Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Kamis, 03 Maret 2011

Andra dan Pelangi Persahabatannya

0 komentar

Jujur, aku nggak pernah ngerasain cinta, maka dari itu aku nggak mau tahu apa itu cinta, ogah ngenalin dan ogah dikenalin. Walau begitu, 10 tahun yang lalu.. Pertamakalinya aku bisa nyambung ngomong sama seseorang. Pertamakalinya aku bisa super bahagia ketemu dengan seseorang. Biasanya, nggak ada orang yang memiliki minat yang sama seperti aku, nggak ada orang yang kuanggap... belahan jiwaku yang hilang.

Kata banyak orang, pasangan harus seperti mata uang. Ada sisi kanan dan ada sisi kiri. Kalau banyak kesamaannya, sama saja seperti mata uang yang bersisi kiri saja ataupun bersisi kanan saja. Nggak ada artinya. Tanpa perbedaan, nggak akan bisa cinta itu tetap utuh. Jadi. apa aku salah jika menyukai seseorang yang bisa dibilang ‘sama’ denganku? Bagai pinang dibelah dua dan bagai sebuah sisi terang yang hilang dalam hidupku?

Aku menyukainya karena dia bisa mengucapkan apa yang nggak bisa aku ucapkan, pikiranku seolah dibacanya dengan begitu mudah. Aku menyukainya karena dia bebas, nggak terbelenggu aturan, nggak terbutakan prinsip kemasyarakatan. Aku menyukainya karena dia merasakan kehilangan yang sama seperti yang aku rasakan, merasakan kepedihan yang sama seperti yang aku derita. Terutama sekali, karena di dalam dirinya aku melihat diriku, hidup, bebas, bercahaya.

Aku mencintai dia yang 10 tahun kemudian menjadi sosok Andra, berandalan kelas atas yang pernah kukenali. Gaya berpakaiannya urakan, selengekan, dan bisa dibilang nggak berperikesekolahan. Tampang pas-pasan tapi banyak yang muji dia cakep, malasnya nggak ketulungan, jarang mandi, dan terutama sekali dia sama sekali tidak pernah memperhatikan pelajaran. Entah kenapa, di dalam dirinya aku melihat sosok diriku. Entah aku gila atau apa, tapi.. ini serius.

Aku mengabaikan kesempurnaannya, aku hanya ingin melihatnya dari sisi gelap dirinya. Ia berbeda dari yang lainnya, di saat suasana kelas mati, Ia hidup, Ia berkorbar sendiri, memercikkan sinarnya yang begitu terang. Ia mengabaikan aturan, Ia menolak tegas perintah mentah, Ia bebas. Kebanyakan dari kita selalu hidup dalam tekanan, membuat diri kita sama persis dengan lingkungan, hingga jati diri kita sendiri menguap begitu saja. Tapi dia tidak. Dia tak mau menyamai, dia tak mau disamai, karena dia adalah dirinya, karena dia justru merasa sempurna dengan menjadi dirinya sendiri.

“Ini ada program beasiswa melanjutkan kuliah S1 di Australia untukmu.” Aku tergagap menerima brosur program itu, ini cita-citaku. Aku Dian, siswi biasa yang sudah digantungkan ribuan cita-cita tinggi oleh kedua orang tuanya, seorang anak tunggal yang masa depannya sudah diatur oleh kedua orang tuanya, seorang pingitan yang hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri, seorang bintang pelajar yang sama sekali jenuh belajar.

Aku bimbang ketika menerima program itu, terasa berat bagiku untuk memegangnya saja. Ada yang mengganjal di dalam hatiku, entah apa itu. “Ada apa, Dian?” aku menggeleng mendengar pertanyaan itu, aku teringat Andra.

Aku berjalan keluar, duduk di pinggir lapangan basket. Kupandangi sosok Andra, pemain basket putra terbaik di kotaku. Jangkung dan atletis. Tapi sudah kehilangan beribu masa depannya. Ia sudah kehilangan ayahnya di umurnya yang ke-11 yahun, dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ibunya sakit-sakitan dan butuh perawatan serius, sementara itu dia memiliki dua adik yang harus ditanggungnya. Aku ingin dia membagi setengah saja dari berat kehidupannya. Aku ingin dia bisa sedikit saja lebih terbuka kepada dunia, aku ingin menyadari dia tidak sendiri.

Dia berjalan ke arahku, di sebelahku terletak ransel sekolahnya, lalu Ia meneguk sebotol air mineral. “Hai.. Aku Dian. Ingat? Teman masa kecilmu?”, mengulurkan tangan, dia tersenyum kecut, tak membalas uluranku. “Kenapa?” tanyaku, “Dian. Juara sekolah berturut-turut dan juara berbagai jenis olimpiade.” Ucapnya datar, “Andra. Cowok sok tegar plus sok kuat, berandalan kelas atas, nggak pernah merhatiin pelajaran, nggak pernah mau bersahabat, dan juga sok cuek terhadap segala sesuatu.” Ujarku datar. Dia tersenyum, “Separuhnya benar.”, “Pujian?” tanyaku, “Ada apa?” tanyanya ketus, aku menggeleng. Dia melangkah pergi. Well, hari itu kedua kalinya aku berani mencoba untuk memperkenalkan diriku kembali padanya. Selanjutnya, aku terus mengamatinya, aku sudah terlanjur jatuh cinta. Dulu, dia berbeda, dia nggak dingin, nggak cuek, nggak kasar. Tentu saja, itu sepuluh tahun yang lalu, ketika Ia belum memiliki rasa ‘kehilangan’. Ketika Ia masih menjadi sahabat kecil terbaikku.

Tak terasa, hari keberangkatanku untuk melanjutkan kuliah di Australia pun tiba, keluargaku, sahabat-sahabatku, semuanya turut mengantarku. Aku mematung, melihat senyum mereka, hambar. Aku menanti seseorang datang, menggenggam erat tanganku, mengucapkan salam perpisahan, dan memberi senyum lamanya, meminta maaf dan berkata “Selamanya, kita sahabat sejati.”

Nyatanya, dia nggak datang. Aku melangkah mati, tak ingin pergi, aku takut kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya. Aku takut jika suatu saat aku kembali, aku nggak akan menemukannya dimanapun, aku takut...

Plek, secarik kertas terjatuh. Aku membacanya di dalam pesawat.

‘Selamanya, kita sahabat sejati. Selamanya, persahabatan kita abadi. Selamanya, aku akan menjadi Rama dan kamu Sinta. Selamanya, menunggumu kembali akan jadi sebuah kehidupan baru bagiku. Sampai jumpa.’

ANDRA

Aku tersenyum kecil kala itu, aku tidak kehilangan sahabat terbaikku.

Andra dan pelanginya, sebuah kenangan masa kecilku. Sebuah janji persahabatan bahwa kami akan selalu bersama, selamanya. Ia adalah laskar pelangi, dan aku adalah peri hujan. Tak ada yang dapat mengenal kami, hanya kami yang dapat mengenal siapa kami. Dulu kita selalu menilai pelangi hanya memiliki tiga warna, nyatanya pelangi memiliki bahkan lebih dari lima warna. Begitu jua persahabatan kami, tak dapat ditebak, tak dapat dikira, nyatanya persahabatan kami tetap abadi. Hingga saat ini, walau ada perasaan cinta di dalamnya.

0 komentar:

Posting Komentar