
Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia, 1934
Sebuah padang rumput luas nan hijau. Dikelilingi gunung – gunung biru yang tinggi menjulang ke langit. Langit biru yang tak berbatas. Awan beriak sangat tinggi di atas sana. Hembusan angin gunung lembut menerpa wajah.
Sebuah pukulan telak mendarat keras di pipi kananku. Aku terjungkal ke belakang. Rasa sakit ini menyengat – nyengat. Pipiku menggembung saat kuraba.
“Rasakan itu, Silly Tony Boy!”
“Yeah, kau pantas menerimanya, dasar pengecut!”
Di hadapanku berdiri dua orang preman yang seusia denganku. Yang bertubuh besar dan sedang mengelus tinjunya bernama Billy Westcraft, anak pemilik bar di kota Diamond Hill. Dan yang kurus berpangku tangan di sebelahnya bernama Shane Redneck, anak pemilik Bank. Mereka memang Bengal yang berkuasa di kota ini.
Sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Bukannya aku tidak kuat. Tetapi sulit sekali menahan sakit di hati ini. Saat itu aku masih 12 tahun. Aku belum bisa mengendalikan tangisanku. Air mataku meleleh begitu saja. Begitu juga dengan hidung dan tenggorokanku. Aku tak bisa berbuat apa – apa kecuali menangis tersedu – sedu di hadapan mereka. Kemudian mulutku bergerak sendiri. Mencoba mengatakan alasanku menemui mereka.
“Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu, pengecut?” Tanya Billy dengan nada menggertak.
“Topi. .itu. . “ jawabku terbata – bata. “Kumohon . . berikan topi itu.. .”
“Apa? Topi?”
“Maksudmu ini?” Shane mengeluarkan topi cantik dari sakunya.
“Ooh, betapa cantiknya. Apa ini yang kau inginkan.” Billy pura – pura mengaguminya.
“Lihat – lihat!” Shane menunjuk sesuatu di topi. “Ada bordir namanya, M-a-r-y A-n-n-e”
“Mary-Anne Lewis ?! Kau bercanda ya?” Billy terperanjat. Ia merebut topi itu. “Kau benar! Ini punya Mary-Anne si mutiara StoneHead’s farm! Aku tak percaya ini.”
Mereka malah bermain – main daripada memberikan topi itu. Mereka terkesan mengolok – olok diriku. Memang kelasku lebih rendah dari mereka. Ayahku hanya petani biasa. Ibuku menjadi pelayan keluarga Lewis Stonehead, pemilik lading pertanian tempat ayahku bekerja. Tak ada hak social yang memungkinkanku untuk melawan mereka.
“Kumohon, berikan topi itu.”
Billy dan Shane berhenti bermain topi. Mereka kembali menatapku dengan tajam.
“Jadi ini yang kau inginkan? Apa kau sedang bermimpi, heh?” ujar Billy.
“Yeah, mana mungkin sampah seperti itu berpacaran dengan anak majikannya, heh. Mendengarnya pun aku muak.”
“Oh, aku punya ide! Bagaimana kalau kau mencoba memukulku di pipi ini. Kalau berhasil, topi ini kuberikan padamu, setuju?”
“Yeah setuju!” Shane membalas. “Aku taruhan $10, dia tidak akan berani memukulmu.”
“Kau dengar itu Tony? Sekarang ayo pukul aku. Di sini nih!”
Billy menyodorkan wajahnya mendekatiku. Ia menantangku untuk memukulnya. Tapi tanganku sangat berat digerakkan. Tubuhku telah dikuasai rasa takut. Aku hanya bisa mengangkat tangan ke depan mukanya saja.
“Ah, lama!”
Billy malah mendorong kepalaku hingga terjatuh kembali.
“Lihat, ia tidak berani Shane, aku kalah taruhan. Ini $10 milikmu.” Ia memberikan lembaran uang pada Shane.
“Terimakasih, pal. Kau tahu mengapa ia tidak dapat memukulmu? Karena ia Pengecut!”
“Yeah pengecut, sana pulang ke Mama. Ini topimu.”
Billy melemparkan topi cantik itu, kemudian pergi sambil tertawa sinis. Aku ditinggalkan dalam keadaan menyedihkan. Sedih karena aku memang seorang pengecut. Orang yang sangat menyedihkan. Aku hanya bisa terlentang melihat langit sambil menangis. Pengecut yang tak berguna
Tiba – tiba seseorang menghampiriku, tak jelas siapa dia.
***
Omaha Beach, Normandia, Prancis, 6 Juni 1944
07.20
50 meter menuju Shingle
“Mundur! Mundur Semua!”
“Sial, Berlindung!”
“Pasukan Satu! Serang dari sayap kanan! Pasukan Dua, Tembakan perlindungan!”
“MEDIIISSS! God Dammit, Dimana ParaMedis!”
“Arrgghh! Tolong. . aku sekarat!”
“Ibuuu! Aku ingin pulang!”
“Kubunuh kalian, F***ING NAZI’s!”
Kegaduhan, teriakan, keramaian yang tak terkendali memenuhi udara di pantai bersimbah darah. Pasukan AS dibuat kocar – kacir oleh pasukan Jerman. Salah perhitungan, kurang akuratnya strategi, atau mental yang tidak siap dapat menjadi penyebab situasi ini. Kemungkinan penyebab terakhirlah yang aku alami saat ini
Aku masih bertahan di obstacle dimana aku diselamatkan oleh prajurit sniper yang kini tewas. Jantungku berdebar keras. Keringat dingin mengalir deras dari seluruh tubuhku. Tanganku menggenggam erat senapan serbu. Aku takut. Takut sekali. Melihat badai senapan mesin, ledakan meriam Flak88, tentara yang tewas, mendengar suara – suara yang menggelegar. Semua ini membuat badanku sulit digerakkan. Berat sekali. Bahkan aku belum menembakkan satupun butir peluru dari senapan ini.
Sejenak perhatianku teralih pada pantai. Beberapa Landing Craft mendarat, melepaskan puluhan tentara baru untuk menambah jumlah personil. Sementara itu, dari udara, pasukan terjun paying satu per satu turun dari pesawat Dakota. Langit bagai hujan manusia. Aku merasa lega mengingat jumlah kekuatan personil terus bertambah. Namun hati kecilku berkata sebaliknya. “Mau apa kalian ke sini ? Apa kalian ingin mati ?”
SIIIUUUUUTT. . . .
Terdengar suara seperti luncuran kembang api raksasa. Saat aku melihat ke atas, sebuah benda yang bersinar membelah langit dengan ekornya yang panjang. Itu bukanlah sesuatu yang indah. Itu adalah. .
“Ya Tuhan, MORTAR!”
DUAARR!
Granat mortar itu turun menghujam pasukan yang baru keluar dari Landing Craft. Mereka tewas seketika beberapa saat setelah menginjakkan kakinya di pantai. Sementara yang selamat, sekarat dengan kondisi yang mengenaskan.
ZBAM, ZBAM, Dredet-det-det,ZBAM
Kini suara ledakan dan senapan mesin saling mendominasi. Tidak bisa. Aku tidak bisa maju lagi. Aku tidak mau mati. Aku ingin pulang. Ibu, tolong aku.
“Tony . . .”
Sayup – sayup terdengar suara seseorang memanggilku. Serta merta aku mencari sumber panggilan itu.
“Pvt. Tony Brewster! Di sini!”
Aku menemukannya, orang yang memanggilku. Ia berlindung di balik karung pasir.
“Letnan McLausky. Sir!?”
“Tony, apa yang kau lakukan di sana? Cepat maju ke belakang panzer!” teriak McLausky sambil menunjuk ke arah bangkai Panzer dengan senjatanya.
“Äku tak bisa Sir, aku takut sekali!”
“What the F*** did you say? Cepat bergerak, aku akan melindungimu!”
Sebenarnya aku ingin sekali mematuhi perintah atasanku, tetapi rasa takut ini telah menguasai seluruh tubuhku.
“Negative Sir, aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku ini pengecut Sir”
Ya. Aku memang pengecut. Sejak bergabung dengan militer. Aku adalah yang paling lemah dalam kompi. Aku tak mahir dalam menembak, berlatih fisik, bahkan menbalas ejekan rekan satu kamp. Yang kulakukan hanyalah mengantar makanan, amunisi dan dokumen. Aku tak akan ada di sini jika kompi Bird tidak kekurangan personil. Memang alasanku bergabung dengan militer bukanlah menjadi patriot negara. Ada alasan lain.
“Kalau begitu untuk apa kau kemari?”
“Ha ?”
“Dengar prajurit, kau mau bilang dirimu pengecut, atau sampah sekalipun, itu takkan membawamu pulang. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menjalankan perintah atasanmu dan menembak pasukan Jerman, mengerti?”
“Tapi Sir, aku tetap tidak bisa. . “
“Very well, kalau kau tetap di sini, matilah kau.”
Dia serius. Letnan itu menembakkan senjatanya ke arahku. Untunglah tidak kena. Tetapi ini lebih menakutkan daripada tertembak musuh. Namun karenanya aku berhasil menggerakkan tubuhku lagi.
“Ökay, Sir. Bergerak menuju panzer!”
Aku berlari sekuat tenaga menuju bangkai panzer yang terkena meriam. Aku tak menghiraukan lagi desingan peluru dan meriam. Pandanganku hanya terfokus pada panzer tersebut.
“Äwas! FIRE IN THE HOLE!”
Aku mendengar seseorang memberiku peringatan tapi aku tak tahu siapa itu, yang pasti aku merasa peringatan itu pasti tertuju padaku setelah aku melihat sebuah granat kayu yang tergeletak di dekatku.
Aku berusaha untuk menghempaskan badanku.
DUUAAAARRRR
. . .
. . . . . .
. . . . . . . . . .. aku terhempas
Suara itu menggelegar bagai halilintar yang menghujam bumi. Seakan menjebol gendang telingaku. Tak ada satupun suara yang kudengar selain suara yang mendenging. Tubuhku melayang di udara kemudian jatuh ke tanah. Aku memandang lurus ke langit. Ternyata langit masih biru. Dihiasi dengan awan – awan yang beriak. Hal ini membuatku kembali ke masa lalu.
***
Jim Stonehead’s farm, Diamond Hill, Virginia
10 tahun yang lalu
Aku terbaring di atas padang rumput luas yang terhampar di ladang Jim Stonehead. Pandanganku lurus ke atas, menatap langit yang biru tak berbatas dengan penuh rasa kekecewaan. Kecewa dengan diriku sendiri yang menyedihkan. Kecewa mendapati diriku yang sangat pengecut. Pengecut terbesar yang ada di muka bumi. Rasa sakit di hati ini lebih sakit daripada memar di pipi ini. Air mataku terus mengalir.
Tiba – tiba seseorang menghampiriku. Ia berdiri di dekat kepalaku kemudian membungkuk hingga wajahnya mendekati wajahku. Kini aku ingat siapa dia.
“Mary-Anne Lewis. . “
“Yap, ini aku. . “
Wajah cantik itu tersenyum. Aku langsung bangkit berdiri kemudian secepatnya menghapus air mata ini. Aku malu untuk memperlihatkan wajah cengengku padanya. Gadis itu mengenakan pakaian putri bangsawan dengan rok panjang, sangat anggun. Ia juga memegang payung kecil untuk melindunginya dari panas matahari
Aku membuang muka meyembunyikan wajahku. Mary menyadarinya. Iapun mendekat kemudian tangannya menyentuh wajahku, mencoba menghapus air mataku.
“Mary. .? “
“Mengapa kau menangis?”
“Mary aku. . . “
Kata – kata sulit untuk kuungkapkan karena perih rasa sakit di hati ini dari manusia yang paling memalukan. Tapi dengan sabar ia menanti untuk mendengarkan lanjutan perkataanku. Memberiku tak ada pilihan kecuali meneruskan pembicaraan.
“. . .aku seorang pengecut. . “
“. . Hmm? Pengecut?”
“Benar. . “
Aku memjamkan mata. Aku tak berani melihat ekspresinya ketika gadis yang kukagumi mencemoohku. Apapun reaksinya sudah siap kuterima. Karena inilah kenyataan yang sebenarnya.
“Äh, topiku!”
Ternyata yang kudengar malah berbeda dengan yang kupikirkan. Ia malah mengambil topinya yang selama ini kugenggam tanpa menyadarinya. Seolah – olah ia tidak mendengarkan apa yang tadi kuucapkan.
“Wah senangnya, terimakasih – terimakasih!”
“Mary?”
Sepetinya ia senang sekali mendapatkan topinya kembali. Ia memakainya kemudian menari – nari. Ketika ia berhenti, ia menhampiriku lagi.
“Kau berhasil memenuhi janjimu untuk mencari topiku yang hilang lalu kenapa kamu mengatakan dirimu pengecut?”
“Ha?”
Kau bukan pengecut, Tony. Pengecut adalah orang yang tidak bisa memenuhi janjinya. Kau adalah pahlawanku,Tony.”
“Begitukah ?”
Kata – kata Mary saat itu seakan memberikan cahaya pada diriku yang redup. Baru kali itu aku merasa dihargai atas apa yang kulakukan. Dan aku menyadari bahwa selama ini aku salah menilai diriku sendiri.
“Hey, Tony?”
“Yeah?”
“Maukah kau menjadi pahlawanku lagi dan menjadi pahlawan bagi semua orang?”
“Hah, bagaimana caranya?”
“Mungkin menjadi prajurit dan berjuang akan membuatmu menjadi pahlawan bagi Negara.”
Sekarang aku ingat tujuanku bergabung dengan militer. Menjadi pahlawan bagi semua orang dan Mary. Kemudian semua pandanganku menjadi putih kembali. Samar – samar semua menghilang, kemudian samar – samar pemandangan baru mulai terlihat.
***
”Ëdward, cepat kau tekan di bagian sini!”
“Sial, aku kehabisan peluru. Randy, bawakan magasin ke sini!”
“Cooper, cepat ambil morfin, kau dan Scott, cepat keluarkan serpihan granat di kakinya!”
“Sial, Tony, Ayo kuatkan dirimu sialan!”
Suara gaduh kembali memenuhi kepalaku. Aku kembali ke peperangan. Perasaan aneh melingkupi seluruh tubuhku. Saat aku sadar, aku mendapati 4 orang prajurit berusaha melakukan sesuatu pada tubuhku yang terbaring. Dan kakiku telah dibalut perban.
“Letnan, dia sadar!”
“Oh Tony! Syukurlah kau kembali. Darimana saja kau ini?”
“Letnan McClausky? Apa yang terjadi?”
Kepalaku sedikit terasa pening. Aku masih belum mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
“Kau terkena ledakan granat dan hampir kehilangan kakimu.” Tentara Medis Scott.
“Sayang sekali, untuk sementara kakimu tak bisa kau gerakkan.”
“Damn it!”
Mereka benar, kakiku mati rasa. Ini membuatku tak bisa maju lagi ke baris pertahanan Jerman. Sepertinya, aku tak bisa lepas dari status pengecut. Ini mungkin takdirku.
“Katakanlah Letnan. Apa aku seorang pegecut?”
“Prajurit Tony.’ Letnan menjawab sambil memegang bahuku.
“Kalau kau seorang pengecut, seharusnya dari awal kau sudah mengundurkan diri dari militer. Tapi kenyataannya kau masih tetap bersama kami. Berjuang di tengah ketakutan dan kematian demi menjalankan tugas. Menepati janji yang kau ikrarkan saat pertama kali bergabung dengan militer. Kau bukan pengecut. Kau adalah pemberani. Kau adalah pahlawan. Lihatlah orang – orang yang di sekitarmu sekarang. Mereka percaya padamu hingga tak rela untuk membiarkanmu, seorang pahlawan gugur seorang diri.”
Aku tergugah. Kata - kata itu mirip dengan yang dikatakan Mary saat itu.
“Tapi, sir. Aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Kakiku tidak bisa digerakkan. “
Letnan kini memegang helm di kepalaku.
“Dengar nak, prajurit bisa saja kehilangan anggota tubuh, bahkan nyawa. Tapi mereka tidak boleh kehilangan harga diri dan semangat juang. Pertahankanlah kedua hal itu, prajurit.”
“Yeah itu benar.”
“Cool”
“Kami akan selalu bersamamu, kawan.”
Perkataan letnan didukung sikap setuju dari keempat prajurit lain. Mereka membuatku semangat kembali. Aku ingin sekali membuat mereka menghargai atas apa yang bisa kulakukan.
“Äku mengerti, Sir!”
“Lagipula masih ada yang bisa kau lakukan sekarang.”
“Apa itu. Sir?”
“Kami akan bergerak ke depan. Dari sini, aku ingin kau melakukan tembakan perlindungan.”
Letnan memberikan senjata laras panjang dengan scope.
“Aku ingin kau menembak gunner yang ada di sebelah sana dengan sekali tembak” Letnan menunujuk gunner di belakang senjata mesin di salah satu benteng.
“Sekarang kau menjadi sniper. Buktikan padaku bahwa kau bisa Ok?”
“Yes, sir!”
“Okay boys! Ayo kita bergerak!”
Letnan meninggalkan diriku bersama keempat prajurit lainnya.
Untuk pertama kalinya di sini aku diberi kepercayaan untuk menjalankan tugas khusus yang sangat berperan penting. Melindungi pasukan penembus pertahan. Aku memang belum berpengalaman menjadi penembak jitu. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak mau bernasib sepeti sniper sebelumnya.
Aku memasang senapan di celah kecil di panzer. Aku mencoba mengatur napas untuk menenangkan diri. Memperlambat denyut jantung. Setelah cukup tenang. Aku mulai membidik dari balik scope. Terlihat. Musuh yang berada cukup jauh, seolah berjarak cukup dekat dariku dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku mulai menahan napas. Memposisikan crosshair di kepalanya. Kutarik pelatuk.
DAARR
Ia jatuh. Akhirnya ia jatuh. Aku senang sekali. Untuk pertama kalinya aku menembakkan senjata dan peluru itu mengenai musuh. Eits, membunuh satu musuh masih tidak berpengaruh apa – apa. Secepatnya aku mengokang senjata. Bersiap untuk membidik musuh berikutnya.
DARR
DARR
DARR
Setiap tentara musuh yang kubidik berhasil kutembak. Darahku mendidih. Aku jadi kecanduan membunuh. Sasaran selanjutnya adalah gunner di benteng paling kanan.
Aku kembali membidik dari scope. Ia terlihat sibuk mengarahkan senjata mesinnya. Ini sasaran empuk. Aku tinggal menarik pelatuk, kemudian.
Tunggu. Aku merasakan firasat aneh. Sepertinya ada seseorang yang mengincarku. Benar saja, di samping gunner itu, sniper Jerman justru mengarahkan senjatanya sambil membidik. Sama seperti yang kulakukan. Dan aku merasakan ia membidik ke arahku.
Oh tidak. Ia membidikku. Aku bisa mati seperti Mr.Sniper. Sial, aku harus berlindung. Tapi sepertinya tidak sempat. Saat kusadari ia siap menekan pelatuk.
DUAARR
Tiba – tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar. Aku memejamkan mata sejenak menahan suara itu. Saat aku membuka mata, benteng yang jadi sasaranku telah hancur berkeping – keeping diikuti sorak sorai tentara Amerika. Pasukan Letnan McClausky berhasil menembus pertahanan Jerman kemudian meledakkan benteng terakhir. Kini keadaan berbalik. Tentara Jerman kocar – kacir lalu mundur ke pedalaman. Pertempuran di pantai berakhir dengan kemenangan sekutu.
Aku gembira di tengah sorak – sorai kemenangan. Namun aku tak bisa berjingkrak seperti tentara lain lakukan. Kakiku cedera dan tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa menatap dari posisiku saja. Entah apakah tindakanku menembak musuh membantu atau tidak, tapi aku senang bisa berkontribusi dalam kemenangan ini.
Aku kemudian merasa lelah dan lemas. Pandanganku semakin kabur. Selruh tenagaku seakan terkuras habis hingga tak bisa menggerakkan badanku. Mungkin aku kehilangan banyak darah saat terkena granat tadi. Akhirnya, aku kembali tergeletak di tanah.
Äyah. . .ibu. . Mary. . maaf. . .aku tidak . . bisa pulang. .
***
Tanggal 6 Juni 1944, sekitar 6500 kapal laut mendaratkan lebih dari 130.000 orang di 5 tempat di pantai – pantai Normandia : Utah, Omaha, Gold, Juno dan Sword. 12.000 pesawat udara memastikan kebolehannya di udara membom pertahanan Jerman. Sekutu merasa yakin bahwa peperangan akan dimenangkannya. Di pantai Utah 23.000 tentara Sekutu mendarat dan 197 orang menjadi korban, dan lebih dari 4.649 tentara Amerika Serikat menjadi korban ketika bertempur di pantai Omaha melawan tentara Jerman. Pertempuran di Omaha Beach disebut sebagai pertempuran paling berdarah dalam pertempuran Normandia.
***
12 Juni 1944
Rumah sakit St. Albertus, Maryland, Amerika Serikat
Aku terbangun dari tidur panjangku sejak pertempuran di Omaha Beach seminggu yang lalu. Begitu banyak peristiwa yang telah kualami. Saat – saat kemenangan, saat – saat yang tragis, dan saat – saat diriku terjebak dalam kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, aku telah pulang.
Di kamar rumah sakit ini, aku dikelilingi orang – orang yang amat kusayangi. Ayah, ibu, Mary – Anne Lewis, bahkan duet brandalan Billy dan Shane. Sinar kegembiraan itu amat terang terpancar dari wajah mereka. Ibu terus menangis bersyukur sambil memeluku. Begitupun ayah yang tak kuasa menahan air mata.
“Semuanya, aku pulang.”
“Selamat datang kembali.”
Mary menjawabnya. Ia kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang amat cantik dan mempesona. Putri pemilik ladang itu tumbuh dewasa dengan sangat baik dan matang. Suatu hari aku ingin sekali menjadi pendamping hidupnya.
Mary berjalan menghampiriku. Kemudian tanpa ragu ia memberikan kecupan di keningku. Rasanya hangat.
“Selamat, sekarang kau benar – benar menjadi seorang pahlawan.”
“Mary, tetapi aku tidak terlalu berjasa dalam pertempuran.”
“Cck cck cck”
Mary menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Tonyku sayang, pahlawan tidak dinilai dari seberapa besar jasa yang ia berikan. Tetapi seberapa besar ia memberi kebahagiaan pada orang yang dijanjikannya. Kau telah membahagiakan kami dengan pulang dengan selamat.”
“Mary....”
Aku sangat terharu. Aku tak menyangka bahwa pengecut seperti aku ini ternyata dapat memberi kebahagiaan bagi orang lain. Hal ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Air mata ini juga tak tertahankan. Aku menangis dalam pelukan Mary.
Ëhm, maaf mengganggu. Bisa minta perhatian sebentar?”
Kami melepaskan rangkulan. Di hadapanku berdiri seorang perwira Angkatan Darat AS.
“Saya Komandan Jerry Hathaway. Saya menemuimu untuk memberi tahumu tentang berbagai hal mengenai situasi peperangan. Pertama saya mengucapkan selamat atas kepulanganmu dengan selamat, prajurit. Kedua, Saat ini pasukan Penerjun 101 berhasil mengambil alih kota Carentan dari Jerman. Terima kasih, berkat jasamu, Letnan Eddie McClausky dan pasukannya berhasil membuka pertahanan Jerman di Omaha Beach. Ketiga, oleh karena itu, kau dipromosikan dari Prajurit menjadi Korporal dan mulai berlaku efektif pada misi pertempuran selanjutnya. Itu saja pesan dari Jenderal Cunnings. Bagaimana tanggapanmu?”
Akhrinya aku benar – benar dihargai. Walaupun aku hanya naik pangkat sebagai Mayor, namun aku sangat senang dan bangga. Namun aku sudah membuat keputusan yang bulat.
“Komandan Hathaway, sir. Sampaikan pesan saya pada Jenderal Cunings bahwa saya berterima kasih atas promosinya, tapi saya sudah lelah untuk bertempur. Saya ingin mengundurkan diri dari dinas militer dan hidup di jalan yang sudah kupilih. Maafkan saya atas keputusan yang sembrono ini. Dan Hormat saya pada beliau.”
Ya, inilah keputusan akhir hidupku. Aku ingin hidup tenang bersama orang – orang yang kusayangi dan selalu menjadi pahlawan bagi mereka.
Tamat













0 komentar:
Posting Komentar