Everyone has a memories Isn't ?

Everyone has a memories Isn't ?

Kamis, 03 Maret 2011

Andra dan Pelangi Persahabatannya

0 komentar

Jujur, aku nggak pernah ngerasain cinta, maka dari itu aku nggak mau tahu apa itu cinta, ogah ngenalin dan ogah dikenalin. Walau begitu, 10 tahun yang lalu.. Pertamakalinya aku bisa nyambung ngomong sama seseorang. Pertamakalinya aku bisa super bahagia ketemu dengan seseorang. Biasanya, nggak ada orang yang memiliki minat yang sama seperti aku, nggak ada orang yang kuanggap... belahan jiwaku yang hilang.

Kata banyak orang, pasangan harus seperti mata uang. Ada sisi kanan dan ada sisi kiri. Kalau banyak kesamaannya, sama saja seperti mata uang yang bersisi kiri saja ataupun bersisi kanan saja. Nggak ada artinya. Tanpa perbedaan, nggak akan bisa cinta itu tetap utuh. Jadi. apa aku salah jika menyukai seseorang yang bisa dibilang ‘sama’ denganku? Bagai pinang dibelah dua dan bagai sebuah sisi terang yang hilang dalam hidupku?

Aku menyukainya karena dia bisa mengucapkan apa yang nggak bisa aku ucapkan, pikiranku seolah dibacanya dengan begitu mudah. Aku menyukainya karena dia bebas, nggak terbelenggu aturan, nggak terbutakan prinsip kemasyarakatan. Aku menyukainya karena dia merasakan kehilangan yang sama seperti yang aku rasakan, merasakan kepedihan yang sama seperti yang aku derita. Terutama sekali, karena di dalam dirinya aku melihat diriku, hidup, bebas, bercahaya.

Aku mencintai dia yang 10 tahun kemudian menjadi sosok Andra, berandalan kelas atas yang pernah kukenali. Gaya berpakaiannya urakan, selengekan, dan bisa dibilang nggak berperikesekolahan. Tampang pas-pasan tapi banyak yang muji dia cakep, malasnya nggak ketulungan, jarang mandi, dan terutama sekali dia sama sekali tidak pernah memperhatikan pelajaran. Entah kenapa, di dalam dirinya aku melihat sosok diriku. Entah aku gila atau apa, tapi.. ini serius.

Aku mengabaikan kesempurnaannya, aku hanya ingin melihatnya dari sisi gelap dirinya. Ia berbeda dari yang lainnya, di saat suasana kelas mati, Ia hidup, Ia berkorbar sendiri, memercikkan sinarnya yang begitu terang. Ia mengabaikan aturan, Ia menolak tegas perintah mentah, Ia bebas. Kebanyakan dari kita selalu hidup dalam tekanan, membuat diri kita sama persis dengan lingkungan, hingga jati diri kita sendiri menguap begitu saja. Tapi dia tidak. Dia tak mau menyamai, dia tak mau disamai, karena dia adalah dirinya, karena dia justru merasa sempurna dengan menjadi dirinya sendiri.

“Ini ada program beasiswa melanjutkan kuliah S1 di Australia untukmu.” Aku tergagap menerima brosur program itu, ini cita-citaku. Aku Dian, siswi biasa yang sudah digantungkan ribuan cita-cita tinggi oleh kedua orang tuanya, seorang anak tunggal yang masa depannya sudah diatur oleh kedua orang tuanya, seorang pingitan yang hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri, seorang bintang pelajar yang sama sekali jenuh belajar.

Aku bimbang ketika menerima program itu, terasa berat bagiku untuk memegangnya saja. Ada yang mengganjal di dalam hatiku, entah apa itu. “Ada apa, Dian?” aku menggeleng mendengar pertanyaan itu, aku teringat Andra.

Aku berjalan keluar, duduk di pinggir lapangan basket. Kupandangi sosok Andra, pemain basket putra terbaik di kotaku. Jangkung dan atletis. Tapi sudah kehilangan beribu masa depannya. Ia sudah kehilangan ayahnya di umurnya yang ke-11 yahun, dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ibunya sakit-sakitan dan butuh perawatan serius, sementara itu dia memiliki dua adik yang harus ditanggungnya. Aku ingin dia membagi setengah saja dari berat kehidupannya. Aku ingin dia bisa sedikit saja lebih terbuka kepada dunia, aku ingin menyadari dia tidak sendiri.

Dia berjalan ke arahku, di sebelahku terletak ransel sekolahnya, lalu Ia meneguk sebotol air mineral. “Hai.. Aku Dian. Ingat? Teman masa kecilmu?”, mengulurkan tangan, dia tersenyum kecut, tak membalas uluranku. “Kenapa?” tanyaku, “Dian. Juara sekolah berturut-turut dan juara berbagai jenis olimpiade.” Ucapnya datar, “Andra. Cowok sok tegar plus sok kuat, berandalan kelas atas, nggak pernah merhatiin pelajaran, nggak pernah mau bersahabat, dan juga sok cuek terhadap segala sesuatu.” Ujarku datar. Dia tersenyum, “Separuhnya benar.”, “Pujian?” tanyaku, “Ada apa?” tanyanya ketus, aku menggeleng. Dia melangkah pergi. Well, hari itu kedua kalinya aku berani mencoba untuk memperkenalkan diriku kembali padanya. Selanjutnya, aku terus mengamatinya, aku sudah terlanjur jatuh cinta. Dulu, dia berbeda, dia nggak dingin, nggak cuek, nggak kasar. Tentu saja, itu sepuluh tahun yang lalu, ketika Ia belum memiliki rasa ‘kehilangan’. Ketika Ia masih menjadi sahabat kecil terbaikku.

Tak terasa, hari keberangkatanku untuk melanjutkan kuliah di Australia pun tiba, keluargaku, sahabat-sahabatku, semuanya turut mengantarku. Aku mematung, melihat senyum mereka, hambar. Aku menanti seseorang datang, menggenggam erat tanganku, mengucapkan salam perpisahan, dan memberi senyum lamanya, meminta maaf dan berkata “Selamanya, kita sahabat sejati.”

Nyatanya, dia nggak datang. Aku melangkah mati, tak ingin pergi, aku takut kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya. Aku takut jika suatu saat aku kembali, aku nggak akan menemukannya dimanapun, aku takut...

Plek, secarik kertas terjatuh. Aku membacanya di dalam pesawat.

‘Selamanya, kita sahabat sejati. Selamanya, persahabatan kita abadi. Selamanya, aku akan menjadi Rama dan kamu Sinta. Selamanya, menunggumu kembali akan jadi sebuah kehidupan baru bagiku. Sampai jumpa.’

ANDRA

Aku tersenyum kecil kala itu, aku tidak kehilangan sahabat terbaikku.

Andra dan pelanginya, sebuah kenangan masa kecilku. Sebuah janji persahabatan bahwa kami akan selalu bersama, selamanya. Ia adalah laskar pelangi, dan aku adalah peri hujan. Tak ada yang dapat mengenal kami, hanya kami yang dapat mengenal siapa kami. Dulu kita selalu menilai pelangi hanya memiliki tiga warna, nyatanya pelangi memiliki bahkan lebih dari lima warna. Begitu jua persahabatan kami, tak dapat ditebak, tak dapat dikira, nyatanya persahabatan kami tetap abadi. Hingga saat ini, walau ada perasaan cinta di dalamnya.

Selasa, 01 Maret 2011

Lelaki Hujan

1 komentar

Sebuah jendela dan seorang lelaki hujan, begitu saya menamai suasana di luar rumah di musim hujan pagi itu. Seorang pria berdiri tegap, memandang lurus ke rumah di seberang, mematung dan memegang gitar. Saya terlalu gentar untuk memintanya memandang ke lain arah dan saya biarkan diri saya terus memandang punggungnya, bahunya yang lebar, dan rambutnya yang basah.
Read more (904 words)

Setahu saya, tidak pernah ada kupu-kupu di musim hujan, mereka berdiam entah di mana, bersembunyi yang seolah terasa untuk selamanya. Kupu-kupu adalah lambang jiwa yang tak pernah mati, begitu Ibu saya selalu bercerita, yang selalu mengisahkan tentang romantika San Pek Eng Tay. Sama seperti yang saya lihat dari sosok lelaki hujan itu, jiwa pecinta yang abadi menanti sang pujaan hati. Seharusnya dia tidak berdiri di bawah hujan, seharusnya dia berlindung pada selimut yang hangat.

Dan kemudian, aura musik mengalun melalui gelombang elektromagnetik, lelaki hujan itu memainkan gitarnya, dan saya melangkah ke seberang ruangan mengambil harmonika saya, meninggalkan jendela yang tak kunjung saya tutup. Saya selalu menikmati rintik hujan yang masuk, mendengar rintih pada tiap tetes air yang menyentuh permukaan jendela.

Dan setelah itu, kami memainkan lagu kami.

Perlahan dia menoleh ke arah saya, menatap saya dengan pandangan seolah dia telah pulang ke rumah. Saya berlari keluar dan memegang payung di tangan.

“Selalu ada rahasia di antara kita.” Ucap saya sembari memayunginya.

Dia menatap saya, “Sudah berapa lama semenjak saat itu?”

“Tujuh tahun atau kurang,” Saya tersenyum dan meraih tangannya, “aku selalu melihatmu di depan rumahku, mungkin menangis di bawah hujan?”

“Apa kabarmu?” dia menggenggam tangan saya erat tanpa menjawab pertanyaan saya sebelumnya.

“Sama seperti dulu. Apa kabarmu?”

Dia mengulum senyumnya, “aku tak sempat menyatakan cinta.”

Pada gadis putih di sebuah rumah besar berarsitektur kuno Prancis, pasti padanya. Dan saya kembali terpaku seperti tujuh tahun yang lalu, dengan berat hati mencoba memahaminya seperti dulu, “masih mencintai gadis itu?”

Dia tersenyum, “aku beruntung karena mencintainya. Dan beruntung memendam perasaanku padanya.”

“Kenapa memendamnya?” tanya saya bingung.

“Apa ada alasan untuk mencintai seseorang?” dia balik bertanya, “aku tak mampu memberikan alasan padanya kenapa aku bisa mencintainya. Lalu, bagaimana bisa aku berbesar hati mengungkapkan sesuatu yang aku tak tahu dari mana datangnya?”

Saya tertegun, apakah perlu sebuah alasan untuk mencintai seseorang? Itu pertanyaan yang selalu hinggap di benak saya.

“Kamu benar-benar tidak tahu apa alasanmu mencintainya?”

“Apakah harus ada alasan?”

Saya menatap ke seberang tempat kami berdiri, sebuah pagar tinggi bercat hijau yang semakin luntur bersama waktu. Sebuah rumah besar bercat putih.

“Pulanglah, bawa payung ini.” ucap saya seraya berlari ke arah pagar tinggi itu, berusaha menemui gadis yang dicintai oleh sang lelaki hujan, sahabat kecil saya yang kini dewasa.

Dia menarik tangan saya, “Apa yang mau kamu lakukan?”

“Mengatakan padanya kalau kamu mencintainya. Iya, kan?”

“Kenapa?” dia bertanya yang saya tak mengerti untuk apa.

“Karena kamu mencintainya. Kamu harus mengungkapkannya.” Ujar saya lemah.

“Kenapa ada sinar cinta di matamu?” dia melanjutkan pertanyaannya.

Air mata saya mengalir menjadi satu dengan hujan yang turun dengan derasnya.

“Kenapa tak pernah aku lihat di matamu?” saya balik bertanya dan dia terdiam. Saya hanya bisa menatap ke sebuah pohon di balik tubuhnya.

**

Seorang gadis duduk bergelantungan di atas pohon di pekarangan rumahnya, di sana gadis itu meniup harmonikanya, menyanyikan entah lagu apa. Di sebelahnya ikut duduk seorang lelaki, ikut menyanyikan sebuah lagu yang entah lagu apa.

Dan kemudian seorang gadis kecil keluar dari dalam sebuah rumah. Rambutnya terjalin rapi dan dia mengenakan gaun berenda berwarna merah jambu, wajahnya putih kemerahan, dan dia membawa sebuah biola bersamanya. Dia berjalan mengikuti seorang wanita berusia setengah baya di depannya, berjalan angkuh menuju sebuah mobil. Riasannya begitu mewah dengan seuntai kalung mutiara dan gaun hitam mahal.

“Eureka.” Begitu lelaki di sebelahnya bergumam saat itu. Dan lagu mereka terhenti.

**

Hanya hubungan persahabatan yang takkan pernah putus. Itu filosofi yang selalu kami pegang sejak kecil. Dan kami pantang untuk jatuh cinta satu sama lain.

“Bukankah kita sahabat?” dan begitu caranya menjawab pertanyaan saya hari itu.

Saya hanya bisa tersenyum, “Ya kita sahabat, dan aku ingin kamu bahagia bersamanya.”

Lalu dia melangkah menuju pagar hijau itu. Beberapa saat pagar itu terbuka, dibukakan oleh gadis putih yang dia nanti selama ini. Dia pasti bisa menyatakan cintanya saat itu.

Sahabat saya akan menyambut kehidupan barunya bersama gadis itu dan saya menyadari bahwa saya takkan pernah bisa memilikinya karena dia takkan pernah bisa jatuh cinta pada saya. Kami tidak akan pernah bisa mengubah status persahabatan yang terbina sejak lama.

**

It’s all because of you

I’m feeling sad and blue

You went away

Now my life is just a rainy day

I love you so

How much you’ll never know

You’ve gone away and left me lonely

Untouchable memories

Seem to keep haunting me

Of love so true

But you dissapeared

Now my eyes are filled with tears

I’m wishing you were here with me

Soaked with love all my thoughts of you

Now that you’re gone I don’t know what to do

If only you were here

You’d wash away my tears

The sun would sun

Once again you’ll be mine all mine

But in reality

Your love I will never be

Because you took your love away from me

If only you were here

You’d wash away my tears

The sun would shine

Once again you’ll be mine all mine

But in reality

Your love I will never be

Because you took your love away from me

Ahhh baby

Because you took your love away from me

**

Dan saya lihat mereka berpelukan di bawah hujan, dan wajah gadis putih yang berbahagia. Tak perlu alasan untuk menerima cinta, seperti tak perlu alasan untuk memberikan cinta.

**

Di bawah hujan,

Senin, 21 Februari 2011

Tangan Kiri

0 komentar

Baru saja gadis kecil itu menyanyikan lagu. Lagu Bintang Kecil dengan suara merdunya. Diakhiri tepukan tangan anak-anak beserta ibu-ibu muda mereka yang hadir. Sangat meriah, meskipun tidak lebih dari lima belas anak yang hadir. Di sana, di sebuah ruang kelas taman kanak-kanak yang terletak di sudut kota kecil yang indah.
Read more (791 words)

Tangan gadis kecil itu saat ini bersatu dengan tangan sang bunda yang menuntunnya berjalan pulang di suatu tepian jalan yang sepi. Gadis kecil itu memakai baju yang paling bagus hari ini, warna putih dengan bordiran halus dilengannya, dan panjangnya hanya sedikit dibawah lutut. Sepatu hitam bersih dengan rambut di kuncir dua.

Sambil berjalan gadis kecil terus bertanya kepada ibunya

“Bintang itu bagaimana bentuknya,Bunda?”
“Bintang itu bulat, sayang,”
“Bulat! bulat bagaimana Bunda?”

Ibunya hanya terdiam belum sempat memberi jawaban. Mamun ia bertanya lagi.

“Apakah bintang sama seperti matahari Bunda?”
“Tidak, matahari lebih terang dari bintang”
“Hmm... aku tahu bunda, karena bintang lebih kecil dari matahari kan” Gadis kecil itu teringat, teringat lagu yang barusan ia nyanyikan, lagu yang pertama diajarkan disekolah, dan lagu yang susah payah ia ingat.

“Bintang temannya juga banyak kan Bunda?” Ia teringat syair lagu yang ia nyanyikan pagi ini, Amat banyak menghias angkasa.
“Iya bener, anak Bunda memang pintar deh!” Gadis itu tersenyum ketika pendengarannya yang tajam menangkap sebuah pujian dari bundanya yang tulus. Karena bundanya selalu tulus. Hati gadis kecil itu terlalu tajam untuk mengerti.

Percakapan mereka berhenti sebentar kala anak itu menadahkan muka keatas. Ibunya memperhatikan dengan senyum, ada sebutir keringat disamping alis anaknya yang tebal akan segera menetes. Sapu tangan berwarna jingga keluar dari tas kecil sang ibu, dengan itu sang bunda menangkap butiran air itu. Lebih cepat dari matahari menguapkan.

Langkah kaki kecil itu beriring dengan langkah bundanya yang sabar mengikuti. Dan tangan itu tak pernah terlepas. Tetap erat berpegangan, sesekali tegangannya menguat kala anak itu sedikit melebarkan langkah ke badan jalan atau saat berbelok di tikungan. Sang bunda ingin membawa anaknya ke jalan yang benar, jalan pulang. Meski kadang jalan itu tak sama dengan jalan pergi.

Pemandangan masih sama setiap hari, di sebelah jalan ada kebun kebun yang ditumbuhi bunga, dan macam-macam sayuran. Bunga melati tumbuh di pematang batas antara kebun dan jalan. Maka melati lebih cocok disebut pagar. Ia tumbuh dengan liar, tidak seperti mawar yang ditanam, dipotong dan dijual. Aroma melati diberikan bebas, siapun saja yang lewat di jalan itu, meskipun batangnya kadang ditebas karena dikira menggangu mawar.

“Bunda, pasti ini aroma melati,” Gadis kecil itu hafal benar aroma melati yang mengepung masuk dengan sukarela kedalam hidungnya.
“Bisa nggak Bunda memetikkan untukku!”, Sang bunda meraih satu kuntum melati yang berwarna putih. Tangan kiri sang anak menadah. Sedang tangan kanannya masih berpegang erat ketangan kiri sang bunda. Bundanya tak rela melepaskan tangan kanan anak itu yang sedang bertaut erat sedari tadi, kemarin juga, hari-hari sebelumnya juga, hanya sekali waktu dilepas. Hanya ketika anaknya itu sedang menikmati mimpi malamnya. Tangan kiri selalu sopan untuk menerima hanya buat anaknya yang satu ini,tapi tidak untuk anak-anak yang lain.

“Hai..Bu, dari sekolahan ya!” Suara seorang perempuan menyahut, mereka berdialog kemudian, gadis kecil itu diam mendengar dialog ibu-ibu muda yang hanya ia mengerti sebagian, bagian yang lain belum ada dikepalanya. Yang ia dengar perempuan itu berkata “Memang dokter bilang apa?”. Tetapi ia tahu pasti dan hafal benar perempuan itu adalah tetangga depan rumah, anehnya ia tak tahu siapa yang sakit.

Dua puluh satu hari berikutnya sang bunda mulai batuk-batuk dan hanya sanggup berbaring, tiga puluh hari sesudahnya ia telah pulang dari perawatan di rumah sakit, tetapi bukan sembuh ia kini. Malah Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tangan kanannya tak berasa, kaki kakinya telah kehilangan otot, iapun kehilangan suaranya, cuman matanya saja yang masih jernih. Sudah banyak dokter yang datang atau didatangi dan semuanya berkata “Berdoa ya bu”. Ia bersedih bukan karena tubuhnya yang lemah atau takut kematian, tetapi tangan kirinya sudah hampir dua bulan terlepas dari gadis kecilnya, anak yang yang sangat ia cintai.

“Bunda!” gadis kecil itu mengeluarkan suara, yang sedari tadi sejak ibunya datang dari rumah sakit dia ada disamping tempat tidur. Tangan kanannya meraba memegang erat tangan kiri sang bunda yang telah mati rasa. Ibu itu masih mendengarnya, tetapi tak mampu membalas. Hatinya hancur-remuk akan dunia dan satu kekawatiran, namun jiwanya masih bersatu degan Tuhan yang kini berdialog.

“Tuhan ijinkan aku mati, jika disinipun aku tak bisa menuntun anakku. Tetapi biarkan tangan kiriku tetap tinggal di disini ”. Perempuan itu menutup mata dan pergi, sedang si gadis kecil belum tahu hingga gelap menjelang saat tubuh ibunya dirasa kaku dan mendingin. Seketika tangisnya pecah. Ia belum pernah satu kalipun melihat wajah bundanya yang kini telah pergi.

Gadis kecil itu tak mau berpegangan tangan dengan siapapun kini. Ia yakin tongkat kayu yang ada ditangan kanannya, yang menuntunnya menyusuri setiap jalan, adalah tangan kiri ibunya.

11.08.07

Fakta; jumlah tunanetra di Indonesia 1,5%, dari jumlah penduduk Indonesia = 1.5% x 207.437.100 (angka estimation BPS tahun 1999) = 3.111.556 jiwa

Merah Menulis Cinta

0 komentar

Ruang kelas lima sekolah dasar negeri itu tampak mencekam hari ini. Ibu guru berjalan pelan di antara barisan bangku-bangku dengan suara sepatunya yang mendominasi. Para murid menundukkan kepala, tak ada suara-suara yang keluar dari mulut mereka. Pensil dan ballpoint tidak tampak bergerak di atas kertas, hanya bermain di sela-sela jari tak berbunyi. Mereka menunggu sebuah pertanyaan. Ibu guru yang cantik itu bersikap galak hari ini. Minggu-minggu ini para guru bersikap semakin ganas. Khabar yang tak jelas berhembus; hal ini dipicu oleh demo kenaikan gaji yang dilakukan persatuan guru di Jakarta yang tak kunjung dikabulkan oleh wakil rakyat.

“Siapa yang belum mengerjakan?” Suara Ibu guru memecah keheningan. Ia bertanya tentang sebuah pekerjaan rumah membuat karangan yang diberikannya satu minggu yang lalu. Sebuah karangan sederhana, satu lembar kertas kuarto. Di tepi bagian atas lembar-lembar kosong berwarna putih itu tertulis.

TULISKAN BUKTI CINTA PADA IBUMU!

Dari perintah itulah para murid harus membuat karangan satu lembar penuh. Bocah-bocah itu tidak mengangkat tangan, tanda seakan ketiga puluh murid selesai mengerjakannya. Ibu guru masih menyapukan pandangan dari ujung ke ujung kelas berulang kali. Saat itulah seorang murid yang duduk di sayap sebelah kanan bangku paling belakang mengangkat tangan dengan ragu-ragu, tetap dengan kepala menunduk. Sebatang pensil tampak bergetar di ujung tangan yang tidak tegak. Telapak tangan yang berkulit kasar dan ada satu bekas luka yang hanya tampak sebagai sebuah noda hitam kecil di pergelangan tangan. Sebuah luka akibat sabit yang tidak dengan sengaja menggores kulit.

“Tole! Kamu lagi, kenapa tidak mengerjakan?” Wajah Tole menegang tanpa memberikan jawaban. Bocah yang tidak naik dua kali itu tertunduk lesu seperti seorang terdakwa yang sudah dinyatakan dihukum oleh sebuah tindakan yang tak mungkin disangkal. Tole memang residivis kelas. Ia tidak naik dua kali. Nilainya hancur lebur berwarna merah hitam. Separo merah, separo hitam. Meskipun ia pun tak tahu sejak kapan nilai lima kebawah harus ditulis dengan tinta berwarna merah, bahkan semerah darah. Tole pernah bertanya pada tukang kebun sekolah, “Kalau orang bilang sih merah itu lambang cinta Tole,” Jawab Pak tukang kebun sekenanya. Tole hanya mengangguk tanda kebingungan yang makin menumpuk. Teman-teman disekolahya menyebut ia anak bodoh. Diapun makin bingung kenapa harus merah.

“Saya tidak bisa mengarang Ibu!” Jawab tole pelan.
“Kalau kamu tidak mengumpulkan minggu depan, nilai kamu akan merah lagi!” Ibu guru mengancam.

Pelajaran berakhir beberapa jam kemudian. Dalam sekejab halaman sekolah telah penuh oleh murid-murid yang bertebaran menuju pulang. Debu-debu mengepul kala anak-anak berbaju merah putih berlarian tak beraturan menuju gerbang. Panas kemarau memaksa tanah-tanah tipis yang kering di lapisan atas menjadi butiran butiran lembut terbang tanpa arah membentuk turbulensi disekitar tubuh-tubuh kecil mereka. Wajah-wajah yang telah layu tetap saja masih bisa tertawa, berteriak saling mengejek dan berkejar-kejaran. Tole berlari cepat diantara kerumunan keramaian itu tak peduli dengan seragamnya yang compang-camping, baju yang keluar dari celana pendeknya. Ia tembus bottle neck yang terjadi di pintu gerbang. Ia terus berlari tanpa peduli teriakan gadis-gadis kecil yang dengan tidak sengaja disenggolnya. Berlari terus menuju rumah.

“Makan dulu Le!” Ibunya menyeru.
“Sudah Bu! Sekarang aku mau berangkat dulu!”

Tole tidak lagi berpakain merah-putih, melainkan memakai celana pendek usang warna coklat tak berikat pinggang dan kaos oblong warna krem. Kaos yang telah dipenuhi oleh getah-getah yang telah mengering hingga terkesan seperti noda-noda yang menempel pada kain yang tak bisa dihilangkan. Bahkan dibagian lain, noda seperti bekas darah yang menetes pada kain putih yang mengering menjadi coklat. Secara keseluruhan noda-noda membentuk sebuah lukisan berpola abstrak. Pakaian khusus yang setiap hari ia pergunakan untuk mencari rumput di pematang-pematang sawah. Disakunya tersimpan satu pensil dan selembar kertas kuarto dari ibu guru. Ia berpikir barangkali ia akan mendapatkan inspirasi untuk menulis dibawah rindangnya pohon sehabis memotong rumput.

Siang itu ia susuri jalanan aspal yang mulai berlubang menuju sawah di ujung kampung. Kaki-kaki kecilnya melangkah tergesa-gesa hingga terkesan setengah berlari menghindari panas yang dengan cepat merambat keujung otak memerintahkan syaraf merasakan sakit. Di ujung kampung seorang pemuda menyapa.

“Mau kemana panas-panas gini Le?” Sakri bertanya bersama kepulan asap rokok dari mulutnya.
“Biasa Lek..!. mencari rumput” jawab Tole sambil tetap berjalan. Tangan kanannya memegang sabit yang telah terasah. Tangan kirinya memegang karung bekas pupuk berwarna putih sebagai tempat rumputnya nanti.

Sakri sebenarnya sudah tahu bahwa Tole dan juga anak-anak kecil di kampung itu memang rajin mencari rumput. Hampir semua anak di kampung kecil itu, rajin membantu orang tua dengan memelihara kambing atau sapi, kecuali Sakri. Meskipun tergolong miskin dibanding kebanyakan orang, tapi Sakri memang pemalas sejak kecil. Sehingga ia tetap menjadi pengangguran hingga umurnya hampir 17 tahun saat ini. Yang dilakukannya hanyalah mabuk bir murahan dan nongkrong-nongkrong di pos kecil yang terletak di tepian jalan antara kampung dan areal persawahan. Malamnya ia bersama gengnya akan melakukan pemerasan kecil-kecilan atau tindakan pencurian ayam-ayam di kampung tetangga.

“Mencari rumput untuk ibumu ya!?” Sakri mengejek. Tole berlalu begitu saja tidak menjawab

Rupanya hari ini Tole tidak beruntung. Ia salah memilih sawah. Itu adalah biasa sebab pencari rumput tidak punya peta atau arah. Mereka hanya bermain degan firasat tentang arah mana yang akan mereka tuju. Jika tepat, mereka akan mendapatkan rumput dengan kualitas bagus secara cepat, jika tidak maka sebaliknya ia akan berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Begitulah Tole hari ini, maka sampai jam tiga sore pun karungnya belum penuh dengan rumput padahal jadwal film kartun kesukaannya yang diputar setiap hari kamis-hari ini- telah dimulai. Tuntutan karung penuh tidak bisa ditawar, maka iapun harus rela melewatkan serial itu minggu ini.

“Kok lama Le mencari rumputnya?” Ibunya menyapa. Tole memasuki rumah dengan wajah lusuh dan capai. Keringat masih membasahi sebagaian besar tubuh dan juga kepalanya.
“Iya Ibu, akhir-akhir ini cari rumput agak susah, soalnya banyak orang yang pelihara kambing.” Tole menjawab dengan lesu.

Ibunya tersenyum dibelainya rambut anaknya yang basah oleh keringat. Dilepaskannya kaos yang juga basah oleh keringat yang bercampur dengan bau rumput-rumput liar. Dengan kaos itu, perlahan ia mengusap rambut Tole yang ujung-ujungnya memerah karena ultraviolet. Belaian itu merasuk ke jiwa Tole setiap hari, menjadikan ia tak pernah melawan perintah dari ibunya. Belaian itu adalah kasih sayang yang mencandukannnya. Sesuatu yang tak tampak tetapi membuat hatinya selalu ingin lebih. Lebih setiap hari, setiap waktu, dan juga setiap ruang. Seperti cinta yang berasa kuat tapi tak pernah bisa ditulis, digambar ataupun diwarnai.

Hari ini adalah hari Sabtu, siang ini matahari tampak malu menampakkan diri. Siang menjadi pekat dengan hawa yang pengab. Tole menyusuri jalanan kampung dengan jalanan aspal yang masih menghangat menuju sawah dengan tetap memainkan firasatnya. Awan-awan mengiringi kegundahan dan pengab hatinya. Tadi pagi ia kembali dapat ancaman nilai merah, kali ini dipelajaran menggambar. Sebab selama ini ia tak bisa menggambar dengan warna yang tepat menurut gurunya. Ia akan mewarnai daun dengan warna biru, pohon dengan warna merah dan ranting dengan warna hitam, bahkan langit digambarnya berwarna pink. Sehingga teman-temannya selalu menggapnya anak yang aneh. Gurunya menganggapnya tidak normal. Tetapi tentu ia tidak merasa. Hari ini hatinya penuh dengan gundah dan seribu pertanyaan, termasuk soal warna merah. Kenapa harus merah?.

“Hoi..! mau kemana Tole?” Sakri yang setiap hari di pos itu menyapa dengan suara lantang.
“Biasa Lek..!” Jawab Tole singkat
“Mencari rumput untuk ibumu ya! Kambing itu belum dijual juga!” Tole tidak bersuara tapi tatap matanya yang biasanya menuju pusat bumi searah gravitasi kini berarah tepat di antara bola mata Sukri.
“Tole..Tole.. sekali-kali ibumu itu disuruh kesawah sendiri. Suruhlah makan rumput langsung di sana!”

Mendengar itu Tole tanpa kata melangkah ke arah Sakri yang berdiri beberapa meter dengan pelan. Sekuat tenaga ia arahkan sabit yang mengkilap tajam ke perut Sakri secara datar. Sakri kaget, terdiam, terhipnotis, tak bergerak. Sepersekian detik sabit berarah vertikal dari kepala menuju dada. Sakri tersadar mencoba mengelak dengan tangannya tapi tetap saja tangannya adalah daging yang lemah dan tetap kalah dengan tajamnya sabit yang baru diasah. Belum sempat Sakri merasakan sakit ataupun berteriak, sabit sudah mendarat bertubi tubi untuk kesekian kali dari berbagai arah yang tak terduga. Sakri jatuh, sedang Tole makin membabi buta. Muka, leher, dada, telah megalirkan darah merah segar yang sebagain telah muncrat memercik ke kaos dan celana Tole. Dalam posisi itu Tole belum juga berhenti entah sudah berapa tebasan hingga akhirnya Tole merasa lemah dan berkeringat. Sakri sudah tak bernyawa lagi.

Selang kemudian iapun berlari sekuat tubuhnya dengan sabit berlumuran darah ditangan kanan. Ia berlari cepat secepat menebaskan sabit pada rumput-rumput liar. Tubuhnya streamline memecah udara tak bergerak berbau sawah, seperti peluru keluar dari lubang senapan. Ia bersama firasat pencari rumputnya terus berlari, turun naik pematang sawah, meloncat diantara batu-batu menyebrang sungai, dan masuk diantara pohon-pohon rindang. Hingga tubuhnya melemah entah ia dimana kini. Hutan kian sunyi, tubuhnya tergolek dibawah pohon berdaun lebat. Tangannya kosong bernoda darah yang telah kering dengan sabit yang tak ia sadari entah terjatuh dimana. Ia rogoh kantung celananya, pensil yang selalu ia bawapun telah hilang entah kemana. Yang tersisa adakah kertas kuarto dengan lipatan empat. Dibukanya kertas itu, “TULISKAN BUKTI CINTA PADA IBUMU!” masih tetap tertulis disana. Hanya saja kini di bawah tulisan itu ada noda darah tak berpola berwarna merah memenuhi hampir semua halaman. Ia ingin menuliskan bukti cinta saat ini, tetapi ia tersadar pensilnya telah menghilang.

Senin, 31 Januari 2011

Pesan Terakhirmu: Cinta

0 komentar

Kegelapan sungguh menakutkan, dan sepi terlalu menyesakkan…

Di sini. Bahkan sekalipun ini aku—eksistensi yang baru menjejak jalan kehidupan sejauh beberapa jengkal langkah kaki-kaki kecilku—aku mengenal horor ini seolah aku sempat melewatinya dalam perjalananku menuju kesini beberapa waktu lalu.

Aroma menyengat itu beterbangan menghimpit sisa-sisa udara yang tersisa, datang dengan diiringi gaung bisikan sedingin es. Mengulurkan tangan.

…ini adalah milik kematian.

Aku bahkan tak ingat kenapa aku berada di sini. Sangat terang, sebelumnya. Juga hangat. Aku berada dalam pelukan wanita ini, yang tengah bersenandung sambil membelaiku lembut. Rasanya sangat tenang, juga lelah. Aku pun memejamkan mata, bersiap untuk bertemu dengannya lagi dalam mimpi…

Kemudian guncangan itu datang. Hal yang terakhir kudengar adalah jeritan wanita itu, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Lalu aroma serta bisikkan-bisikkan yang kubenci itu menyergap, merambat pelan, menghampiri kami dan tak terlihat dalam gelap. Kupikir… satu-satunya hal yang menghalangi mereka untuk meraih diriku adalah karena keberadaan wanita ini, yang masih kurasakan begitu dekat. Sebelah tangannya kokoh berdiri di sisi wajahku. Napasnya yang tersendat masih sehangat sebelumnya. Sesekali jemarinya yang gemetar mengelus pipiku, dan aku pun tahu bahaya takkan mampu menyentuhku. Tidak selama wanita ini tidak membiarkannya.

Entah sampai kapan kegelapan ini akan menyimpan kami di dalamnya. Aku pun tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi wanita ini tak pernah berubah. Tangannya yang membelaiku, napasnya yang memberi kehidupan, dan suaranya yang menenangkanku. Selama dia masih ada bersamaku, aku tidak perlu takut…

Tapi kemudian dia terbatuk. Kurasakan tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya, dan dia tersengal mengambil napas yang entah mengapa lebih sulit dari yang sudah-sudah. Tetes cairan dingin jatuh membasahi hidungku—berbau amis hampir serupa dengan aroma yang melingkupi kegelapan tempat kami berada.

Aku mulai merengek, mencemaskannya.

Kemudian kurasakan sebelah tangannya meraih sesuatu, mencari-cari di dalam kegelapan… Dan dia menemukannya, benda itu. Benda yang kemudian berpendar dengan sinarnya yang redup, namun bagaikan sebatang lilin di tengah lautan kegelapan di bawah reruntuhan… Wanita itu terpekur padanya sejenak, kemudian dia berpaling, tersenyum memandangku. Perlahan, dapat kulihat wajahnya dengan jelas.

Itu, mungkin adalah pertama kalinya aku melihat senyumannya dari sudut pandang itu. Ataukah mungkin terlalu lama berada di bawah kegelapan telah membuatku lupa akan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh tiap-tiap senyuman darinya? Kurasa, mungkin inilah senyuman terindahnya dari semua yang pernah diberikannya padaku…

“Tak apa,” katanya dengan suara lemah bergetar, meraih tangan kecilku lalu menggenggamnya. “…akan baik-baik saja…”

Tak lama kemudian, cahaya dari benda itu meredup. Dan pegangan wanita itu mengendur. Aku tahu jemarinya mendingin… Tiba-tiba saja kegelapan menjadi jauh lebih menakutkan. Suara napasnya, hangat tubuhnya, dan yang lebih lagi—detak jantungnya, perlahan menghilang. Kegelapan melolong, dan gaungnya menyelimutiku dengan beku yang tak tertahankan. Tidak, batinku. Jangan tinggalkan aku…! Kumohon jangan tinggalkan aku…! Aku menjulurkan tangan hendak meraihnya, dan aku dapat meraihnya! Tapi kenapa dia begitu dingin dan diam…?

Seketika itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sekeras-kerasnya. Berharap dia hanya tertidur, dan tangisanku akan membangunkannya seperti biasa. Tapi dia tidak kunjung terbangun. Tidak.

Alih-alih itu, terdengar suapa geseran dan benturan keras dari ketinggian yang tak dapat kujamah. Kemudian terang—bukan terang lilin. Terang yang amat sangat. Terang yang kurindukan, dan itu adalah pertanda aku bukan lagi bagian dari kegelapan. Mataku berkedip-kedip menyambutnya, tak terbiasa dan sembab oleh air mata. Kurasakan tangan-tangan menjamah tubuhku, salah satunya meraihku dan meletakkanku dalam gendongannya. Kedua tangan itu adalah milik seorang laki-laki berseragam hijau, tubuhnya bersimbah keringat, dan dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

Lebih banyak sosok-sosok berseragam serupa mendatangi kami, dan lebih banyak lagi menghampiri tempatku diangkat dari balik kegelapan. Kemudian aku melihatnya—wanita itu. Senyum masih tersia di wajahnya yang pucat dan ternoda merah. Aku menangis dan menjerit, menjulurkan tangan menginginkannya, sebab aku tahu kali ini dia akan terbangun di bawah sorot cahaya yang sama-sama kami nantikan… Tapi mereka bergegas membawanya pergi dariku. Aku pun hanya meratap menyaksikan kepergiannya.

“Lihat ini,” salah seorang pria mendekati pria yang menggendongku. Di telapak tangannya, tak lain tak bukan adalah benda itu, yang berpendar ketika kami masih berada dalam kegelapan dan kepada siapa wanita itu terpekur sebelum ia meninggalkanku…

Pria yang menggendongku mengambilnya dengan tangannya yang bebas, memperhatikannya dengan dahi berkerut, kemudian dua butir air mata bermunculan dari sudut-sudut matanya. Dia memelukku erat, menangis bersamaku tanpa kata-kata.

_________

Beberapa tahun berlalu, dan kini aku dapat berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Kembali, ke tempat ini. Tempat ini berubah, tentu saja. Pemerintah telah terus berupaya untuk membangun kembali kota ini semenjak gempa beberapa tahun lalu. Dan tempat kenangan yang ditunjukkan oleh paman yang baik hati itu kepadaku, adalah sebatang pohon meihua yang bunganya tengah mekar dan berguguran tertiup angin musim semi.

Aku merogoh sakuku dan menemukannya—ponsel itu. Ponsel yang menyimpan pesan terakhir wanita itu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, dengan punggung menyangga reruntuhan. Melindungiku, dan meninggal dalam prosesnya. Tentu saja aku masih menyimpan pesannya; bahkan pesan itulah yang menjagaku tetap hidup, dan terus mencintai hidup itu hingga saat ini.

“Anakku yang terkasih, aku harap pengorbananku ini akan menjagamu agar kamu tetap hidup. Dan jika kamu berhasil selamat, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu.”

Aku tersenyum, mengatupkan kedua tanganku dan menundukkan kepalaku, memejamkan mata.

Terima kasih telah melahirkanku. Aku pun akan terus mencintaimu sepanjang hidupku… mama.

END
______

berdasarkan kisah nyata, bisa dilihat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2563080
tribute untuk para korban gempa dimana saja. Saya berdoa semoga si anak dapat melanjutkan hidupnya dengan baik-baik.