
Apa kamu tahu apa arti hidup? Kalau kamu tidak tahu apa arti hidup sebenarnya, jangan coba jawab pertanyaanku.
Dengan langkah limbung kuseret kedua kakiku menyusuri jalan setapak yang tersembunyi di antara rerumputan hijau yang terhampar luas di hadapanku. Angin bertiup kencang, memainkan anak-anak rambut hingga jatuh ke dahiku. Matahari belum menyembul dari balik peraduannya, hanya semburat langit jingga yang muncul malu-malu dari balik bukit. Kubiarkan angin pagi menampar-nampar pipiku dan hawa dingin merasuk masuk sampai ke tulangku.
Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Mataku yang menerawang dengan hampa berhenti di satu titik. Batu nisan itu kokoh berdiri di hadapanku. Kuhentikan langkahku dan membungkuk. Dengan buku-buku jariku yang memucat, kusentuh nama yang terukir di batu nisan itu. Gesekan batu-batu kasar yang dingin itu menyakiti kulit tanganku ketika kutekan, tapi sama sekali tak kuhiraukan.
Lama aku termenung sebelum pada akhirnya detik ketika tawaku pecah, detik itu pulalah air mataku mengalir.
***
Aku benci Ayahku. Aku benci ibuku. Aku benci adikku. Aku benci orang-orang di sekitarku. Aku benci semua yang ada di dunia ini. Semuanya. Tak terkecuali diriku sendiri.
Ibu meninggalkanku ketika dia melahirkan Dania, adikku satu-satunya, setelah mengalami pendarahan yang hebat. Dania yang lahir dalam kondisi lemah jantung, menyita habis semua perhatian Ayah padaku. Ayah tidak pernah lagi peduli padaku. Semua perhatiannya hanya dicurahkan pada Dania seorang. Benda-benda kesayanganku diberikan pada Dania ketika dia merengek menginginkannya. Ayah tidak pernah datang ketika dalam pengambilan raport aku mendapat juara 1 di kelas. Tidak datang ketika aku memenangkan lomba melukis di sekolah. Juga tidak pernah datang ketika guruku mau membicarakan penyerahan beasiswa padaku. Dia tidak peduli padaku. Sama sekali.
Setiap kali aku berusaha menarik perhatiannya dengan cara menonjolkan diriku di semua bidang pelajaran dan memamerkan angka-angka yang luar biasa gemilang hampir di semua kertas ujianku, dia cuma mengibaskan tangannya dan hanya selalu memperhatikan Dania sepulang kerja. Apakah Dania demam? Apakah Dania ada mengeluh sakit? Apakah Dania sudah makan?
Aku muak. Muak dengan semua perhatiannya yang berlebihan pada adikku. Dia tidak tahu, kalau aku juga membutuhkan sedikit perhatiannya. Aku juga ingin dicintai. Seperti dulu. Ketika Dania belum muncul di kehidupanku dan memporak-porandakan semuanya.
Aku benci ibuku memilih melahirkan Dania padahal dia tahu hal itu akan membahayakan nyawanya. Aku benci Ayahku karena dia menumpahkan seluruh hidupnya hanya untuk putri bungsunya. Aku benci adikku karena dia mengacaukan semua kehidupanku. Aku benci teman-temanku ketika mereka selalu mengejek Ayahku adalah seorang laki-laki yang tidak baik karena dia tidak pernah muncul di segala situasi. Aku benci hidupku.
Tahun demi tahun kulewati dengan perjuangan berat yang tidak dapat kujelaskan dalam untaian kalimat. Aku merasa tertolak. Semua yang kulakukan di hadapan Ayah tidak pernah mendapat lirikan. Padahal aku hanya ingin dia melihatku dan tersenyum padaku seperti dulu, ketika Dania belum hadir dalam kehidupan kami. Tapi Ayah bahkan tidak pernah menoleh padaku sekalipun. Dia mengacuhkanku seakan-akan aku hanya bayangan di matanya.
Sudah tujuh tahun berselang dan inilah aku sekarang. Usiaku lima belas tahun. Aku tetap diriku yang dulu. Gadis kuper yang selalu meraih nilai pelajaran tertinggi di semua bidang pelajaran. Masih gadis yang sama yang menyabet semua piala di setiap ajang perlombaan yang kuikuti di dalam dan di luar sekolah. Tapi juga masih gadis yang sama dengan pendar harapan yang masih sama pula. Aku ingin Ayah memandangku sekali saja. Walau aku harus menukarkan semua yang kumiliki untuk mendapatkannya.
Dan saat yang kunanti itu tiba. Siang itu sepulang sekolah, sewaktu aku mendapati Dania mengerang kesakitan di ranjang kamarnya, hatiku bersorak kegirangan. Mungkin kedengarannya kejam. Tapi begitulah adanya. Ketika sekian tahun aku tidak bisa mencabut duri dalam daging yang membuat sekujur tubuhku kesakitan, rasanya ini adalah masa-masa paling indah yang pernah hadir dalam hidupku setelah sekian lama aku terkurung dalam kesendirianku yang tidak pernah usai.
Aku menatap wajah Dania yang pucat pasi dan bertabur peluh. Keningnya berkerut menahan sakit yang kelihatan luar biasa sampai nafasnya memburu. Aku tersenyum tawar. Akan kubiarkan dia mengerang kesakitan sampai akhirnya malaikat maut merenggut nyawanya. Setelah itu perhatian Ayah selama ini akan kembali padaku. Kulihat tangan kiri Dania menggapai-gapai di udara sementara matanya membelalak lebar dan tangan kanannya menekan dada kirinya kuat-kuat.
Sebentar lagi. Sebentar lagi penderitaanku dan penderitaannya akan berakhir.
....
Lima detik.
Lima belas detik.
Satu menit.
Ahhh. Lama sekali.... Dania masih bernafas. Dan aku kesal mengakui kalau kemungkinan lagi-lagi dia akan terselamatkan.
"Ya, ampun! Non Dania!!!" pekik seseorang yang muncul tiba-tiba dari balik pintu kamar Dania. Aku menoleh dan mendapati Bi Umi langsung berhambur di samping pembaringan Dania tanpa mengacuhkanku yang sejak tadi berdiri di sana, membongkar-bongkar isi laci di samping ranjangnya, mengeluarkan beberapa botol obat dengan panik, mengambil beberapa butir, dan langsung menaruhnya ke dalam mulut Dania. Sama sekali tidak peduli apakah Dania bisa menelannya atau tidak.
Aku mengepalkan tanganku dengan marah. Dalam hati aku berharap semoga saja Dania sudah terlalu lemah dan tidak mampu menelan obat yang diberikan padanya itu. Namun nyatanya aku keliru. Ayah tiba tidak lama kemudian setelah Bi Umi menelepon dan mengabarinya soal keadaan Dania, kemudian secepat kilat langsung melarikan Dania ke rumah sakit terdekat.
***
Lebih dari dua jam aku melihat wajah Ayah yang duduk dengan gelisah di salah satu kursi di depan ruang operasi yang memisahkan kami dengan Dania. Aku duduk selang satu kursi di samping Ayah. Mengamati wajahnya dalam diam. Menautkan sepasang alisku ketika melihat air mata menggenang di kedua matanya yang ternyata sudah dipenuhi kerutan. Entah sudah berapa lama aku tidak menatapnya sedekat ini. Aku mencintai Ayah. Aku ingin memeluk dan menggelayut manja di tangannya seperti dulu. Tapi keberanianku tidak ada. Aku takut Ayah menepisku seperti yang biasa dilakukannya jika aku berada terlalu dekat dengannya.
Tanganku yang gemetar bergerak hendak menyentuh punggung tangan Ayah. Dan ketika kulit tangan kami hampir bersentuhan, seketika saja Ayah bangkit berdiri dan langsung melarikan langkahnya ketika pintu operasi terkuak dan Dokter Bondan muncul dibaliknya. Dokter Bondan-lah yang menjadi dokter pribadi Dania sejak dia lahir.
"Bagaimana Dania?" Kulihat bibir Ayah bergetar panik. Diguncangkannya bahu Dokter Bondan dengan gelepar ketakutan yang luar biasa.
"Keadaannya kurang baik." Dokter Bondan menggeleng lemah. "Saya rasa waktunya tidak akan lama lagi. Lebih baik kalian mempersiapkan diri."
"Tidak mungkin!" sergah Ayah sengit. Entah kepada siapa. "Dania tidak boleh meninggal. Tiara telah meninggal untuk mempertahankannya. Dia tidak boleh meninggal."
"Terimalah kenyataan kalau keadaan Dania memang sudah lemah sejak dia lahir." Suara Dokter Bondan terdengar bijaksana. "Tidak ada hubungannya dengan Tiara. Istrimu yang telah memilih untuk tetap melahirkan Dania sekalipun nyawanya memang terancam. Dia tahu, kalau hidup dan mati bukan manusia yang mengaturnya...."
"Apa yang bisa kulakukan agar Dania selamat?" tanya Ayah dengan pandangan nanar. Bisa kubaca kekalutan yang membasahi suaranya yang serak. "Akan kulakukan apa saja agar Dania bisa selamat."
Sekali lagi Dokter Bondan menggeleng lemah.
"Cuma cangkok jantung yang bisa menyelamatkannya. Untuk mendapatkan pendonor yang cocok, membutuhkan waktu yang lama, sementara Dania tidak akan bisa bertahan melewati hari ini. Keadaannya sudah sangat kritis."
Kulihat Ayah melepaskan tangannya dari bahu Dokter Bondan. Tak sepatah katapun lagi yang meluncur dari mulutnya. Cuma air matanya yang tiba-tiba meluap bagaikan bendungan yang rubuh. Dikepalkannya tangannya hingga urat-urat di tangannya bermunculan. Dia meninju dinding rumah sakit dengan sekuat tenaganya, meraung, kemudian berlalu begitu saja.
Dalam keadaan tersihir karena tidak menyangka Ayah akan sedemikian terpukulnya bila kehilangan Dania, mataku tertumbuk pada darah segar yang menghiasi dinding rumah sakit itu. Darah Ayah. Darah yang dialirkannya untuk Dania.
Aku memejamkan mataku sesaat lalu bangkit dan mendekati Dokter Bondan. Kutarik jubah putihnya dan kupandangi dia sebelum akhirnya berkata.
Aku yakin, sebentar lagi Ayah pasti akan memperhatikanku.
***
Kalau dulu kukira aku akan membenci semua hal dalam kehidupanku, nyatanya aku salah besar. Karena tatkala aku melihat Ayah memegang tanganku seraya menangis begitu hebatnya dan memeluk tubuhku dengan erat, aku tahu pasti cintanya padaku tidak kalah besar seperti cintanya pada Dania. Aku merasa tersanjung. Merasa ada rasa bahagia yang nyaris membuatku meledak tak percaya. Terlebih lagi ketika kudengar bisikkan Ayah yang begitu lembut menyapu gendang telingaku. Tiga patah kata yang tidak akan pernah bisa kulupakan biar bagaimanapun juga.
"Ayah sayang Vania...."
Kupejamkan mataku dan merasakan kehangatan yang menyelimuti setiap sel di seluruh tubuhku.
Vania juga sayang Ayah....
***
Dengan langkah limbung kuseret kedua kakiku menyusuri jalan setapak yang tersembunyi di antara rerumputan hijau yang terhampar luas di hadapanku. Angin bertiup kencang, memainkan anak-anak rambut hingga jatuh ke dahiku. Matahari belum menyembul dari balik peraduannya, hanya semburat langit jingga yang muncul malu-malu dari balik bukit. Kubiarkan angin pagi menampar-nampar pipiku dan hawa dingin merasuk masuk sampai ke tulangku.
Kuhirup nafas sedalam-dalamnya. Mataku yang menerawang dengan hampa berhenti di satu titik. Batu nisan itu kokoh berdiri di hadapanku. Kuhentikan langkahku dan membungkuk. Dengan buku-buku jariku yang memucat, kusentuh nama yang terukir di batu nisan itu. Gesekan batu-batu kasar yang dingin itu menyakiti kulit tanganku ketika kutekan, tapi sama sekali tak kuhiraukan.
VANIA HADIWIJAYA
Lama aku termenung sebelum pada akhirnya detik ketika tawaku pecah, detik itu pulalah air mataku mengalir. Bukan air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia. Air mata kelegaan. Setidaknya dalam hidupku yang selama ini kukira tidak pernah berarti bagi orang lain, aku telah melakukan hal yang berharga bagi seseorang. Aku telah mempersembahkan kehidupan baru bagi Dania. Lewat jantung yang kudonorkan padanya.
Kulempar ingatanku pada waktu aku menarik jubah Dokter Bondan dan memohonnya dengan teramat sangat untuk mengambil jantungku untuk adikku. Adik yang selama ini kukira selalu kubenci, namun ternyata sekaligus sangat kucintai. Dokter Bondan membelalakkan matanya dan menasehatiku untuk tidak lagi berpikir akan hal itu, tapi tekadku sudah sebulat purnama. Aku pulang ke rumah saat itu, dan anak yang telah berusia lima belas tahun sepertiku, tahu betul apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri hidupku. Aku masuk ke dalam kamar Ayah, mencuri beberapa pil tidur yang kutahu sering ditenggak Ayah diam-diam, menulis pesan singkat bahwa aku akan mendonorkan jantungku untuk Dania, kemudian berbaring di atas ranjangku, membiarkan luka sayatan di tangan kiriku terus mengalirkan darah, sedangkan tangan kananku terkepal memegang secarik kertas.
Yang kutahu saat itu, aku mencintai Ayah. Aku mencintai Dania. Kalau dengan berbuat seperti ini, mereka bisa hidup dengan bahagia, aku akan melakukannya dengan ikhlas.
Dan aku tahu aku tidak keliru. Ketika Ayah membisikkan bahwa dia menyayangiku, aku tahu aku telah mendapatkan apa yang selama ini kuharapkan dalam hidupku. Rantai yang membelenggu hidupku sekian tahun ini seakan terputus begitu saja.
Apa kamu tahu apa arti hidup? Kalau kamu tidak tahu apa arti hidup sebenarnya, jangan coba jawab pertanyaanku. Karena hidup ternyata adalah sebuah hal yang sederhana. Hidup itu sendiri adalah anugrah. Orang-orang di sekelilingmu adalah berkat. Hidup itu indah, jika kamu memandangnya dengan cara yang indah. Bagiku, hidupku sendiri adalah suatu mukjizat yang luar biasa.
Sinar matahari mulai menelusup dari antara gumpalan-gumpalan kapas putih di langit, menyiramiku dengan kehangatan yang tak dapat kujelaskan. Mataku masih terpaku pada ukiran nama di batu nisan itu, sebelum akhirnya kulihat ada cahaya terang di ujung jalan sana yang seakan menarik perhatianku untuk mendekatinya. Aku bangkit, menggerakkan kakiku dan melangkah tanpa rasa ragu, masih dengan senyum yang tidak akan pernah pudar dari bibirku.
Ibu, Vania akan segera bertemu dengan Ibu lagi....













0 komentar:
Posting Komentar