Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Kamis, 24 Juni 2010

Sebuah Jalan yang Jarang Ditapaki

0 komentar

Ada sebuah jalan yang jarang ditapaki. Begitu jarangnya kaki-kaki menjejak, sampai-sampai tak ada tangan yang cukup peduli untuk membabati rerumputan yang tumbuh di sampingnya. Yang membuat semak belukar dan alang-alang setinggi dada tumbuh liar melebar sampai menutupi bahu jalan dan membuat tubuh jalan gatal-gatal. Tanpa punya kemampuan untuk menggaruk, ataupun menaburkan bedak.


Tidak seperti jalan lain yang dipenuhi lampu-lampu hias yang berkelap-kelip, di jalan ini bahkan tak ada satupun juga alat penerang. Yang membuat jalan ini berwarna hitam pekat saat malam menjelang. Dan membuat orang makin enggan untuk datang.


Karena di jalan ini, juga tak tersedia satupun juga rambu-rambu petunjuk jalan. Padahal, jalinan anak-anak jalannya bercabang-cabang dengan demikian rumitnya. Salah langkah sedikit saja, akan segera terdengar desis marah ular berbisa mematikan. Yang meski sarangnya tersebar di seluruh tubuh jalan seperti jebakan, namun sepanjang harinya tetap bersikap tak ramah pada tubuh jalan tempatnya menumpang. Tambahkan dengan banyaknya anak jalan yang buntu, maka jalan ini pun terkenal sebagai satu rangkai labirin yang sukses menyesatkan.


Sayangnya, meski terkenal, jalan ini tak pernah punya teman. Tak ada satupun orang yang sudi ambil resiko untuk membangun pondok permanen di dekatnya, dan menjadi temannya bicara ataupun bercerita. Sesekali, memang ada beberapa mobil caravan yang transit. Itupun hanya karena mobil-mobil yang malang ini tersesat. Yang membuat mereka terpaksa bermalam satu dua hari dengan pintu mobil tertutup rapat, untuk kemudian esoknya segera tancap gas tanpa pamit. “Jalan ini kelewat melelahkan untuk kami,” begitulah alasan mereka.


Alasan yang saat sampai ke telinga Matahari, membuatnya makin enggan untuk menyinari jalan ini. Pun seluruh tubuh jalan telah dipenuhi jamur akibat lembabnya cuaca dan guyuran hujan, tetap saja Matahari jarang datang. “Toh disana juga sangat sedikit ada bentuk kehidupan,” begitulah Matahari beralasan.


Alasan-alasan yang akan selalu dipermaklumkan orang-orang.


Bahkan juga alasan mengapa di jalan ini tak ditemukan sepotong pun papan nama. “Toh jalan itu juga jarang ditapaki orang. Buat apa repot-repot pasang papan nama?” demikian orang-orang beralasan, untuk kemudian kembali meneruskan kesibukan.


Jadi begitulah, malam demi malam yang tak berujung dilewati jalan ini. Sementara tetesan hujan setajam jarum menusuki dan melubangi kulitnya tanpa henti. Membuat tulang-tulangnya yang ngilu bergemeletukan dua menit sekali.


Tergugu menggigit bibir menahan getirnya sepi dan nyeri hati, jalan yang jarang ditapaki ini pun pada akhirnya, hanya bisa meringkuk sendirian.


Dan menghela satu napas panjang. ***

0 komentar:

Posting Komentar