahnya.

Jalanku masih panjang. Kalau dulu aku pernah melakukan kesalahan, kupastikan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku akan terus melangkah. Dengan Arga di sisiku.

“Sekarang, kamu adalah pensil. Dan aku penghapusnya….” gumamku tulus. Arga menoleh dan mengernyitkan keningnya. “Setiap kali kamu membuat kesalahan, aku yang akan membantumu untuk menghapus setiap kesalahan itu. Meskipun setiap kali aku melakukannya, tubuhku akan terasa sakit dan bagian tubuhku akan terus mengecil, aku bahagia melakukannya. Karena untuk alasan itulah aku diciptakan. Aku diciptakan untuk selalu menjagamu. Aku diciptakan untuk selalu menolongmu di setiap kesalahan yang kamu lakukan dalam hidupmu.”

Kuulang setiap kata-kata yang dulu pernah Artha ucapkan padaku. Tapi aku tidak mengutip kalimat terakhirnya. Aku tidak ingin Arga mencari penggantiku. Karena mulai saat ini, aku tidak akan menghilang darinya….

Rabu, 22 September 2010

Matahari Cintaku

0 komentar

“Mama.... Ian mau nyanyi buat Mama. Dengerin ya?”

“Nyanyi apa? Memang Ian bisa nyanyi?”

“Bisa! Tadi Bu Guru baru ajarin di sekolah. Judulnya, 'Kasih Ibu'....”

“Coba Mama denger...?”

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia...”

“....”

“Mama kok nangis?Lagunya bikin Mama sedih?”

“Mama seneng denger Ian nyanyi buat Mama....”

“Kalau Mama seneng, Mama nggak boleh nangis. Ian bakal nyanyiin lagu ini buat Mama tiap hari. Biar Mama selalu seneng.”

***

Taman di hadapanku itu sangat luas. Indah mempesona dengan tatanan aneka tanaman yang ditata dengan luar biasa apik. Tepat di tengah taman itu, ada sebuah kolam yang tampak amat megah. Bunga-bunga yang berwarna-warni mekar di bawah siraman sinar mentari pagi, tertiup angin nakal, kemudian menebarkan harumnya yang mendamaikan.

Aku menghela nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar seraya merapikan dasiku. Pemandangan indah di depanku sama sekali tidak menenangkan kekesalanku. Kemudian kumasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celana panjangku dan berdiri dengan separuh hati. Di samping kananku, Mama sedang duduk di atas kursi roda yang telah menemaninya hampir sepuluh tahun setelah penyakit jantung yang dideritanya merenggut sebagian kemampuan tubuhnya untuk bergerak.

“Itu apa, Ian?” tanya Mama seraya menggerakkan telunjuk kanannya yang gemetar ke arah sekumpulan merpati yang sedang hinggap di tepi kolam.

“Merpati, Ma.”

Mama diam sebentar. Kemudian matanya mengikuti seekor merpati yang terbang meninggalkan kawanannya dan hinggap di sebuah ranting di pohon akasia yang tumbuh tepat di samping kolam.

“Kalau itu apa, Ian?”

“Merpati, Ma!” sahutku jemu.

Jeda sesaat. Lalu ketika Mama melihat sekumpulan merpati di tepi kolam itu mengepakkan sayapnya bersama-sama, meninggalkan kolam, dan melintasi langit, dia kembali bertanya,

“Itu semua apa, Ian?”

“Sudah seribu kali Mama bertanya, sudah seribu kali juga aku menjawab. ITU MERPATI, MA. Butuh berapa kali aku menjawab supaya Mama berhenti bertanya?!””

Usai berkata demikian, aku membalikkan tubuhku dengan geram. Kulangkahkan kakiku lebar-lebar, membanting daun pintu dengan sekuat tenaga, dan masuk tanpa sudi menoleh lagi.

***

“Aku tak tahan lagi!” Kuteguk secangkir kopi hitam di hadapanku dengan tak sabar.

“Soal Mama lagi?” Tangan Maria yang sedang sibuk mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya berhenti seketika. Dia mengalihkan pandangannya dan menatapku.

“Mama sudah seperti orang pikun. Dalam sehari, dia bisa menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Kemarin dia bertanya soal mobil, hari ini soal burung. Entah besok soal apa lagi. Jangan-jangan dia bakal bertanya, siapa aku?!”

“Kau tidak boleh berkata begitu.” Maria menggeleng dan mengernyitkan keningnya. “Bagaimanapun juga dia mamamu. Wanita yang telah melahirkanmu. Mana boleh kau berkata begitu soal dia?”

“Sudah hampir sepuluh tahun dia tidak sembuh dari stroke-nya, Mar. Dia cuma bisa terduduk di sana karena separuh tubuhnya yang lumpuh, merepotkan seisi rumah dengan rengekkannya. Minta disuapi makan, minta dibersihkan wajahnya, minta ditemani melihat taman, dan entah apa lagi. Aku sudah mengusulkan untuk memberikan seorang suster yang merawatnya, tapi dia tak pernah mau. Lantas apa maunya?”

“Mama mungkin hanya ingin kau menemaninya di hari tua, Rian.”

“Aku harus bekerja. Tapi setiap pagi dia selalu memintaku untuk menemaninya melihat taman. Entah apa yang dilihatnya di sana. Bukankah setiap pagi taman selalu tampak sama? Cuma terkadang basah tersiram hujan, terkadang kering karena cuaca cerah. Kalau aku tidak mau menemaninya, dia akan menangis, lalu memaksaku menyeka air matanya. Apa yang sebenarnya dia inginkan?!”

“Lebih pentingkah perusahaanmu dibanding mengurus ibumu sendiri?”

Aku menggigit ujung roti tawarku dengan kesal, kataku,

“Kalau aku tidak bekerja, apa bisa dia hidup di rumah semewah ini? Kalau aku tidak bekerja, apa dia pikir dia bisa mendapatkan apa yang dia mau selama ini?”

“Memangnya apa yang Mama inginkan? Apa kau benar-benar tahu?”

“Kehidupan mewah seperti ini, siapa di dunia ini yang tidak menginginkannya? Dari kecil setelah Papa meninggal, hidupku dan Mama selalu kesulitan. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku harus sukses dan aku membuktikannya. Aku bisa memberikan kehidupan yang berlimpah pada Mama sekarang. Lantas apa lagi yang diinginkannya?”

Maria mengendikkan bahunya.

“Kau harus bertanya padanya langsung, Rian. Tanya pada Mama, apa yang paling diinginkannya?”

“Mama sudah seperti orang linglung sekarang. Mana mungkin dia bisa menjawabku?”

“Kau belum mencobanya.”

“Aku tak mau mencobanya.” Aku mendengus tak senang. “Sudah sekian lama ini aku terpikir sesuatu. Sesuatu yang kurasa akan lebih baik untuk Mama.”

“Oh ya? Apa itu?” Senyum Maria terkembang.

“Aku berencana memasukkan Mama ke panti jompo.”

“Kau sudah sinting!” pekik Maria tak percaya.

“Aku tidak sinting.” jawabku tenang. “Di panti jompo, Mama akan menemukan orang-orang sebayanya. Dia bisa berteman dengan mereka. Bisa dirawat oleh suster-suster di sana. Dia tidak akan kesepian. Akan ada orang yang menyuapinya, menyeka air matanya, mengganti pakaiannya, dan salah satu dari mereka akan menemaninya melihat taman dan langit setiap pagi. Seperti yang selalu diinginkanya. Aku akan memasukkannya ke panti jompo terbaik dan termahal yang ada di Jakarta.”

“Rian, pernahkah kau pikirkan bagaimana perasaan Mama kalau mendengar keputusanmu ini?” Maria meletakkan rotinya ke atas piring dan melipat kedua tangannya. “Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dan diselesaikan dengan uang. Sesuatu yang bernama perhatian.”

“Dia akan mendapatkan yang terbaik.” Aku bangkit dari dudukku. Gerak tubuhku jelas menyatakan aku ingin menyudahi percakapan ini. “Sekarang juga aku akan pergi mencarikan panti jompo terbaik untuknya.”

***

Dua bulir air mata bergulir jatuh menuruni pipi Nana saat dia melihat neneknya digiring dua orang berpakaian serba putih. Salah satunya mendorong kursi rodanya dan seorang lagi menenteng sebuah koper besar di tangan kanannya. Nenek masuk ke dalam mobil, menatap dengan pandangan nanar padanya lalu tanpa berkata apa-apa, pintu mobil itu tertutup dan bergerak menjauh.

“Mama, Nenek dibawa ke mana?” Nana menggelayut di kaki kanan Maria.

“Nenek pergi ke tempat temannya.” sahut Maria sambil membelai kepala putrinya.

“Tempat teman Nenek di mana? Nana mau ikut. Nana mau temenin Nenek. Nenek sering bilang dia kesepian.”

“Nenek bilang dia kesepian?”

Nana mengangguk lemah.

“Nenek kapan pulang, Ma? Kalau Nenek ketemu temennya nanti, dia masih inget Nana nggak? Nana belum beliin kursi baru buat Nenek....”

“Kursi baru?” Maria tersentak. Kemudian dia berjongkok menyetarakan tingginya dengan putrinya. “Kursi apa maksud Nana?”

“Nenek bilang, kursinya udah lama nggak pernah diganti. Roda-rodanya udah susah diputer, Ma. Apalagi kan Nenek puternya cuma pake sebelah tangan....”

“Jadi Nana mau beliin kursi yang baru buat Nenek?”

“Iya.” Nana mengangguk tulus. “Nana mau Nenek ada di sini. Sama Nana liatin taman waktu malem. Nenek duduk di kursinya, Nana duduk di kursi Nana. Temenin Nana kalau Nana lagi sedih karena diomelin sama Papa. Nenek bilang Papa baik. Dulu, Papa sering temenin Nenek kalau Nenek lagi sendirian dan Papa paling sedih kalau liat Nenek nangis....”

Maria membuang pandangannya. Dirasakannya matanya mulai terasa panas tergenang air mata.

“Sekarang Nenek sakit.” Telapak tangan Nana menyentuh pipi Maria dengan lembut. “Nenek sering nangis di kamar malem-malem. Waktu Nana diam-diam ke kamar Nenek, Nenek bilang ke Nana jangan kasih tau Papa sama Mama....

“Kalau Nenek sakit, Nana kasi segelas air hangat buat Nenek. Kalau Nenek kedinginan, Nana yang selimutin Nenek. Kalau Papa lupa kasih Nenek minum obat, Nana yang kasih Nenek obatnya. Tapi udah seminggu ini Nenek nggak pernah mau minum obat lagi. Semaleman Nenek cuma nonton tv.”

“Nenek nonton tv?” Maria menyatukan kedua alisnya dan mencoba mengingat-ingat sejak kapan mertuanya itu suka menonton televisi.

“Iya, tv, Ma. Nana yang nyalain buat Nenek. Film yang sama, Ma. Film yang Nenek tonton sampai pagi. Film waktu dia masih muda dulu. Waktu Papa masih kecil dulu.”

“Coba Mama lihat.” Maria menggendong putri kecilnya dan melangkah tergesa-gesa ke dalam kamar mertuanya yang sudah sekian lama tidak pernah dimasukinya.

Kamar itu masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu ketika terakhir kali mertuanya itu mengalami kelumpuhan separuh dari tubuhnya dan menolak siapapun masuk ke dalam kamarnya, kecuali Bi Ima, seorang pembantu tua yang telah mengabdi pada keluarga mereka sejak awal mereka pindah ke rumah yang sebesar istana ini.

Pada Bi Ima pun, Maria tahu kalau mertuanya tidak pernah mau merepotkannya. Bi Ima hanya masuk ke dalam kamarnya untuk sekedar menyapu dan mengepel, memberi obat apabila Rian sedang sibuk bekerja -yang selalu ditolaknya-, dan memindahkan tubuhnya dari ranjang ke kursi roda atau dari kursi roda ke atas ranjang setiap pagi dan malam.

Di sudut salah satu meja, Maria menangkap sebuah pigura yang berisi foto hitam putih yang sudah usang. Di foto itu, dia melihat mertuanya tengah menggendong Rian dan menunjuk ke arah sekumpulan burung di sebuah kolam entah di mana. Wajahnya bahagia. Lebih cerah dari sinar matahari di musim semi sekalipun. Maria bahkan berani bertaruh, mertuanya itu rela menukarkan apa saja yang dimilikinya hanya untuk mendapatkan masa-masa itu kembali.

“Mama, ini filmnya.” Suara Nana membuat Maria menoleh.

Maria menelengkan kepalanya, melihat putrinya yang pintar itu memasukkan sekeping CD dengan cekatan dan menanti film apa yang akan muncul di layarnya. Dan saat mata Maria merangkum rangkaian episode-episode kehidupan yang terpampang di depannya, tanpa sadar air matanya meleleh.

***

“Mama mencintaimu, Rian. Lebih dari apapun yang ada di dunia ini.” Maria menatapku dengan sendu. “Kebahagiannya memilikimu, tidak bisa tergantikan dengan apapun juga. Dengan tumpukan harta dan rumah mewah sekalipun. Yang dia mau, cuma kamu. Putranya satu-satunya.”

Sempat kulihat Maria membalikkan tubuhnya, keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.

***

Badai itu tiba-tiba menerjang. Menggulungku dalam ombak raksasa yang membuatku tersengal kehabisan nafas. Kutebah dadaku yang terasa nyeri. Jelas sekali merasakan ada belati tak kasat mata yang mengoyak batinku tanpa ampun.

Tubuhku menegang. Mataku menatap hampa pada layar televisi di hadapanku kini. Di layar itu, ada dua tokoh yang sedang memainkan drama kehidupan. Tokoh yang aku tahu pasti siapa pemainnya.

“Ma, itu apa?” Telunjuk kecil tangan salah satu tokoh itu bergerak-gerak menunjuk sekumpulan merpati yang tengah bercengkrama di sebuah kolam.

“Itu merpati....”

“Kalau yang itu?” tanyanya lagi sambil menunjuk salah satu yang sedang bertengger di dahan sebuah pohon di tepi kolam.

“Itu juga merpati.”

“Yang itu?”

“Merpati, Ian....”

“Itu?”

“Merpati juga....”

“Banyak merpati.” Tangan kecil itu bertepuk kegirangan.“Itu juga merpati, Ma?”

“Merpati juga, Ian....” Wanita berambut ikal dalam layar televisi itu mengecup kening putranya dengan penuh cinta.

“Ian, jangan bertanya hal yang sama pada mamamu lebih dari tiga kali.” Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Meskipun tidak ada sosok yang muncul di layar, aku tahu pasti siapa pemilik suara itu. Itu suara Papa. Suara Papa yang teramat sangat kurindukan sebelum dia meninggalkan kami selama-lamanya.

“Tidak apa-apa.” Wanita berambut ikal itu menoleh dan tersenyum manis. “Berapa kalipun akan aku jawab.”

Berapa kalipun akan kujawab.

Berapa kalipun.

Akan kujawab.

Aku menggerung menahan sakit. Memoriku terlempar begitu saja pada beberapa hari silam ketika Mama menanyakan hal yang serupa padaku. Pertanyaan yang sama. Dengan jawaban yang berbeda. Karena aku telah membentaknya dan dengan sadis mengusungnya ke panti jompo beberapa hari sesudahnya.

Padahal dulu aku pernah melakukannya. Aku pernah mengajukan pertanyaan yang sama tiga kali untuk mendapatkan jawaban yang sama pula. Tidak. Ralat. Aku bertanya lebih dari tiga kali. Sepuluh kali. Bahkan mungkin seratus kali. Tapi jangankan membentak, Mama bahkan hanya tersenyum lembut. Senyuman yang berlumur dengan ketulusan dan cinta kasih.

“Jangan menangis. Sini Mama suapin.” Wanita di dalam layar kembali bersuara. Kali ini latarnya berada di sebuah kamar. Kamar yang juga kukenal betul. Kamarku lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.

“Gigi Ian sakit, Ma.” Bocah dalam layar itu menangis.

“Pelan-pelan makannya.” Wanita itu menyendok sesendok bubur dan mendekatkannya ke mulut putranya. “Buburnya lembut, Ian.” Kemudian disekanya air mata putranya dengan berlumur kasih sayang. “Kalau Ian nggak makan, nanti nggak sembuh-sembuh....”

Kapan terakhir Mama memintaku menyuapi dan menyeka air matanya dan kulakukan?

Rasanya belum sempat aku memaksa agar paru-paruku menarik nafas, sebuah tamparan baru melesat ke wajahku. Memberikan rasa perih yang luar biasa menyakitkan.

Perlahan. Alunan lagu yang lembut itu merambat perlahan ke telingaku. Lagu yang sangat kukenal. Lirik yang sangat kuhafal. Lagu yang sewaktu kecil dulu selalu kudendangkan untuk Mama sepulang sekolah. Lagu yang pernah membuatnya menangis sekaligus tersenyum begitu bahagia.

“Mama.... Ian mau nyanyi buat Mama. Dengerin ya?” Bocah itu memeluk wanita berambut ikal itu dengan manja.

“Nyanyi apa? Memang Ian bisa nyanyi?”

“Bisa! Tadi Bu Guru baru ajarin di sekolah. Judulnya, 'Kasih Ibu'....”

“Coba Mama denger...?”

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia...”

“....”

“Mama kok nangis? Lagunya bikin Mama sedih?”

“Mama seneng denger Ian nyanyi buat Mama....”

“Kalau Mama seneng, Mama nggak boleh nangis. Ian bakal nyanyiin lagu ini buat Mama tiap hari. Biar Mama selalu seneng.”

Pantas saja setiap beberapa bulan sekali, Mama selalu memintaku memindahkan sebuah CD ke CD-ku yang baru. Tapi aku tidak pernah sekalipun melirik isinya. Aku tidak tertarik. Aku malah mendumal dan meng-copy-nya dengan berat hati.

Tapi sekarang aku menyesal. Sangat menyesal.

Kalau baru sekarang Ian mau membahagiakan Mama, masih sempatkah?

***

Bagaikan harimau luka, aku menyeruak masuk ke dalam sebuah kamar bercat putih bersih itu dan tidak mendapati siapapun di sana.

“Bapak Rian Tanoto?” Seorang suster muncul di ambang pintu dengan wajah yang tak kalah panik.

“Ibu Manna sedang koma di rumah sakit. Bisakah sekarang juga kita berangkat ke sana?”

***

Dokter Lukas menggelengkan kepalanya dengan bijaksana.

“Hanya keajaiban yang bisa menolong Ibu Anda.” katanya dengan suara berat. “Jantungnya sudah sangat lemah. Keadaan fisiknya pun menurun drastis.”

Tubuhku terhuyung mundur. Aku hampir rebah, kalau saja bukan tangan Maria yang memapahku. Telingaku berdenging menyiksaku. Mataku serasa sulit kukedipkan. Rasanya aku kehilangan separuh rohku yang melompat keluar dari tubuhku dan tersesat entah di mana.

Dengan gontai, aku menyeret langkahku dan mendudukkan tubuhku di kursi di samping pembaringan Mama.

Lama. Lama sekali kupandangi wajah Mama dalam kebisuan. Matanya sudah dipenuhi kerutan. Wajahnya terlihat lelah sekali. Aku tak pernah menyadari, sejak kapan kecantikkan Mama yang begitu mempesona terampas oleh waktu.

Air mata memburamkan pandangan di kedua bola mataku.

“Ma, maafin Ian...” desahku di telinganya. Masa bodoh Mama bisa mendengarku atau tidak. “Mama bangun, Ma. Ian janji nggak akan ninggalin Mama kesepian lagi. Ian janji nggak akan marah lagi kalau Mama minta Ian temenin Mama liat taman setiap pagi. Nggak akan menolak lagi untuk nyuapin dan menyeka air mata Mama. Asalkan Mama bangun dan buka mata Mama....”

Kusentuh pungguh tangan Mama yang masih juga tak bergeming. Aku memilih Mama berdiri di depanku dan memecutku sampai kesakitan dari pada harus melihatnya hanya diam tanpa kata seperti saat ini. Ini menyiksaku. Menyeretku masuk ke dalam liang penyesalan yang luar biasa mengerikan.

“Ma, buka mata Mama....” Kuremas tangannya dengan segunung perasaan menyesal. “Kalau Ian nyanyi buat Mama, Mama bangun ya?”

Kunanti jawaban Mama dalam sunyi.

“Ian mau nyanyi buat Mama.... Judulnya 'Kasih Ibu'. Mama masih ingat lagu ini kan?”

Kuanggap kesunyian itu sebagai tanda persetujuan dari Mama.

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia....”

Kuulang. Kuulang. Dan kuulang lagi lagu itu. Meski aku tahu suaraku pasti terdengar jelek sekali. Aku tak peduli. Aku akan terus bernyanyi. Sampai suaraku serak. Sampai Mama sudi memaafkanku.

Mama pasti mendengar nyanyianku. Dulu, dia pernah sangat bahagia mendengarku menyanyikannya. Karena itu, aku akan terus bernyanyi.

Sampai dia membuka matanya dan memintaku diam.

Lapat-lapat, kulihat dua bulir air mata mendesak keluar dari celah-celah bulu matanya. Aku masih belum berhenti bernyanyi. Kugenggam jemari Mama kian erat.

Tapi harapanku tak kunjung tiba. Mama tak juga membuka matanya dan memarahiku. Atau membentakku untuk diam. Dia tak pernah melakukannya.

***

Belakangan ini aku baru sadar, kalau ternyata pada saat seseorang hampir merasakan apa itu kehilangan, dia baru akan menyadari betapa besar dan tak tenilai harga dari sesuatu yang selama ini dikiranya tak berarti. Dan aku bersyukur, setidaknya sedetik sebelum aku tersuruk dalam lumpur dosa, Tuhan masih berkenan mengutus malaikat-Nya dan memberikan kesempatan terakhir itu bagiku.

Aku melayangkan pandanganku ke arah taman di depan rumahku yang sengaja kubuat seindah mungkin itu. Maria berdiri di sampingku, merangkul pinggangku sambil sesekali tersenyum kecil mendengar celotehan Nana.

“Nenek, kursi barunya enak nggak?” tanya Nana. “Nana suruh Papa beliin dulu buat Nenek. Nanti baru Nana bayar pake uang jajan Nana tiap hari. Nana rela nggak jajan deh. Asalkan Nenek dapet kursi baru.” celotehnya sambil menggigit roti selai coklat kesukaannya. “Nek, liat deh burung merpati itu. Kita sekarang kayak di foto yang di kamar Nenek ya? Duduk berdua di taman yang ada kolamnya. Tapi Nana yang nunjuk ke arah merpatinya. Nenek yang duduk diam sambil tersenyum. Merpati itu indah ya, Nek. Suatu hari nanti, kita pasti bisa terbang kayak burung merpati itu kan, Nek? Nenek temenin Nana ya? Makanya Nenek harus cepet sembuh.” Nana berdiri dari kursi kecilnya dan mengecup pipi neneknya dengan ceria. “Nana yakin Nenek pasti sembuh.”

Aku membalas rangkulan Maria dan menatap wajahnya dengan penuh kebahagiaan.

“Ini mukjizat.” kata Dokter Lukas saat itu. “Ibu Anda menunjukkan tanda-tanda membaik. Mungkin kemampuan bicaranya akan menghilang. Tapi kalau keadaannya terus membaik, bukan mustahil dia akan sembuh dari stroke-nya. Jantungnya terlihat sehat.”

Saat aku melihat air mata menitik dari kedua sudut mata Mama di pembaringannya saat itu, aku hanya berharap dia membuka matanya, memakiku agar aku diam dan menghentikan nyanyianku. Tapi harapanku tak kunjung tiba. Mama tak juga membuka matanya dan memarahiku. Atau membentakku untuk diam. Dia tak pernah melakukannya. Dia memang tidak akan pernah melakukannya.

Karena dari dulu pun Mama tak pernah marah padaku. Tak pernah membentakku. Kasihnya sebagai seorang ibu lebih mulia dari kasih apapun yang pernah kutemui di dunia ini. Dia mencintaiku, tanpa pamrih. Sekalipun aku pernah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.

Sejurus kemudian, Mama hanya balas menggenggam tanganku kala itu. Cukup bagiku untuk menyadari, kalau Tuhan telah menitipkannya sesaat lagi padaku.

Aku menunggu saat-saat yang dikatakan Dokter Lukas. Bukan mustahil Mama akan sembuh dan memelukku seperti dulu. Ketika aku menyanyikan lagu kesukaannya sambil berjanji tidak akan pernah lagi melihatnya bersedih.

Sekarang aku tahu pasti, bukan uang semata yang bisa membahagiakan hidup seseorang. Melainkan hanya segenggam perhatian dan sebongkah kasih sayang tulus dari orang-orang yang paling dicintai.

Aku melirik ke angkasa biru yang mewarnai langit dan melihat Sang Surya bersinar terang dari balik gumpalan awan di kejauhan. Kemudian senyum penuh kelegaan teruntai di bibirku. Matahari cinta akan senantiasa bersinar. Menjagaku dan menghujaniku dengan kehangatannya yang tanpa menuntut balasan. Seperti halnya cinta seorang ibu yang tidak akan pernah usai di sepanjang jalan dan masa….

Ma, Ian sayang Mama....

Selasa, 14 September 2010

Jika Mencintaimu Adalah...

0 komentar

Jika mencintaimu adalah mendengarkan semua nasihat darimu dengan penuh khidmat sembari meminum dinginnya green tea di terik siang, maka akan kulumat semua nasehatmu tanpa bisa kumuntahkan kembali.

Jika mencintaimu adalah mengajarkanku menelusuri peta-peta dunia dengan baik tanpa didampingi lagi olehmu, maka akan kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau sedang mengajariku mandiri.

Jika mencintaimu adalah melaksanakan kata menunggu kala tengah malam bahkan sampai aku tertidur lalu bangun kembali di depan layar monitor hanya untuk berkata syukurlah kau sudah pulang dengan selamat, maka kata menunggu tak lagi membosankan untukku tapi kini menjadi sebuah kenikmatan yang sulit aku lukiskan.

Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana menerima sisi buruk dan baik seorang manusia dengan mengambil hikmah dari apa yang telah Tuhan ciptakan tentang baik dan buruk, maka sebuah keburukan maupun kebaikan kini memiliki kata seimbang bagiku.

Jika mencintaimu adalah memperlajari seorang pria yang tidak suka minum kopi dan akhirnya terpaksa meminumnya dengan alasan ditraktir, maka aku belajar bagaimana menghargai pemberian yang tidak kita suka dari orang lain.

Jika mencintaimu adalah mengajarkanku bagaimana bersosialisasi dengan baik, maka perlahan kucari celah darimu lalu kupinta kau mengelurkanku dari alam maya yang penuh kamuflase ini.

Jika mencintaimu adalah mencari dan memperhatikan tiap detail apa yang kamu lakukan dari hari ke hari, maka diam-diam aku selalu berdoa untukmu agar setiap detail yang kamu lakukan akan menjadikanmu lebih baik dari hari kemarin. Berdoa agar kau selalu diberi perlindungan dari bahaya apapun karena hanya dengan doa aku mencintaimu.

Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana mengendalikan kata cinta itu sendiri atas nama tahu diri, maka aku akan melakukannya asal tidak berjauhan denganmu, asal kau tidak pergi.

Jika mencintaimu adalah sebuah harapan dilema, maka aku akan mencari hikmah kenapa aku harus mencintaimu.

Jika mencintaimu adalah suatu pembenaran bahwa cinta ini bukan aku yang mau dan cinta ini bukan tercipta dari keinginan semata, maka aku akan menutup telingaku rapat-rapat atas perkataan orang-orang yang cenderung menyalahkanku mencintaimu. Kupikir tidak ada yang salah dan dosa dari cinta.

Jika mencintaimu adalah mengeja tiap butir air mata yang jatuh karena kerinduan, maka aku belajar bagaimana mengatasi bias rindu tanpa obat.

Jika mencintaimu adalah menikmati tiap detak jantung dan menghitung kecepatan debarannya ketika aku tanpa sengaja menyebut namanu, maka diam-diam aku sedang bejalar matematika kehidupan.

Jika mencintaimu adalah merasakan kehangatan untuk pertama kalinyan di antara tusukan-tusukan air hujan, maka kini aku tahu betapa nyamannya jika ada seorang pria yang memberikan kita kehangatan di tengah terpaan dingin air hujan.

Jika mencintaimu adalah menjadikanku lebih dewasa, maka aku akan menempuhnya sebagai manusia yang lapang dada.

Jika mencintaimu adalah membuatku belajar tentang keikhlasan memberi, maka akan kuselimuti hatiku dengan kata tulus tanpa beban.

Jika mencintaimu adalah belajar melepaskan, maka aku akan melepas tanpa rasa sakit.

Jika mencintamu adalah mengubah cinta menjadi sebuah kasih sayang, maka aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mengubahnya dan berdoa kepada Tuhan semoga akan datang yang lebih baik jika kamu bukan untukku.

Jika mencintaimu adalah belajar melupakan, maka aku akan bilang padamu bahwa aku ini ada dan tak ingin dilupakan atau melupakan.

Dan aku memilih mencintaimu dengan pasrah

Rabu, 11 Agustus 2010

Kisah Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya

0 komentar

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Aku Mencintaimu Suamiku

0 komentar

Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..

Pernikahan kami sederhana namun meriah…..

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

=====================================================

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..

Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.

Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
ibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..

Engkau Maha Adil..

Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.

Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah.. aku kangen ayah..

=====================================================

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

***

sumber: http://groups.yahoo.com/group/tentang-pernikahan/message/6395